Aku Lelah,Cintai Aku

Aku Lelah,Cintai Aku
Kejutan


__ADS_3

2 koper berukuran sedang sudah siap di ruang tamu, tas ranselku pun telah siap. Hari ini aku mendapat jadwal penerbangan pukul 10 pagi menuju Jakarta, dan penerbanganku ke Jerman pukul 2 sore.


Mbak Sari membawakanku beberapa camilan. Tak lupa aku makan pagi terlebih dahulu. Membawa beberapa roti untuk mengganjal perutku yang terkadang sesekali berteriak.


Pukul 8 aku sudah bersiap untuk berangkat ke bandara.


“Mbak kalau ada apa-apa langsung hubungi saya ya.” Sambil menyiapkan diri, aku memakai sepatuku.


“Iya non. Non juga kasi kabar ke saya sesekali ya non.” Mbak Sari membantuku mendorong koper ke arah teras rumah.


“Iya mbak, aku pamit dulu ya mbak.” Aku memeluk mbak Sari.


“Makannya jangan terlambat ya non.” Sambil membelai punggungku.


Aku masuk ke mobil ojol dan melambaikan tangan ke arah mbak Sari. Mobil mengantarkanku ke bandara.


***


Pesawat yang aku tumpangi menuju Jakarta mengalami delay hampir 2 jam. Aku sudah menghubungi mbak Audi, dan kata mbak Audi nanti di bandara aku akan di jemput oleh pak Wahyu dan akan segera di antarkan menuju penerbangan internasional.


Aku menunggu bagasi untuk mengambil 2 koperku. Segera membawa kedua koperku menuju pintu keluar, dan pak Wahyu sudah siap menyambutku.


“Ayo non, saya bawakan kopernya.” Dengan sigap pak Wahyu menarik kedua koperku.


“Maaf ya pak pesawatnya delay.”


“Gak pa pa non, namanya juga penerbangan sudah biasa seperti itu. Untung masih nutut nih non.” Dengan berjalan cepat pak Wahyu menuju mobil yang di parkir tak jauh dari pintu keluar penumpang.


“Iya pak.”


“Ayo non cepat masuk, saya masukkan koper dulu.” Pak Wahyu membukakan pintu mobil dan segera membuka pintu bagasi mobil dan memasukkan 2 koperku ke dalamnya.


Mobil dengan segera menuju terminal keberangkatan internasional. Saat telah sampai, pak Wahyu dengan sigap langsung membuka bagasi mobil dan mengeluarkan koper-koperku, kemudian membuka pintu mobil untukku.


Pak Wahyu membantuku mendorong koperku sampai depan pintu masuk, dan memberikanku tiket pesawat.


“Ini non tiketnya, maaf saya cuma bisa bantu dorongkan kopernya sampai sini aja, non antri masuk disitu ya nanti.” Pak Wahyu menyodorkan tiket dan koperku di depanku.


“Baik pak, terima kasih banyak untuk bantuannya pak, sampai bertemu lagi pak.” Aku tersenyum dan menyodorkan tanganku untuk bersalaman dengan pak Wahyu.

__ADS_1


“Sama-sama non.” Pak Wahyu menyodorkan tangannya dan bersalaman denganku.


Aku berjalan untuk mengantri masuk, saat tiba-tiba ada dua orang berdiri dibelakangku, salah seorang menarik tanganku dan berkata.


“Ibu Rheyna mari ikut saya, ada yang ingin berbicara dengan ibu.” Dengan suara lirih tetapi sangat tegas.


“Siapa kalian?” Aku tarik keluar dari antrian di pintu masuk.


“Mari ikut kami sebentar bu.” Sahut temannya. Aku melihat kedua orang itu, aku mengenali salah satunya.


“Aku gak mau, aku harus cepat masuk, sebentar lagi pesawatku berangkat.” Aku menatap tajam ke arah ke dua orang itu.


“Maaf bu tapi ibu harus ikut kami.” Paksa kedua orang tersebut.


“Aku gak mau. Bilang sama bos mu, caranya ini hanya akan membuatku semakin membencinya.” Aku tersulut emosi.


Salah seorang menerima panggilan telepon, “iya pak, baik pak.” Hanya itu yang dia ucapkan.


“Baik bu, silahkan ibu kembali melanjutkan perjalanan.” Kata orang itu padaku, dan memberikan kode pada rekannya untuk melepaskanku.


“Bikin repot aja.” Aku menggerutu dan kembali mengantri untuk masuk.


