
Mommy benar-benar melarang Steve untuk menemuiku, bahkan menelpon ku pun dilarang oleh mommy.
Tadi malam saat aku tertidur, aku mendengar diluar kamar beberapa pekerja masih berjaga untuk mendekor kamar Steve, mendekor ruang keluarga yang akan di gunakan untuk acara akad nikah Steve dan aku, serta taman belakang yang akan digunakan untuk menjamu beberapa keluarga.
Mommy tak mengijinkanku untuk keluar kamar, dengan alasan aku harus beristirahat karena esok pagi aku harus bangun pagi untuk merias wajahku.
Waktu sudah menunjukkan pukul 04.00 waktu Jerman, tetapi mataku belum juga mampu terpejam. Ini mungkin memang bukan pernikahan pertamaku, namun aku berharap ini adalah pernikahan terakhirku. Walaupun aku tahu, cinta untuk Steve belum hadir, tetapi aku yakin dengan cinta Steve aku akan merasakan cukup. Lebih baik di cintai, dari pada mencintai.
Jantungku berdegub kencang, pasalnya dipernikahan pertamaku, kami hanya menjalankan prosesi akad nikah saja, walaupun di sini akad nikah dan resepsi hanya sederhana, tetapi mengetahui semua yang telah Steve persiapkan membuatku takjub.
Akhirnya mataku bisa terpejam menjelang pukul 5 pagi.
Pukul 06.00 mommy masuk kekamarku dan membangunkanku. Sangat lembut.
“Sayang… Ayo bangun nak, sudah waktunya bersiap-siap.”
Sungguh aku merasa masing sangat mengantuk, “Bisakah aku tidur 10 menit lagi mom?” Tawarku padanya.
“Pasti kamu kesulitan untuk tidur ya? Jam berapa kamu tidur sayang?” Tanya mommy dengan mengusap rambutku.
“Sepertinya sekitar jam lima mom.” Jawabku masih dengan mata terpejam, apa lagi ditambah dengan belaian tangan mommy membuatku semakin ingin memeluk guling.
“Eits jangan tidur lagi sayang. Kamu mandi dulu ya, nanti lanjutkan tidurnya saat di rias ya nak. Kalau terlambat nanti make up nya gak maksimal low, ayo sayang.” Mommy merayuku.
Akhirnya aku bangun dan bergegas ke kamar mandi. Saat aku mandi, mommy menyuruh para perias untuk mempersiapkan semua di kamarku. Aku terkejut saat selesai mandi dan hanya menggunakan bathrobe, ternyata di kamarku sudah ada 5 orang, 3orang wanita, dan 2orang pria yang gemulai. Mereka tersenyum kepadaku, kemudian membimbingku untuk merebahkan diri di tempat tidur yang entah siapa yang menata, karena saat tadi aku tinggal ke kamar mandi, kasur itu masih berantakan.
Satu orang wanita sedang berada pada bagian kakiku, merapihkan kuku kaki serta mempercantiknya. Satu orang lelaki pada bagian tanganku, bertugas mempercantik kuku jemari tanganku. Sedangkan seorang wanita lagi mulai menjamah wajahku. Aku sangat gugup dan tegang, bahkan aku tak bisa tersenyum rasanya.
__ADS_1
Saat mommy masuk kedalam kamarku dan melihat aku yang seperti manekin kaku karena takut bergerak, dengan tawanya membuyarkan keteganganku.
“Kenapa kamu terlihat seperti patung begitu sih sayang?” Kata mommy sambil berjalan mendekatiku.
“Mom, aku gugup.” Jawabku singkat.
“Tidurlah, bukankah tadi kamu merasakan kantuk nak, nanti jika sudah selesai mereka akan membangunkanmu.” Dengan sangat sabar mommy membelai rambutku, sehingga aku yang memang kurang tidur, tak butuh waktu lama untuk segera masuk ke alam bawah sadar.
Entah berapa jam waktu berlalu, yang pasti aku merasa sudah tak merasakan kantuk seperti tadi.
Kini giliran rambutku yang diberikan sentuhan oleh tangan seorang pria yang profesional membuat tatanan rambutku menjadi indah.
Setelah rambut, make up sudah selesai, kini giliran aku memakai gaunku, dengan di bantu desainer itu untuk mengenakannya. Gaun itu aku rasakan sangat pas melekat pada tubuhku, hanya saja aku belum sempat melihat hasil tatanan make up serta rambutku.
