
Setelah mas Arlo meninggalkan cafe, aku sedikit termenung. Tak tega melihat mas Arlo yang nampak kacau. Tapi aku tetap harus melakukannya.
“Hei ngelamunin apa?” Steve menjentikkan jarinya didepan wajahku dan membuat ku terkejut.
“Eh eh gak gak bukan apa-apa Steve” dengan terbata aku menjawabnya.
“Eh iya Steve ini jaketmu sudah bersih” aku menyerahkan jaket yang tadi sudah di Sterika mbak Sari.
“Yakin mau dibalikin?” Tanya Steve dengan nada menggoda.
“Iyalah, gak biasa pake barang mahal bisa gatel-gatel badanku hahaha” aku balik mengejeknya.
“Eh kemarin kok malah dipeluk-peluk jaketku, gak ada gatel-gatel tuh” Steve menaik-naikkan kedua alisnya dan tersenyum jahil.
“Gatel kok, cuma gak keliatan aja pas garuk-garuk” aku menjulurkan lidahku untuk mengejeknya.
“Kamu beneran mau jual mobil?” Siku tangannya di letakkan di meja dan tangannya digunakan untuk menyangga dagunya, dan menatapku.
“Iya, kenapa? Mau kamu beli?” Tanyaku asal
“Lho kok tau kalau mau aku beli?” Tanyanya dengan wajah serius.
“Aduh jangan deh Steve, gak cocok kamu pake mobil kayak begitu”
“Siapa yang bilang itu mobil buat aku? Mau aku beli untuk pegawaiku kok, wlekkk” Steve mengejekku dengan menjulurkan lidahnya.
“Ow ya udah beli aja, tapi harganya mahal lho ya, jangan pakai ditawar” kataku sombong.
“Beres, jadi boleh ya aku beli?” Steve langsung menyetujuinya.
“Boleh deh, asal dirawat ya karena kalau aku sudah kerja maka akan aku beli kembali itu mobil, karena itu mobil kesayanganku”
“Okay deal, berapa nomor rekeningmu?”
Setelah memberi tahukan nomor rekeningku, dan Steve yang langsung mengutak-atik ponselnya,
“Kamu chek dulu Rhey, kurang gak harganya segitu?” Steve meletakkan ponselnya.
“Lho kan aku belum bilang berapa harganya” aku memprotes Steve.
“Ya udah kamu chek dulu aja, kalau kurang kamu bilang aja” jawabnya sangat santai, sambil mencomot cake yang tadi aku pesan.
“Ponselku mati Steve, nanti aja sekalian pulang aku chek di ATM”
“Mobilmu langsung di ambil sama pegawaiku ga pa pa?”
“Langsung di ambil? Tapi aku gak bawa BPKB nya”
“Gak apa, besok aja kamu kasiin ke aku waktu ketemu lagi”
‘Aduh kenapa harus ketemu lagi sih’ aku berkata dalam hatiku.
“Baiklah Steve” jawabku akhirnya.
__ADS_1
“Steve laptopku?” Aku memberikan kode pada Steve dengan mata menatap tas yang ada di sisi Steve.
“Ow iya hampir aja lupa” sambil menyerahkan tas yang berisi laptop.
“Ini ipad mu Steve” aku menyerahkan ipadnya pada Steve, kemudian paperbag yang berisi kotak ipad.
“Gimana kamu gambar pakai ini enak?” Tanya Steve dengan tangan yang menerima ipadnya.
“Enak banget Steve, seperti menggambar di kertas gambar gitu” aku menjawab dengan antusias.
“Ambilah untukmu Rhey” Steve kembali menyerahkan ipad itu.
“No Steve, suatu saat aku akan membelinya jika aku sudah berpenghasilan” aku menolaknya.
“Kalau gitu terimalah, aku meminjamkannya untukmu” Steve kembali memaksa.
“Jangan Steve, aku takut merusaknya” aku kembali beralasan
“Begini saja Rhey, aku meminjamkannya hanya sampai kamu selesai mengikuti lomba itu. Setelah lomba itu selesai, jika kamu menang maka ipad ini aku berikan sebagai hadiah, jika kamu kalah dalam lomba itu, maka kamu boleh kembalikan ipad itu.”
“Steve jangan seperti ini” aku bimbang
“Ayo lah Rhey, aku mohon” Steve memelas.
“Baiklah Steve, hanya sampai lomba ini selesai ya?” Kataku mengingatkan.
“Siap” dengan mengedipkan sebelah matanya.
“Lanjutkan lagi menggambarmu Rhey, aku akan kesana sebentar” Steve menunjuk kearah depan cafe.
Desain gambarku akhirnya selesai juga, tinggal selangkah lagi untuk aku bisa mengirimkannya. Rencanaku nanti saat sudah sampai rumah aku akan memulai mewarnainya, sehingga besok aku bisa mengirimkan desainnya. Aku meletakkan ipad itu di atas meja, dan memukul pelan-pelan tengkukku yang terasa pegal.
“Capek ya?” Steve sudah berada di belakangku, dan aku langsung menolehkan kepalaku ke arah suara itu.
“Eh gak kok” aku menarik tanganku dari tengkukku.
