Aku Lelah,Cintai Aku

Aku Lelah,Cintai Aku
Ternyata


__ADS_3

Aku mengangguk dan sedikit tersenyum,kemudian masuk kedalam mobil dan mobil pun berlalu meninggalkan kawasan rumahku. Aku hanya membawa ponsel,dan dompet kecil yang hanya berisi beberapa lembar uang saja.


Di keheningan perjalanan yang aku pun tak tahu tujuannya,aku hanya mengisinya dengan doa agar aku selalu dilindungi dan agar suamiku selalu dapat mendampingiku.


Setelah sekitar 30 menit perjalanan,mobil yang aku tumpangi memasuki kawasan sebuah rumah sakit yang cukup terkenal disini.


“Maaf nyonya kita sudah sampai,pesan tuan nanti akan ada dokter yang menjemput nyonya di lobby” supir itu beranjak keluar dan membukakan pintu untukku.


“Terima kasih pak” aku berjalan menuju pintu masuk lobby yang terlihat lebih mirip sebuah hotel ketimbang rumah sakit.


Baru saja aku duduk,


“Selamat malam, nyonya Rheyna?” Seorang dokter pria berumur sekitar 60an menyapaku.


“Selamat malam dokter…” aku terdiam sejenak dan memandang nama di jas putih khas dokter yang ia kenakan “selamat malam Prof Agus” aku meralat ucapanku dan membalas uluran tangannya.


Prof itu tersenyum melihat aku yang kikuk karena salah menyebut kan nya.


“Mari nyonya Rheyna ikut ke ruangan saya,nanti saya jelaskan yang anda inginkan.” Prof.Agus mempersilahkan aku untuk mengikutinya keruangan tempat dia praktek.


Kami menaiki lift dengan keheningan rumah sakit karena sudah tengah malam dan tidak ada orang yang berlalu lalang. Tibalah kami di lantai 5,dan memasuki ruangan pertama dilantai ini.


“Salahkan masuk” Prof.Agus membuka pintu dan mempersilahkan aku masuk dan duduk di kursi seberang kursinya.


“Pasti nyonya bertanya-tanya,mengapa harus kesini tengah malam seperti ini, maaf karena saya baru selesai melakukan operasi,dan saya sewaktu dihubungi saat saya akan mengoperasi”


“Gak pa pa Prof,saya mengerti. Panggil saja saya Rheyna tidak usah pakai nyonya”


“Baiklah,apa yang ingin Rheyna ketahui saat ini?” Prof. Agus bertanya padaku.


“Tentang sakit suami saya Prof. Apa yang sebenarnya terjadi?”


“Baik,dari berkas yang saya terima dari administrasi,berkas itu berasal dari salah satu rumah sakit di Jerman,dan berkas tersebut menyatakan bahwa akan ada prosedur perawatan lanjutan disini. Apa benar kalian pernah tinggal di Jerman?”


“Benar Prof,belum lama ini kami kembali kesini karena suami saya yang memintanya.”


Prof. Agus membuka sebuah berkas dan mengeluarkan sebuah lembaran film dan meletakkannya pada alat seperti kotak yang ada lampunya dan menyalakannya.

__ADS_1


“Rheyna lihat dan perhatikan yang akan saya jelaskan ya. Ini foto kepala dan ini otak,sedangkan ini adalah sel kanker.” Bagai disambar petir aku mendengarkan penjelasan ini,air mataku tak lagi mampu dibendung,aku menangis tersedu membuat Prof. Agus menghentikan penjelasannya.


“Menangislah dahulu,setelahnya kuatkan hatimu.” Prof. Agus memberikan aku waktu untuk meratapi kesedihanku.


“Apakah Prof. Agus yang menghubungi suami saya tadi?” Tanyaku ditengah tangisku,karena aku teringat Mr.A yang seolah seperti mengenalku.


“Oh bukan, kebetulan saya tadi ketemu dengan suami Rheyna di toilet mall,dia pucat dan seperti kelelahan,kebetulan juga keponakan saya kenal sama suami Rheyna jadi saya diminta untuk membantu dan mencari tau yang terjadi. Dan kebetulannya lagi ternyata suami Rheyna sudah mendaftarkan untuk kontrol disini.”


“Siapa keponakan Prof.Agus?” Aku menghapus air mataku dan bertanya curiga.


“Sebentar ya.” Prof Agus mengeluarkan ponsel dan menghubungi seseorang, “kamu dimana? Oh oke,kemarilah” Prof. Agus mengakhiri panggilan telepon itu, tak lama kemudian suara pintu diketuk dari luar.


Tok..tok..tok..


“Masuk” kata Prof. Agus mempersilahkan si pengetuk untuk masuk


Ceklek….


Aku masih sesekali menghapus air mataku,ketika aku membalikkan badan dan menatap ke arah pintu,aku dikejutkan dengan sosok itu,sosok yang sudah sangat lama aku lupakan, dia kembali muncul dihadapanku.


“Mas Arlo” kataku lirih.


“Maaf” katanya lirih di sampingku .


Aku masih tak mengerti dengan semua kebetulan ini,aku masih shock dengan semua kenyataannya.


