
Mbak Sari membangunkanku pukul 05.00, aku mengambil wudhu dan menunaikan Sholat Subuh terlebih dahulu. Setelah Sholat Subuh, aku mengeluarkan tas ransel dan sling bag yang akan ku bawa, dan meletakkannya di sofa ruang tamu.
Aku mandi, dan bersiap-siap dengan cepat. Aku menggunakan celana jeans dengan kaos yang aku lapisi dengan jaket jeans ku, memasang flatshoesku dan berjalan ke dapur.
“Non itu roti nya sudah saya siapkan, sama saya buatkan susu cokelat anget non.” Mbak Sari berseru saat melihatku berjalan ke arah meja makan.
“Waahhh makasih mbak Sari.” Aku menarik kursi meja makan.
“Sama-sama non, mau saya bawakan bekal non?”
“Gak usah mbak, nanti saya beli aja disana.” Aku menggigit roti isi selada dan telur buatan mbak Sari.
“Ya udah non, yang penting jangan terlambat makan ya non.” Mbak Sari memperhatikanku.
“Siap komandan.” Aku mengangkat tangan kananku dan aku dekatkan ke dahiku, seperti orang memberi hormat, kemudian tersenyum.
Aku mengutak-atik ponselku dan memesan ojek online. Karena aku tinggal di daerah barat, sedangkan bandara ada di sebelah timur, maka aku memesan ojek mobil, supaya bisa lewat toll dan lebih cepat sampai.
Sepuluh menit berlalu, akhirnya ojol pun sampai di depan rumah untuk menjemputku. Aku sejenak berpamitan pada mbak Sari, kemudian keluar rumah dengan membawa tas ransel dan sling bag yang sudah menggantung di tubuhku.
Perjalanan menuju bandara jika lewat jalan toll di perkirakan akan memakan waktu sekitar 45 menit. Aku kembali membuka sling bag ku dan memastikan semua perlengkapanku sudah ku bawa, kemudian mengechek ponselku dan menyiapkan tiket pesawat yang sudah dikirimkan melalui email kemarin.
Setelah sampai di bandara aku segera masuk dengan menunjukkan tiket online ku, kemudian boarding, setelah selesai aku menunggu pada gate yang sudah ditentukan.
Sejauh ini semua baik-baik saja dan sangat lancar, aku duduk di bangku kelas ekonomi. Selama di dalam pesawat aku memilih untuk memejamkan mataku, mengistirahatkan tubuhku.
Pesawat sudah mendarat sempurna di bandara, para penumpang bersiap-siap untuk keluar dari pesawat, begitu pula denganku.
Berjalan ke arah pintu keluar bandara, aku melihat ada seorang pria dengan kisaran usia 50 tahunan sedang mengangkat papan nama bertuliskan “Rheyna pemenang lomba PT.GFE”. Aku menghampiri pria tersebut.
“Selamat pagi pak, apa bapak yang bertugas menjemput saya?” Pria itu menoleh ke arahku kemudian tersenyum.
“Non Rheyna?” Tanya pria itu.
“Iya pak saya Rheyna, apa perlu saya menunjukan tanda pengenal saya?” Aku membuka tasku akan mengambil dompetku.
“Tidak usah non, saya sudah..” pria itu menghentikan kalimatnya
“Sudah apa pak?” Tanyaku heran
“Saya sudah percaya non. Tunggu disini ya non, saya ambil mobilnya dulu.”
“Baik pak” aku menunggu pria itu mengambil mobil diparkiran.
__ADS_1
Pria itu kembali dengan membawa mobil Toyota Accord.
“Silahkan non” pria itu membukakan aku pintu mobil penumpang.
“Terima kasih pak.” Aku mendaratkan b*k*ng ku pada jok mobil.
“Saya antar ke penginapan dulu ya non, nanti jam dua belas saya jemput di lobi.”
“Oh gitu ya pak, baik pak.” Aku menyandarkan punggungku dan menatap keluar jendela.
Jakarta kota yang sangat padat, jam segini sudah macet dimana-mana. Toll sudah bukan lagi jalan yang lancar, tapi macet juga di toll. Aku berpikir, jam berapa para pekerja ini harus bangun, dan jam berapa mereka akan sampai dirumah. Kehidupan di Ibu Kota itu keras, kata orang-orang yang sudah merantau disana. Bagaimana Retno bisa kuat disini ya? Aku bertanya pada diriku sendiri.
Mobil sudah sampai di depan lobi hotel. Hotel yang terletak di Jakarta Selatan ini sangat ramai. Hotel bintang 5 ini sungguh indah.
