
Tak banyak tamu undangan yang datang, karena kami hanya mengundang beberapa keluarga Steve dan beberapa teman dekat mommy dan daddy.
Acara ramah tamah dengan para tamu undangan menyantap hidangan yang telah disediakan. Taman dan kolam renang sudah berubah menjadi cantik, dengan hiasan bunga yang sangat indah.
Tak ada panggung untuk aku dan Steve berdiri berdua, karena kami ingin berbaur dengan para kerabat. Agar lebih bisa merasakan kedekatan sesama keluarga.
Kami berkeliling menghampiri para kerabat. Dan mereka dengan tersenyum memberikan ucapan selamat pada kami. Dengan tangan kiri Steve yang terus merengkuh pinggangku, tak membiarkan sedetik pun untuk aku berada sedikit jauh darinya.
Sudah 2jam acara berlangsung, dan kaki ku sudah terasa pegal, karena kami lebih banyak berdiri. Untunglah para kerabat dekat sudah pada pulang, dan menyisakan keluarga inti saja.
Aku duduk di sofa, dan tanganku menyentuh kakiku, sedikit memijat betisku yang terasa pegal.
“Capek ya sayang?” Steve menghampiriku, dan disusul mbak Sari, mommy, daddy dan bu Yuli.
“Kaki ku berasa seperti habis dibuat lari maraton.” Jawabku menggambarkan bagaimana lelahnya kakiku.
“Yuk istirahat dikamar aja, biar kamu bisa tidur juga.” Steve mengulurkan tangannya untuk menggandengku.
“Jangan dimintain jatah dulu ya Steve, itu mantu mommy masih lelah.” Suara mommy menginterupsi Steve.
“Aish mommy ini, sudah halal ini mom.” Jawab Steve sambil mengedipkan sebelah mata. Aku memukul lengan Steve karena malu dengan jawaban Steve.
“Aku dan Rheyna istirahat dulu ya semua, sampai ketemu saat makan malam ya. Kalian juga istirahat dulu, pasti juga capek kan dari pagi sudah repot.” Steve berpamitan untuk istirahat pada semua yang ada di ruang keluarga ini, dan semua mengangguk dan tersenyum.
Tiba di ujung tangga, aku terkejut karena Steve yang tiba-tiba menggendongku, dan reflek tanganku langsung mengalung pada leher Steve, dan mulutku sedikit berteriak karena kaget.
Semua yang ada diruang keluarga otomatis menoleh pada aku dan Steve dan mereka bersorak. Mommy dan daddy hanya menggelengkan kepala dan tersenyum meliat kelakuan Steve yang bucin pada ku.
Steve membawaku kedalam kamarnya. Kamar yang sudah dihias dengan bunga, ada fotoku yang besar berada diatas ranjang Steve. Fotoku yang entah kapan Steve mengambil gambarnya, sepertinya dia mencuri-curi untuk mengambil gambarku.
Wangi maskulin kamar Steve, sama seperti wangi Steve. Steve menurunkan aku di ranjangnya dengan perlahan. Kakiku yang terjuntai di samping ranjang di naikkan ke atas ranjang oleh Steve, kemudian Steve membantuku untuk membuka tali sandal yang aku gunakan.
__ADS_1
Steve memijat kakiku yang terasa lelah, aku yang duduk dengan bersandar di punggung ranjang sungguh menikmati pijatan Steve, dengan tak sopan mulutku beberapa kali menguap karena lelah.
“Ayo aku bantu melepas hiasan dirambutmu sayang, pasti ada banyak jepit yang ada disana.”
“Kamu kok tau kalau ada banyak jepit dirambutku?” Tanyaku heran.
“Eh itu, mommy kan rambutnya juga sering dimodel-model begitu, jadi aku tau sayang.” Jawab Steve gugup.
“Bohong ya?” Tanyaku menggoda Steve.
“Ayo ntar keburu ketiduran low sayang.” Steve berdiri membuka jas dan sepatunya, kemudian membuka dasi, dan 2kancing kemejanya yang teratas, menampilkan sedikit dadanya. Entah mengapa semua gerakan Steve membuat dadaku berdebar.
Setelah membuka kancing di bagian pergelangan tangannya, Steve menarik lengan kemejanya dengan asal dan berkata,
“Udah jangan lihatin suaminya kayak orang yang mupeng banget gitu dong sayang.” Steve menggodaku, dan membuatku sangat malu dan memalingkan wajahku.
“Siapa yang liatin kamu, ih ge er deh.” Jawabku mengelak, langsung berdiri dan berjalan duduk di depan meja rias.
