
Seminggu sudah berlalu, dan setiap malam Steve berkunjung kerumahku, dengan alasan makan malam, untuk membayar hutang belanjaku padanya.
Seperti malam ini, Steve bahkan membawakan sayur mayur, ikan, daging dan buah-buahan untuk isi kulkasku. Sepertinya sepulang kantor dia mampir ke supermarket dulu.
Aku memang belum sempat membeli bahan-bahan untuk memasak. Aku masih belum membeli motor untuk mobilitasku, bahkan mbak Sari pun belum sempat aku belikan sepeda. Bukan karena gak mau, tapi karena aku yang beberapa hari lalu fokus dengan gambarku yang akhirnya selesai dan bisa aku kirimkan tepat waktu, kemudian disusul dengan tamu bulanan yang datang, membuat perutku sakit beberapa hari ini, dan migrainku yang selalu datang ketika tamu bulananku datang, membuat aku hanya bisa di rumah saja.
“Steve, kenapa kamu setiap malam makan disini? Istrimu gak nyariin?” Pertanyaan yang hampir setiap malam aku lontarkan, dan Steve hanya menjawab dengan menggelengkan kepala dan tersenyum.
“Ayo lah Steve, berhentilah bermain-main. Kasihan istrimu, setiap malam kamu gak makan dirumah, dia pasti kecewa.”
“Ow, kalau aku gak makan dirumah istriku pasti kecewa ya?” Steve malah balik bertanya.
“Iyalah Steve, aku pernah diposisi itu, makan seorang diri sedangkan suami gak pulang.” Aku menerawang jauh pada masa laluku.
“Baiklah, aku akan mengingatnya” jawab Steve sambil menyendokkan nasi yang tinggal satu suap terakhir.
“Jangan hanya mengingatnya Steve, tapi berhentilah mengunjungiku.” Aku meletakkan sendokku, rasanya sudah tak ingin melanjutkan makanku lagi.
“Aku gak mau Rhey.” Jawab Steve santai.
“Kenapa gak mau? Kalau kamu gak mau, aku bakal pindah dari sini Steve, dan kamu gak akan bisa mencari aku.” Aku mengancamnya.
Steve terkejut, dan menatapku dalam-dalam. Ada terbesit sedikit rasa kecewa dari raut wajahnya yang tergambar, kemudian dia beranjak dari tempat duduknya.
“Okey aku gak kesini besok.” Jawabnya sambil mengacak-acak rambutku.
“Jangan hanya besok Steve, tapi selamanya.”
“Heeemmmm, aku pulang.” Steve berlalu begitu saja keluar rumah.
Ada rasa bersalah yang kurasa karena telah melarang Steve untuk berkunjung lagi kerumah ini, tapi aku tak ingin membebani orang lain.
Mbak Sari selalu makan setelah Steve pulang. Setelah makan, mbak Sari akan membersihkan semua piring kotor, setelahnya baru mbak Sari akan istirahat.
__ADS_1
Aku sudah masuk kekamar saat mbak Sari sedang makan. Aku mengutak-atik ponselku yang layarnya semakin bergaris-garis ini. Aku memang berniat akan membeli ponsel, mungkin beberapa hari lagi.
Ada notifikasi email masuk, bertuliskan nama sebuah perusahaan. Tiba-tiba aku berdegub kencang, aku tak langsung membuka email itu, aku berdoa dalam hatiku semoga ini kabar baik.
Ketika aku membuka email masuk itu, pertama kali yang aku lihat adalah tulisan “Congratulations” dan “1st WINNER”. Aku terharu dan menangis saat aku tahu, aku memenangkan lomba desain itu.
Tak berapa lama dari email yang aku terima itu, ada panggilan masuk dari nomor luar, dengan kode negara +49,
“Hallo” aku mengangkat panggilan itu.
“….”
“Yes, this is Rheyna speaking”
“…”
“oh, my God, is this true?”
“…”
Aku melompat-lompat kegirangan dan berteriak-teriak di dalam kamar. Pasalnya, panitia perlombaan desain itu memberikan info bahwa aku memenangkan posisi pertama lomba desain itu, seperti yang tertera di dalam email yang baru aku baca tadi. Akan ada yang menghubungiku besok, dari cabang perusahaan yang ada di Indonesia, untuk mendata semua informasi yang dibutuhkan untuk klaim hadiah.
Tok..Tokk..Tokk “non kenapa kok teriak-teriak?” Mbak Sari mengetuk pintu kamarku.