“Mana kunci mobilmu Rhey? Pegawaiku sudah nunggu di depan tuh” Steve menunjuk orang yang berdiri didepan cafe.
“Kok gak disuruh masuk Steve?” Aku kasihan melihat orang itu menunggu diluar.
“Jangan disuruh masuk, nanti malah kamu ditaksir dia”
“Gak pa pa lah Steve kalau dia masih belum beristri” kataku menyindir Steve
“Enak aja, gak boleh” katanya dengan wajah cemberut
“Idih kenapa juga gak boleh?”
“Udah buruan sini kunci mobilnya” dengan telapak tangan yang di arahkan ke depan wajahku yang sedang duduk.
“Nah aku pulangnya gimana?”
“Jalan kaki” jawab Steve sewot
__ADS_1
“Aku ikut keluar deh, siapa tau pegawaimu mau anterin aku pulang” aku pura-pura akan berdiri dari dudukku, tetapi tangan Steve sudah mencengkeram pundakku.
“Kamu mau aku gigit?” Steve mengancamku.
“Dih jangan ntar aku kejang-kejang hahaha” Steve yang sedikit cemberut keluar dengan membawa kunci mobilku.
Tak berselang lama Steve kembali memasuki cafe, dan kembali duduk.
“Kamu mau pulang sekarang atau nanti Rhey?”
“Nanti aja deh, pulang sekarang harga ojolnya pasti mahal hihihi” aku masih ingin bersantai disini.
Aku kembali memesan ice cream kesukaanku, langsung memakannya ketika pelayan mengirimkannya.
“Kamu bisa menghabiskan berapa scoop ice cream Rhey?” Steve melihatku yang sangat menikmati ice cream cokelat ini.
“Tergantung mood lah, kalau badmood yaaa bisa 10scoop, kalau lagi bahagia cukup 5 scoop aja hehehe” aku menyuapkan sendok terakhir ice cream ku.
“Mau lagi Rhey?” Steve menawarkan ku ice cream lagi ketika melihat mangkok yang berisi 3 scoop ice cream sudah ludes tak bersisa.
“Hahaha nanti Steve” aku meminum air putih untuk menetralkan lidah dan tenggorokanku.
“Rhey boleh lihat hasil karyamu itu?” Steve menunjuk pada ipad yang tergeletak di atas meja.
“Lihat aja,tapi belum sempurna ya, soalnya belum aku kasi warna” aku mengijinkannya untuk melihat hasil desainku.
Steve mengambil ipad itu dan mulai memperhatikannya. Menggeser kekanan dan kiri.
“Rhey, sepertinya ini jika ditambahkan garis dan lingkaran bisa jadi lebih bagus dan lebih hidup.” Steve menunjuk pada desain gambar untuk kemasan itu.
“Aku coba dulu deh” aku mengambil ipad dari tangan Steve dan menambahkan garis serta lingkaran seperti yang Steve katakan. Aku memperhatikannya, dan ternyata memang hasilnya jauh lebih baik.
“Wahhh beneran low hasilnya lebih bagus” aku memujinya.
“Nanti kalau sudah di beri warna akan terlihat lebih hidup lagi” kata Steve sambil menyesap kopinya.
“Iya Steve, nanti kalau sudah sampai rumah aku mau lanjutkan mewarnainya” Steve menjawab dengan anggukan.
“Rhey bolehkah aku menanyakan sesuatu?” Dengan tampilan yang serius, Steve membenarkan duduknya.
“Heemmm tanya apa nih? Serius banget.” Aku tersenyum.
“Aku lihat sepertinya kamu pun memiliki perasaan pada Arlo, benar?”
“Dia hanya datang disaat yang salah Steve.”
“Maksudnya?”
“Dia datang saat aku membutuhkan perhatian dan dia memberikan itu. Aku sempat berpikir ini perasaan yang benar, tapi aku tersadar aku tak memiliki hak untuk dia, aku hanya butuh pelarian saat aku tau kenyataan bahwa aku di khianati.” Aku menjeda ucapanku, dan Steve masih tetap setia memperhatikanku. “Aku tak pernah ingin berurusan dengan suami orang Steve, karena aku tahu pasti sakit perasaan istrinya jika tahu suaminya memiliki wanita lain. Jika kamu yang berada di posisi mas Arlo, apa yang akan kamu lakukan Steve?” Balik bertanya pada Steve.
“Hemmm jika aku jadi Arlo maka aku tak akan pernah menjadi dia hahaha” Steve malah bercanda. “Rhey, cinta memang tak dapat dipaksakan, mungkin Arlo memang mencintaimu, tapi dia salah karena dia mengorbankan anak-anak dan istrinya demi perasaannya. Pernikahan bukan untuk mainan Rhey, jika sudah memutuskan untuk menikah maka terimalah konsekuensinya baik dan buruknya terimalah. Aku tak akan pernah menghianati pernikahanku.”
Bersambung..
__ADS_1
...Hai sayang-sayangku, maaf ya absen 2hari lagi cari pangsit eh wangsit maksudnya hahahaha…...
...Jangan lupa vote, like, komen, bunga, kopi juga boleh hahaha maap sedikit malak.....