
1 bulan sudah usia pernikahanku dengan Steve, dan aku memutuskan untuk kembali ke Indonesia, karena di Indonesia aku bisa sering-sering datang ke makam mama, papa, dan Vano. Mommy dan daddy setuju dengan keputusanku, dan berharap aku sering-sering datang untuk menemui mereka. Aku berjanji pada mereka, jika Steve ke Jerman, maka aku akan ikut bersamanya.
Aku dan Steve menempati rumah yang saat itu akan ku sewa dari pak Sono, yang ternyata rumah itu adalah milik Steve. Tak ada yang berubah dari rumah ini walaupun sudah lebih dari 1bulan aku tinggalkan. Hanya ada beberapa perubahan kecil saja, seperti penambahan beberapa foto pernikahanku dan Steve yang terpasang di ruang tamu dan di beberapa tempat.
Steve menghadiahkan aku sebuah mobil Mercedes Benz-AMG GT R, mobil sport yang aku tak tahu harganya, tetapi aku bisa memastikan bahwa harganya pasti sangat fantastis. Aku pernah bertanya pada Steve, kenapa dia memberiku mobil yang sangat mahal seperti ini, dan Steve hanya menjawab “Mobil ini tak akan pernah sebanding dengan kamu sayang, bahkan seluruh hartaku tak akan ada apa-apanya dibandingkan dirimu.” Jawaban yang selalu membuat aku terpesona padanya. Steve selalu memanjakanku, tak pernah sedikit pun membuatku bersedih. Dia pria yang penuh dengan kejutan. Hampir setiap hari sepulang kerja dia membawakanku, entah makanan, atau bunga, bahkan sudah 4 kali dia pulang membawa perhiasan kalung, dan gelang, alasannya saat bertemu dengan klien di mall dan melewati toko perhiasan, dia ingat aku dan membelikannya untukku, karena dia pikir itu akan sangat cantik jika aku kenakan.
Pagi ini aku tak seperti biasanya, kepalaku terasa sangat sakit, bahkan tangan dan kaki ku terasa kesemutan dan itu hanya di sebelah kiri saja.
Aku memijat kepalaku karena terlalu sakit.
“Sayang kenapa?” Steve yang keluar dari kamar mandi dan melihat aku memijat kepalaku.
“Kepalaku terasa sakit banget sayang, dan separo badanku sebelah kiri terasa kebas kesemutan, kenapa ya aku?” Aku bertanya dengan mata yang masih terpejam.
“Ayo kita kedokter sayang, atau aku panggil dokter kesini aja ya, tunggu sebentar ya.” Steve bergegas mengambil ponselnya dan menghubungi dokter yang biasanya digunakan untuk kantornya.
Setelah menghubungi dokter, Steve bergegas duduk disampingku dan memijat lembut kepalaku.
“Kamu habis makan apa sayang? Apa mungkin salah makan? Atau kolesterol lagi naik? Tapi kalau kesemutan kok kayak gejala stroke sih baby.” Aku terkejut dengan kata-kata Steve.
“Coba sayang cari informasi di internet, sambil nunggu dokter datang.” Aku menjadi sangat khawatir karena kata-kata Steve.
Aku bergegas menyibakkan selimut, ketika tiba-tiba perutku terasa sangat mual. Aku memuntahkan isi perutku yang belum sempat terisi apapun, sehingga yang keluar hanya cairan kuning yang terasa pahit saja.
Steve menghampiriku dan memijat tengkuk ku,
“Are you okey baby?” Tanyanya dengan wajah yang terlihat cemas.
Huueeekk Huueekk
“Sayang bisa tolong ambilkan minyak kayu putih? Sepertinya aku masuk angin.”
__ADS_1
“Okey tunggu sebentar ya.” Steve keluar dari kamar dan membawa botol minyak kayu putih dari kotak obat, serta teh hangat.
“Kok bawa teh sayang?”
“Iya, tadi mbak Sari bilang suruh minum ini biar gak mual katanya.” Steve menyerahkan teh hangat untuk aku minum.
