Aku Lelah,Cintai Aku

Aku Lelah,Cintai Aku
Background


__ADS_3

Ketika Steve memasukkan belanjaan kami, aku langsung masuk kedalam mobil dan menunggu Steve masuk mobil, setelah selesai meletakkan semua belanjaan kami. Aku sedikit tersinggung dengan ucapan Steve.


Steve masuk kemobil, dan menatap lekat-lekat kearahku, sedangkan aku hanya menatap lurus kearah depan.


“Ayo buruan, nunggu apa?” Aku berbicara sedikit ketus, dengan pandangan yang tak mau menoleh sedikitpun pada Steve.


“Nunggu kamu tersenyum” jawabnya santai dengan tubuh direbahkan kesandaran kursi.


“Ayolah Steve, mbak Sari dirumah sendiri kasian dia”


“Kenapa sih tiba-tiba cemberut?” Steve menarik lenganku agar mau menghadap dia.


“Aku marah” jawabku singkat.


“Karena?”


“Kamu ini ya, aku gak suka kamu bicara ingin menjadikanku istri sedangkan kamu saja sudah beristri. Apa semua menurutmu hanya lelucon? Gak lucu Steve, jangan mempermainkan pernikahanmu dan aku.” Aku nyerocos tanpa jeda karena aku sedang marah.


“Hahaha jadi karena itu, oke oke Rhey maafkan aku” dengan tawa yang masih dia tahan dan tangan yang menangkup didepan wajahnya.


“Jangan seperti itu lagi Steve” aku berkata lirih.


“Iya iya, tapi makan dulu ya aku lapar” Steve mengusap-usap puncak kepalaku.


“Maaf Steve, aku sudah berjanji pada mbak Sari, aku akan makan malam dirumah.” Aku menolak Steve.


“Kalau gitu aku numpang makan dirumahmu” Steve menstater mobilnya.


“Ha kok gitu?”


“Ya anggap saja kamu mencicil hutangmu” Steve melajukan mobilnya.


“Steve, aku belum memberitahukan alamat rumahku, bagaimana kamu bisa tahu ini jalan kerumahku?” Aku menatap Steve dengan heran, pasalnya aku belum memberitahukan dimana rumahku tetapi Steve sudah mengambil jalan ke arah rumahku tanpa bertanya padaku.


“Eh itu, emm tadi kamu kan bilang rumahmu jauh dari cafe, ya aku tebak-tebak aja, kamu juga gak protes waktu aku ke arah sini, ya itu berarti arahku benar.” Steve menggaruk-garuk tengkuknya


“Kamu berbohong Steve!” Aku menuduhnya dengan pandangan mataku yang tajam.


“Ah perasaanmu aja Rhey, ini belok kemana Rhey?”


‘Ni orang kenapa mencurigakan ya? Nanya belok kemana, tapi sudah tau arahnya.’ Aku membatin dan hanya menatap ke arah jalan.


“Rhey, ini kearah mana?” Steve menepikan mobilnya dan berhenti.


“Yakin nih gak tau rumahku dimana?” Aku memasang wajah penuh selidik.


“Yakin gak mau kasi tau rumahmu dimana? Atau mau kerumahku aja?” Dia membalikkan pertanyaanku


“No no no, itu depan belok ke kiri”


“Nah, rumah sendirian itu rumah yang aku sewa.” Aku menunjuk pada rumah yang berdiri sendiri dengan kanan kiri adalah hamparan rumput.


Aku turun dan membuka pintu pagar, agar Steve bisa memasukkan mobilnya dan mbak Sari bisa mengangkat belanjaan kami lebih dekat.


“Siapa non?” Tanya mbak Sari berbisik padaku, saat membukakan pintu ruang tamu.


“Temanku mbak” aku menjawab dan berlalu masuk ke dalam rumah.

__ADS_1


“Saya bantu tuan” mbak Sari mengambil belanjaan dari tangan Steve.


“Terima kasih mbak” jawab Steve ramah.


“Sama-sama tuan, silahkan masuk”


“Mbak, itu ada beberapa kotak ice cream, tolong dimasukkan frezer ya, ice cream cokelat kesukaan Rheyna.”


“Baik tuan” mbak Sari masuk ke dalam rumah, dan berjalan ke dapur, sedangkan Steve duduk diruang tamu.


“Mbak, Steve ikut makan dengan kita, tolong siapkan piringnya ya” aku menghampiri mbak Sari yang ada di dapur.


Aku sudah mengganti pakaianku dengan pakaian rumahku, kaos oversize dengan celana jeans sedengkul, dan rambutku aku ikat kebelakang dan menggulungnya asal.


“Ayo Steve katanya kamu laper” aku menghampiri Steve yang ada diruang tamu, dia sedang menatap layar ponselnya.


“Hemm okey yuk” Steve meletakkan ponselnya diatas meja ruang tamu.


“Steve, kenapa foto itu?” Aku tak sengaja melihat ke arah layar ponsel, yang Steve letakkan, dan disana ada fotoku yang sedang membelakangi kamera, dengan background padang rumput di Bromo. Aku menunjuk ke arah ponsel Steve yang kini layarnya telah mati.


“Apa? Kamu salah lihat, udah yuk aku lapar” Steve menarik tanganku dan membawaku ke meja makan.


“Kamu kok tau meja makannya ada disini?” Aku dibuat terheran-heran oleh tingkah Steve.


