Aku Lelah,Cintai Aku

Aku Lelah,Cintai Aku
Ponsel


__ADS_3

Aku terbangun pukul 09.10 karena dering ponselku yang menandakan panggilan masuk.


Dengan kode +62 21.. .. .. ..,


“Hallo” aku menerima panggilan itu dan mengelap sisa air liur di sudut bibirku.


“Selamat pagi, dengan ibu Rheyna?”


“Iya saya Rheyna”


“Perkenalkan bu, saya Audi perwakilan dari PT. GFE”


“Owh iya mbak, ada yang bisa saya bantu ya mbak?” Aku masih belum sepenuhnya sadar siapa yang menghubungiku.


“Kemarin ibu sudah dapat email dari perusahaan kami ya bu? Pengumuman lomba.” Aku tersadar dan kembali melihat nomor yang tertera dilayar ponselku.


“Owh iya mbak, saya sudah baca emailnya. Semalam juga ada telepon dari Jerman mbak, menginformasikan bahwa saya memenangkan lomba desain itu.”


“Iya bu, sekali lagi kami ucapkan selamat.”


“Terima kasih mbak.”


“Apa besok siang ibu bisa datang di kantor cabang kami yang ada di Jakarta ya bu? Untuk menandatangani beberapa berkas, dan mengisi data.”


“Bisa mbak, besok jam berapa ya mbak?”


“Besok jam satu siang ya bu, untuk alamatnya nanti saya kirimkan melalui email ya bu, beserta tiket pesawatnya. Nanti di bandara akan ada yang menjemput ibu, dan mengantarkan ke kantor kami.”


“Baik mbak, saya tunggu emailnya kalau begitu.”


“Besok ibu akan bermalam di jakarta atau akan langsung kembali ke Surabaya bu? Agar saya bisa sekalian membeli tiketnya?”


“Emmm apa bisa saya bermalam satu malam diJakarta mbak? Karena saya akan menemui Sahabat saya sekalian disana.” Sambil menyelam minum air sekalian aja deh, pikirku.


“Oh bisa bu, nanti akan kami uruskan untuk penginapannya sekalian.”


“Oh penginapannya gak usah mbak, saya bisa tinggal di tempat sahabat saya.” Aku berusaha menolak tawaran itu.


“Maaf bu, tapi ini sudah fasilitas dari perusahaan kami.”


“Oh baiklah jika begitu mbak, terimaksih ya mbak.” Ucapku ramah.


“Sama-sama bu. Baiklah bu, nanti saya akan mengirimkan emailnya. Selamat pagi bu Rheyna, terima kasih untuk waktunya.”


“Sama-sama mbak, selamat pagi.” Aku menunggu wanita yang bernama Audi tersebut menutup teleponnya.


Setelah sambungan telepon diakhiri, aku keluar kamar dan mencari mbak Sari. Ternyata mbak Sari sedang membersihkan kolam renang dari daun-daun yang berguguran, dengan jaring.


“Mbak Sariiiii.” Aku berlari memeluk mbak Sari.


“Wah seneng banget pagi gini non?” Mbak Sari masih menjaring beberapa daun yang tertinggal.


“Besok saya ke Jakarta mbak, mau tandatangan berkas-berkas yang saya menang lomba itu. Mbak Sari gak pa pa aku tinggal sendiri? Lusa aku baru bisa pulang mbak. Mau mampir ketemu Retno sekalian.” Aku berkata dengan manja.


“Gak apa non, jaga diri ya non” mbak Sari mengelus tanganku, dan aku mengangguk-angguk.


Byurrr,

__ADS_1


Aku menarik mbak Sari hingga kami tercebur dalam kolam bersama-sama, dan aku tertawa-tawa disusul dengan tawa mbak Sari.


“Ya Allah non ini iseng banget ya.” Mbak Sari menyiram-nyiramkan air kolam ke arahku.


“Biar kita sama-sama meraskan berenang mbak, masa mbak Sari cuma bersihkan kolam aja, gak pernah ikut menikmati.”


“Untung waktu kecil saya biasa renang dikali non, kalau gak pasti sudah tenggelam deh saya.” Kami tertawa bersama-sama.


Setelah selesai berenang aku langsung mandi dan mengganti pakaianku. Sarapan sudah tersaji di meja makan, ada lontong mie yang mbak Sari masak tadi pagi.


“Mbak ayo kita ke toko sepeda, jadi mbak Sari bisa belanja waktu saya tinggal besok.” Aku menyendokkan lontong kedalam mulutku.


“Ayo non, non mau sekalian cari motor?” Mbak Sari ikut makan menemaniku.


“Rencananya sih gitu mbak, mau cari ponsel juga mbak, punyaku sudah harus diganti mbak, layarnya retak dimana-mana.”


“Oke non, saya temani non hari ini”


Kami makan dengan tenang, dan bel rumah mengejutkanku.


Ting tong.. Ting tong..


“Biar saya yang buka non” mbak Sari beranjak dari meja makan dan membuka pintu rumah.


Mbak Sari masuk dengan membawa paperbag.


“Non ada kiriman untuk non, ojek yang kirim. Saya tanya siapa pengirimnya tapi orangnya gak tau katanya non, cuma katanya orangnya ada di gerbang masuk perumahan tadi.” Paperbag itu di letakkan mbak Sari di atas meja makan disebelahku.


“Dari siapa ya mbak?” Tanyaku heran dan memutar-mutar paperbag itu.


