Aku Lelah,Cintai Aku

Aku Lelah,Cintai Aku
Shopping


__ADS_3

6 Bulan kemudian


Perutku sudah membuncit, usia kandunganku sudah memasuki 7 bulan. Mual dan muntah pun hanya aku rasakan sampai usia kehamilanku 3 bulan saja, setelahnya aku bisa bebas makan apa pun, hanya saja aku masih alergi dengan asap rokok, hal yang memang tak pernah aku sukai dari dulu.


“Baby jalan-jalan yuk? Udah boleh belanja perlengkapan junior kan?” Semenjak aku hamil, Steve sering mengajakku untuk berkencan di mall, entah menonton film atau sekedar makan, Steve sering mengajakku belanja kebutuhan bayi dalam kandunganku, yang Steve panggil dengan “Junior”.


“Boleh sayang, sekalian aku mau beli pakain dalam, udah gak sesak semua punyaku.” Kami berbincang-bincang di sela-sela sarapan.


“Mbak Sari ikut yuk, dirumah terus gak bosen apa? Ikut ya mbak.” Aku mengajak mbak Sari sekalian, karena selama ini mbak Sari hanya dirumah saja,.


“Nanti malah ngerepotin non sama tuan lagi.” Mbak Sari ingin menolakku.


“Aduh mbak kayak sama siapa aja, ayo ikut ya sekali-sekali kita makan diluar sama-sama.” Steve ikut mengajak mbak Sari.


“Baik tuan.” Akhirnya mbak Sari setuju untuk ikut denganku dan Steve.


“Ya udah habis sarapan kita siap-siap ya, mandi mandi dulu sana.” Kata ku mengingatkan Steve untuk mandi


“Baby aku renang bentar ya, habis gitu langsung mandi kok.” Semenjak aku hamil entah kenapa Steve jadi lebih malas untuk mandi, apa lagi saat hari minggu seperti ini, Steve tidak akan mandi jika tidak menjelang tidur malam, karena jika dia tidak mandi maka aku akan menyuruhnya untuk tidur di ruang TV karena aku tidak suka tidur dengan Steve jika dia belum mandi.


“Aku ikut ya sayang.” Tiba-tiba aku ingin ikut Steve berenang. Steve mengangguk saja dan berlalu menuju arah kolam.


Setelah selesai berenang, aku dan Steve mandi dan bersiap-siap, karena mbak Sari sudah siap lebih dahulu saat aku dan Steve baru selesai berenang tadi.


“Mbak Sari udah siap? Ayo.” Aku memanggil mbak Sari didepan kamarnya.


“Iya non, sebentar.” Tak berapa lama, mbak Sari keluar dari kamarnya.


“Sebentar ya pak Sono masih perjalanan kesini, sudah dekat kok katanya tadi.” Steve yang duduk di sofa ruang tamu memberi tahu kami untuk menunggu pak Sono sebentar.


Pak Sono yang dulu berpura-pura menyewakan rumah ini, sebenarnya adalah sopir Steve, dan sekarang pak Sono diminta Steve untuk mengantar kami berjalan-jalan di mall.


“Itu kayaknya suara motor pak Sono mbak, bisa minta tolong buka kan pagarnya mbak? Sekalian suruh nyalakan mobil nya ya mbak, langsung berangkat aja kita.”


“Iya tuan.” Mbak Sari keluar rumah dan membukakan pagar pak Sono.


Mbak Sari duduk di depan bersama dengan pak Sono yang mengemudi, dan di tengah ada aku bersama Steve. Sepanjang perjalanan Steve selalu mendekat denganku, memelukku dan sesekali mengusap perutku.


“Anak papa minta makan apa nanti siang nak?” Steve seolah sedang berbincang-bincang dengan anak yang ada didalam kandunganku.

__ADS_1


“Minta makan ramen boleh pa?” Aku menjawab dengan suara anak kecil, seolah yang menjawab adalah bayi didalam kandunganku.


“Boleh, mau berapa mangkok mami makannya? Hahaha.” Steve menggodaku.


“Sayanggggg, makanku banyak ya? Ya udah deh gak jadi kalau gitu.” Aku pura-pura marah, “kita puasa aja ya nak, papi pelit.” Aku membuang muka ke arah jendela mobil.


“Jagan ngambek dong sayang, mau ramen sama restonya di beli juga gak pa pa, mau ta sayang?”


“Gak mau, biarin aku puasa aja. Biar papi kapok ya nak.”


“Gak boleh puasa, kalau gak mau makan nanti biar aku gendong ke restonya.”


“Enak aja di gendong, ntar dikirain kamu lagi gendong beruang lagi.”


“Istriku cantik begini, siapa berani bilang kamu beruang? Minta di tampol apa, kan kamu imut kayak panda ya baby.” Tawanya kembali pecah.


“Ih jahat aku dibilang kayak panda. Mbak Sari ayo kita turun aja.” Mbak Sari dan pak Sono hanya tersenyum saja menanggapi percakapanku dan Steve yang membuat aku menggondok.


“Kamu makin gemesin low kalau gondok gini, sini cium dulu dong.” Steve menarik pundakku dan mencium keningku.


“Aku mau makan 2 mangkok pokoknya, salahnya kamu bikin aku emosi, jadi lapernya double ini.”


