Aku Lelah,Cintai Aku

Aku Lelah,Cintai Aku
Menghindar


__ADS_3

“Ceritakan padaku apa rencanamu kedepan?” Dengan tangan kiri yang di letakkan pada pundakku, dan tangan kanan yang membelai pipiku, membuatku sedikit canggung.


“Aku sudah mengirim lamaran ke beberapa perusahaan, tinggal tunggu ada panggilan aja” aku berdiri dan berpura-pura kedapur untuk minum


“Mau minum mas?” Tanyaku dan dijawab dengan gelengan kepala dan senyum


“Gak balik kantor?” Sambil membuka kulkas dan mengeluarkan air putih


“Gak ah, mau disini aja” jawabnya sambil memegang remote TV dan mencari tayangan yang menarik untuknya “kenapa? Aku gak boleh disini?” Tanyanya sambil menoleh ke arahku yang masih berdiri di dapur


“Hemp hahahaha boleh lah kan ini apartemenmu mas, aku kan cuma numpang disini” dengan pura-pura tertawa aku menjawabnya


Aku mengeluarkan kelepon cake dari kulkas. Mengulur-ulur waktu agar aku berjarak cukup jauh darinya. Memotong cake itu dengan malas, meletakkan dalam piring kecil, memasukkan kembali sisa potongan cake itu kekulkas, dan mengambil sendok, makan di dapur dengan sangat perlahan, dengan posisi berdiri.


Sungguh sebenarnya aku ingin mengusir orang ini, jika tak ingat dia terlalu banyak membantuku dan saat ini aku tinggal di tempatnya.


Aku menyibukkan diri, mengambil cemilan di lemari pura-pura memakannya, sebenarnya aku sungguh sudah sangat kenyang dan malas makan walau itu hanya makanan ringan.


Aku lihat mas Arlo menyelonjorkan kakinya di sofa panjang dan merebahkan punggungnya.


‘Sabar Rhey, tunggu sebentar lagi dia bakal tidur, tahan kakimu untuk berdiri’ kataku dalam hati. Dan benar saja sekitar 10 menit berlalu sudah mulai terdengar dengkuran halus tidurnya. Aku berjalan perlahan untuk mengambil laptop lawasku, berjalan dengan berjinjit seperti ABG yang ingin melarikan diri untuk berdugem atau ABG yang pulang terlambat dan takut ketahuan orang tuanya.


Aku masuk ke kamarku mengganti pakaianku dan memasukkan laptopku ke dalam tas ransel. Aku menggunakan celana jeans belel ku dengan kaos dan hoodie ku. Aku menunggu mbak Sari kembali dengan khawatir, aku takut mas Arlo keburu bangun dari tidurnya.


“Alhamdulillah” aku berucap syukur ketika ku dengar suara pintu apartemen dibuka. Aku membuka perlahan pintu kamarku, melihat mbak Sari yang baru masuk dan melihatku, hendak bersuara tapi aku buru-buru meletakkan jari telunjukku dibibirku mengisyaratkan mbak Sari untuk diam dan dengan cepat di jawab anggukan oleh mbak Sari. Aku mengangkat ponselku mengisyaratkan kembali pada mbak Sari untuk melihat ponselnya karena aku sudah mengirimkan pesan.


“Mbak aku pergi keluar, nanti kalau mas Arlo sudah bangun dan nanyain aku, bilang aja aku pergi cari inspirasi untuk menggambar. Kalau dia sudah pulang tolong segera kasi kabar ya mbak, supaya aku bisa cepat pulang” isi pesanku yang dibaca oleh mbak Sari dan mengacungkan jempolnya tanda setuju.


Aku berjalan perlahan dengan menyincing sandal jepitku, ke arah pintu yang sudah dibukakan oleh mbak Sari. Setelah berhasil keluar dari apartemen aku langsung berlari ke arah lift dan menekan tombol turun.

__ADS_1


Aku menuju ke arah parkiran di basement. Saat berjalan aku melihat pak Aman yang baru keluar dari toilet basement dengan rokok yang melekat pada Bibirnya, dengan reflek aku membalikkan badanku dan memunggungi pak Aman. Aku memasang hoodie dikepalaku dan mengambil ponsel dari saku celana jeansku,berjalan menunduk agar pak Aman tak tahu aku akan pergi, jika tahu pasti dia akan membuntuti ku.


