
Hari ini hari ke tiga aku meninggalkan rumah mama dan menempati apartemen yang mas Arlo pinjamkan.
Mas Arlo terlalu banyak membantuku, ada rasa bersalah pada mbak Lila, rasa tak nyaman karena dekat dengan suaminya.
Pagi tadi mas Arlo mengirimkan pesan padaku,
Mas Arlo
Sayang, hari ini anak-anak panti akan sampai sekitar jam 10 pagi ini, semua sudah aku siapkan.
Kamu jaga kesehatan ya, baik-baik disana. Maaf aku belum bisa mampir kesana, kerjaanku masih banyak, secepatnya aku akan kesana
Miss you
Pesan itu aku balas dengan ucapan syukur,
‘Alhamdulillah, makasih mas untuk semua bantuannya’ balasku singkat.
Aku mulai mencari beberapa lowongan pekerjaan, dan mengupload beberapa hasil gambarku ke media sosial dengan mulai membuat akun baru khusus untuk ruang pamer hasil gambarku yang akan aku jadikan sebagai pekerjaan sampinganku.
Mbak Sari mencoba beberapa resep kue yang aku berikan untuk bisa mbak Sari praktekkan dan aku berencana untuk mempromosikannya di media sosialku, lumayan bisa untuk pemasukan mbak Sari dan mengisi waktu mbak Sari ketika nanti aku tinggal bekerja.
Waktu sudah menunjukkan pukul 4 sore, aku mandi dan membersihkan diriku kemudian membuka-buka iklan di media sosial, aku melihat ada lomba menggambar logo dan untuk desain kemasan, produk makanan dan minuman dari Jerman, pemenang pertama akan mendapat hadiah berlibur ke Paris dan mendapatkan kontrak 1tahun sebagai Desainer Produk perusaan tersebut, pemenang ke dua akan mendapatkan hadiah Ipad dengan tipe terbaru serta akan mendapatkan uang saku. Aku menyunggingkan senyum ku karena aku berniat untuk mencobanya, walaupun aku tahu pasti banyak sekali sainganku yang elas lebih berkompeten dibandingkan aku, tetapi tak ada salahnya mencoba untuk menambah wawasanku juga.
“Non ini cobain cakr dari resep yang non kasi tadi” mbak sari menyodorkan seiris red velved yang nampak menggugah selera
“Wuih enak nih kayaknya, yuk mbak kita coba sama-sama” ajakku sambil menerima potongan cake yang sudah di letakkan di atas piring kecil itu, aku menyendok cake itu dan mulai mencicipinya
“Hemmm mbak ini enak low, kayak yang di toko roti mahal-mahal itu, ini sih udah pasti laku mbak, apa lagi tampilannya kalau cantik” ucapku memuji cake yang memang enak ini
“Masa sih non?” Tanya mbak Sari seperti kurang percaya diri
“Beneran mbak, ini tuh enak, coba nanti saya carikan cara menghiasnya biar lebih cantik ya mbak, besok buat lagi dan di hias yang cantik, biar bisa saya foto buat promosi, cakenya besok kirim ke rumah mama aja, kan anak-anak panti sudah dateng hari ini”
“Okey siap non”
“Kalau mbak sudah bisa buat beberapa kue nanti kita pasarkan di online mbak” kataku memberi mbak Sari semangat
***
__ADS_1
Dua hari berselang sejak mas Arlo memindahkan anak-anak panti kerumah mama, dia tak memberi kabar atau menghubungiku lagi, ada sedikit rasa kehilangan namun segera ku tepis rasa itu, karena aku tak ingin menumbuhkan rasa apapun itu, karena itu salah.
