Aku Lelah,Cintai Aku

Aku Lelah,Cintai Aku
Berselingkuh?


__ADS_3

“Sayang kamu gak pa pa?” Pagi ini aku terbangun dengan pemandangan Steve yang sedang duduk di kursi teras balkon kamar kami.


“Morning baby.” Steve menyapaku dengan senyumnya.


“Morning. Sudah bangun kok gak bangunin aku juga?” Aku menghampirinya dan membenarkan baju tidurku.


“Kamu kelihatan kelelahan sayang, jadi aku gak tega buat bangunin kamu.” Aku membelai punggung Steve dengan sayang, kemudian Steve menarik tanganku agar aku duduk dipangkuannya.


“Kenapa baby? Ada yang mau ditanyain?” Steve seperti melihat ada sesuatu yang ingin aku bicarakan, tetapi aku segan untuk memulainya.


“Emm.” Aku sedang memikirkan apakah jadi bertanya atau tidak.


“Kenapa sih? Ada apa? Sini-sini coba bilang.” Steve memelukku erat, membuatku agar nyaman mengutarakan apapun yang sedang aku pikirkan.


“Kalau aku tanya, jangan marah ya sayag?”


“Kenapa harus marah? Kan cuma nanya aja.” Steve mencium keningku.


“Sayang? Apa kamu berselingkuh?” Pertanyaanku membuat Steve terkejut, tetapi kemudian dia tersenyum.


“Kenapa baby? Apa kamu menemukan sesuatu yang mencurigakan?” Pertanyaan Steve aku jawab dengan anggukan.


“Apa itu yang mencurigakan?” Steve kembali bertanya, tapi aku bingung harus menjawab seperti apa.


“Tidak tahu.” Aku hanya menjawab tak mengerti.


“Sini aku lihatin.” Steve maju dan mengambil ponselnya. “Ini aku lihatkan panggilan masuk dan keluar, kamu mengenal mereka semua dan mereka semua lelaki. Ini pesan-pesan yag masuk pun kamu boleh baca semuanya, jika ada yang mencurigakan kamu bisa langsung tanyakan.” Steve menyodorkan ponselnya untukku lihat, tetapi aku menolaknya dengan menggeleng.


“Owh atau mau lihat mutasi rekening aja? Nih aku buka, paswordnya pun sudah pernah aku kasih tau kamu baby. Kapan pun kamu mau lihat silahkan, tidak ada yang aku sembunyikan.” Steve meletakkan ponselnya di atas pangkuanku, dan dia kembali menyenderkan punggungnya, masih dengan tetap memagkuku.


“Aku tidak akan pernah melakukan hal bodoh dengan berselingkuh, aku sudah dapat segalanya dari kamu, lantas apa yang membuat aku harus berselingkuh, dan mengorbankan segalanya yang sudah aku miliki?” Pandangan Steve seperti sedang menerawang.


“Tapi kenapa kamu sudah lama tidak bermanja denganku? Tidak berada diatasku lagi.” Aku malu tapi aku memberanikan diriku, dengan tangan ku yang memainkan kancing piyama Steve, aku hanya menunduk karena rasa malu itu.


“Jadi karena itu aku dikira berselingkuh?” Steve tersenyum dan mengangkat daguku. Aku mengangguk pelan.


“Biasanya kan hampir setiap hari, ga bisa lihat aku pakai daster pasti udah diterjang, ini udah sebulan tapi gak pernah seperti itu lagi.” Aku kembali mengungkapkan apa yang aku rasa.


“Kangen apa pengen nih?” Goda Steve.


“Cuma nanya aja.” Aku membuang mukaku.

__ADS_1


“Setiap hari aku melihat kamu mengurus anak-anak walaupun dibantu dengan mbak Sari dan mommy, tapi aku tahu jika kamu pasti juga merasakan kelelahan, ada istrinya temanku karena istrinya kelelahan mengurus anak dan rumah akhirnya dia sakit dan meninggal, aku gak mau kehilangan kamu seperti itu. Kalau harus pergi biarkan aku yang pergi lebih dulu, jangan kamu, karena anak-anak masih sangat membutuhkan kamu.”


“Jangan bicara seperti itu, anak-anak juga masih sangat butuh papinya.” Jawabku sedikit tegas, karena aku sudah tahu rasanya kehilangan orang tua, jadi aku tak ingin anak-anak kehilangan sosok papinya saat mereka masih sangat kecil, yah walaupun Rejeki, Jodoh, Kematian semua itu rahasia Illahi, tetapi berbicara dan berharap yang baik kan tidak ada salahnya.


“Maminya butuh papinya juga gak nih?” Steve sudah membelai pahaku dan mencium tengkukku. Aku hanya mengangguk pasrah saja.


“Mau disini atau di kasur?” Steve berbisik ditelingaku.


“Di kasur aja, disini bisa jadi tontonan gratis orang-orang.” Steve mengangkatku dan menggendongku masuk kekamar, meletakkanku di atas kasur kami.


