
Cklekk
Ada yang membuka pintu kamarku. Aku yang sudah akan turun dari tempat tidurku kembali masuk dalam selimutku, berpura-pura sudah tertidur.
Orang itu mematikan power TV dengan remote yang aku letakkan disamping kepalaku berdekatan dengan ponselku. Dia memindahkan ponselku diatas nakas. Aku mengenali parfum ini.
“Sayanggg, kamu capek banget ya” suaranya lirih seperti berbisik
“Jangan suka menaruh ponsel didekat kepalamu sayangg” dia mulai membelai rambutku, sungguh aku bingung apa yang harus aku lakukan
“Aku merindukanmu, tapi kamu selalu menghindariku” dia mulai mencium keningku dan membelai pipiku, aku sangat takut dengan keadaan ini,
“Apa karena Lila kamu menghindariku? Apa karena anak-anak?” Tangannya mulai membelai lenganku yang terbuka. Aku merutuki diriku sendiri kenapa aku harus menggunakan daster dengan tali setipis ini.
Krringgg Krringgg
Aku terkejut dengan suara ponselku yang berdering, sekaligus bersyukur karena belaiannya di tanganku dia hentikan, dan aku mendengar dia keluar dari kamarku, tetapi tak menutup rapat kamarku, aku lihat bayangannya masih ada di depan pintu kamar,
“Heeeemmm hai Steve” aku pura-pura seperti orang yang baru terbangun dari tidur
“Are you okay Rhey” suara Steve terdengar menghawatirkanku
“Kamu pasti sangat merindukanku Steve, sampai menghubungiku saat aku tidur” aku berbicara sedikit keras dan menyerakkan suaraku
“Aku tahu kamu sedang berpura-pura Rhey, cukup jawab iya atau tidak pertanyaanku ini Rhey” dia memberikan aku kode “Apa ini membuatmu takut?”
“Yes honey” jawabku berpura-pura mesra ditelepon, karena mas Arlo masih mencuri dengar didepan kamar, aku masih melihat bayangannya
“Okey aku mengerti. Apa dia masih disana Rhey?” Pertanyaan lanjutan
“Iya honey, aku juga merindukanmu” jawabanku selalu aku buat semesra mungkin
“Rhey, aku dalam perjalanan ke sana, apa kamu mau turun dan tunggu aku dilobby sekarang?” Dia ingin menyelamatkan aku dari mas Arlo
“Oh honey kamu benar-benar merindukanku? Baiklah aku akan turun ke lobby demi kamu” sandiwaraku terus saja aku mainkan
“Jangan tutup teleponnya Rhey, dan cepat turun” aku menyibakkan selimut, bergegas mengambil Sweaterku, mengenakannya dan mengancingkannya
“Wait honey, ah you are so cute” membuka pintu kamar dan berjalan ke arah pintu utama, aku melihat dengan ekor mataku, dia menidurkan tubuhnya di sofa panjang di depan TV,
“I Love you too honey, hahaha” aku terus saja berbicara mesra, padahal Steve hanya diam saja diseberang sana
“Cepat turun ke lobby Rhey, sebentar lagi aku sampai”
__ADS_1
“Dia mengikuti ku Steve” aku berbisik pada Steve
“Tenang dan tetaplah berpura-pura seperti tadi Rhey” dia berusaha menenangkanku
“Iya sayang, ini lagi nunggu lift sebentar ya” aku sudah ingin menangis, tapi aku berusaha menguatkan hatiku
Tinggg
“Cepat masuk ke lift dan tekan tombol close, biarkan dia menggunakan lift yang lain” aku mengikuti semua perintah Steve, menekan tombol close dengan terus menerus. Aku menatap bayangan mas Arlo ketika pintu lift tertutup. Air mataku jatuh seketika, aku benar-benar takut.
“Hey are you crying?” Tanyanya
“Aku takut Steve, aku takut” aku benar-benar katakutan
“Aku menunggumu di depan lift, jangan takut Rhey” aku masih terus menangis hingga lift membawaku turun dan pintu terbuka.
