Aku Lelah,Cintai Aku

Aku Lelah,Cintai Aku
Terluka


__ADS_3

Aku membuka pintu toilet, tetapi dengan cepat seseorang mendorong tubuhku untuk kembali masuk kedalam toilet. Aku masih sangat terkejut ketika orang itu membalik tubuhku dan membungkam mulutku dengan satu tangannya.


“Eemm eeem emmm” aku berusaha berontak dari tangan kekar itu, bahkan aku memukul-mukulkan tangan ku ke arah belakang yang langsung dia tangkap dengan cepat.


Toilet sudah kembali dia kunci, membuat aku berdegub kencang ketakutan.


Tangannya tak lagi menyekap mulutku, dan dia membalikkan tubuhku menghadapnya.


“Apa-apaan kamu ini mas?” Aku mendorong mas Arlo agar menjauh dari tubuhku, tetapi dia malah memelukku erat.


“Lepas, lepasin aku..” aku berontak, tetapi mulutku dibungkam dengan bibirnya. Dia terus berusaha membuka pagar gigi yang aku tutup rapat.


Aku merasakan sesuatu yang dingin melingkar di pergelangan tanganku. Dengan sangat cepat tanganku sudah terikat dibelakang, menyatu dengan pipa besi yang digunakan untuk menggantungkan handuk. Aku melihat tanganku sudah terborgol disana, kedua tanganku tak mampu aku gunakan untuk menolaknya.


“Kurang ajar sekali kamu mas? Kamu pikir aku ini apa ha?” Aku marah karena diperlakukan seperti tahanan.


“Kamu orang yang selalu aku cintai, sampai aku mati.” Jawabnya singkat.


“Cinta? Begini caramu memperlakukan orang yang kamu cintai? Aku bukan tahanan yang harus kamu borgol.”


“Karena kamu selalu lari dariku sayang.” Jawabnya seperti frustasi.


“Aku akan berlari lebih jauh lagi sebentar lagi, dan kamu tak akan pernah menemukanku. Lepaskan aku.”


“Aku akan mengikatmu agar kamu selalu kembali padaku.”


“Jangan menjadi pengecut kamu Arlo.” Aku sudah sangat emosi dibuatnya.


Mas Arlo yang mendengarkan ucapan kasar dariku tiba2 wajahnya berubah memerah, dia merasa tersinggung saat aku mengatakannya seorang yang pengecut.


“Aku akan membuktikan sepengecut apa Arlo ini.” Matanya penuh amarah, dan dengan kasarnya dia kembali menciumku, bahkan dia menggigit bibirku agar aku mau membuka mulutku.


Aku merasakan amarahnya saat menciumku dengan kasar. Dia kembali membekap mulutku dengan tangannya, dan bibirnya menjalari leherku, menjilatnya dan ingin memberikan stempel kepemilikannya disana, namun aku memiringkan sedikit leherku untuk menjauhinya.


“Apa kamu takut kekasihmu itu melihatnya ha?” Tanyanya dengan berkata penuh penekanan. “Baiklah aku akan melakukannya di tempat yang tersembunyi” katanya seraya mengangkat kaos yang aku gunakan.


“Kamu sepertinya lebih suka aku bermain-main disini ya.” Dia menari-narikan telunjuknya di atas gunung kembar yang masih tertutup pelapis berwarna hitam berenda.


Aku menggeleng-gelengkan kepalaku, menolaknya melakukan lebih. “Jangan pernah berkata bahwa aku adalah pengecut, karena aku sangat mencintaimu.” Matanya diliputi dengan emosi dan kabut gairah, dia sudah seperti kehilangan akal sehatnya.


Setelah mencetak banyak stempel disana, dia kembali menciumku, tangannya berusaha membuka celana jeans yang aku pakai.


“Aku mohon jangan” aku berbicara dengan mulut yang masih menempel dengannya. Aku menangis, tetapi dia tak lagi memperdulikan tangisku. Dia seperti bukan mas Arlo yang ku kenal, karena aku sudah menyinggung sisi kelelakiannya.

__ADS_1


Setelah berhasil memporak porandakanku, dan menyelesaikan hasratnya, aku terduduk di lantai toilet dan menangis tersedu. Aku menyayanginya, tetapi dia tega memperlakukanku setidak manusiawi ini.


Dia melepaskan borgol ditanganku, dan mendekapku erat.


“Maafkan aku sayang, aku tak ingin kamu meninggalkanku.” Dia mencium kepalaku dengan sangat mesra, sepertinya setan yang merasukinya sudah pergi.


Aku tak menjawab sepatah kata pun, aku hanya menangis.


Toilet untuk penerbangan kelas utama ini sangat bagus, ada shower dan bathup untuk mandi, tidak seperti penerbangan kelas ekonomi.


