
Beranjak dari rumah penyimpanan minuman anggur, mommy mengajakku keluar dan mommy membawa 1 botol.
“Kapan kalian akan menikah sayang?” Mommy menautkan tangannya pada lenganku.
“Mungkin lusa mom.”
“Apa? Secepat itu? Aduh anak-anak muda ini ya, merencanakan pernikahan seperti hanya berkencan saja.”
“Maaf mom.” Jawabku penuh sesal, karena aku lah yang meminta Steve untuk menikahiku secepatnya.
“Hei, kenapa harus meminta maaf? Mommy bahagia, anak mommy akhirnya menikah dengan wanita yang dia cintai.” Sambil mengelus lenganku dan berjalan memasuki rumah kembali.
Mommy menuntunku menuju ke ruang makan dan menyuruhku untuk duduk.
“Bi, tolong panggilkan Steve ya.” Mommy menyuruh salah seorang pelayan untuk memanggil Steve.
“Baik nyonya.” Pelayan berlalu meninggalkan kami.
“Kamu tunggu disini sebentar ya sayang, mommy mau memanggil daddy sebentar.” Mommy berdiri dari duduknya.
“Aku datang tanpa di panggil cintaku.” Daddy menghampiri mommy dan menciumnya.
‘Romantis sekali mereka, bahkan hingga usia segini mereka tetap mesra.’ Aku memandangi mereka tanpa berkedip.
“Hayooo, pengen ya?” Steve mengejutkanku dengan mencium pipiku.
“Ah ha? Apa’an sih.” Jawabku sambil memukul lengan Steve. Aku malu, karena Steve melihatku memandang kedua orang tuanya tanpa berkedip.
“Kamu tahu kenapa aku jarang pulang kesini?” Steve bertanya padaku, dan aku jawab dengan menggeleng. “Karena aku jomblo, yang setiap hari selalu dipameri kemesraan mereka.” Steve mendengus kesal.
Mommy, daddy dan aku tertawa mendengar penuturan Steve.
“Ya agar kamu segera menikah lah, supaya tau bagaimana rasanya bermesraan dengan yang sudah halal.” Daddy menjawab Steve dan kemudian duduk di sebelah mommy, sedangkan Steve duduk disebelahku berhadap-hadapan dengan daddy.
“Tenang saja dad, tinggal beberapa jam lagi maka dia akan menjadi halal untukku.” Jawab Steve dengan senyuman penuh artinya.
“Beberapa jam lagi? Maksudmu?” Tanya daddy heran.
“Sorry dad, aku lupa memberi kabar. Lusa aku akan menikahi wanita cantik ini.” Steve kembali mencium pipiku.
“Lusa? Bocah tengik ini bisa-bisanya merencanakan pernikahan tetapi orang tuanya tak diberi kabar.” Sambil melempar serbet yang masih belum di pakai ke arah Steve.
__ADS_1
Mommy yang melihat hanya tersenyum saja.
“Tenang dad, semua berkas sudah ada yang mengurus sendiri, besok berkas-berkas dan semua yang dibutuhkan akan segera mendarat disini.” Jawabnya santai.
Bibi meletakkan beberapa masakan dan juga nasi putih di atas meja makan. Ada udang balado, sayur santan, dan tumis sayur, serta tak terlupakan sambal bawang. Tidak ada makanan dengan menu kebarat-baratan di meja makan ini, semua menu asli Indonesia.
“Bagaimana dengan keluarga Rheyna?” Daddy menyendokkan nasi untuk mommy, kemudian menyendokkan nasi untuk piringnya sendiri. Pemandangan yang sangat tak pernah aku jumpai.
“Sudah beres semua dad.” Jawab Steve yang bergantian menyendokkan nasi untukku dan dia sendiri.
“Kenapa sayang? Memperhatikan kami seperti heran?” Tanya mommy, saat daddy menyendokkan sayur santan ke piring mommy.
“Eh itu tidak mom.” Aku ingin menjawab jujur namun aku malu.
“Heran ya lihat daddy yang ambilkan makan? Bukan mommy yang melayaninya.” Ini lah yang sebenarnya ingin aku katakan. Aku mengangguk dengan menunduk.
“Karena menurut daddy, melayani istri adalah tugas suami, dan itu adalah bentuk rasa cinta daddy untuk mommy.” Mommy menjelaskan.
“Karena bukan hanya lelaki yang ingin dilayani, wanita pun jauh lebih ingin di layani, dimengerti dan di manja.” Daddy menambahkan kata-kata mommy.
