
“Tuan Steve lucu juga ya non” mbak Sari memuji Steve ketika melihatku berjalan ke arah dapur.
“Lucu apanya mbak, dia itu nyebelin banget” aku kembali duduk di kursi meja makan.
“Orangnya kelihatan baik non, sama kayak den Arlo ya non” mbak Sari mngeluarkan cake dari oven.
“Eh ngomong-ngomong mas Arlo, tadi aku ketemu dia mbak di cafe.” Aku menatap mbak Sari.
“Ow iya? Kok bisa kebetulan gitu ya non?” Tanya mbak Sari heran.
“Itu lah mbak. Tau gak mbak? Ternyata Steve sama mas Arlo itu rekan bisnis dan mereka janjian disitu juga.”
“Ehmm kok rasanya ada yag aneh ya non?” “Non mau kue? Mumpung masih anget ini non” mbak Sari memotong cake cokelat menjadi beberapa bagian.
“Boleh mbak, satu potong aja mbak. Aku juga mikirnya ada yang aneh dengan mereka berdua mbak, nanti pelan-pelan aku coba cari tau deh.”
“Hati-hati loh non, nanti jatuh cinta sama tuan Steve hehehe” mbak Sari meletakkan potongan kue di depanku.
“Gak boleh mbak, dia sudah punya istri. Mbak tolong ambilkan ipad saya ditas dikamar ya, saya mau lanjutkan mewarnai biar bisa cepet dikirim. Sama tolong charge kan ponsel saya ya mbak, tadi batrainya habis.” Aku menyendok cake yang mbak Sari buat.
Mbak Sari kekamarku untuk mengambilkanku ipad seperti yang aku bilang tadi.
“Masa sih non dia sudah punya istri? Kok kayak masih sendiri ya non.” Mbak Sari melanjutkan pembicaraan kami lagi dan menyerahkan ipad padaku.
“Jangan terkecoh dengan penampilan mbak, dalam hati dia kita gak tau.” Aku menyalakan ipadku.
“Iya juga sih non, yang penting non tetap harus jaga diri.” Mbak Sari mengingatkanku.
“Mbak, kalau mau istirahat dulu gak pa pa low, saya paling juga dua jam baru selesai mbak.” Aku masih tetap fokus mewarnai desainku.
“Saya temani aja non, lagian saya juga masih nunggu kue nya dingin, baru bisa di hias baru masuk kulkas.” Mbak Sari duduk di sebelahku, memperhatikanku.
“Itu yang mau di ikutkan lomba non?”
“Iya mbak, bagus gak mbak?”
“Kalau menurut mata awam saya, ini sih bagus banget non.” Mbak Sari tidak memalingkan pandangan dari layar di depanku.
“Thank you mbak. Aduh gini ini enaknya kalau ada temen begadang ya mbak hehehe.”
“Non pengen apa?”
“Aku tadi lupa gak beli ice cream, harusnya aku beli ice cream buat kita ya mbak.” Aku membayangkan ice cream cokelat yang di beli Steve tadi, ice cream mahal yang bukan aku tak mampu membelinya, tetapi aku lebih ingin berhemat.
“Non mau ice cream?” Mbak Sari berdiri dan berjalan menuju kulkas.
“Mau kemana mbak?”
“Gak kemana-mana non” mbak Sari membuka pintu kulkas bagian frezer.
__ADS_1
“Silahkan dihabiskan non” mbak Sari menyodorkan 1cup ice cream ukuran 475ml dengan rasa Belgian Chocolate.
“Ha? Mbak Sari dapet ice cream dari mana?” Aku kaget dan meletakkan ipadku di atas meja makan.
“Dari kulkas non”
“Mbak Sari beli dimana?”
“Tadi dikasi tuan Steve, katanya itu ice cream kesukaan non.”
“Lho, berapa banyak yang dia kasi mbak?” Aku membuka cup ice cream itu dan mengambil sendok kecil didepanku.
“Ada enam cup tadi non yang dikasi kesaya.”
“Ih dia kasi semua ice cream yang dia beli ke aku?” Aku bertanya pada diriku sendiri.
“Kayaknya sih gitu non. Perhatian banget ya non, sampai tau non sukanya apa.”
“Kebetulan aja kayaknya mbak, saya beberapa kali makan ice cream cokelat didepan dia, mungkin dari sana dia tau kalau saya suka cokelat.” Aku menyendok ice cream itu dan memasukkannya kemulutku.
“Alhamdulillah, rejeki non.”