Setelah selesai percintaan yang tidak seperti biasanya, karena kali ini Steve nampak lebih cepat lelah. Mungkin karena kami yang baru datang dari Jerman sehingga Steve masih kelelahan. Dia memejamkan matanya walaupun tidak tertidur, dia mengatur nafasnya yang masih sedikit memburu.


“Mau kesekolah Junior hari ini atau besok baby?” Setelah nafasnya kembali teratur, Steve menanyakan tentang pendaftaran sekolah Junior.


“Terserah kamu aja sayang. Kalau gak lelah ya hari ini aja, tapi kalau lelah ya besok aja juga gak pa pa. Kamu mulai masuk kantor lagi kapan?” Aku menumpangkan tanganku pada dada Steve.


“Kantor sudah beres semua sih, kalau gak ada yang penting lebih baik aku kerja dari sini aja, jadi bisa lebih dekat dengan kamu dan anak-anak.” Steve mengelus tanganku yang aku letakkan di atas dadanya.


“Sayang kalau boleh, besok aku mau belanja untuk dapur, di supermarket dekat sini.” Aku meminta ijin Steve untuk belanja.


“Ya udah besok habis dari sekolah Junior, kita belanja ya. Mau sekalian ke mall? Kamu pasti sudah lama kan gak ke mall disini.”


“Emang boleh?” Tanyaku pada Steve.


“Aahhh tengkiu sayang.” Aku mencium gemas pipi Steve.


“Cuma pipi aja? Ini gak dapet?” Steve menunjuk pada bibirnya, dengan cepat aku langsung menciumnya.


“Aku mandi dulu ya sayang, kamu mau mandi juga atau mau tidur lagi?” Aku kembali menggunakan dasterku.


“Aku tidur lagi aja deh, terasa ngantuk lagi.” Jawab Steve sembari menarik selimutnya.


“Ya udah, nanti mau dimasakin apa?” Aku berjalan ke arah kamar mandi.


“Kamu gak usah masak, biar si mbok aja yang masak, kamu jagain aku sama anak-anak aja. Hahaha.” Steve tertawa sambil memejamkan matanya.


“Aduh jadi pengasuh empat bayi dong.”timpalku.


“Bukan pengasuh, tapi mami terhebat untuk aku dan anak-anak. Gak usah masak baby, biar mbok yang masak, tadi aku sudah pesan untuk sarapan kita, kamu nanti minta tolong mbok buat bawakan sarapannya kesini aja.” Aku hanya mengangguk mendengar penjelasan Steve, kemudian aku masuk ke dala kamar mandi dan memulai aktifitas mandiku.


Setelah selesai mandi aku berjalan ke arah dapur untuk memberitahu mbok Fitri, untuk mengantarkan sarapan Steve ke kamar saja nanti.

__ADS_1


“Mbok.” Sapaku pada mbok Fitri yang sedang mencuci piring.


“Selamat pagi nyonya.”


“Pagi mbok. Mbok nanti sarapan pak Steve tolong di antar ke kamar saja ya.”


“Baik nyonya.”


“Saya mau melihat anak-anak dulu, apa mereka sudah pada bangun ya mbok?”


“Tadi mbak Sari sudah membuatkan susu dan roti untuk anak-anak nyonya, tapi anak-anak belum turun.”


“Owh ya sudah biar saya lihat dulu kalau begitu. Terima kasih ya mbok.”


“Iya nyonya, sama-sama.”


Aku meninggalkan mbok Fitri dan berjalan menapaki tangga untuk menuju kamar anak-anak yang terletak dilantai 2. Dari tangga sayup-sayup aku dengar suara mereka sedang tertawa.


“Selamat pagi.” Aku membuka pintu kamar milik Junior.


“Morning mami. Junior sudah siap sarapan.” Anak ku yang satu itu memang selalu tampil dewasa.


“Mandi sendiri sayang?” Langsung dijawab dengan anggukannya.


“Iya dong, kan Junior sudah besar, tapi bajunya dipilihkan sama budhe Sari.” Junior meminta memanggil mbak Sari dengan panggilan ‘budhe’


“Ok good job sayang, mami panggil adik-adikmu dulu ya.” Junior menjawab dengan anggukan kepalanya.


Aku beralih pada kamar twin yang bernuansa biru pastel dan pink pastel, nanti jika twin sudah mulai bersekolah, maka mereka akan menempati kamar mereka masing-masing.


“Haiii selamat pagi.” Sapaku saat aku membuka pintu kamar.


“Mamiii” Rafa berlari memelukku, sedangkan Lea hanya memandangku saja, karena dia sedang dipakaikan baju oleh mbak Sari.


“Sudah siap untuk sarapan si cantik dan ganteng ini?”


“Ready.” Jawab Rafa bersemangat.


“Mami, papi dimana? Kenapa gak jemput aku?” Pertanyaan anak gadisku yang sangat dekat dengan papinya ini.


“Papi masih tidur, Lea mau bantuin mami bangunin papi?” Tawarku pada anak yang apa-apa pasti selalu menanyakan papinya itu.

__ADS_1


“Mau, ayo mami.” Dengan suara imut dan tangan mungilnya, Lea menggandeng tanganku dan berjalan turun.


Bersambung..


__ADS_2