“Mas, maaf kenapa nunggunya di ruang VIP ya?” Aku bertanya pada pria yang mengantarkan aku menuju ruang tunggu.


“Karena tiket ibu yang kelas utama bu.” Jawab pria itu sopan.


“Lho masa sih mas?” Aku ragu-ragu dengan ucapan pria itu.


“Iya bu, silahkan di chek kembali tiketnya bu.” Pria itu berhenti dan mempersilahkanku untuk mengechek kembali tiketku.


Aku membaca kembali tiketku dan benar saja itu tiket kelas utama. Aku berpikir bagaimana mungkin jika hanya memenangkan perlombaan saja aku diberikan fasilitas utama, lamunanku di buyarkan oleh pria itu.


“Mari bu saya antar.” Ucapnya


“Oh iya mas.”


Sampailah aku di ruang tunggu VIP, hanya ada 3 orang disana, dua orang pasangan bule sedang berbincang-bincang, dan 1 orang menggunakan jaket dan hoodie untuk menutup kepalanya, serta masker dan kaca mata hitamnya, sepertinya orang itu sedang tertidur di sofa.


Aku duduk tak jauh dari orang yang menggunakan hoodie itu, aku memperkirakan orang itu adalah laki-laki jika melihat dari postur tubuhnya.

__ADS_1


Belum lama aku duduk, masuk seseorang yang mengacaukan hati dan pikiranku.


“Rhey..” aku menatap lelaki itu dengan amarah.


“Mau apa lagi mas?” Jawabku tak suka.


“Kenapa Rhey? Kenapa kamu menghindari aku?” Lelaki itu mas Arlo, setelah kedua bodyguardnya tadi tak berhasil membawa aku, sekarang malah dia yang menghampiriku di ruang tunggu.


“Kenapa? Pertanyaan macam apa ini mas?” Aku membuang muka ku kesegala arah, pasangan bule itu memperhatikanku, sedangkan manusia berhoodie itu tetap dengan posisinya. “Kamu lelaki beristri mas, ayo lah mas jangan membuat segalanya semakin rumit.” Mas Arlo berlutut di hadapanku.


“Aku mohon Rhey, ikutlah denganku kembali ke Surabaya, dan hiduplah denganku.”


“Dengan resiko melukai hati istri dan kedua anakmu?” Aku tak habis pikir dengan jalan pikiran mas Arlo. “Aku gak mau mas. Kalaupun kamu gak mencintai mbak Lila, setidaknya lihat anak-anakmu mas, mereka darah dagingmu, jika dengan darah dagingmu saja kamu tega, apa lagi dengan aku yang bahkan bukan siap-siapamu.”


“Aku bisa berpisah dengan Lila Rhey, dan membawa anak-anakku bersamaku, menikahimu dan kita bisa hidup bahagia.” Mas Arlo menggenggam tanganku erat.


“Menikah? Diatas penderitaan mbak Lila? Belum tentu juga anak-anakmu menerima ibu baru untuk mereka. Seburuk apapun ibu nya, aku yakin anak-anakmu lebih menyayangi mbak Lila di banding aku.” Aku berusaha menarik tanganku, tapi tetap di genggam erat olehnya. “Lepasin tanganku mas, sebentar lagi aku harus masuk ke pesawat.” Tapi mas Arlo gak juga mau melepas genggaman tangannya.


Pria berhoodie itu menegakkan duduknya dan berdiri, berjalan ke arahku.


“Kalau di tolak jangan dipaksa.” Ucapnya sembari menepuk pundak mas Arlo.


“Gak usah ikut campur kalau gak tau masalahnya.” Jawab mas Arlo kasar.


“Hahaha aku harus ikut campur, karena kamu sudah merusak semua rencanaku.” Ucap pria itu.


“Aku gak perduli.” Mas Arlo menepis tangan pria itu.


“Yang kamu ganggu itu calon istriku Arlo.” Jawab pria itu sembari melepas hoodie, masker dan kacamatanya.


Mas Arlo berdiri dan terkejut melihat siapa yang ada dihadapannya. Aku jauh lebih terkejut melihat siapa sosok yang berdiri didepanku ini.


Bersambung..


...Maaf ya readers kesayanganku semua, updatenya lama karena ada beberapa pekerjaan dan harus mengawal 2 bocah cilik yang sedang PTS 😁...


...Terima kasih untuk vote, like dan komennya 😘...


...Lope you pull gaes 🥰...

__ADS_1


__ADS_2