Kami sampai di lobby mall, aku, Steve dan mbak Sari turun dari mobil, sedangkan pak Sono meninggalkan kami, dan akan menjemput kami nanti saat kami selesai berbelanja.


Aku memasuki sebuah toko perlengkapan bayi berlambang ‘M’. Aku dulu pernah kesini saat hamil Vano, dan hanya membeli beberapa baju saja, karena Bagas yang saat itu membatasi ku.


“Sayang beli beberapa aja ya, bajunya gak usah banyak-banyak ya.” Aku mengatakan pada Steve agar hanya membeli beberapa saja.


“Kenapa gitu?”


“Ya biar abisnya gak terlalu banyak.” Aku menjawab seolah lupa siapa suamiku sekarang.


“Baby, beli semua yang junior dan kamu butuhkan, jangan membatasinya. Uangku tak akan habis jika hanya membelikan kebutuhan seperti ini, bahkan sepuluh anak pun aku mampu sayang.”


“Ya ampun aku lupa siapa suamiku sekarang, my sugar daddy ya. Hahaha”


Aku hanya memilih 10 pasang baju dan celana, serta 3 pasang sepatu saja. Aku berkeliling toko ditemani mbak Sari serta 1 orang pramuniaga toko, sedangkan Steve juga ikut berkeliling toko sendiri dan ditemani seorang pramuniaga. Tak lupa aku membeli kain untuk bedong.


“Mbak Sari, Steve dimana ya?” Aku celingukan mencari Steve.

__ADS_1


“Itu non, lagi lihat-lihat box bayi.” Mbak Sari menunjuk ke arah ujung toko.


“Owh ya udah, ayo kita tunggu di depan kasir aja. Mbak Sari bilangin Steve ya kalau aku sudah selesai, aku duduk disitu dulu, capek juga jalan-jalan padahal baru satu toko ini. hehehehe”


Aku duduk di kursi yang di berikan oleh pramuniaga yang memang khusus untuk ibu hamil yang sedang lelah. Dan mbak Sari sedang memanggil Steve yang di jawab dengan anggukan oleh Steve.


“Udah selesai baby pilih-pilihnya?” Steve menghampiriku dan membelai pundakku.


“Udah selesai sayang, giliran sugar daddy yang bayarin nih.” Jawabku sambil tersenyum mengejek.


“Hahaha, okey.”


“Sudah selesai pak belanjanya?” Tanya kasir yang akan menghitung jumlah belanjaan kami.


“Sudah mbak, tolong nanti semuanya di antar kerumah saya ya. Kata mbak yang itu tadi kalau belanjanya bisa dikirim kerumah.” Steve menunjuk pada seorang pramuniaga yang melayaninya. Aku hanya memperhatikan Steve dan mendengarkan percakapan mereka saja.


“Bisa pak, apa lagi belanjanya sangat banyak seperti ini, dan ada barang-barang besarnya jadi pasti akan bisa kami kirimkan.” Jawab kasir itu ramah.


‘Ih kalau belanja gini aja jadi ramah, dulu aku cuma belanja 1 kaos aja pelayanannya kayak aku mau nyuri disini.’ Aku pernah mendapatkan pengalaman kurang mengenakan ditoko-toko berkelas seperti ini, dimana pramuniaganya memandang seseorang dari penampilannya saja, ada yang pernah mengalami seperti Rheyna juga? Hehehe


Setelah kasir menghitung jumlah dari belanjaan kami, yang struknya udah bisa digulung itu, aku jadi heran, bagaimana bisa belanjaanku yang sedikit itu jadi struk yang panjang.


“Totalnya dua puluh delapan juta tiga ratus dua puluh satu ribu delapan ratus pak.” Kasir itu menyebutkan jumlah yang membuat aku mendelik, karena tidak mungkin jika jumlah belanjaanku sampai angka puluhan juta.


Steve menyerahkan kartunya pada mbak kasir itu, “Sayang tunggu, gak salah itu jumlahnya?” Aku yakin pasti ada kesalahan jumlahnya, Steve hanya mengangkat pundaknya seolah menjawab ‘Gak tau, ya udah bayar aja.’


“Mbak, gak salah itu jumlahnya? Saya hanya membeli beberapa setel baju dan sepatu low.” Aku mencoba untuk menanyakan pada mbak kasir.


“Maaf bu, tapi jumlahnya sudah benar bu.” Mbak kasir jadi bingung karena pertanyaanku.


“Itu box anak saya sama bak mandinya sudah dimasukkan sekalian kan mbak?” Steve menyela pembicaraan kami.


“Sudah pak, strollernya juga sudah pak.” Jawab mbak kasir itu.


“Lho sayang? Kam beli semua itu?” Aku balik bertanya pada Steve dan hanya di jawab dengan cengiran kuda dari bibirnya. “Pantes aja habisnya segitu banyak. Ya udah mbak udah bener berarti.” Aku menyuruh mbak kasir untuk melanjutkan transaksinya.


Bersambung..


Jangan lupa mampir dikaryaku “Cleaning Service Cintaku” ya, dan jangan lupa bagi likenya di karya baru ku itu ya…

__ADS_1


__ADS_2