“Bisa saya lanjutkan lagi penjelasannya Rheyna?” Prof. Agus menawarkan untuk melanjutkan penjelasannya.


“Tapi Prof….” Aku memperlihatkan rasa tak suka ku dengan kehadiran mas Arlo.


“Lanjutkan saja om,anggap aja aku gak ada disini.” Jawab mas Arlo memotong ucapanku.


“Ok,saya lanjutkan ya” Jawab Prof. Agus hendak melanjutkan.


“Tapi Prof,bukankah informasi pasien tidak bisa sembarangan disebarluaskan?” Kataku masih menyangkal.


“Arlo sudah terlanjur mengetahuinya terlebih dahulu Rheyna, dan dialah yang telah membawamu sampai disini.” Prof. Agus menjelaskannya padaku,dan aku hanya terdiam mendengarkannya.

__ADS_1


“Begini Rheyna, kanker suamimu sudah memasuki stadium akhir,menurut catatan riwayat pengobatannya,dia hanya meminum obat tanpa mau melakukan kemoterapi.” Air mataku kembali menetes,entah berapa lama lagi waktu yang aku miliki untuk bersama dengan Steve.


“Apakah suamimu sering nampak kelelahan? Atau sering mengatakan bahwa dia pusing?” Pertanyaan Prof. Agus hanya mampu ku jawab dengan anggukan kepalaku yang masih tertunduk dengan air mata yang terus saja mengalir.


“Prof,apakah ada harapan untuk suami saya sembuh? Saya takut kehilangan dia Prof,hanya dia yang saya miliki.” Tangisku kembali pecah,dan ku sadari ada usapan lembut menyentuh pundakku,sangat lembut seolah takut menyakitiku. Aku membiarkan tangan itu mengusap pundakku,karena pikiranku saat ini hanya memikirkan Steve.


“Berdoalah dan mintalah yang terbaik untuk suamimu Rheyna.” Jawaban Prof. Agus menyadarkan ku bahwa aku akan kehilangan dia.


“Pulanglah Rheyna,saya yakin pasti suamimu tidak mengetahui kepergianmu,tetaplah berpura-pura tak mengetahui kondisinya,seperti apa yang dia inginkan,saya yakin dia tak ingin membuatmu khawatir dan bersedih dengan kondisinya,nanti saya yang akan memberikan informasi padamu tentang perkembangan kondisinya.” Aku mengangguk lemah, menuruti ucapan Prof. Agus.


“Arlo tolong antarkan Rheyna pulang.” Prof. Agus menyuruh mas Arlo mengantarkanku pulang.


“Tidak usah Prof,saya akan memanggil taksi online saja.” Tolakku sopan.


“Jangan membahayakan dirimu sendiri,ini sudah jam 2 lebih dengan pakaian piyama seperti ini kejahatan bisa saja menghampirimu.” Mas Arlo menyanggah ucapanku.


“Kalau gitu biar aku telpon supir ku saja.” Jawabku sambil mengeluarkan ponsel dari saku sweaterku.


“Telponlah,kalau kamu mau supirmu menceritakan dimana dia menjemput nyonyanya di tengah malam seperti ini.” Dia menantangku,dan tantangannya menciutkan nyaliku.


“Benar kata Arlo Rheyna,pulanglah dengan Arlo demi keamananmu.” Prof. Agus menasehatiku


“Baik Prof.” Untuk kali ini saja aku mau diantarkan dia.


Aku berjalan dibelakang mas Arlo, dalam diam dan menundukkan kepalaku,di dalam lift pun aku memilih untuk berada jauh di belakangnya. Tak ada kata apapun yang terucap dari kami,menyusuri jalan yang sepi menuju parkir mobil,dia membukakan ku pintu depan dengan tanpa kata,aku duduk dalam diamku.


Dia melajukan mobilnya dengan perlahan,seolah mobil ini tak bergerak,dijalankan yang lengang ini.


“Aku berpapasan dengan Steve saat di toilet tadi….” Mas Arlo membuka pembicaraan,dan aku tak menjawab sepatah kata pun.


“Wajahnya sangat pucat saat itu, dan dia berpegangan pada meja wastafel,aku membantunya supaya dia gak jatuh,membantunya duduk dilantai. Kebetulan aku sedang pergi dengan om Agus untuk mencarikan kado untuk istrinya,aku menghubungi om Agus supaya beliau menyusulku di kamar mandi. Ternyata Steve terlambat meminum obatnya. Apa kamu gak pernah menemukan obat-obatan yang harusnya dia konsumsi?” Aku menggeleng lemas,benar kata mas Arlo,seharusnya aku mengetahui obat-obatan itu.


“Aku tak tahu bagaimana hidupku tanpa dia.” Aku kembali terisak.


Mas Arlo menepikan mobilnya dan mencoba untuk kembali berbicara padaku.


“Hidupmu akan tetap berjalan,karena ada tiga anak yang akan selalu membutuhkanmu. Ingatlah Rheyna bahwa ketiga anak itu dihadirkan dengan cinta.” Ya,lagi lagi mas Arlo benar dan aku hanya terdiam dengan air mataku yang masih mengalir.

__ADS_1


Bersambung….


__ADS_2