Aku Lelah,Cintai Aku

Aku Lelah,Cintai Aku
Pindah


__ADS_3

Aku hanya ingin menjalani kehidupan yang normal, aku tak ingin memperdulikan siapa pun yang mengusikku, asal jangan mengusik anakku. Itulah kenapa aku mencoba tak perduli dengan mas Arlo, dan menunjukkan padanya bahwa apapun yang dia ucapkan, tak akan berpengaruh apapun padaku.


“Baby aku ke toilet sebentar ya, kamu sama mbak Sari langsung aja kesana, nanti aku susul.” Saat kami berjalan menuju toko yang menjual pakaian dalam, Steve meminta ijin untuk ke toilet.


“Iya sayang.” Jawabku sambil berjalan bersebelahan dengan mbak Sari.


“Mbak Sari, besok kalau barang-barang yang dipesan Steve datang, bantuin nata ya mbak.” Untuk sementara anak kami akan menempati kamar yang digunakan oleh mbak Sari, dan kamar mbak Sari sedang dalam proses di bangun, di bagian depan bersebelahan dengan dapur, tempat yang dulu adalah garasi dalam.


“Iya non, pasti saya..” kata-kata mbak Sari belum selesai, tetapi sudah terpotong dengan ucapan seseorang yang menarik tanganku.


“Jelaskan ini anak siapa?” Suara yang tak ingin aku dengarkan.


“Tuan tolong yang sopan ya.” Mbak Sari sudah maju dan berdiri dihadapanku, sedangkan tanganku masih di genggam erat oleh pemilik suara.


“Aku gak ada urusan sama kamu mbak, biar Rheyna jelaskan anak siapa yang dia kandung.” Suaranya seperti sedang menahan emosi.


“Apa maksud anda tuan? Saya wanita bersuami, jelas saja ini anak saya dan suami saya.” Aku berkata dengan tegas, walaupun ada rasa yang membuatku tak nyaman, tiba-tiba dugh “aduh..” Ada tendangan yang cukup kuat dari dalam perutku, yang membuat aku memegang lengan mbak Sari.


“Non kenapa?” Mbak Sari bingung melihat aku yang seperti kesakitan.


“Lihat mbak, anak ini menedangku dan tak mau berhenti mbak.” Aku meringis kesakitkan.


Tiba-tiba tanganku yang di genggam mas Arlo di lepaskan, tetapi tangannya sudah berpindah di perutku, dan mengusapnya perlahan. Ada sedikit pergerakan didalam perutku, sebelum kemudian dia kembali tenang.


“See, hanya dengan aku belai saja dia bisa tenang, kamu bilang ini anakmu dan suamimu? Bagaimana kalau kita test DNA nyonya?” Aku terkejut dengan kata-kata mas Arlo.


“Itu hanya kebetulan saja, biasanya kalau lagi begini juga papi nya elus dia tenang lagi, jangan terlalu berharap tuan, anda dan saya bukan siapa-siapa.” Aku mengatakan dengan nada sedikit bergetar.


“Baby are you okey?” Steve setengah berlari, dan membimbingku untuk berada dibelakangnya.


“Aku gak papa sayang.” Kataku dan tersenyum manis pada Steve.


“Mengapa kamu masih mengganggu istriku ha?” Steve sudah tersulut emosi.


“Hahahaha, karena yang ada didalam kandungannya adalah anakku.” Jawabnya dengan wajah yang mengejek.


“Jangan pernah mengusik istri orang. Urusi saja istrimu sendiri.” Jawab Steve tak kalah mengejek.

__ADS_1


“Mari kita buktikan melalui test DNA Steve.” Dengan senyum menghina dia mencoba memprovokasi Steve.


“Sebelum melakukan test DNA pada anakku yang sangat tidak perlu dilakukan, coba kamu test DNA dulu kedua putrimu, apa benar dia anakmu? Atau anak lelaki lain hahaha.” Skak Steve menyerang tepat pada sasarannya.


“Apa maksudmu Steve?” Dia bingung dengan pernyataan Steve.


“Aku hanya menyarankan saja hahaha. Selebihnya silahkan buktikan sendiri.” Steve memeluk pinggangku dan mengajakku berlalu meninggalkan mas Arlo yang termenung sendiri.


