Aku Lelah,Cintai Aku

Aku Lelah,Cintai Aku
Bule


__ADS_3

Aku mengeluarkan kertas gambarku hasil menggambar di taman tadi, memperhatikan sebentar kemudian meletakkannya di atas meja di sebelah kiriku. Beralih dengan mengeluarkan laptopku dan pensilku.


Drrreeetttt Drrreeettt


Aku melihat ke layar ponsel yang aku letakkan di atas kertas gambarku,


Mas Arlo Calling….


“Assaamualaikum” aku mengucapkan salam


“Wa’alaikumsalam” dia menjawab salamku “Rhey kamu dimana? Ini sudah hampir maghrib tapi kamu belum kembali” suara panik dari seberang sana


“Aku sedang mencari inspirasi untuk menggambar mas, jangan menungguku karena aku belum tahu akan pulang jam berapa” balasku sambil menekan tombol power laptopku


“Iya dimana kamu sayang”


“Aku di cafe mas, sebentar saja aku ingin menikmati kesendirianku” akhirnya aku mengutarakan apa yang aku inginkan


“Aku hanya khawatir saja Rhey” suaranya terdengar pasrah


“Mas aku bukan gadis kecil lagi” protesku


“Kamu sudah gak takut ketemu Bagas lagi?”


“Aku gak takut ketemu Bagas, aku hanya malas saja. Lagi pula kami sudah bercerai” jawabku santai


“Permis kak, pesanannya” mas waiter megantarkan pesananku


“Terima kasih mas” jawabku ramah dan di balas dengan senyum


“Hallo, mas aku mau gambar lagi ya. Pulanglah kasian anak-anak dan mbak Lila pasti menantimu”


“Tapi Rhey…”


“Assalamualaikum” ucapan salamku memotong kalimat protes yang akan ia ucapkan, aku menekan gambar berwarna merah pada layar ponselku dan beralih mematikan ponselku.


Aku mengambil sedotan yang masih terbungkus, membukanya dan memasukkan pada gelas, menyesap sedikit cairan didalam gelas kemudian beralih pada ice cream cokelat yang di taburi kacang mede cincang dan saus cokelat, heeemmmm sangat menggugah selera. Aku mengangkat mangkuk yang berisi 2scoop ice cream cokelat itu, menyandarkan punggungku pada kursi dan mulai menyendok ice cream lembut yang creamy itu, ah aku pasti akan kembali kesini untuk ice cream ini, batinku.


Setelah menghabiskan ice cream di mangkok, aku kembali menekuni laptopku dan sesekali meminum caramel machiato ku. Aku menemukan ide untuk gambarku, segera aku mengambil kertas gambarku kembali menggambar disana.


Lagi enak-enaknya menggambar, aku mendengar suara pertengkaran di ujung belakang yang tak jauh dari tempatku duduk.


Beberapa pengunjung memperhatikan pertengkaran mereka, termasuk aku yang menoleh k arah mereka, hanya sesaat kemudian aku kembali pada gambar dan laptopku.


Ada seorang pengunjung yang baru saja memesan minuman dan membawanya menuju ke arahku, mungkin akan duduk di deretan belakang ku, karena disisi sini memang sepi dan hanya ada aku dan pasangan yang sedang bertengkar tadi, ketika melewatiku betapa terkejutnya aku saat minuman yang ia bawa tumpah di baju dan laptopku serta kertas gambar yang ku pegang. Dia tersenggol wanita yang sedang bertengkar dengan pasangannya tadi, wanita itu berlari menuju pintu keluar cafe sepertinya sambil menangis.


Aku marah karena hasil gambar dan laptopku yang tersiram es kopi susu itu, bahkan laptopku tiba-tiba mati. Aku kebingungan mengambil tissue untuk mengelap laptopku.


“Ahhh maafkan saya nona” bule itu meminta maaf dan membantuku membersihkan laptopku yang sudah mati ini


Aku hanya diam tak menjawab orang itu, ingin menangis karena laptop ku yang mati dan juga hasil gambarku yang sudah menjadi luntur itu.

__ADS_1


“Hei are you okay miss?” Pria bule itu kembali bertanya padaku


“My laptop died, you broke it” jawabku lirih sambil terus membersihkan laptopku


“I’m really sorry, miss” katanya dengan nada penyesalan


“Sudahlah biarkan saja, mungkin aku sedang kurang beruntung” pasrahku menutup laptopku.


Pria itu memanggil pelayan untuk membersihkan mejaku dan memesankan kembali menu yang aku pesan di awal tadi.


“Hei tak perlu memesankan aku apapun, aku akan pulang saja” cegahku pada pria bule itu


“Tunggulah sebentar, ijinkan aku meminta maaf dengan benar” jawabnya sambil tersenyum


“Tak usah khawatir itu bukan sepenuhnya salah anda tuan” jawabku membuka hoodie dan jacket yang aku kenakan karena telah basah oleh cairan kopi, yang untung saja tidak mengenai kaosku dan celana jeans ku.