“Minumnya pelan-pelan ya sayang, biar gak kesedak.” Steve mendekatkan gelas ke bibirku.
Aku kembali merebahkan tubuhku, dan memejamkan mataku. Aku benar-benar terasa lemas rasanya, untung saja Steve setia mendampingiku.
“Kamu gak ke kantor sayang?” Tanyaku saat melihat Steve yang masih duduk disebelahku.
“Aku di sini aja, sekalian nunggu dokter datang.” Jawabnya sambil memeriksa ponselnya.
Tokk Tokk Tokk
“Permisi Tuan, ada dokter yang mencari Tuan.” Mbak Sari mengetuk pintu dan memberi tahu jika dokter sudah datang.
“Baik Tuan.”
“Sebentar ya sayang, aku temui dokter Bram dulu.” Steve mencium keningku dan berlalu keluar kamar.
Tak berapa lama Steve kembali masuk ke kamar yang di ikuti dengan seorang pria yang menggunakan jas berwarna putih, memperlihatkan ciri khas seorang dokter. Dokter yang belum terlalu tua, aku perkirakan usianya pertengahan 40an.
“Sayang ini dokter Bram, dokter yang biasanya dikantor.” Steve memperkenalkan dokter Bram padaku, dan aku sambut hanya dengan senyuman, karena pusing yang masih terus terasa.
“Dokter ini istri saya kenapa ya kok katanya separo badannya terasa seperti kesemutan, dia juga habis muntah-muntah.”
“Coba saya chek dulu ya tuan. Permisi ya bu.” Dokter mulai memeriksaku, mulai dari tekanan darah, kemudian memeriksa kadar gula dalam darah.
“Semuanya normal sebenarnya, hanya tensi nya saja yang sedikit rendah. Maaf bu kalau saya boleh tahu, haid terakhirnya kapan?” Tanya dokter sambil menulis sesuatu pada kertas.
__ADS_1
“Aduh kapan ya? Seingat saya dua minggu sebelum saya berangkat ke Jerman sepertinya dokter.” Aku mencoba mengingat-ingat kapan terakhir aku haid.
“Berarti bulan ini belum mendapatkan haid ya bu?”
“Iya dokter, saya belum haid bulan ini.” Aku masih belum tahu maksud dari pertanyaan dokter Bram.
“Baik, jika begitu saya beri surat rujukan untuk pemeriksaan lebih lanjut ya bu.”
“Sakit apa istri saya dokter?” Steve terlihat sangat khawatir.
“Nanti kita bicarakan di luar ya tuan. Ibu istirahat dulu ya, untuk sementara saya tidak meresepkan obat, nanti setelah pemeriksaan lebih lanjut baru bisa saya resepkan obat.” Jelas dokter sembari memasukkan peralatan yang di gunakan untuk memeriksaku.
Aku hanya mengangguk karena bingung, apa sakitku sangat parah hingga dokter Bram tak ingin memberi tahuku secara langsung, dan harus memberi tahu Steve tanpa boleh aku ikut mendengarkan.
Bersambung..
Hai hai hai, mau kasih info nih. Aku lagi bikin novel karya terbaruku nih, jangan lupa didukung ya kesayangan author semua.
Cleaning Service Cintaku
Namanya Amanda Prasetyaning, pindah ke ibu kota karena ayahnya meninggal saat dia masih duduk di bangku kelas 1 SMA, kota asalnya adalah Malang.
Pindah ibu kota karena ibunya mendapat pekerjaan di sana. Masuk kesekolah bergengsi karena dia dapat beasiswa dari kantor tempat ibunya bekerja.
Saat acara PromNight, Manda dijebak oleh teman2nya yang gak suka sama Manda karena iri dengan kecantikan Manda. Manda di berikan obat perangsang. Manda menyerahkan kesuciannya pada seorang lelaki bintang sekolah tanpa ia sadari.
Siapakah lelaki itu?
Bagaimana akhirnya nasib Manda?
Yukz setia pantengin kelanjutan ceritanya…
__ADS_1