‘Krrukk kkrruuk’


Suara para pekerja diperutku sudah kembali beraksi, namun aku tak memperdulikannya. Aku masih terduduk, tak lagi menangis. Bahkan aku membiarkannya membenarkan pakaianku seperti semula, membasuh wajahku dengan air hangat.


Dia membimbingku untuk berdiri dan keluar dari toilet.


Saat keluar dari toilet kami berpapasan dengan pramugari yang melayani dia.


“Bisa tolong berikan spaghetti dan susu cokelat hangat untuk nona ini?” Katanya pada pramugari itu, seraya memberikan beberapa lembar uang padanya, dan memberikan isyarat untuk menutup mulutnya, dan dijawab dengan anggukan pramugari tersebut.


Aku berjalan sendiri menuju kursiku, meninggalkan dia yang sedang berbincang sedikit dengan pramugari itu.


Aku membaringkan tubuhku kembali, dan menyelimuti tubuhku. Pikiranku berkecambuk, ‘Aku akan membalasmu mas, kamu sudah sangat menyakitiku. Kamu akan hidup dalam penyesalanmu sendiri mas.’ Aku ingin membalas dendam padanya, aku tak boleh lemah.


Spaghetti yang sebenarnya enak itu, tak mampu ku habiskan.


“Akhirnya kamu makan juga honey.” Steve terjaga dari tidurnya.


“Iya aku lapar.” Aku meminum susu cokelat hangat.


“Apa masih marah?” Sambil meminum air mineralnya.


“Tidak, tapi aku ingin meminta sesuatu padamu.” Aku menatap Steve


“Apa pun itu pasti ku berikan honey.” Jawabnya dengan raut yang bahagia.


“Nikahi aku secepatnya.” Aku menatap Steve serius.


“Benarkah? Kamu gak lagi becanda kan?” Dengan membelalakan mata dia menatapku.


“Kalau kamu gak mau, maka aku akan menerimanya.” Aku mengalihkan pandanganku pada mas Arlo.


“Jangan menerimanya, aku akan menikahimu secepatnya.”

__ADS_1


“Waktumu hanya 3 hari Steve, jika kamu tak sanggup maka aku tak akan menikah denganmu.”


“Baiklah, aku akan menghubungi sekretarisku untuk mengurus semua berkasnya, dan mengirimkannya.”


“Tolong jemput mbak Sari juga, aku ingin dia yang mendampingiku saat menikah.”


“Siap honey. Kamu tahu aku sangat bahagia saat ini.” Dengan wajah yang sangat berseri.


Disisi lain mas Arlo hanya terus menatapku dan tak berpaling.


“Kamu gak pengen cium aku Steve?” Aku ingin sedikit memberi pelajaran pada lelaki yang sudah melukaiku.


“Bolehkah? Aku takut kamu marah.” Steve ragu-ragu mendekatiku.


“Boleh dong, kita kan mau nikah bentar lagi.” Suaraku sedikit aku tinggikan volumenya.


Steve mendekati ku dan mencium kening dan pipiku,


“Come on, Steve, give me a real kiss.” Aku menarik tangan Steve yang sedang berdiri di hadapanku, setelah mencium pipi dan keningku.


Steve berlutut di hadapanku dan mulai menciumku dengan mesra, aku membuka mulutku agar Steve bisa memperdalam ciumannya. Dari sudut mataku aku melihat diseberang sana, ada yang sedang menggeram menahan amarahnya, dan itu membuatku tersenyum penuh kemenangan.


Steve menarikku sehingga berpindah posisi, dia duduk dikursiku, dan aku duduk diatas pangkuannya. Aku melingkarkan tanganku di leher Steve, dan Steve memeluk pingganggku.


Dan diseberang sana seorang pria dengan wajah kemerahan menahan amarahnya menatapku dengan intens.


Aku menyudahi ciumanku dan Steve, dan menyandarkan kepalaku di pundak Steve.


“Apa ada yang terjadi padamu honey?” Steve mengusap tanganku lembut.


“No Steve, i’m just tired.” Aku memejamkan mataku.


“Sleep well, I'll take care of you.” Steve menutup pintu penyekat antara kursiku dan dia, agar lelaki yang berada di seberang kami tak melihatku.


Aku tertidur dalam pangkuan Steve, tetapi aku tak menikmati tidurku dengan nyenyak, karena bayang-bayang kejadian di toilet tadi masuk ke dasar pikiranku.


Bersambung..


...Jangan pada emosi ya readers 🤭...


...Sabar-sabar ini hanya ujian 🤣...


...Vote, like dan komennya author yang suka lelet update ini tunggu low 😘...

__ADS_1


__ADS_2