
“Untuk menghabiskan sandwich itu Rheyna” dengan tertawa dan menunjuk 3potong sandwich yang belum terjamah
“Hahaha baiklah Steve” aku mengambil 1 potong sandwich dan mulai memakannya
“Apa pekerjaanmu Rheyna?” Tanyanya disela-sela makanku
“Aku?” Dijawab anggukan Steve “Aku pengangguran Steve, ini masih mencari pekerjaan”
“Owh Ok, sebelumnya kerja dimana?”
“Beberapa bulan lalu aku ibu rumah tangga” jawabku santai
“Sorry are you married?” Raut wajahnya nampak terkejut
“Not anymore” jawabku dan mengambil sepotong sandwich lagi
“Divorced?”
“Ya begitulah” jawabku
Dia tak melanjutkan pertanyaannya dan beralih membaca pesan pada ponselnya, berbalas pesan entah dengan siapa aku tak mau tahu dan tak ingin tahu.
Setelah menghabiskan 2 potong sandwich dan minumanku habis setengah, perutku sudah hampir terasa penuh. Aku menyandarkan punggungku pada kursi, memberikan ruang pada perutku untuk bernafas.
“Steve bagaimana kamu bisa pintar berbahasa?” Tanyaku saat melihat Steve meletakkan ponselnya
“Aku lahir dan besar di Jakarta Rheyna, ibuku asli Jerman dan ayahku asli Surabaya” dia menjelaskan asal usulnya
“Wah keren itu Steve”
“Kalau kamu?”
“Tak ada yang istimewa dari aku, ayah dan ibuku asli Surabaya, dan mereka berdua baru saja meninggalkanku” jawabku lirih, aku kembali memikirkan mama dan papa
“Ahhh maafkan aku Rheyna” sesalnya
“Tak apa Steve” jawabku dengan sedikit tersenyum
Untuk beberapa saat kami terdiam. Aku yang melamun menatap keluar jendela disampingku, membayangkan ke dua orang tua ku yang meninggalkan ku beberapa saat lalu. Dan Steve yang seperti segan menggangguku yang sedang melamun, dia hanya memperhatikanku saja dalam diam.
Ringgg Ringggg suara ponsel Steve mengagetkanku
“Maaf mengagetkanmu” dengan tersenyum kemudian mengangkat panggilan itu
“Ya ton? Kamu dimana? Masuklah, aku di dalam sisi sebelah kanan setelah pintu masuk” menerima telepon entah dari siapa
Dia melabaikan tangan pada seseorang yang sedang berjalan ke arah kami, tepatnya dibelakangku.
“Selamat malam tuan Steve, ini pesanannya” pria itu memberikan paperbag yang dia pegang ke Steve
“Terima kasih Anton, pesanlah sesuatu untuk anak dan istrimu” dia memerintahkan pria itu untuk memesan sesuatu
“Baik tuan, saya permisi dulu” Steve mengangguk dan pria itu berjalan meninggalkan kami
__ADS_1
“Ambillah Rheyna” menyodorkan paperbag itu di hadapanku, paperbag dengan lambang buah apel kroak
“Untuk apa Steve?” Tanyaku heran
“Permintaan maafku” dia tersenyum
“Tidak Steve” tolakku langsung
“Aku mohon terimalah”
“Ini terlalu berlebihan Steve, maaf aku tak bisa menerimanya” aku masih tetap menolaknya
“Bagaimana kamu mengikuti lomba itu jika kamu tak memiliki laptop Rheyna?”
“Aku bisa memperbaiki laptopku Steve”
“Begini saja, berikan laptopmu padaku biar aku yang memperbaikinya, dan kamu pakai ini dulu selama laptopmu aku perbaiki, jadi kamu bisa tetap menggambar menggunakan ini” dia mencoba memberikan penawaran
“Itu akan merepotkanmu Steve”
“Tidak Rheyna, aku mohon terimalah, jika laptopmu selesai aku akan menghubungimu dan kamu bisa mengembalikan itu padaku” sambil menunjuk paperbag itu
“Baiklah Steve” dengan terpaksa aku menerima penawaran itu
“Terima kasih Rheyna” dengan senyuman yang menawan
“Aku yang seharusnya berterima kasih karena kamu sudah membantuku”
“Berikan nomor ponselmu Rheyna” sambil menyodorkan ponselnya yang berlambang apel kroak itu, dan aku yakini ponsel itu keluaran terbaru
“Baiklah laptopmu akan aku bawa dan segera aku akan menghubungimu”
“Terima kasih Steve, apakah aku sudah boleh pulang?” Tanyaku
“Silahkan Rheyna, aku juga akan pulang” memasukkan ponsel dalam sakunya dan berdiri “Biar aku yang membawa laptop itu” sambungnya, saat dia melihat aku mengangkat tas laptopku
“Silahkan Steve” aku menyerahkan tas laptop itu
“Ayo kita keluar” dia mempersilahkan aku berjalan didepannya
Dengan menjinjing jaketku yang basah terkena tumpahan es kopi susu tadi. Penampilannya sungguh berbanding terbalik denganku, dia dengan penampilan formalnya dan sepatu pantofel, sedangkan aku dengan penampilan ala kadarnya dan sandal jepitku.