“Sudah ah ayo makan.” Steve menginterupsi obrolan kami.
Mommy mengupas buah apel dan jeruk untuk kami.
“Bagaimana orang tua mu akan datang nak?” Tanya daddy padaku.
Aku langsung menoleh pada Steve, seolah mengatakan ‘Aku harus jawab apa?’. Steve hanya mengangguk, aku tahu maksud dari anggukannya.
“Mama sama papa.. mama sama papa sudah tiada beberapa bulan lalu.” Aku menunduk.
“Oh maafkan daddy nak, jangan bersedih.” Daddy mengucapkan dengan penuh penyesalan.
“Iya gak pa pa daddy.” Jawabku lirih, aku kembali teringat kedua orang tuaku.
“Dia kehilangan putranya, kemudian di susul papanya, dan tak lama berselang, mamanya ikut tiada dad.” Steve mencoba menjelaskan, dan tangannya menggenggam tanganku, memberikan ke kuatan karena aku yang mulai mengingat kedua orang tuaku dan putraku.
Mata papa Steve mencoba untuk bertanya pada Steve tanpa suara, setelah mendengar Steve berkata tentang putraku.
“Ya dad, Rheyna adalah janda. Dia di khianati oleh mantan suaminya yang berselingkuh, dan selingkuhannya hamil. Bahkan sebelum putranya meninggal, suaminya sering tak perduli pada dia dan putranya.” Steve menjelaskan semua tentangku pada daddy.
“Tak apa nak, semua adalah pelajaran berharga yang harus di lalui. Percayalah bahwa di masa yang akan datang, kamu akan menemukan kebahagiaanmu.” Daddy tersenyum padaku.
__ADS_1
“Terima kasih daddy, mommy dan Steve, yang sudah mau menerimaku dengan semua kekuranganku. Semoga aku bisa membahagiakan kalian.”
“Aamiin, sudah yuk jangan melow-melow terus, ayo di makan jeruknya.” Mommy akhirnya membuka suara.
Kami memakan buah yang sudah mommy potong-potong, dan saling berbincang-bincang mengenai rencana pernikahanku dan Steve.
“Nanti daddy akan suruh para pekerja untuk menyiapkan kolam dan taman belakang, untuk acaramu lusa. Kamu sudah memesan dekor?” Daddy bertanya pada Steve.
“Semua sudah beres dad, besok para pendekor akan mulai mendekor belakang dan juga kamar.” Steve menjawab dengan mulut yang penuh dengan jeruk.
“Kemana kalian akan honeymoon?” Giliran mommy yang kini mengajukan pertanyaan.
“Setelah acara pernikahan, kami akan terbang ke Paris mom. Rheyna memenangkan perlombaan desain, yang perusahaan kita adakan.”
“Ah benarkah itu? Atau jangan-jangan, kamu yang sudah merencanakan semua ini?” Tanya mommy curiga.
“Sedikit mom. Hanya mengubah posisi juara ke 2 menjadi juara 1 saja. Hahaha.”
“Jadi, ini semua rencanamu Steve?” Aku mendelik ke arah Steve.
“Tidak sepenuhnya honey. Ada panitia khusus yang telah memilih beberapa juara, dan kamu memenangkan juara ke 2, tetapi aku mengatakan pada mereka, jika aku lebih menyukai desainmu, dan mereka menurutiku. Hanya itu saja honey.”
“Heemmm.” Aku memalingkan wajahku dengan mulut yang cemberut.
“Honey, jangan marah ya.” Steve dengan suara manjanya.
“Mom, ku mohon hukum Steve untukku mom.” Aku meminta mommy menghukum Steve karena telah curang.
“Dengan senang hati sayang. Steve, mulai malam ini kamu akan tidur di apartemen kita, dan kamu hanya boleh kesini saat menjelang pernikahanmu lusa. Bagaimana sayang?” Mommy mencoba meminta persetujuanku.
“I Love you mom, terima kasih. Aku setuju sekali mom.” Jawabku dengan tersenyum lebar, kemudian berdiri dan memeluk mommy.
“Mom, ini tak adil mom.” Steve mencoba untuk membantah.
“Sssstttt, jangan membantah. Atau kamu mau, daddy memulangkan Rheyna?” Daddy ikut mengancam Steve.
“Ahhh kalian bersekongkol, sebenarnya aku anak siapa?” Steve terlihat bersedih.
Kami semua tertawa pagi ini karena Steve yang mendapatkan hukuman.
Bersambung..
__ADS_1