“Masuk sini mbak” aku sedikit berteriak.
“Ada apa non” mbak Sari membuka pintu kamarku.
“Mbakkk, aku menang lomba itu” aku berlari memeluk mbak Sari.
“Alhamdulillah ya Allah” mbak Sari terharu mendengar aku memenangkan lomba itu, hingga ia menitikkan air mata kebahagiaannya.
“Akhirnya mbak, aku bisa dapat kerjaan juga, plus liburan ke Paris mbakkk” aku sangat bahagia, hingga aku lupa akan sakit perutku karena tamu bulanan ini.
__ADS_1
“Selamat ya non, saya sudah duga pasti non yang menang” mbak Sari menyeka air matanya yang jatuh.
“Makasih mbak” aku kembali memeluk mbak Sari.
“Ya sudah sekarang non istirahat dulu aja, saya lanjutkan cuci piringnya.” Aku mengangguk dan melepaskan pelukanku pada mbak Sari.
Mbak Sari keluar dari kamarku dan kembali mencuci piring.
Aku mengambil ponselku, hendak membagikan kabar bahagia ini ke Steve, aku terlalu bahagia hingga aku lupa bahwa aku ingin menjaga jarak dengan Steve. Akhirnya aku menghapus pesan yang akan aku kirimkan ke Steve.
Di seberang sana ada yang sedang tersenyum penuh arti, sambil memperhatikan ponselnya. “it's time to start, baby” kemudian ia meletakkan ponselnya di atas nakas, dia tersenyum sambil memejamkan matanya.
‘Nanti aja deh aku kasi kabar ini ke Steve, kalau aku sudah mau perjalanan ke Paris aja, supaya gak ketemu Steve juga’ aku mengangguk-anggukan kepalaku, tanda menyetujui ide ku yang baru saja terlintas.
Aku meletakkan ponselku, mengambil ipad yang Steve pinjamkan. ‘Ipad ini akan menjadi milikku jika aku memenangkan lomba ini kata Steve, tapi aku akan membeli ipad ini, aku akan membutuhkannya untuk menggambar lebih banyak lagi. Thank you Steve, ipad ini sangat membantuku.’
Aku kembali meletakkan ipad itu di atas meja riasku, dan kembali membaringkan tubuhku. Aku mencoba untuk memejamkan mataku namun rasa kantuk seperti enggan menghampiriku, hatiku terlalu terasa bahagia hingga menyebabkan mataku tak ingin terpejam.
Akhirnya aku kembali mendudukkan tubuhku dan mengambil ipad itu lagi. Aku akan menghabiskan waktu dengan menggambar saja.
Kali ini aku akan menggambar sketsa wajah Vano, mama, dan papa. ‘Mengapa aku bisa merasakan kebahagiaan ini justru saat kalian meninggalkanku? Seandainya kalian masih ada disini, kalian pasti bahagia dan ikut tertawa bersamaku’ aku menitikkan air mataku, merindukan 3 sosok manusia yang sangat berarti di hidupku, tetapi Allah lebih menyayangi mereka.
Setelah aku menghapus kasar air mataku, aku kembali berfokus pada layar kosong di hadapanku. Aku memulai menggambarkan sosok Vano yang sedang di gendong papa. Setelah selesai menggambar Vano dan papa, aku menambahkan sosok mama di samping papa, tangan mama sedang memeluk pinggang papa, dan mereka tertawa. Aku lihat masih ada ruang kosong di bagian bawah layar itu, maka aku menggambarkan sosokku sendiri disana, tak terasa waktu sudah berjalan hampir 3 jam aku menggambarnya dengan sangat serius. Aku sudah mulai sedikit menguap, tetapi aku masih ingin menggambar sosok misterius yang akan mengisi hidupku di masa depan. Aku tak tahu kemana arah tanganku menggambarnya, aku hanya ingin menggambar sosok seorang lelaki yang sedang merangkul pundakku, yang menandakan bahwa suatu saat akan ada seorang lelaki yang mendampingiku melalui setiap tawa dan tangisku.
Aku tertidur dengan posisi tengkurap, dengan ipad yang masih menyala.
Bersambung..
Siapa hayo yang ada diseberang tersenyum penuh arti?
Wajah siapa yang di gambar Rheyna?
...Maafkan author ya sayang-sayangku, kemarin lagi gak fit jadi gak bisa update....
__ADS_1
...Tinggalkan jejak kalian ya, kalau banyak like dan komen, author bakal update 2 bab lagi deh hehehe...