Aku Lelah,Cintai Aku

Aku Lelah,Cintai Aku
Rumah Impian


__ADS_3

Pagi ini aku berpamitan pada Bu Yuli dan seluruh adik panti. Pukul 06.00 saat ini, dan aku memilih berangkat pagi karena aku tak ingin terkena macetnya ibu kota.


“Mampirlah kesini sesekali nak” kata bu Yuli yang menerima uluran tanganku untuk mencium tangannya.


“Insyaallah Bu, nanti kalau mbak Sari buat kue saya akan kirimkan kesini sekalian main.” Aku mengelus tangan bu Yuli, tangan yang sudah nampak guratan-guratan keriput. “Ya kan mbak Sari?” Aku menoleh pada mbak Sari yang berdiri di belakangku.


“Oh pasti dong non” jawab mbak Sari bergantian maju untuk mencium tangan bu Yuli.


“Nduk, jaga nak Rheyna ya” pesan bu Yuli pada mbak Sari.


“Njih bu, Insyaallah” dengan menganggukkan kepalanya.


“Kami pamit ya bu” “Adek-adek kak Rheyna sama mbak Sari pamit ya. Kalian belajar yang rajin ya, jangan lupa sholat. Bantu bu Yuli juga ya.”


“Iyaaaa kakkkkk” jawab mereka kompak seperti paduan suara.


“Okey adik-adik kak Rheyna memang pinter banget deh.” Aku tersenyum pada mereka dan menarik besi pegangan tas koper ku.


“Assalamualaikum” Aku mengucapkan salam dan keluar ke arah mobilku, mbak Sari mengikutiku berjalan dibelakangku.


Setelah meletakkan koper di bagasi belakang mobil, kami memasuki mobil. Aku melambaikan tangan pada Bu Yuli dan adik-adik yang masih menunggu didepan panti asuhan, dan melajukan mobilku meninggalkan rumah mama.


“Mbak, mobil ini kan mau saya jual, mbak Sari mau sepeda motor atau sepeda onthel aja?” Sambil konsentrasi menyetir aku bertanya pada mbak Sari, karena selama ini akulah yang berbelanja kebutuhan sehari-hari, dan aku ingin mbak Sari yang berbelanja menggantikanku.


“Sepeda onthel aja non, yang ada keranjangnya itu low”


“Okey mbak, nanti kalau mobil sudah ada yang beli, kita beli sepedah ya mbak. Saya juga mau beli motor untuk saya kerja mbak, yang bekas saja yang penting masih bagus.”


“Siap non, semoga semua berjalan lancar semua yang direncanakan ya non.”


“Aamiin”


Setelah berkendara sekitar 45 menit, tibalah kami didepan pintu gerbang perumahan yang terlihat mewah ini.


“Mbak, ini seperti mimpi ya mbak” aku masih seperti tak percaya.

__ADS_1


“Mau saya cubit kah non? Biar gak terasa seperti mimpi. Hehehe” mbak Sari cekikikan menggodaku, denga tangannya yang sudah menempel pada lenganku, seolah ingin mencubitku.


“Hei ya jangan dong mbak. Hahaha” aku memiringkan badanku menghindari tangan mbak Sari, kemudian kami tertawa bersama.


Aku kembali menjalankan mobilku, menuju ke arah rumah yang kemarin kami kunjungi.


Setelah sampai didepan rumah itu, mbak Sari mengambil kunci yang aku letakkan di bawah tape mobil. Mbak Sari keluar dari mobil dan membuka pintu pagar itu. Aku memasukkan mobilku didalam garasi.


Setelah mbak Sari menutup pintu pagar, mbak Sari berjalan untuk membuka pintu rumah. Sedangkan aku mengeluarkan koper-koper dari bagasi mobil. Setelah membuka pintu, mbak Sari membantuku untuk membawa barang-barang kami masuk.


“Mbak, saya tidur sebentar ya, rasanya kok ngantuk banget. Nanti jam 9 mbak Sari bangunkan saya ya” beberapa kali aku menguap. Rumah ini terasa dingin walaupun AC belum dinyalakan.


“Non gak sarapan dulu?”


“Nanti aja mbak, mba Sari udah laper?” Aku terhenti saat akan membuka pintu kamar yang akan ku gunakan, dan menghadap ke mbak Sari.