Saat berjalan ke arah mobilku, ponselku bergetar
“Hallo”
“Assalamualaikum sayang, sudah pulang?”
“Wa’alaikumsalam, ini mau pulang” Aku sungguh malas menjawab pertanyaannya, aku takut kedekatan kami akan semakin tak dapat dikendalikan,
“Aku ke apartemen kalau gitu” aku langsung menghentikan langkahku, dan Steve yang terkejut karena aku menghentikan langkahku ikut terkejut dan menabrak punggungku, membuat ponsel yang aku genggam terlempar jatuh tanpa sengaja
“Aahhh” aku terkejut karena ponselku yang jatuh
__ADS_1
“Oh no, I’m so sorry Rheyna, are you okay?” Steve menggenggam lenganku karena aku yang hampir terjerembab jatuh
“It’s okay Steve” aku berjalan untuk memungut ponselku yang terlempar jatuh tadi
“Did I break your phone?” Tanyanya melihat kearah ponselku
“I don't think so” aku menekan tombol power yang ternyata panggilan mas Arlo masih berlangsung
“Rheyna… Rhey…” panggilnya
“Ya” jawabku singkat
“Ada apa Rhey? Kamu jatuh? Suara siapa itu Rhey?” Pertanyaan bertubi-tubi dan aku malas mejawabnya
“Ponselku yang jatuh mas, itu suara temanku” Steve masih menunggu disebelahku, memainkan ponselnya “Mas tolong jangan ke apartemen dulu ya, aku masih mau konsentrasi dengan menggambarku. Lagi pula ini sudah malam mas, lebih baik kamu bersama anak-anak dan mbak Lila” aku menolaknya
“Sugar baby” suara lirih Steve membuat aku memalingkan pandanganku padanya,
‘Apa dia menuduh aku sebagai sugar baby? Tapi tatapannya masih ke arah ponselnya’ aku berbicara pada diriku sendiri
“Rhey kamu marah padaku?”
“Aku gak marah mas, aku hanya lelah tolong kamu ngertiin mas” dengan suara malasku aku tetap menolaknya
“Baiklah sayang, kamu pulanglah dan langsung istirahat, besok aku hubungi lagi” akhirnya dia mau mengerti
“Heemmm, Assalamualaikum” tanpa menunggu jawabannya ku mengakhiri panggilan telepon itu
“Sudah selesai Rheyna?” Sambil memasukkan ponselnya kedalam saku
“Sudah Steve, kenapa menungguku? Kamu bisa langsung pulang”
“Aku hanya memastikan ponselmu baik-baik saja” menunjuk ke arah ponselku
“Oh tenang saja Steve, ini hanya layarnya saja yang tergores, masih bisa digunakan tenang saja” aku menunjukkan ponselku yang layarnya retak
“Ini namanya rusak Rhey, maafkan aku” menarik ponselku dan membalik-balikkannya
“Sudahlah Steve ini tak masalah, aku pamit dulu ya” aku merampas ponselku dari tangannya dan berpamitan
“Rhey yang menghubungimu tadi….” Dia menggantungkan pertanyaannya
“Hahaha yang menghubungiku tadi sepupu mantan suamiku, bukan kekasihku ataupun sugar daddy ku Steve” aku tertawa dan menjelaskan siapa yang menghubungiku dan sedikit menyindirnya “Aku tak ingin menjadi simpanan siapapun Steve, aku bisa berdiri di atas kaki ku sendiri walaupun aku harus bekerja siang dan malam” aku menjelaskan karena aku tak ingin orang berpikiran buruk tentangku
“Maafkan aku Rhey” nampak raut wajah penyesalan karena sepertinya dia memang menuduhku tadi
“It’s okay Steve, aku pulang dulu ya sudah terlalu larut” pamitku pada Steve dan tersenyum kemudian berlalu menuju mobilku
“Okay see you Rhey” aku menoleh dan melambaikan tanganku
Aku memasuki mobilku dan aku lihat Steve memasuki mobilnya dan duduk di kursi penumpang. Mobil Steve yang dikendarai supirnya itu berjalan meninggalkan parkiran terlebih dahulu. Setelah aku meletakkan paperbag pemberian Steve, aku menstater mobilku dan meninggalkan cafe itu. Menjalankan mobilku dengan santai melalui jalan-jalan yang mulai lengang.
Bersambung……
__ADS_1
...Senin manis nih, Hai manis bagi Vote nya dong hehehe...