“Aduh kamu ini bawel juga ya ternyata” Steve menarik hidungku “Kenapa penuh curiga sih? Aku tau meja makan disini karena, aku lihat disana ada dua pintu yang aku yakini itu adalah kamar tidur, dan saat aku masuk dari pintu utama sudah nampak tuh kolam renang, jadi ya otomatis kan meja makan dan dapur letakknya disini.” Steve menjelaskan sambil menunjuk ke arah dua kamar dan kolam renang.


Mbak Sari menghampiri kami dan memberikan piring unuk Steve.


“Ayo sini mbak makan” aku mengajak mbak Sari makan.


“Nanti aja non, nih saya masih bikin kue, takut gosong kalau ditinggal makan.” Mbak Sari menolak, sepertinya dia malu dengan Steve.


“Hehehe silahkan tuan, maaf masakannya ala kadarnya. Saya kedapur dulu mau lihat kue saya.” Mbak Sari berlalu meninggalkan aku dan Steve.


Menu malam ini, mbak Sari memasak bobor bayam dengan ikan nila goreng, dan tak lupa sambal. Menu sederhana yang nikmat untukku.


“Belum pernah makan yang begini Steve?”


“Pernah dong, dulu nenekku suka masak yang bersantan seperti ini. Lodeh aku juga suka.” Jawabnya bangga.


“Stev background ponselmu..”


“Ssstttt makan jangan sambil bicara Rhey, nanti tersedak” dia memotong pembicaraanku dan membuatku terdiam.


Akhirnya kami makan dengan terdiam, hanya denting sendok dan garpu yang menjadi backsound kami.


“Aaahhh mbak, masakanmu sangat lezat” Steve sedikit berteriak pada mbak Sari yang berada di dapur. Aku kaget mendengar suara Steve.


“Terima kasih tuan” mbak Sari tersenyum ke arah Steve.


“Bolehkah aku sering-sering numpang makan disini?” Tanya Steve.


“Boleh tuan”


“Gak boleh” aku dan mbak Sari menjawab bebarengan, tetapi dengan jawaban yang berbeda.


“Terima kasih mbak” Steve tidak memperdulikan jawabanku dan malah tersenyum pada mbak Sari.

__ADS_1


“Lho kan aku bilang gak boleh.”


“Kan yang masak bukan kamu, wlekk” Steve mengejekku dan menjulurkan lidahnya.


“Tapi kan aku yang menyewa rumah ini” aku melipat tanganku didepan dada.


“Ya udah, klo gitu si mbak aku sewakan rumah sendiri, wlekk” dia terus saja bisa menjawabku.


Mbak Sari yang melihat aku berdebat dengan Steve hanya tersenyum saja.


“Steveeeeee, nyebelin banget sih!” Aku memalingkan wajahku dengan tangan yang maih tetap bersendekap.


“Mbak, terima kasih untuk makan malam yang lezat ini, besok aku mampir sini lagi” Steve berpamitan pada mbak Sari dan berdiri.


“Rhey aku pulang dulu ya” pamitnya berdiri disebelahku yang msih tetap duduk dan tak mau meihat kehadapannya.


“Pulang aja, sapa juga yang suruh kamu disini.” Jawabku sewot.


“Ih sewotnya, jangan sewot-sewot ntar tu rambut jadi lurus low ya hahaha” dia terus saja menggodaku.


“Ih kamu ini ya..” aku memutar badanku hendak memukulnya.


Cup satu kecupan bertengger di dahiku, dan mebuat aku terkejut, begitu pula dengan mbak Sari yang tak sengaja menatap ke arah kami.


“STEVEEEEE apa-apaan sih? Dilihat mbak Sari, gak tau malu banget sih kamu!” Aku berteriak dan memukul-mukul tubuh Steve.


“Mbak tadi lihat kami?” Tanya Steve


“Eng..enggak tuan, saya gak lihat apa-apa kok.” Jawab mbak Sari gugup.


“Tuh mbak Sari gak lihat apa-apa katanya.” Steve menggenggam kedua tanganku yang tadi aku gunakan untuk memukulnya.


“Ya udah aku pulang dulu ya” pamit Steve lagi.


“Gak usah balik lagi” jawabku


“Ntar kamu kangen aku, kalau aku gak balik.” Dengan percaya dirinya dia menjawabku.


“Gak akan” aku menjawab dengan pasti.


“Oke” jawabnya acuh, dan dia mengambil ponselnya yang tadi di letakkan di atas meja ruang tamu.


“Steve background itu?” Aku kembali teringat bakground ponsel Steve.


“See you Rhey” dia kembali mengalihkan pembicaraanku. Keluar dari rumah dan menuju pagar rumah, kemudian membuka pagar itu sendiri.


“Steve, jelaskan. Kenapa menghindar?” Aku berdiri didepan pintu rumah.


“Hahaha, masuklah Rhey. Biar aku yang menutup pagarnya sendiri” Steve membuka pintu kemudi dan masuk. Setelah menstater mobilnya, dia memundurkannya keluar dari garasi rumah. Dia kembali turun dan menutup pintu pagar.


“Masuklah, kenapa masih bengong disitu sih? Ntar disamperin pocong baru tau.” Steve berbicara di luar pagar, dan aku langsung berlari masuk kedalam rumah dan mengunci rumah. Aku masih bisa mendengar Steve tertawa terbahak-bahak melihat tingkahku yang ketakutan. Kemudian terdengar mobil Steve yang berlalu dari depan rumah.


Bersambung..


...Terima kasih untuk semua dukungan kalian gaes,...


...Untuk semangat, vote, like, gift, dan komennya,...

__ADS_1


...I lope yu pul gaes 🥰😘...


__ADS_2