“Kamu gak papa sayang? Apa dia menyakitimu?” Aku hanya tersenyum dan menggeleng, tapi sungguh aku sangat terganggu dengan pergerakan anakku yang tiba-tiba diam hanya karena dia membelai perutku. Biasanya saat bergerak, tidak akan sekuat tadi dan aku belai pun pasti akan diam.


“Mau pulang aja atau lanjut belanja lagi?”


“Belanja lagi sebentar aja ya sayang.” Aku sudah kehilangan semangatku untuk berbelanja, tetapi aku harus menghilangkan rasa khawatirku agar Steve tak kepikiran.


“Mau aku gendong aja?” Steve sudah bersiap untuk menggendongku.


“Nooooo, sayang mau ah.” Aku memukul tangan Steve yang akan menggendongku, dan kami tertawa bersama.


Setelah berbelanja beberapa pakaian dalam, aku meminta Steve untuk langsung pulang saja, dengan alasan aku sudah lelah.


Saat perjalanan pulang aku hanya terdiam didalam mobil, memikirkan semua kata-kata mas Arlo. Sungguh aku takut jika benar apa yang dia ucapkan.


“Aku? Aku gak ngelamun kok.” Jawabku gugup.


“Gak ngelamun kok aku tanyain gak jawab?”


“Eh maaf sayang, emang nanya apa?” Aku meletakkan tangan Steve di atas perutku yang bergerak-gerak.


“Eh anak papi gerak-gerak, mau ngajakin main sepak bola ya? Atau main mobil-mobilan nih?” Steve yang merasakan pergerakan didalam perutku, mencoba mengajak bicara.


“Tadi nanya apa sayang?”


“Baby, mau gak kalau aku ajak tinggal di Jerman? Soalnya ma…”


“Aku mau sayang.” Belum selesai Steve berbicara, aku sudah menjawabnya.


“Cepet banget jawabnya, hehehe.”

__ADS_1


“Ya udah, besok coba ke dokter kandungan minta surat untuk perjalanan ya. Yang lainnya biar aku yang urus.” Aku hanya mengangguk saja.


“Mbak Sari ikut kami ya? Kasian Rheyna kalau gak ada temennya, biar nanti juga bisa bantuin Rheyna jaga junior.” Steve mengajak serta mbak Sari untuk ke Jerman.


“Baik tuan.”


“Kalau gitu, barang-barang biar dikirim ke Jerman aja ya, nanti di Jerman biar mommy yang siapin semua kamar untuk kita.”


“Iya sayang, pasti mommy seneng banget ya?”


“Iya, ini cucu pertamanya jadi mommy antusias banget.” Jawabnya sambil tersenyum.


***


Setelah aku mendapat surat keterangan dari dokter, bahwa aku dalam keadaan sehat dan dapat melakukan perjalanan, hanya menunggu waktu 2 hari untuk Steve mengurus tiket dan semua yang aku butuhkan selama di Jerman, yang entah sampai kapan kami akan berada disana.


“Sayang bagaimana jika rumah kita tinggal lama-lama? Siapa yang membersihkan?” Didalam pesawat yang membawa kami ke Jerman.


“Aku sudah suruh pak Sono supaya bawa orang untuk bersih-bersih rumah kita.” Steve masih asik membaca, entah buku apa yang pasti mengenai bisnis.


“Sayang, aku laper.” Aku mengelus-elus perutku.


“Aku pesankan makanan ya? Kamu mau apa?” Steve meletakkan bukunya.


“Tapi aku juga ngantuk.” Aku sambil menguap.


“Ya udah makan dulu ya, baru tidur. Atau mau tidur sebentar sambil nunggu makannya datang?”


“Tidur sebentar deh, dah ngantuk berat.” Jawabku sambil merebahkan diriku menghadap kesamping, karena perut yang besar membuat tak nyaman jika tidur terlentang.


“Mau makan apa baby?”


“Spaghetti aja deh.” Jawabku sambil memejamkan mata.


“Ha? Yakin sayang? Emang kenyang?”


“Kenyanglah, kalau makan dua atau tiga porsi juga boleh deh.” Jawabku yang berhasil membuat Steve tertawa.

__ADS_1


“Hahahaha iya bener juga ya. Oke deh aku pesankan dulu.” Jawab Steve masih dengan tertawa, sepertinya dia baru teringat jika istrinya kalau makan pasti lebih dari 1 porsi.


Bersambung..


__ADS_2