“Non nanti tinggal sebutkan nama saja nanti waktu chek in.” Pria yang menjemputku itu memberitahuku.
“Oh iya pak.” Aku mengangguk-anggukkan kepalaku dan mengambil tas ransel yang aku letakkan di sampingku.
“Silahkan non” pria itu membukakan pintu mobil. “Nanti saya jemput disini ya non, makan siangnya non bisa pesan dulu disini, kalau sudah selesai baru kita berangkat ke kantor non.” Lanjut pria itu.
“Baik pak terima kasih.” Aku berlalu meninggalkan pria itu dan masuk ke dalam lobi hotel.
“Selamat pagi bu, ada yang bisa saya bantu” sapa resepsionis wanita itu dengan ramah.
“Sudah booking ya bu?”
“Katanya sih sudah mbak.”
“Baik bu saya chek dulu ya bu” aku mengangguk dan menunggu.
“Dengan ibu Rheyna Aurora ya bu?”
“Iya benar mbak”
“Boleh meminjam tanda pengenalnya bu?”
“SIM gak pa pa ya mbak? KTP nya nanti buat kelengkapan berkas-berkas soalnya.” Aku merogoh tasku dan mengambil dompet.
“Boleh bu, tidak apa-apa.” Jawabnya sopan.
Aku menyerahkan tanda pengenalku pada resepsionis.
“Silahkan bu, kamar sudah siap atas nama ibu Rheyna Aurora.” Aku menerima kartu sebagai kunci masuk ke kamarku.
__ADS_1
“Terima kasih mbak” aku berlalu meninggalkan area lobi.
Kamarku terletak di lantai 15. Lift membawaku ke lantai yang ku tuju. Aku mencari nomor kamar yang sesuai dengan tertera di kartu. Aku membuka pintu kamar dengan key card itu, dan meletakkan key card pada kotak agar lampu dan pendingin ruangan bisa menyala.
Aku meletakkan tas ransel pada lemari yang berada didekat pintu masuk, dan berseberangan dengan pintu kamar mandi. Kemudian aku membuka sepatuku dan meletakkannya di depan lemari, menggantinya dengan sandal hotel.
Ada buket bunga di atas tempat tidurku. Buket bunga lili yang sangat cantik. Dan terdapat kartu ucapan bertuliskan.
“Congratulations Miss Rheyna Aurora, with love AS”
Oh mungkin ini dari Audi yang menghubungiku kemarin. Karena hanya inisial jadi aku hanya menduga-duganya saja.
Aku meletakkan buket bunga di atas meja didekat jendela. Melepas jaket jeansku dan melemparkannya asal, aku memasuki alam mimpiku, karena masih ada waktu sekitar 1jam untuk aku mengistirahatkan tubuhku.
Satu setengah jam berlalu, ketika ada dering telepon dari dalam kamarku.
“Selamat siang bu Rheyna, supir dari PT.GFE sudah siap di lobi.” Aku terlonjak kaget dan melihat jam di tanganku menunjukkan hampir jam 12 siang.
“Oh iya suruh tunggu sebentar ya mbak, saya sedang bersiap-siap.” Aku memberikan alasan.
Aku bergegas kekamar mandi, dengan kilat aku mandi agar nampak segar. Mengambil kemejaku dari dalam tas ranselku, dengan bawahan celana jeans yang tadi aku gunakan. Dengan make up ala kadarnya, yang penting tak terlihat menakutkan.
Aku melewatkan makan siangku, karena aku tak ingin perusahan yang akan menjadi tempatku mengais rejeki memandangku tak tepat waktu. ‘Biarlah aku makan setelah semua berkas selesai saja’ aku membatin.
Aku turun menuju lobi, dan Pria yang menjemputku di bandara tadi sudah menantiku disana. Dengan setengah berlari aku menghampirinya.
“Maaf pak, lama ya nunggu saya?” Dengan sedikit terengah-engah aku meminta maaf.
“Cuma 20 menit kok non” jawabnya sambil tersenyum. “Mari non, mobil sudah siap.” Dengan tangan mengarah ke pintu keluar.
“Iya pak, ayo.” Aku berjalan mengikuti pria itu.
Bersambung..
...Maaf ya readers kesayangan author 😥...
...Author jarang update, karena tugas negara untuk mengawal 2bocah kesayangan sangat banyak 😁...
...Author masih terus berusaha untuk update setiap hari(walaupun terkadang gagal) 🤭...
Kasi author semangat terus ya, Like, Komen, Vote kalian sangat menyemangati author 🤗
...Dan juga kopi atau bunga dari kalian itu sangat membahagiakan author 😂...
__ADS_1