
“Belum semua sayang, ini belum aku lepaskan.” Steve menarik tali pengikat gaunku, dan seketika gaunku melorot.
“Aahhhhh Steve.” Aku berteriak dan mempertahankan gaunku yang sudah hampir terlepas, tetapi aku masih memegangnya sebatas dada.
“Sssttt sayang, jangan berteriak, nanti orang-orang kira aku menganiaya kamu lagi.” Steve menutup mulutku agar aku tak lagi berteriak.
“Biarin, aku mau bilang mommy, biar kamu dihukum lagi sama mommy.”
“Paling juga hukuman mommy, nyuruh aku buat cepet-cepet ngasi cucu.” Jawab Steve acuh, dan berlalu menuju kamar mandi.
“Eh, kan aku yang mau mandi duluan, kenapa dia yang masuk kamar mandi.” Aku duduk kembali dikursi meja rias sambil memegang gaunku yang sudah hampir terlepas itu.
“Sana mandi, airnya udah aku siapin. Jangan lama-lama, kalau kelamaan aku dobrak pintunya.” Ternyata Steve bukannya mandi, tetapi menyiapkan air mandi untukku.
“Biarin wlekkk” aku mengejeknya sembari berjalan masuk ke kamar mandi.
Aroma mawar sudah tercium seisi ruang mandi. Di bathup sudah berisi air yang di penuhi busa, dan tak lupa dengan taburan kelopak mawar merah di atasnya.
Aku melepaskan semua yang masih melekat di tubuhku, berjalan dengan gontai menuju bathup, dan merendamkan diri di air hangat. Merilexkan otot-otot yang tegang.
Setelah berendam sekitar 15 menit, aku membilas tubuhku di bawah shower, dan aku tersadar jika belum membawa handukku. Karena terburu-buru masuk kamar mandi aku jadi melupakan handukku.
“Steve” aku mencoba memanggil Steve, ingin meminta bantuannya.
“Steve” aku kembali mencoba memanggil Steve, tetapi belum juga ada jawaban, apa mungkin Steve tertidur.
Di kamar mandi ini hanya ada bathrobe besar yang sudah aku yakini itu milik Steve, biarlah aku pakai dulu dari pada gak ada handuk.
Setelah memakai bathrobe milik Steve, aku keluar untuk mengambil bajuku dikamarku, tetapi mataku tertuju pada Steve yang tertidur dalam posisi duduk, dengan kaki yang terjuntai di bawah, dan punggungnya bersandar pada sandaran kasur.
“Steve” aku mencoba membangunkannya
“Steve, mandi dulu sana, baru tidur lagi.” Aku menyentuh pundaknya perlahan.
“Hei, udah selesai mandinya?” Tanyanya sambil mengusap matanya.
“Sudah, nih mau ambil baju di kamarku.”
__ADS_1
“Ngapain? Tuh baju kamu udah ada dilemariku.” Tunjuknya pada lemari yang cukup besar dekat pintu kamar mandi. “Kenapa kamu gak keringin rambut sih sayang? Bisa sakit nanti. Kenapa juga gak dihandukin nih rambutnya masih netes-netes begini airnya.” Steve berdiri dan menyentuh rambutku.
“Gimana mau di handuki, nih aja aku pakai bathrobemu. Habis aku panggil-panggil tapi kamu gak ada jawaban.”
“Oh iya? Maaf sayang aku ketiduran sebentar tadi. Ada apa manggil aku? Minta ditemani mandinya ya?” Tanyanya sambil memainkan matanya.
“Mulai deh. Aku mau minta tolong ambilkan handuk tadi. Aku lupa gak bawa handuk.”
Steve membuka lemarinya dan mengeluarkan handuk yang tak terlalu besar untuk sedikit mengeringkan rambutku. Steve membantu mengelap rambutku yang masih basah.
“Sayang, kamu keringkan rambut pakai handuk dulu ya, nanti aku bantu keringkan pakai hairdryer. Sekarang aku mau mandi dulu sebentar.” Steve memberikan handuk rambut padaku.
“Iya. Eh ini bathrobemu gimana? Tunggu aku ganti baju sebentar ya.”
“Gak usah, kamu keringkan rambut aja. Aku ambil yang baru aja gak papa.” Kata Steve membuka lemari dan mengeluarkan bathrobe yang baru.
“Owh oke deh.”
Aku duduk dikursi depan kaca rias, mengoleskan pelembab pada wajahku, dan handbody pada tangan dan kaki ku. Kemudian aku melanjukan mengeringkan rambutku menggunakan handuk, karena aku belum tahu dimana Steve menyimpan hairdryer nya.