“Pindahlah kesana miss, biarkan meja dan lantainya di bersihkan dahulu, dan tolong tunggulah sebentar saja” pintanya ramah


“Baiklah tuan” jawabku, memasukkan laptopku kedalam tas, mengambil ponselku dan meninggalkan kertas gambarku di meja itu


“Miss gambarmu…” pria itu mengingatkanku bahwa gambar yang sudah kotor itu tertinggal di meja


“Oh biarkan saja, sudah tak dapat dilanjutkan gambarnya” jawabku pasrah, duduk belakang kursi yang tadi aku duduki


“May I…” tanyanya sambil menunjuk kursi di seberangku


“Oh silahkan tuan”


Pria bule itu memiliki tinggi sekitar 185cm jika aku perkirakan, tubuhnya atletis tercetak dari kemeja slim fit yang ia gunakan, dengan rambut berwarna cokelat tua, sepertinya dia eksekutif muda, namun aku tak lama memperhatikannya.


Aku kembali menyalakan ponselku, dan ada beberapa pesan masuk dari mbak Sari dan mas Arlo.


Mbak Sari


“Non den Arlo sudah pulang, tapi tunggu 1jam lagi aja non, takutnya beliau masih menunggu di bawah”


Isi pesan mbak Sari membuat aku tersenyum


Mas Arlo


“Jangan pulang larut sayang, aku mengkhawatirkanmu. Love u”


Isi pesan dari mas Arlo membuat aku semakin takut untuk dekat dengannya. Aku takut ada hati yang akan tersakiti seperti aku dulu.


Aku meletakkan kembali ponselku tanpa membalas pesan dari mereka.


“Permisi kak pesanannya” pelayan membawakan pesanan yang dipesan oleh tuan bule itu untukku sama seperti pesananku di awal tadi, dan untuknya aku tak tahu dia memesan apa


“Thank you” kata pria itu pada pelayan


“You're welcome sir” jawab pelayan wanita itu dengan senyum ramahnya, kemudian kembali melanjutkan pekerjaannya yang lain.

__ADS_1


“Silahkan miss….” Pria itu nampak menggantungkan kalimatnya


“Rheyna, Rheyna Aurora sir” jawabku sambil mengulurkan tangan


“Steve” tangannya terulur untuk menjabat tanganku dengan senyumnya yang menawan


“Sekali lagi maafkan saya miss Rheyna” dengan wajahnya yang nampak menyesal


“It’s ok Mr. Steve, lagi pula laptop saya sudah jadul, memang sudah waktunya di ganti” aku memberikan alasan agar dia tak terlalu merasa bersalah


“Panggil saya Steve saja miss Rheyna”


“Baiklah Steve, panggil saya Rheyna saja kalau gitu” jawabku membalas


“Deal” katanya sambil Tersenyum


“Maaf Rheyna, saya tadi lihat kamu sedang menggambar, apa kamu gemar menggambar?”


“Benar Steve, aku suka menggambar dan gambar yang rusak tadi sebenarnya akan aku ikutkan lomba, tapi tak apalah aku masih bisa menggambar lagi” jelasku sambil tersenyum dan mengangkat mangkok berisi ice cream cokelat “aku makan ya Steve” ijinku pada yang membeli


“Silahkan Rheyna” dengan tangan yang mengambil minumannya dan sedikit meminumnya “Lomba apa itu Rheyna?” Tanyanya


“Heemm desain produk perusahaan makanan dan minuman di Jerman” dengan mulut penuh ice cream aku menjawabnya


“Wow kamu keren” pujinya “mengapa kamu menggambar dikertas? Tidak menggambar di tab atau ipad saja? Bukankah itu lebih praktis” tanyanya


“That's too expensive Steve” dengan sedikit tertawa aku menjawabnya


“Wait a minute Rheyna” dia berdiri dan berjalan sedikit menjauhiku dan menghubungi seseorang


Tak lama setelah menghubungi seseorang dia kembali duduk dan meminum minumannya.


Waktu menunjukkan pukul tujuh malam,


“Kamu menunggu seseorang?”


“Tidak Steve” jawabku memandangnya


“Mau kah kamu menunggu disini sampai pukul 8 nanti?”


“Untuk apa Steve?” Tanyaku bingung


“Untuk menghabiskan sandwich itu Rheyna” dengan tertawa dan menunjuk 3potong sandwich yang belum terjamah


“Hahaha baiklah Steve” aku mengambil 1 potong sandwich dan mulai memakannya


Bersambung……


...Hayo siapa sih babang bule ini?...


...Bagi vote atau bunga atau kopinya dong buat babang bule 🤭...

__ADS_1


__ADS_2