Aku mulai mengoleskan cairan remover untuk menghapus makeup, karena jika tidak dihapus, maka bisa aku pastikan, besok wajahku akan bertaburan jerawat. Steve memegang kedua bahu ku,
“Kalau sakit bilang ya, aku pelan-pelan kok.”
“Uhkkk uhkkk uhkkkk” aku terkejut mendengar kata-kata Steve yang ambigu, sungguh kata-katanya membuat otakku seketika treveling ke enak-enak.
“Honey are you okay?” Steve nampak terkejut melihat aku terbatuk.
“Kamu nih bikin aku batuk-batuk, ngomongnya jangan aneh-aneh deh.” Dengan wajah cemberut aku memarahi Steve.
“Lho kok aku, kan aku gak ngapa-ngapain.” Steve membela diri.
“Itu tadi, ngapain bilang kalau sakit bilang ya aku pelan-pelan, kayak mau ngapain aja.” Jawabku masih dengan bersungut-sungut.
__ADS_1
“Kan bener, kalo sakit bilang, aku sering lihat mommy di bantu daddy buat keluarin jepit-jepit dari rambutnya, dan mommy selalu berteriak katanya sakit, karena daddy kalau narik jepitnya kekencengan.” Steve menjedah omongannya dan tangannya meraba kepalaku, mencari-cari jepit yang bersemayam di kepalaku. “Eh tunggu sayang, apa yang kamu pikirkan istriku sayang?” Dengan wajah menggoda sambil mengangkat-angkat kedua alisnya, dia menatapku dari cermin.
“Apa’an sih, aku gak mikir apa-apa. Udah cepet Steve jadi bantuin lepas jepit dirambut gak nih?” Aku mengalihkan pembicaraan kami, sudah jelas sekali aku sangat malu dengan pikiranku.
“Jangankan jepit rambut, gaunmu pun siap aku lepas sayang.” Jawabnya masih terus menggodaku.
Aku berdiri dan membalik badanku hendak meninggalkan Steve yang terus menggodaku. Tetapi yang terjadi Steve malah memeluk pinggangku, menatapku intens menyelami kedalam mataku, mendorongku perlahan sampai aku terduduk di atas meja rias, Steve belum juga mengalihkan pandangannya dari mataku.
Pandangannya beralih pada pipiku, dengan tangannya yang ikut membelai pipiku, membuat jantungku tiba-tiba bedetak cepat, ada apa ini terasa seperti ada beribu kupu-kupu yang sedang menggelitik didalam perutku.
Tangan Steve beralih pada bibirku dan jemarinya membelai bibirku lembut,
“Kamu terlalu cantik untuk disakiti oleh mereka sayang, jangan pernah menangis lagi.” Steve lebih seperti berbicara pada dirinya sendiri.
“Apa kamu tau? Kamu lebih cantik jika tanpa makeup, kecantikanmu benar-benar natural.” Kemudian tanpa permisi Steve menciumku, sangat lembut. Karena terkejut aku tak membalasnya dan hanya diam seperti patung.
Steve menertawakanku disela-sela ciumannya. “Sepertinya beberapa hari yang lalu ada yang sangat pintar mencumbuku, tapi kenapa sekarang seperti patung?” Steve tertawa.
“Ejek aja terus” aku cemberut dan hendak turun dari meja rias, tetapi Steve menahanku.
Dia kembali menciumku, aku masih juga tak membalas ciuman itu hingga tangan Steve merayap di punggungku yang terbuka karena gaunku yang menampilkan punggungku. Akhirnya aku membuka mulutku, dan tanganku dengan berani menggelayut manja di leher Steve. Tangan Steve sudah tak lagi berada di punggungku, entahlah aku tak perduli yang pasti aku menikmati cumbuan Steve. Ciuman itu mulai turun di leherku, memberiku tanda kepemilikan disana, tanganku meremas rambut Steve, dan aku menggigit bibir ku sendiri karena takut mengeluarkan suara-suara yang akan membuat Steve meledekku.
“Jangan di gigit, mendesahlah sayang jangan ditahan jika suara sexy itu ingin keluar.” Spontan aku langsung membuka mataku dan mendelik ke arah Steve yang hanya dibalas dengan tawanya.
“Sudah sana mandi, sudah lepas semua itu jepitnya.” Tanpa aku sadari cumbuan Steve membuatku terlena hingga tak sadar jika Steve sudah selesai melepas semua jepit dirambutku.
“Lho kok sudah lepas semua.” Aku membalik tubuhku dan melihat rambutku sudah seperti singa.
“Belum semua sayang, ini belum aku lepaskan.” Steve menarik tali pengikat gaunku, dan seketika gaunku melorot.
Bersambung..
__ADS_1