Setelah mereka semua sudah selesai mengoreksiku, mommy yang sudah dengan setia menungguku, membimbing tanganku berjalan menuju cermin. Aku sungguh terkejut melihat tampilan pada cermin.
“Sangat cantik bukan? Steve memillih seorang wanita yang sangat cantik.” Mommy memujiku, ya mommy benar mereka telah menyulapku menjadi seorang wanita yang berbeda, tak ku pungkiri bahwa tampilan dicermin ini aku terlihat sangat cantik, bahkan aku ragu kalau itu adalah aku.
“Tunggulah disini sayang, Steve sudah ada di bawah, sedang bersiap-siap untuk menjalankan ijab kabul.” Mommy mengambil remote TV dan menyalakan TV yang ternyata terhubung pada kamera yang berada pada ruang akad nikah.
Steve dengan mnggunakan jas berwarna putih, dan rambut yang tertata sangat rapih, dan juga wajahnya yang berbinar walaupun nampak gugup. Steve terlihat sangatlah tampan.
Setelah Steve mengucapkan “Saya terima nikah dan kawinnya Rheyna Aurora……..” aku yang menyaksikan nya di dalam kamar seketika menahan nafas karena takut Steve salah, ternyata Alhamdulillah Steve dengan lancar mampu mengucapkannya walaupun sempat terlihat gugup.
Mommy membimbingku untuk berjalan keluar dari persembunyianku, dan turun untuk menemui lelaki yang telah sah menjadi suamiku.
Saat aku menuruni tangga, betapa terharunya aku melihat ada mbak Sari, bu Yuli, bahkan beberapa adik panti juga ada disana termasuk Ranti.
__ADS_1
Tatapan Steve tak lepas dari memandangku, dengan wajah yang berbinar dia menghampiriku di ujung tangga.
“Istriku yang tercantik.” Dengan meminta sebelah tanganku dan menciumnya.
Sungguh aku sangat bahagia, dicintai oleh lelaki yang tepat, mendapat keluarga yang baru, dan sangat baik sungguh aku tak pernah berfikir seberuntung ini.
Setelah menandatangani buku nikah, kami berdiri untuk berfoto dengan buku nikah kami.
Steve memelukku erat, “Terima kasih sudah bersedia menjadi istriku. Terima kasih sudah menerima cintaku. Tetaplah disisiku, apapun yang terjadi aku akan selalu mencintaimu.” Wanita mana yang tak akan meleleh mendengarkan kata cinta dari lelaki yang mencintainya.
“Terima kasih telah menjadikanku wanita paling beruntung didunia ini. Terima kasih telah sangat mencintaiku. Terima kasih karena telah memilih wanita sepertiku, rasanya seperti mimpi dapat bersanding dengan lelaki sebaik kamu sayang.” Aku membaas kata-kata Steve, dan Steve mempererat pelukannya.
“Sudah-sudah, mentang-mentang sudah sah peluknya gak mau lepas gitu, gak kangen saya non?” Suara mbak Sari membuatku melepaskan pelukan Steve.
“Aaaahhhh mbak Sari, aku kangen banget mbak” aku berhambur memeluk mbak Sari.
“Selamat ya non, berbahagialah non karena sudah saatnya non hanya menikmati kebahagiaan.” Mbak Sari yang selama ini menemaniku, yang sudah seperti keluarga ku sendiri.
“Makasih banyak mbak” aku masih memeluk mbak Sari, dan sedikit menitikkan air mata haru.
Setelah melepas rindu dengan mbak Sari, aku menghampiri bu Yuli dan beberapa adik-adik panti.
“Ibu, terima kasih sudah berkenan hadir.” Aku memeluk bu Yuli.
“Justru ibu yang berterima kasih padamu dan juga suamimu nak, sudah repot-repot membawa kami kesini. Selamat ya nak, semoga rumah tangga kalian selalu dalam lindungan Allah, dan selalu dalam keberkahan.”
“Aamiin, terima kasih bu.” Adik-adik menyalamiku dan ikut mendoakan rumah tanggaku.
__ADS_1
Setelahnya acara berpindah ke taman belakang, yang sudah tersaji beberapa menu khas Indonesia, dan beberapa menu Eropa.
Bersambung..