
Hardtop mulai berjalan lambat, banyak pengunjung yang mulai berjalan menuju penanjakan. Mobil sudah mulai menepi, parkir ditepian jalan berjajar seperti yang lainnya. Aku dan Steve turun dari mobil, aku berjalan mendahului Steve, dia sedang berbincang dengan supir hardtop itu, kemudian menyusulku berjalan dengan langkah kakinya yang lebar.
“Hei kenapa aku ditinggal?” Steve mensejajari langkahku
“Kalau terlambat nanti gak bisa dapat tempat didepan, aku pendek Steve” kakiku terasa dingin, karena aku hanya menggunakan sandal jepit.
‘Nih bule kurang kerjaan ngajak kesini, gak tau dingin apa ya nih orang?’ Batinku
“Okay let’s go” Steve dengan suaranya yang sedikit keras, dan tangannya yang menarik tanganku untuk sedikit berlari.
“Steve jangan lari, nanti sandalku putus” aku sedikit menarik tangan Steve untuk meghentikan langkah kakinya.
“Hampir sampai Rhey, tuh banyak orang sudah disitu” tunjuk Steve pada tempat yang terdapat pagar pembatas untuk melihat matahari terbit.
Sampai ditempat yang mulai diisi banyak orang ini, Steve menggandeng tanganku untuk maju mendapatkan tempat didepan yang sudah penuh.
“Permisi, bolehkah saya maju?” Ijin Steve pada gerombolan gadis-gadis yang berada di depan kami, kebetulan mereka mendapatkan tempat didepan.
“Enak aja, mangkanya datang awal dong” jawab salah seorang gadis tanpa menoleh pada kami
“Eh bule ganteng cuy, bisa bahasa indonesia nih” seorang gadis menarik lengan temannya yang tadi menolak tanpa melihat.
“Eh mas bule mau didepan sini ya? Boleh deh asal saya boleh di belakangnya sambil meluk” kata gadis yang menolak tadi dengan genitnya. Dan aku hanya bersembunyi di belakang nya, tak terlihat. Menahan kakiku yang sangat dingin, dan seperti mati rasa.
“Bolehkah saya maju di depan?” Tanya Steve lagi dengan tersenyum
“Boleh.. Boleh mas” jawab gadis itu cepat dan sedikit menggeser tubuhnya, memberikan jalan pada Steve.
“Ayo sayang kamu maju dulu” Steve menarik tanganku untuk maju. Dan gadis tadi terkejut,
“Sialan, dah punya gandengan. Dikadalin nih aku” katanya cemberut, dan tak dihiraukan oleh Steve.
“Steve kakiku kram ssss” aku mendesis menahan sakitnya, dan mencengkeram besi pembatas di depanku.
“Duduklah disini” Steve membimbingku untuk duduk di bangunan pagar yang terbuat dari semen dan batu bata.
Aku duduk disitu dan Steve berjongkok di depanku, mengangkat kakiku yang sudah sangat dingin.
“Dingin sekali Rhey kakimu?” Sambil memijit kakiku yang kram dan menggosoknya agar kakiku menghangat.
“Iya, kan cuma pakai sandal jepit Steve” dengan sedikit meringis menahan sakitnya kakiku yang kram.
“Aduh, bikin yang jomblo ngenes aja sih nih bule” gadis itu bersuara kembali.
__ADS_1
“Maaf ya mbak, kaki istri saya kram soalnya” Steve menoleh pada gadis itu dan tersenyum.
“Lha bini nya cuyy” gadis itu terkejut dan diam setelahnya.
“Kenapa pura-pura lagi Steve?” Aku bertanya dengan berbisik.
“Biar gak digodain anak bau kencur” jawabnya santai dengan tangan yang masih menggosok kakiku yang dingin “Sudah bisa berdiri? Atau masih mau duduk?”
“Sebentar ya Steve” jawabku yang di balas dengan anggukan Steve, kemudian Steve berdiri.
Aku masih terduduk, dan mengelus kakiku yang sudah lebih baik dan tak sedingin tadi. Aku mengangkat kepalaku, karena aku ingin berdiri untuk melihat pemandangan yang ada dibelakangku, aku terkejut ketika melihat sesuatu yang menonjol dari hadapanku. Dibalik training itu tercetak jelas sesuatu yang besar. Aku memandangnya tanpa berkedip, dengan susah payah menelan salivaku.
“Hei, apa yang kau Lihat Rhey?” Suara Steve mengagetkanku, dengan reflek aku langsung berdiri dan melupakan jika kakiku habis kram.
“Aduh” aku yang hampir terjatuh karena terburu-buru berdiri, dengan sigap Steve memegang pinggangku, membenarkan posisi berdiriku menghadap pemandangan gunung, dan memunggungi Steve.