Setelah berhasil memasuki mobilku, aku meletakkan tas ranselku pada kursi disebelah kursi ku dan meletakkan ponselku di atas dashboard, memutar kunci mobil dan mulai menstaternya, menjalankan mobilku perlahan meninggalkan tempat parkir itu. Untung jalur untuk keluar tak melewati tempat pak Aman berdiri sambil menghisap rokoknya.


Waktu menunjukkan pukul 3 sore, aku menjalankan mobilku menuju taman kota yang terdapat sungai dan air terjun buatan, terdapat beberapa bangku di dekat air terjun buatan itu, aku memilih satu bangku di bawah pohon rindang yang masih sepi pengunjung itu, meletakkan tas ranselku di sebelahku.


Aku menghirup dalam-dalam aroma air yang terasa menyejukkanku, ditambah kicau burung di atas pohon membuat hati dan pikiran terasa lebih tenang.


Setelah 15 menit berlalu dengan aku yang hanya menyandarkan punggungku di bangku itu, menutup mataku dan merasakan oksigen yang membuat paru-paruku bernafas lega.


Aku mengeluarkan laptopku kembali mencari inspirasi disana. Aku mulai mengeluarkan kertas gambarku, menggoreskan pensilku di atasnya, membiarkan pensil dan jemariku yang menari-nari membuat sketsa kasar seperti yang aku pikirkan.


Tak terasa sudah lebih dari satu jam aku duduk disana, dan mulai banyak pengunjung berdatangan. Ada yang orang tua dengan anak mereka, ada muda-mudi dengan gerombolannya, atau beberapa pasangan yang sedang memadu kasih, hanya aku yang sendirian disini seperti kambing congek ku pikir dan aku tersenyum sendiri karena memikirkan aku yang seperti kambing congek.


Aku memasukkan laptopku beserta kertas gambarku dan juga pensilku ke dalam tas ranselku, beranjak pergi dari taman itu.


Drrreettt Dreeetttt


Getar ponsel yang aku silent didalam sakuku menandakan ada panggilan masuk,


Mas Arlo Calling….


Aku mengabaikannya dan memasukkan kembali ponselku dalam saku celanaku. 3 panggilan tak terjawab aku tak memperdulikannya.


Memasuki mobilku dan meletakkan tasku kembali di kursi samping kursiku.


Centingggg (pesan masuk)


Mas Arlo

__ADS_1


Kamu dimana sayang? Kenapa pergi gak bilang aku? Aku tunggu kamu sampai pulang.


Aku tetap mengabaikannya, menjalankan mobilku entah kemanapun yang pasti tidak kembali ke apartemen itu sebelum mas Arlo pergi dari sana.


Aku melewati sebuah cafe yang tidak terlalu ramai pengunjung, dari luar terlihat nyaman dengan taman yang di kanan kiri dan belakang bangunan cafe. Setelah melewatinya akhirnya aku memutuskan untuk memutar balik mobilku dan memasuki pelataran parkir mobil yang hanya terdapat dua mobil yang sedang terparkir dan sekitar lima sepeda motor yang berjajar rapih di samping bangunan cafe. Aku memarkirkan mobilku di ujung terdalam yang tertutupi oleh dua mobil yang sudah lebih dulu terparkir disana.


Mematikan mesin mobil, mengambil tas ransel dan ponselku, kemudian keluar dari mobil dan berjalan menuju pintu masuk cafe.


Memilih minuman dari beberapa menu yang tertera didindingnya,


“Mas saya mau caramel machiato nya satu, ice cream cokelatnya satu, sama sandwich tuna mayonya satu ya” pesanku pada mas-mas yang sedang berjaga dibelakang meja kasir tersebut


“Baik kak, ada lagi tambahannya kak?” Tanya mas itu ramah


“Itu dulu aja mas” jawabku membalas senyumnya


“Baik kak saya ulangi pesanannya ya, satu caramel machiato, satu ice cream cokelat, satu sandwich tuna mayo ya kak, pesanan atas nama kakak siapa?”


“Rheyna mas”


“Baik kak, total semuanya seratus dua puluh ribu kak” mas itu menyebutkan total yang harus aku bayar


“Ini mas” aku menyerahkan selembar uang seratus ribuan dan satu lembar uang lima puluh ribuan yang langsung diterima oleh mas kasir


“Ini kak kembaliannya dan nomor pesanannya, terima kasih” mas itu memberikan kembalian dan nomor pesanan dan aku jawab hanya dengan senyuman.


Aku memilih duduk di meja ujung dekat jendela dan menghadap ke jalan, dengan pemandangan samping ku adalah taman.


Bersambung…..

__ADS_1


__ADS_2