“Mbak ambil juga dong, kita makan ice cream sama-sama.”
“Makasih non, saya ngilu kalau makan ice cream, apa lagi malam-malam begini.”
“Kalau mau ambil aja ya mbak, gak usah sungkan, kita berbagi rejeki.”
“Okey mbak” aku mengacungkan jempol ke arah mbak Sari.
Aku dan mbak Sari sibuk dan terlarut dalam kesibukan kami masing-masing, tak terasa waktu sudah menunjukkan pukul 11 malam. Aku sudah hampir selesai mewarnainya, hanya tinggal di perhalus saja, dan besok akan aku lanjutkan untuk memperhalusnya. Ice creamku pun sudah habis 1cup.
“Mbak udah selesai?” Aku sedikit menguap.
“Sudah ini non, tinggal masukkan kekulkas aja.” Mbak Sari mengangkat kue yang sudah di hiasnya.
“Ya udah yuk tidur mbak, sudah ngantuk juga saya.” Aku berdiri dan menenteng ipadku.
“Iya non” mbak Sari mematikan lampu dapur. Kami masuk ke kamar masing-masing.
Aku meletakkan ipadku diatas meja rias. Mencabut ponselku yang telah penuh terisi daya. Aku lihat ada pesan dari Steve, sepertinya dia mengirimkanku foto.
‘Ada yang pasang GPS di mobilmu’
📷
‘Itu GPS yang terpasang di mobilmu, ditemukan pegawaiku karena dia curiga ada yang ikuti dia waktu bawa mobilmu dari cafe tadi’
‘Sampai jumpa lagi, selamat istirahat’
__ADS_1
Mas Arlo, itu pasti mas Arlo yang memasang GPS di mobilku, karena mas Arlo beberapa kali membawa mobilku, gak munkin kalau itu Bagas, karena Bagas tidak akan perduli kemanapun aku pergi. Pantas aja mas Arlo tau kemana aja aku pergi, dia tau aku ada di cafe itu tadi, pasti itu dari GPS yang dia pasang di dalam mobilku.
Aku ingin membalas pesan Steve dan mengucapkan terima kasih, tetapi aku takut jika nanti justru istrinyalah yang membaca pesanku, dan malah menimbulkan permasalahan di pernikahan mereka. Aku mengurungkan niatku untuk membalas pesan Steve.
‘Sudah dibaca, lagi online tapi kenapa gak bales pesanku?’ Tiba-tiba ada 1 pesan dari Steve masuk lagi.
‘Takut istrimu yang baca’ jawabku cepat.
‘Hahaha ya ya ya’
‘Sepertinya orang itu tahu dimana kamu tinggal,
Bilang mbak Sari, suruh hati-hati jangan masukkan siapapun kerumah itu,’
‘Dia terlalu memaksaka diri’ jawabku singkat.
‘Kamu tahu siapa dia?’
‘Sepertinya itu mas Arlo, karena pegawainya beberapa kali membawa mobilku.’
‘Sepertinya dia terlalu mencintaimu’
‘Tak ada tempat untuk pria beristri Steve, ingat itu baik-baik.’ Aku menekankan kata-kata itu yang sekaligus aku tujukan untuk Steve.
‘Biarkan Arlo saja yang mengingatnya, aku tak mau mengingatnya.’
‘Itu berlaku untukmu dan dia.’
‘Aku tak ada hubungannya dengan dia, dan aku tak sama dengan dia.’
‘Semua lelaki itu sama saja, sudah ada yang setia dirumah, tapi masih aja matanya menjelajah kemana-mana.’
‘Aku bukan Bagas atau Arlo, ingat itu baik-baik.’
‘Aku tak mau mengingatnya, itu bukan urusanku.’
‘Nanti juga akan menjadi urusanmu.’
‘Gak perduli.’
‘Good night , see you.’ Belum sempat aku membalas pesannya dia sudah mengirimkan pesan lagi.
‘Tidak usah di balas, miss you.’
Steve benar-benar menguji emosiku. Aku melemparkan ponselku yang sudah retak dimana-mana, keatas kasur. Aku membanting tubuhku di atas kasur dan menghempas-hempaskan kakiku di atas kasur, karena aku marah pada Steve, aku bahkan melupakan berterima kasih karena Steve telah menemukan GPS itu.
Bersambung..
...Bagi votenya dong sayang 🤭...
__ADS_1
...Like,gift,komen juga boleh 😂...
...Lope yu gaes 🥰😘...