Aku Lelah,Cintai Aku

Aku Lelah,Cintai Aku
Mencari


__ADS_3

Kepergian Vano dan kedua orang tua ku dengan waktu yang berdekatan membuat aku merasa sepi tinggal dirumah mama, selalu mengingat bagaimana hidupku tanpa mereka, walaupun mbak Sari ada menemaniku tetapi semua terasa berbeda. Dirumah ini aku menghabiskan masa kecilku dengan kedua orang tuaku yang menyayangiku, tetapi semua tak sama lagi saat ini, sepi tak ada suara senda gurau mereka.


“Mbak Sari, saya harus cari rumah kontrakan yang lebih kecil, apa mbak Sari tetap mau ikut saya?” Tanyaku pada mbak Sari ketika kami sedang makan malam


“Kemana pun non pergi saya ikut” jawab mbak Sari sedih


“Kenapa mbak kok sedih gitu?” Tanyaku ketika melihat raut wajah mbak Sari yang sedih


“Saya kasihan sama non, belum selesai duka non kehilangan Vano, non sudah dihadapkan kenyataan den Bagas selingkuh, belum selesai dengan itu tuan ikut pergi dan sekarang nyonya yang pergi, saya gak tau apa jadinya jika itu menimpa saya non, mungkin saya gak akan sekuat non” mbak Sari mulai menitikkan air matanya, bersedih karena semua yang menimpaku


“Hatiku pun hancur mbak, hidupku seakan tak ada semangat apapun kini, untuk apa aku berjuang? Untuk siapa aku berjuang mbak? Bila mereka semua yang aku perjuangkan pun pergi meninggalkan aku” aku ikut menitikkan air mataku dan menghentikan makan ku


“Maafkan saya non, sudah buat non jadi bersedih lagi” mbak Sari seolah menyesali dengan ucapan kesedihannya


“Gak pa pa mbak, kita sekarang berdua aja harus berjuang bersama, tapi seperti kata saya tempo hari di apartemen mas Arlo, saya gak bisa kasi gaji mbak Sari besar karena saya juga harus kontrak rumah dan siapin buat kerja atau usaha dulu mbak, saya juga bingung memulai semuanya dari mana. Semua yang serba tiba-tiba membuat saya gak punya persiapan apa pun” kataku menjelaskan


“Gak apa-apa non, saya gak di gaji pun gak masalah non, yang penting boleh numpang dan makan ikut non aja saya sudah terima kasih banget non” mungkin mbak Sari sama putus asanya denganku


“Ayo mbak kita mencari kebahagiaan untuk kita sendiri, jangan terlalu pikirkan orang lain mbak, karena belum tentu yang kita pikirkan pun memikirkan kita” aku mulai berpikir untuk egois


Mbak Sari hanya mengangguk dan tersenyum sambil mengangkat piring kotor yang ada di depanku dan membawanya kedapur.


Flash Back On


Sore tadi aku mengusir mas Arlo untuk pulang, karena aku tahu dia pun lelah dari subuh sudah membantuku mengurus semuanya. Awalnya dia menolak tapi aku bisa meyakinkannya,


“Mas pulang dulu sana” usirku saat itu


“Gak mau, aku mau disini aja temenin kamu sampai besok” tolaknya


“Gak enak sama tetangga dong mas” kataku lagi


“Biarin aja, gak ada yang tau juga aku disini, kan mobilku sudah di bawa pak Aman ke kantor” jawabnya masih memaksa


“Kalau mas gak mau pulang, aku gak mau lagi ketemu sama mas” ancamku


“Ya udah aku disini terus biar kamu terus temui aku” katanya gak kalah mengancam


“Nanti malam aku video call deh kalau aku mau tidur” tawarku


“Gak entar kamu bohong” jawabnya

__ADS_1


“Janji” jawabku sambil mengacungkan kelingkingku


“Sayang dulu kalau gitu” sambil menunjuk-nunjuk pipinya


“Tapi pulang ya?” Kataku meyakinkan


“Tapi video call aku ya?” Dia balik memastikan


“Iya mas” aku meyakinkannya lagi


“Ya udah kalau gitu aku pulang, tapi sayang dulu”


Cup… aku mencium pipinya agar dia mau pulang, dan dia tersenyum manis setelah mendapat ciumanku walaupun hanya di pipi,


“Aku pulang dulu ya” katanya yang aku jawab dengan anggukan “Jangan lupa makan, nanti aku chek ke Sari kamu sudah makan apa belum, kalau sampai kamu belum makan, jangan salahkan aku klau langsung kesini dan maksatidur disini di sebelah kamu” katanya mengancam


“Yeee itu sih emang kamu yang berharap” kataku cemberut sambil memukul pelan lengannya, dan dibalas tawanya


“Aku pulang ya sayang, Assalamualaikum” cup dia mengecup keningku dan mengusap lembut puncak kepalaku.