Aku menunduk dan membiarkan rambutku terjuntai kebawah kemudian mengeringkan bagian dalam rambut dengan handuk.
“Lho kok udah selesai mandinya? Cepet banget?”
“Iya kan aku gak pakai berendam kayak kamu.” Jawabnya sambil menancapkan kabel hairdryer.
“Enak low berendam air hangat, rasanya capek-capek berkurang.”
“Sini duduk sini, aku keringkan rambutnya.” Steve mendudukanku di meja rias, dan mulai menyalakan hairdryernya. Dengan telaten dia mengeringkan rambutku hingga benar-benar kering.
“Ehm Steve.” Aku gugup ingin menyakan sesuatu pada Steve.
“Ya sayang?”
“Itu, emmm” aku masih bingung mau memulai bertanya.
“Itu apa sayang?”
__ADS_1
“Itu emmm, apa pakaian em dalamku ada disini juga?” Aku malu menanyakan ini pada Steve.
“Lho pasti ada, kan semua sudah dipindahkan kelemariku.” Steve masih serius mengeringkan rambutku. Kemudian Steve tersenyum dengan penuh arti. “Tapi sepertinya aku lupa taruh dimana pakaian dalammu sayang.” Seringai penuh arti.
“Jangan bercanda Steve, pakaian dalamku yang tadi gak mungkin aku pakai lagi.”
“Ya udah gak usah pakai kalau gitu, kan cuma ada kita berdua disini.” Jawabnya pura-pura acuh.
“Ihh gak enak lah gak pakai pakaian dalam.” Sungutku.
“Nanti juga enak sayang.” Sambil mematikkan hairdryer karena rambutku sudah kering, kemudian menyisir rambutku, sungguh penuh kelembutan dan kasih sayang. “Sayang bantuin ngeringin rambutku juga dong.” Pinta Steve sambil menyerahkan hairdryer ke tanganku.
Aku mulai menyalakan hairdryer dan mengeringkan rambut Steve. Steve yang awalnya berdiri didepanku, kini dia duduk dikursi meja rias, dengan terpaksa aku menunduk untuk menyesuaikan posisiku.
Steve duduk persis di depanku. Dan tanpa aku sadari bathrobeku terbuka dibagian dada karena aku menunduk. Terasa seperti ada yang menggelitikku disana, yang ternyata itu jari-jari Steve yang dengan isengnya membelai melalui celah bathrobe.
“Steve.” Aku berusaha menyingkirkan tangan Steve.
“Diamlah sayang, fokuslah mengeringkan rambutku, nanti aku pusing kalau gak kering.” Steve memegang tanganku yang ku gunakan untuk menepis tangannya, meletakkan tanganku di rambutnya.
Tangannya yang sebelah kembali bermain-main disana, sehingga bathrobe yang awalnya terbuka kecil menjadi semakin besar. Dan rasanya seperti campur aduk, ingin menolak tetapi rasanya seperti mendamba.
Kini tak hanya tangannya yang bermain disana, tetapi mulutnya ikut bermain disana menggantikan tangannya, sedangkan tangannya turun kebawah, mengelus pahaku yang entah mulai kapan sudah terbuka sebagian. Aku sudah benar-benar tak mampu untuk fokus mengeringkan rambutnya, malah aku menjambak rambutnya ketika lidahnya bermain di ujung, dan ******* lolos dengan begitu lugasnya.
Sungguh aku malu karena ini masih siang dan kamar ini masih sangat terlihat jelas, dengan jendela yang masih terbuka.
“Steveee.” Suaraku mulai bergetar.
“Ya sayang?” Entah mengapa suara Steve ditelingaku terdengar menjadi sangat menggairahkan.
“Steve aku malu” masih dengan suara bergetar dan mendamba.
Steve berdiri dan mengambil hairdryer dari tanganku kemudian mematikannya. Dia menciumku dengan lembut. “Pejamkan matamu sayang.” Tangannya menutup dimataku agar aku mau menutup mata.
Steve menggendongku dan membawaku ketempat tidurnya. Menidurkan aku perlahan disana. Tangannya meraba nakas disebelah tempat tidur dan mengambil remote, menekan remote itu dan tertutuplah gorden dikamarnya. Tak ada cahaya, hanya ada kegelapan, tetapi aku masih bisa melihat Steve tersenyum padaku.
“Sudah gak malu lagi kan sayang?” Tanyanya dengan senyuman yang menawan.
__ADS_1
Aku hanya mengangguk malu-malu. Sungguh walaupun ini bukan yang pertama untukku tetapi debarannya sama seperti saat pertama dulu.
Bersambung..