Aku melihatnya Steve sudah menungguku di depan pintu lift yang sudah terbuka dan aku keluar masih dengan tangisku,
“Hei stop crying Rhey” katanya memegang kedua lenganku,
“Aku benar-benar takut Steve” aku menjawab dengan terisak
Tiingg
“Apa itu dia Rhey?” Steve membelakangi pintu keluar lift, sehingga aku bisa melihat apa itu mas Arlo, dan aku mengangguk kemudian menundukkan kepalaku pada bahu Steve, dengan posisi Steve yang masih sedikit menggendongku
“Hei baby, kenapa menangis? Kamu pasti merindukanku” Steve berpura-pura Sepertiku
“I miss you so much, Steve” aku masih menunduk tak berani menatap orang yang berdiri sekitar 2meter di belakang Steve, dia memunggungi kami
“Ayo kita habiskan malam ini berdua baby, jangan menangis lagi” Steve menurunkanku, memeluk pundakku erat dan mencium puncak kepalaku, dan aku hanya diam saja demi terlepas dari mas Arlo.
Steve membimbingku ke arah mobilnya yang terparkir di depan pintu utama Lobby. Range Rover berwarna hitam yang sangat berkilau. Dia membukakan pintu untukku dan mmembimbingku untuk duduk di kursi yang empuk itu, memintaku untuk memasang seatbeltku, kemudian dia menutup pintu mobil disisiku, dan dia sedikit berlari menuju ke arah pintu driver, membukanya dan langsung duduk dan menutup kembali pintu mobilnya, kemudian melajukan mobilnya menjauh dari apartemen itu.
Aku masih takut dan sesekali sesenggukan, menyeka air mataku.
Steve menghentikan mobilnya di depan minimarket yang buka 24jam, dia turun dan membeli sesuatu. Tak lama dia kembali membawa bukusan, entah apa isinya.
“Minumlah Rhey” dia menyodorkan air mineral dingin, diambilnya dari bungkusan yang dia bawa setelah dia kembali masuk mobilnya
“Terima kasih” dengan suara serakku aku menerima pemberiannya
“Makanlah ini, semoga moodmu membaik Rhey” dia kembali menyodorkan sekotak cokelat almond
__ADS_1
“Kok kamu tahu aku suka cokelat almond?” Tanyaku dengan tangan menerima pemberiannya dan langsung membukanya
“Di cafe tadi aku lihat kamu lahap memakan ice cream cokelat itu, jadi aku menyimpulkan sendiri” dia mengeluarkan sebatang rokok dan menyalakannya
“Kamu merokok Steve?” Aku menyandarkan badanku pada pintu mobil
“Iya, hanya jika sedang pusing saja” sambil meniupkan asap rokoknya
Uhukkk uhukkk uhukkkk
“Hei kamu kenapa?” Dia Menghadapku sambil menepuk punggungku lembut
“Aku gak tahan dengan asap rokok Steve” jawabku jujur
“Oh My God Rhey kenapa gak bilang” membuang rokoknya, dan membuka semua jendela mobilnya, sambil mengibas kan tangannya di udara seperti membuang udara dengan tangannya
Uhukk uhukk uhukkk
Aku masih saja terbatuk-batuk, karena rasanya seperti membuat tenggorokanku sakit.
“Maaf kan aku Rhey, keluarlah sebentar biar aku bersihkan sisa asapnya” aku keluar membawa air mineralku, berdiri di tempat yang tak jauh dari mobil Steve. Aku menghubungi mbak Sari,
“Assalamualikum non” suara serak khas bangun tidur
“Wa’alaikumsalam mbak. Mbak aku keluar dari apartemen” aku menjeda kalimatku, mengatur nafasku yang terasa sesak ketika mengingat mas Arlo masuk kekamarku mengendap-endap
“Lho non kemana malem-malem gini? Kok gak bangunin saya?” Mbak Sari terkejut
“Saya melarikan diri mbak”
“Melarikan diri dari siapa non?”
“Mas Arlo mbak. Dia masuk kekamarku tadi, aku lagi ngobrol sama temanku di telepon, aku dengar ada yang membuka pintu utama mbak. Aku pura-pura tidur, dia masuk ke kamarku mbak, aku gak bisa ngapa-ngapain” aku mulai sesenggukan dan menitikkan air mataku
“Astagfirullah, den Arlo. Saya gak nyangka dia seperti itu non” pasti mbak Sari terkejut seperti aku yang terkejut
“Nanti kalau aku pulang mbak Sari aku hubungi lagi ya. Sekarang mbak tidur dulu aja. Assalamualaikum” aku mengakhiri teleponku dengan mbak Sari
“Wa’’alaikumsalam. Hati-hati non” sebelum menutup panggilan aku mendengar balasan mbak Sari
“Waw RHEYNA AUUUROOORAAA, gak nyangka ketemu disini sekarang” suara itu membuatku terkejut.
Bersambung……
__ADS_1