“Belum kok non”


“Ya udah nanti jam 9 saya orderkan online saja mbak untuk makan kita. Nanti kalau pas saya keluar biar saya sekalian belanja mbak.” sambil membuka pintu kamar.


Mataku sudah tak bisa dikondisikan, terasa berat sekali. Aku merebahkan tubuhku dengan posisi tengkurap, kasur ini sangat empuk dan lembut. Kasur yang iklannya ada beruang tidur diatasnya itu low, yang harganya sangat WOW.


Jam 9 lebih mbak Sari membangunkanku,


“Non, Non Rheyna” mbak Sari memanggilku “Non, sudah jam sembilan ayo sarapan dulu” lanjut mbak Sari.


“Eeemmm iya mbak” aku mengumpulkan kesadaranku, membersihkan kotoran di mataku, kemudian aku duduk diatas kasur.


“Saya pesankan online dulu ya mbak” mbak Sari masih berdiri di dekatku.


“Gak usah non, ayo” mbak Sari mengambil tanganku dan menariknya, mengajakku keluar dari kamar.


“Ha? Mbak Sari masak? Bahannya dari mana mbak?” Aku terkejut ketika di atas meja sudah ada nasi putih, sayur sup, telur goreng, dan lele goreng.


“Ini non” mbak Sari meninggalkanku di depan meja makan dan berjalan ke arah kulkas, kemudian membukanya.

__ADS_1


“Lho kok banyak banget isinya itu mbak? Kapan mbak Sari belanja?” Kulkas itu terisi penuh. Kulkas dengan bentuk pintu memanjang seperti pintu lemari.


“Mana mungkin saya belanja non, lha saya aja gak tau mau belanja kemana, hehehe. Itu kulkasnya sudah terisi begitu non dari kita datang tadi. Tadi saya cuma mau mengechek apa kulkas ini nyala atau gak, pas saya buka ternyata isinya penuh, ya udah saya masak aja, lha bumbu-bumbu nya juga sudah lengkap ini non.” Kata mbak Sari menerangkan.


Kemarin saat kami melihat-lihat isi rumah memang aku tak membuka kulkas ini dan kitchen set nya pun gak kami buka, aku hanya melihatnya saja tanpa membukanya, dan ternyata isinya benar-benar lengkap.


“Wah keren sekali fasilitas rumah ini mbak” aku menarik kursi dan duduk, cacing-cacing diperutku sudah sangat kelaparan sepertinya.


Mbak Sari menyodorkan piring ke arahku,


“Terima kasih mbak” aku menerima piring itu.


“Non mau es teh, atau air putih dingin?” Mbak Sari kembali kedapur.


“Wah es teh boleh tu mbak hahaha” aku membayangkan es teh yang manis dan segar mengalir di tenggorokanku.


“Oke non, tunggu sebentar ya”


“Ayo mbak Sari ikut makan sini juga” aku memanggil mbak Sari.


“Iya non, setelah bikin es teh saya kesana” sambil mengaduk gula dan air teh pada teko.


Kami sarapan bersama-sama. Masakan mbak Sari seperti masakan mama, terasa lezat di lidahku.


Setelah selesai makan, aku membantu mbak Sari membersihkan meja makan, sedangkan mbak Sari mencuci piring.


Aku sudah selesai membersihkan meja makan, aku membuka kulkas dan menemukan buah jeruk dan apel, aku mengambil 1 buah jeruk dan mengupasnya sambil berjalan ke arah belakang rumah, duduk di kursi dekat kolam renang dan memakan jerukku.


Sejujurnya aku sangat suka rumah ini. Suasananya yang tenang, tak banyak kendaraan berlalu lalang, masih banyak pohon-pohon rindang, serta sepanjang mata memandang banyak hamparan rumput yang biasa digunakan untuk bermain Golf. Rumah impian, entah berapa lama aku harus menabung untuk memiliki rumah seperti ini, dengan posisiku yang bahkan tak memiliki pekerjaan tetap ini. Tetapi aku masih meyakini bahwa tak ada yang tak mungkin di dunia ini, asal kita mau berusaha dan berdoa, maka sang pemberi kehidupan pun akan memberi yang terbaik untuk kita.


Bersambung..


Hayo kira-kira rumah siapa ini sebenarnya? Rumah yang dipinjamkan untuk Rheyna ini..🤭


...Terima kasih untuk like, komen, vote dan gift nya ya readers tersayang. 🥰😘...

__ADS_1


__ADS_2