Flash Back Off


“Mbak Sari tolong baju-baju mama dan papa di lemari mbak keluarkan dan mbak masukkan di kardus ya mbak, mau saya sumbangkan ke yang tidak mampu” aku memberikan arahan untuk mbak Sari mengepak semua baju mama dan papa dan akan aku sumbangkan ke yang kurang beruntung


Semua perhiasan mama, dan barang berharga mama dan papa sudah aku masukkan dalam 1 kotak dan aku simpan didalam koperku beserta beberapa baju ku yang akan aku bawa untuk pindahan ke tempat baru.


Waktu sudah menunjukkan pukul 8 malam, dan aku sudah masuk ke kamarku untuk menghubungi mas Arlo,


Tuttt tutt tutt


“Assalamualaikum sayang” katanya sambil tersenyum manis


“Wa’alaikumsalam mas” kataku dengan sedikit senyum


“Sudah makan kan?” Tanyanya menyelidik


“Sudah dong” “Mas masih di kantor?” Tanyaku ketika melihat background video yang muncul


“Iya aku tidur sini aja, habisnya kamu usir sih hahaha” katanya menyalahkanku


“Ih ya pulang dong, ngapain tidur kantor? Kayak gak punya rumah aja” kataku meledek

__ADS_1


“Aku sudah terlanjur bilang keluar kota sama Lila, ya jadi aku tidur kantor aja” kasian sekali dia demi aku sampai rela membohongi keluarganya


“Aku merindukanmu” wajahnya berubah menjadi serius


“Gak cocok bergaya kayak ABG begitu hahaha” aku menertawakan kata-katanya


“Mengenalmu dan menyayangimu membuatku terasa kembali muda hahaha” dia mulai menggoda


“Eleh-eleh si om gak inget umur nih” kataku meledek


“Belum juga 40 udah dibilang om, aku gigit nih ya” dia tak terima aku memanggilnya om “kalau aku om, kamu sugar baby nya ya, okay siiip deh” dia balik meledekku


“Bisa di atur asal transferan cocok hahaha” aku bercanda dengannya


“Eii mulai nakal ya, jewer telinganya nih” sambil mendekatkan jarinya di layar ponsel


“Ampun bang Jago” sambil tertawa terbahak aku meledeknya


“Aku bahagia melihat kamu tertawa, terlebih tawamu karena aku” wajahnya kembali serius walaupun seulas senyum tersungging di bibirnya


“Ahhh meleleh hatiku dengar rayuanmu mas” kataku sambil berpura-pura lemas kemudian tertawa


“Kamu gemesin banget sih, jadi pengen peluk yang luuuuaaamaaa”


“Mulai lebay deh” dengan tersipu malu aku tersenyum


“Temani aku sampai tidur ya”


“Ha? Gimana caranya?” Tanyaku terkejut


“Ya tinggal online sampai kita tertidur aja”


“Ngabisin kuota dong” aku mulai perhitungan


“Butuh berapa banyak kuota sih? Tenang aja nanti juga keisi full lagi” kata-kata orang yang rekeningnya tanpa limit nih


“Heeem sombong” kataku menyindir


“Lho kok sombong? Kan nanti aku tagihkan ke Bagas hahaha” sialan dia mencoba memancing emosi ku, aku membalasnya dengan memonyongkan bibirku


“Rheyna…Rhey…. Dimana kamu? Ayo keluar sini” suara teriakan seseorang mengagetkan aku dan mas Arlo, reflek aku menyuruh mas Arlo diam dengan memberi kode jari telunjuk di bibirku

__ADS_1


“Jangan ditutup sambungan teleponnya” kata mas Arlo sambil berbisik yang aku jawab dengan anggukan kepalaku.


Bersambung…..


__ADS_2