
Aku meregangkan ototku dan melihat sekeliling, Retno sudah gak ada disini. Aku raih ponselku dan jam sudah menunjukkan pukul 8 lebih. Aku buru-buru terbangun, menyambar handukku dan mandi. Aku terlalu lelap tertidur hingga tak terasa waktu berlalu dengan cepatnya.
Setelah selesai berkemas, pukul 9 pagi aku turun ke lobby untuk menunggu pak Wahyu, sekalian chek out.
Setelah chek out aku melihat pak Wahyu sudah menunggu di kursi lobby.
“Pagi pak Wahyu” sapaku pada pak Wahyu.
“Eh pagi non, sudah siap?”
“Sudah pak, ayo” ajakku
“Tunggu sebentar non, saya ambil mobil dulu” pak Wahyu segera berlalu mengambil mobil, dan aku menunggu di depan lobby.
Didalam mobil aku mengirimkan pesan pada Retno.
‘Ret, tq udah ditemeni. Sorry ya tidurku terlalu lelap sampai gak tau kamu balik. Aku pamit ya, ntar kalau ada kesempatan kita temu kangen lagi’
Aku memasukkan poselku pada slingbagku, kemudian merebahkan kepalaku.
“Non, pesan dari bos saya katanya hati-hati di perjalanan, terima kasih untuk desain non yang indah.”
“Sama-sama pak. Eh tunggu pak, maksud pak Wahyu bos pak Wahyu siapa ya pak?”
“Bos saya non, pemilik GFE non.”
“Iya pak, Siapa namanya pak?” Aku semakin penasaran di buatnya.
“Pak Aaron non, nanti juga kenal non. Orangnya baik non, sama semua karyawan beliau memperhatikan kesejahteraan pegawainya. Masih muda tapi sudah berhasil, hidupnya penuh semangat non, sama saya yang cuma supir saja beliau tetap hormati saya low non.” Pak Wahyu bercerita sedikit tentang bosnya yang belum aku kenal. Cerita pak Wahyu tiba-tiba mengingatkanku pada Steve, dia juga sosok yang menghormati orang tua, tak pernah memandang derajatnya.
“Lho pak Wahyu ini supirnya pak Aaron? Kalau pak Wahyu antar jemput saya, terus pak Aaron sama siapa pak?” Aku mengalihkan pemikiranku dengan bertanya pada pak Wahyu.
“Pak Aaron bawa mobil sendiri non.”
“Memangnya gak ada supir lain pak? Kok sampai bos mengorbankan pak Wahyu untuk antar jemput saya?”
__ADS_1
“Banyak non, tapi kan non pemenangnya jadi harus spesial kata bos.” Sambil tersenyum pak Wahyu menjelaskan.
“Waduh pak, pemenang lomba saja sudah kayak mau jadi istri bos pak hahaha.” Aku menertawakan pak Wahyu.
“Aamiin non, siapa tau nanti jadi istrinya bos beneran non.” Nah pak Wahyu malah menimpali lebih ngelantur lagi.
Aku semakin tergelak hebat, menertawakan kata-kata pak Wahyu yang makin ngelantur. “Hahahaha pak Wahyu ini bisa aja becandanya. Mana mau pak, bos besar sama janda seperti saya, bermimpi saja saya gak berani low pak. Yang terpenting untuk saya saat ini adalah mendapat pekerjaan untuk menghidupi diri saya pak.” Setelah puas tertawa aku memberi jeda untuk menjelaskan pada pak Wahyu.
“Tidak ada yang tidak mungkin di dunia ini non. Jika Allah berkehendak maka tidak ada yang mustahil. Bahkan keturunan raja Arab pun bisa jadi suami non, jika memang sudah jodoh dan kehendak Allah.”
“Iya pak benar kata pak Wahyu. Bahkan yang kita kira jodoh pun jika tak sejalan dengan garis yang Allah tentukan, maka akan terpisah juga.”
“Nah itu lah non, serahkan semua sama sang Maha Pemberi non, karena keputusan-Nya adalah yang terbaik.” Kata-kata pak Wahyu begitu menenangkan batinku.
Aku terdiam dan memandang keluar jendela, aku berpikir jika semua ini memang kehendak Allah. Allah tak akan memberiku cobaan jika aku tak mampu melewatinya. Dan pasti ada hikmah dibalik setiap ujian yang Allah berikan, asal kita yakin, percaya dan berserah.