Jam sudah menunjukkan pukul 12 siang dan cacing-cacing diperutku mulai meronta untuk di berikan asupan,
“Mbak Sarrrrriiiii” panggilku pura-pura manja pada mbak Sari
“Dalem non” jawab mbak Sari lembut seperti menjawab anak kecil (dalem\=apa)
“Laperrrr” jawabku masih dengan suara yang sok manja dan mengelus-elus perutku kemudian tertawa terbahak karena geli dengan sikapku sendiri
“Masih cocok gaya manja gitu non, masih awet muda” kata mbak Sari sambil meletakkan mangkuk nasi di meja depanku kemudian kembali mengambil sepiring lauk dan sepiring sayur tumis baby kailan
“Ahhhh baby cumi pete, enak banget ini” tatapanku seperti singa yang menatap mangsanya, alias kelaparan
Aku mengambil secentong nasi, kemudian sayur dan baby cumi pete kesukaanku, makan seperti ini lebih enak kalau makannya pancasila, alias langsung pakai tangan gak pakai sendok. Saat hendak menyuapkan nasi,
Ting tong ting tong
Suara bel di tekan, aku yang hendak berdiri dari dudukku dicegah mbak Sari,
“Duduk aja non, lanjutkan makannya biar saya yang buka pintu” kata mbak Sari berlalu kearah pintu apartemen
“Okey mbak”
“Eh mas Arlo, makan mas” sapa ku tanpa meninggalkan makanku
“Wah kayaknya enak nih” katanya sambil menghampiriku
“Enak banget ini mas, masakan mbak Sari top deh, sini mas cobain” tawarku
“Saya ambilkan piring dulu den” mbak Sari membuka lemari dan mengambil piring untuk mas Arlo dan meletakkan di atas meja didepan mas Arlo yang sudah duduk di sampingku
“Ayo mbak Sari makan bareng disini” aku mengajak mbak Sari untuk makan bersama aku dan mas Arlo
“Nanti saja non, saya mau setrika sebentar” tolak mbak Sari karena merasa sungkan dengan mas Arlo, dan berlalu menuju kamarnya untuk setrika
“Enak kan mas?” Tanyaku pada mas Arlo ketika dia mulai menyuapkan nasi sendokan ke dua
“Iya, sebenernya sih apapun makanannya pasti enak kalau ada kamu yang temani makan begini” gombalnya mulai
__ADS_1
“Dih gombal” jawabku sambil mengunyah
“Aku punya hadiah untuk kamu sayang” katanya sambil membelai rambutku
“Mas, jangan panggil sayang gitu, gak enak kalau didengerin mbak Sari” tolakku sambil sedikit memiringkan kepalaku menjauh dari tangan mas Arlo
“Sari juga pasti tahu aku menyayangimu” jawabnya acuh
“Hadiah apa mas? Belum waktunya ultah kok dikasih hadiah” kataku mengalihkan pembicaraan
“Habis makan aku tunjukkan hadiah yang pasti sudah kamu tunggu-tunggu” jawabnya kemudian menyendokkan nasinya kembali
Aku yang sudah selesai menghabiskan makanku, segera berdiri dan membawa piring kotorku ke wastafel untuk segera aku cuci bersama dengan beberapa gelas dan sendok kotor yang lain.
“Aku merindukanmu” aku dikejutkan dengan suara disamping telingaku dan tangan yang melingkar di pinggangku, dia berdiri dari belakang, tangan kanannya meletakkan piring kotor di depanku sedangkan tangan kirinya mmeluk pinggangku, dan hampir saja aku melepaskan gelas yang sedang aku beri sabun itu
“Mas ngagetin aja, jangan gini dong ada mbak Sari mas” dengan nada kurang suka aku menghindar
“Kalau gak ada Sari boleh ya? Kalau gitu biar Sari aku suruh belanja aja deh” katanya sembari sedikit tertawa
“Ya gak gitu juga mas, udah tunggu disana aja gak usah gangguin orang cuci piring deh” usirku, yang di jawab dengan tawa mas Arlo dan berlalu duduk di sofa ruang TV
Setelah selesai mencuci piring, aku menghampiri mas Arlo yang sedang menonton TV
“Apa itu mas?” Tanyaku saat melihat map yang mas Arlo pegang
“Ini hadiah untukmu” sambil tersenyum “sini duduk sini aku tunjukkan” sambil menepuk-nepuk sofa disebelahnya
“Gak ah duduk sini aja” tolakku
“Ya udah gak aku kasi” katanya menjauhkan map itu dariku. Dengan terpaksa aku pindah disebelahnya
“Gitu dong, kalau deket gini kan enak” sambil menyerahkan map yang dia pegang, aku menerimanya dan membukanya
“Mas ini beneran?” Tanyaku terkejut ketika aku membaca tulisan ‘AKTA CERAI’
“Masa aku bohongan sayang” jawabnya sambil menyingkirkan rambut yang tergerai di pundakku, aku kembali membaca kata demi kata yang tertulis di lembar kertas itu, tetapi dikejutkan dengan kecupan lembut di leherku dan disusul dengan bisikan “aku mencintaimu” di telingaku.
Bersambung…..
__ADS_1
...Maaf ya teman-teman updatenya sedikit lama, tapi diusahakan update setiap hari kok, maklum emak-emak banyak yang diurus, terima kasih untuk like dan komennya,...
...Love you All...