
Sesampainya aku di Jerman, sopir sudah menunggu kami di bandara. Kami menuju kediaman orang tua Steve, yang beberapa bulan lalu tempat kami di Sah kan menjadi suami isteri. Kami melewati perkebunan cherry yang kembali memasuki musim panen.
“Sayang, boleh mampir sebentar? Aku pengen cherry yang segar.” Aku memandang keluar jendela mobil dan memperhatikan perkebunan tempat yang dulu pernah aku singgahi.
“Boleh baby. Paul, bitte kommen Sie in den Kirschgarten.” Steve berbicara pada Paul, supir yang menjemput kami saat awal aku datang kesini. Paul hanya tersenyum dan mengangguk.
Kebun cherry ini adalah tempat dimana Steve melamarku. Aku memetik cherry 3 tangkai, kemudian aku makan dengan cepat.
“Sayang aku mau makan ini setiap hari boleh?” Aku mengangkat 5 tangkai cherry yang baru aku petik, dan aku letakkan di atas telapak tanganku.
“Boleh baby. Nanti biar pegawai yang kirimkan ke rumah setiap hari ya.” Steve mengacak-acak puncak rambutku.
“Asikkkk, sama strowberry boleh?”
“Apapun yang kamu mau boleh sayang, asal kamu bahagia.”
“Papi memang the best.” Aku berjinjit untuk mencium Steve.
“Kalau the best nanti dapat bonus dong ya.” Sambil berbisik dan mengerlingkan matanya Steve menggodaku.
“Mau jenguk junior ya papi?” Aku membalas dengan berbisik.
“Mau bikin mami enak.” Jawabnya sambil menarik pinggangku dan menciumku penuh kasih.
“Jadi aku aja yang enak, kamu gak gitu?” Aku pura-pura membuang muka ku.
“Nggak.” Jawab Steve pura-pura cuek. “Tapi bikin kecanduan, hahahaha” lanjutnya penuh gelak tawa.
Aku pun ikut ketawa bersama Steve yang sudah memelukku erat. “Tetaplah disisiku apapun yang terjadi baby, karena aku akan selalu mencintaimu sampai akhir hayatku.”
“Dengar itu nak, papimu lagi gombalin mami nih, enaknya dijawab apa ya? Hehehe” aku yang ganti menggoda Steve.
__ADS_1
“Di jawab I Love You papi, gitu dong. Mami merusak moment romantis kita ya nak.” Steve membelai perutku seolah sedang bercakap-cakap dengan bayi di dalam kandunganku.
Mbak Sari yang sedang pusing karena hari pertamanya mendapatkan tamu bulanan, hanya berdiam diri di mobil dan tidur.
Setelah puas memakan sekitar 15 tangkai cherry, aku dan Steve kembali ke mobil dan kami melanjutkan perjalanan menuju rumah mertua tercintaku.
Mommy dan daddy menyambut kedatangan kami. Bahkan mommy sudah menyuruh pelayan untuk membuatkanku rendang dan ketoprak serta es doger. Sebelum berangkat, mommy menghubungiku menanyakan aku ingin makan apa saat sampai di sana, karena saat itu aku sedang melihat-lihat feed di instagram, dan saat itu yang nampak adalah makanan khas Indonesia, akhirnya mulutku berkata rendang, ketoprak dan es doger yang terlihat sangat menggiurkan.
“Selamat pulang kembali sayang.” Mommy menyambutku dangan mencium kedua pipiku dan pelukan hangat untukku.
“Hai cucu oma capek ya perjalanan jauh, makan dulu ya.” Mommy membelai perutku, dan bayi didalam sana bergerak seolah mengerti jika sedang di ajak berbicara.
“Ahhh lihat honey, dia bergerak menyapaku.” Mommy berteriak bahagia memanggil daddy.
“Dia tau, oma nya yang cantik lagi membelainya.” Jawab daddy membelai punggung mommy. “Sehat Rhey?” Daddy menyapaku.
“Alhamdulillah sehat dad.”
“Biar pengawal yang bawa masuk barang-barang mbak.” Mommy yang melihat mbak Sari akan membawa barang-barang kami membuka suara.
“Baik nyonya.” Jawab mbak Sari tersenyum pada mommy.
“Kamu sakit mbak? Kok pucat begitu? Capek ya perjalanan panjang?” Mommy yang melihat mbak Sari lesu pun menanyakan keadaan mbak Sari.
“Hari pertama datang bulan nyonya, jadi pusing dan perut sakit.” Mbak Sari berbicara berbisik pada mommy.
“Ya ampun kasian sekali, kamu makan terus istirahat juga sana, kamar kamu nanti sebelah kamar cucuku ya.” Mommy memberitahukan kamar mana yang akan digunakan mbak Sari.
“Iya nyonya.” Mbak Sari mengangguk pasti.
Setelah makan malam bersama, kami masuk ke kamar masing-masing dan istirahat.
__ADS_1
“Baby? Capek? Aku pijetin ya?” Steve membelai-belai rambutku.
“Boleh sayang, kakiku yang lumayan pegel. Makin besar perut pasti makin cepet pegel sayang.” Aku berbaring memunggungi Steve, karena posisi miring seperti ini yang paling nyaman saat hamil besar seperti ini.
“Punggung capek juga pasti ya? Aku pijat punggung dulu aja ya, kamu kan paling suka kalau punggung dipijat begini.” Tangan Steve mulai memijatku.
“Sayang yang kamu pijat itu pinggang bukan punggung, apa karena jadi lebar sampai kamu gak bisa bedakan pinggang dan punggungku?” Suamiku salah menyebut pinggang dengan punggung.
“Hahahaha maafkan aku baby namanya hampir sama sih. Kamu makin sexy deh sayang, nih makin menggoda.” Sambil menepuk bagian b*k*ngku yang pasti ikut membesar bersama perutku.
“Sayang kok di ceples sih?” Aku membalikkan badanku perlahan dan menghadap pada Steve.
“Habisnya bikin gemes sih.” Sambil tersenyum dan mengerling nakal.
“Aku tidur aja deh kalau di ceples gitu.” Aku memejamkan mataku.
“Yakin mau tidur sayang?” Steve menarik selimut untuk menutupi tubuh kami.
“Heem” jawabku singkat.
“Yakin sayang?” Tanyanya kembali dengan tangan yang sudah merayap di atas pahaku. Aku hanya menggunakan daster pendek, berbahan sutra yang lembut.
Saat aku berusaha menahan tangan Steve, justru tanganku lah yang digenggam erat oleh Steve, kemudian di arahkan ke miliknya yang sudah menegang.
Aku membelalakan mataku, “Jadi ceples-ceples gara-gara ini hem?” Tanganku menggenggam erat milik Steve.
“Ada yang minta di jenguk baby.” Jawabnya sambil menurunkan celananya.
“Bukan minta dijenguk, tapi papinya yang mupeng aja.” Tanganku masih memijat-mijat perlahan milik Steve.
Berawal dari memijat punggung yang sebenarnya adalah pinggang, berakhir dengan peluh yang mengalir disekujur tubuh kami. Steve melakukannya dengan sangat perlahan, seolah dia takut menyakiti bayi dalam kandungan ku.
__ADS_1
Bersambung..