Tak terasa mobil sudah memasuki area bandara.
“Terima kasih ya pak Wahyu sudah antar jemput saya, maaf kalau saya sudah merepotkan.”
“Hahaha pak Wahyu ih bisa aja kalau godain.” Dan pak Wahyu pun ikut tertawa.
“Salam untuk pak Aaron ya pak, terima kasih sudah banyak membantu saya.”
“Siap non, ndak salam yang lain gitu non?” Tanya pak Wahyu terus menggodaku.
“Hahahaha udah ah pak Wahyu nih godain terus. Mari pak Wahyu, sampai ketemu dilain kesempatan pak.” Pamitku pada pak Wahyu, yang sudah membukakan aku pintu mobil.
“Hati-hati di jalan non.” Aku menjawab dengan anggukan kepala.
***
Hari ini dua hari sebelum keberangkatanku ke Jerman, beberapa barang sudah aku siapkan dalam 2 koper berukuran 24inch. Aku menyiapkan jaket untuk musim dingin disana, beberapa sweater, beberapa kaos untuk saat santai, 2 buah gaun sederhana, sepatu boat untuk musim dingin.
Aku sudah menghubungi pak Sono, tetapi nomor pak Sono tak aktif. Aku ingin bertanya kembali berapa harga sewa rumah ini, serta ingin membayarnya, agar saat aku meninggalkan mbak Sari seorang diri dirumah, aku tak kepikiran lagi dengan biaya sewanya. Aku memutuskan untuk menghubungi pak Sono lagi esok hari.
__ADS_1
“Mbak Sari, ini pak Sono kan gak bisa di hubungi, saya titip uang sewa rumah ini di rekening mbak Sari aja ya, jadi nanti kalau sewaktu-waktu pak Sono datang, mbak Sari bisa bayarkan uang sewanya.” Mbak Sari sudah membuka rekening baru atas namanya sendiri, untuk menyimpan uang hasil kerjanya.
“Iya non, tapi jangan banyak-banyak non, kan disana masih ada uang saya, bisa pakai uang saya dulu. Uang non Rheyna bawa aja dulu untuk jaga-jaga selama di negeri orang non.”
“Iya mbak, sudah saya sisihkan kok mbak yang untuk uang saku saya dan untuk keperluan lain.”
“Jaga kesehatan ya non, semoga semua berjalan lancar non.” Mata mbak Sari terlihat berkaca-kaca.
“Mbak Sari juga, makan jangan terlalu irit mbak, masak seperti saat aku ada. Ice cream kalau mbak mau juga makan aja mbak. Itu buah-buah juga mbak harus dihabiskan, sayang kalau sampai busuk mbak.”
“Iya non, wah bisa-bisa kalau non pulang dan lihat saya jadi pangling non.”
“Kok bisa mbak?”
“Iya itu disuruh makan, semua disuruh habiskan, bisa melebar saya non hahaha.” Tawa mbak Sari menular ke aku, kami tak melanjutkan sesi melow yang akan menitikkan air mata kami.
“Biarin, biar mbak Sari bahagia. Awas aja kalau itu buah-buah dan makanan gk ada yang disentuh, aku suruh mbak Sari habiskan semua dalam waktu 1 hari.” Aku menjulurkan lidahku, mengejek mbak Sari.
“Iya non beres deh, nanti saya makan.”
“Kalau mau berenang juga gak pa pa low mbak, jangan pake acara sungkan sama saya. Masa iya kolam cuma dibersihkan aja gak ada yang berenang.”
“Iya non, nanti saya mandi sama cuci baju dikolam deh, biar berfungsi kolamnya. Hahahaha.” Mbak Sari kembali membuat kami tertawa.
Sungguh, tak perlu berada di tengah-tengah banyak orang untuk membuat kita bahagia, sedikit orang pun akan mampu menciptakan kebahagiaan.
Bersambung..
...Maafkan author yang lama gak update ya readers kesayangan,...
...Lagi nemeni anak PTS dan juga ada beberapa kerjaan, jadi waktu dan pikirannya lagi selingkuh bentar hehehe.....
...Kasi semangat dong buat daku, vote, like, komen kalian sangat berharga untuk author kelas tempe kayak aku gini.. 🤭...
...Lope yu pull gaes.. 😘...
__ADS_1