Degub jantungku masih tak terkendali, setelah menatap sesuatu yang membesar itu. Aku kembali memikirkan yang membesar itu ‘Ah pagi-pagi begini otakku rada gesrek deh’ aku merutuki diriku sendiri yang berpikiran m***m pagi-pagi
“Apa yang kau lihat tadi Rhey?” Steve mendekatkan bibirnya disamping telingaku, terkejut mendengar suara Steve, aku langsung menolehkan kepalaku, dan..
Cup.. Bibir Steve menyentuh pipiku. Seketika aku seperti berada di depan api unggun yang menghangatkan tubuhku.
“Hei, ditanya kok malah bengong” Steve menjentik-jentikkan jari nya dengan cara menggesekkan jari tengah dan jari jempol.
“Pipimu yang menghampiri bibirku Rhey” jawabnya santai
“Kamu m***m sekali Steve” aku mendengus sebal dengan suara lirih
“Hanya terkena cium sedikit saja kamu bilang aku m***m Rhey?” Dia tak terima dengan kata-kataku
“Hanya mencium kamu bilang? Lalu apa itu yang menonjol dibalik celanamu?” Aku membalikkan tubuhku menghadap Steve dan menunjuk ke bawah dengan berbisik, kemudian kembali membalikkan badanku memandang pemandangan.
“Hahaha, ini alami Rhey setiap pagi juga pasti begini, apalagi disuhu yang dingin seperti ini” dia menertawakanku.
“Cantik sekali” aku memandang takjub pada pemandangan didepanku, tanpa memperdulikan kata-kata Steve. Sungguh indah Maha Karya yang Allah berikan.
“Iya sangat cantik, dan.. menggoda” entah apa yang Steve pandang, “Menggoda untuk di naiki dan di takhlukkan” sambungnya.
‘Apa sih yang bule ini omongin, bikin merinding begini’ aku kembali berpikiran m***m hanya karena kata-kata Steve. Tetapi aku memilih untuk tak menghiraukannya.
Disinilah kami menyaksikan kecantikan matahari yang terbit. Bersama dengan ratusan orang yang lain. Bromo dengan dinginnya dan keindahannya. Walaupun banyak gunung yang juga tak kalah cantik dari Bromo.
__ADS_1
Kami hanya terdiam memandangi pemandangan alam ini, menikmati setiap waktu dan udara yang tersaji dengan segarnya.
“Kamu gak mau foto disini Rhey?” Steve menawarkanku untuk berfoto
“Boleh deh, sebentar aku ambil ponselku dulu” aku menerima tawaran Steve dan mengeluarkan ponselku dari saku dasterku, memberikannya pada Steve.
“Rhey kamera ponselmu rusak nih” Steve yang sedang membuka ponselku memberi tahu jika kamera ponselku rusak.
“Ah mungkin karena kemarin jatuh. Ya udah gk jadi foto aja Steve” aku mengambil ponsel dari tangan Steve, dan kembali memasukkannya pada saku dasterku.
“Tenang kan masih ada ponselku. Yuk bergaya yang bagus Rhey” Steve mengarahkan ponselnya padaku untuk mengambil fotoku.
Steve memotretku beberapa kali dengan pose dia yang aturkan. Aku sudah seperti model yang di arahkan oleh fotografer. Aku tertawa terbahak-bahak ketika Steve menyuruhku bergaya aneh-aneh, hal yang tak pernah aku lakukan sebelumnya. Kami tertawa terbahak-bahak bersama.
“Maaf, bisa minta tolong fotokan saya dan istri saya?” Steve meminta tolong salah satu pengunjung untuk memfotokan kami.
“Oh tentu saja” jawab pria yang berumur sekitar 50tahunan itu dengan ramah.
Steve berjalan ke arah ku dengan senyuman,
“Yuk kita foto sama-sama” kata Steve yang berdiri disebelahku.
“Jangan Steve, nanti istrimu tahu” aku menolaknya dan sedikit menjauh.
“Udah, gak ada yang akan tau” jawabnya seraya menarik pundakku dan memeluknya.
“Siap? Satu.. Dua.. Tiga..” pria itu memberikan aba-aba.
“Tersenyumlah Rhey, kamu akan semakin cantik jika tersenyum” dia merayu
“Ingat istrimu dirumah Steve” jawabku malas
“Hahaha baiklah” dia menertawakanku lagi
“Coba sekali lagi ya, itu istrinya di depan aja mas, tangan masnya di taruh dipinggang istrinya, pasti lebih bagus” pria itu mengatur gaya kami.
‘Aduh, kenapa jadi seperti foto prewedding begini sih?’ Aku kembali membatin.
Setelah beberapa kali mengambil gambar, Steve menyudahinya dan mengucapkan terima kasih kepada pria tersebut, dan sedikit berbincang-bincang entah apa yang mereka bicarakan, aku tak perduli. Aku membalik tubuhku, memandang pemandangan kembali.
Bersambung..
__ADS_1