“Apa isinya ya mbak? Kalau bom gimana mbak?” Aku menjauhkan kembali paperbag itu.


“Mau saya yang bukakan non?” Mbak Sari kembali menghampiriku, setelah meletakkan piring kotor di wastafel.


“Saya aja deh mbak, kan ini buat saya kalau beneran bom, mbak Sari bisa kena dong.” Mbak Sari hanya tersenyum menanggapi ucapanku.


Ada kotak berwarna hitam tak terlalu besar, seperti kotak ponsel. Aku membukanya, ada secarik surat didalamnya.


“Aku tak akan lagi mengganggumu, tolong terimalah pemberian terakhirku ini sayang, aku tahu ponselmu rusak karena aku menghubungimu saat itu. Terimalah sebagai permintaan maafku telah berani mencintaimu.


^^^With love,^^^


^^^Arlo Yudhistira.”^^^


“Dari mas Arlo mbak.” Aku memberitahu mbak Sari siapa pengirim paket itu.


“Kok tau rumah ini ya non?”


“Aku lupa kasi tau mbak Sari, mobilku ternyata di pasangi GPS mbak, dan pasti itu mas Arlo yang pasang. Buktinya dia bisa kirim ini.” Aku menunjuk pada ponsel yang aku pegang.


“Lho sampai pasang GPS segala non?” Aku mengangguk.


“Dia terlalu terobsesi mbak.” Aku menutup kembali kotak berisi ponsel itu.


Aku mengambil ponselku dan mengetikkan pesan disana, mengirimkannya pada Steve. Aku memberi tahu Steve kalau mas Arlo mengirimiku ponsel.


“Sebentar lagi ada orang yang akan kesana, berikan ponsel itu ke orang itu, biar orang itu yang kembalikan ke Arlo, jangan di nyalakan, jangan masukkan kartumu disana.” Isi balasan pesan Steve.

__ADS_1


“Mbak, nanti kalau ada orang cari saya, orang suruhan Steve, tolong ponsel ini kasi ke dia ya mbak, aku mau siapkan perlengkapan untuk ke Jakarta besok pagi.”


“Iya non.”


Selang 1 jam mbak Sari mengetuk pintu kamarku.


“Non, ini orang suruhan tuan Steve nitip ini buat non.” Mbak Sari menyerahkan paperbag yang hampir sama seperti paperbag ipad kemarin.


Ponsel yang sama seperti yang tadi aku terima dari mas Arlo, bedanya ponsel ini masih tersegel plastik, tak ada surat didalamnya.


“Pakailah ponsel itu, kamu membutuhkannya, jangan dikembalikan, ponsel itu baru dan aku tak memasang alat pelacak disana, jangan khawatir.” Steve mengirimkan pesan padaku.


Aku mencoba menghubungi Steve, tetapi dia tak mengangkatnya, mungkin dia sedang sibuk.


“Mbak Sari ayo kita berangkat cari sepeda sekarang, biar gak kesorean.” Aku bersiap-siap untuk pergi bersama mbak Sari.


Ponsel pemberian Steve sudah aku pakai, meggantikan ponselku yang sudah tak layak. Aku berniat akan menggantinya saat nanti aku mendapat bayaran atas desainku.


Aku dan mbak Sari pergi menggunakan ojek online, dari pusat penjualan sepeda, kami berpindah menuju dealer motor, rencanaku membeli motor bekas tak jadi, dan beralih membeli motor matic yang masih baru dan berharga terjangkau. Setelah selesai membeli yang menjadi tujuan utama kami, aku menggajak mbak Sari mampir di sebuah rumah makan padang.


Saat makan berdua dengan mbak Sari, aku terkejut dengan suara seroang wanita yang menyapaku,


“Rheyna, apa kabar?” Aku menoleh ke arah suara itu.


“Eh mbak Lila, sama sapa mbak?” Aku menghentikan makanku.


“Itu sama mas Arlo sama anak-anak.” Mbak Lila menunjuk ke arah meja yang tak jauh dariku.


“Oh iya mbak.” Jawabku kikuk saat pandanganku bertemu dengan mas Arlo.


“Kalian berdua aja?” Tanya mbak Lila


“Iya mbak, habis jalan-jalan sebentar tadi” aku tersenyum ramah pada mbak Lila.


“Ow ya udah kalau gitu, lanjutkan makannya Rhey, aku balik ke anak-anak dulu.” Aku mengangguki ucapan mbak Lila.


Setelah selesai makan, aku berjalan menuju wastafel untuk mencuci tanganku. Wastafel itu berada di ujung, dibalik meja tempat pengunjung makan, tertutup oleh tembok.


“Kenapa kamu kembalikan ponsel itu?” Aku terkejut dan menatap dari kaca yang ada dihadapanku.


“Maaf mas, kekasihku sudah mengganti ponselku, sama seperti yang mas kasi.” Aku melanjutkan mencuci tanganku.


“Kamu benar-benar menolakku Rhey?” Mas Arlo menarik tanganku.


“Lepaskan tanganku mas” aku menarik tanganku yang dicengkeram erat olehnya.


“Kenapa Rhey? Kenapa kamu tolak aku? Apa karena Lila? Aku akan meninggalkannya Rhey.” Dengan nada frustasi dia memaksaku.


“Karena aku gak mencintaimu mas.” Aku menarik tanganku kasar dan meninggalkannya.


“Ayo mbak, sudah selesaikan?” Aku mengajak mbak Sari pulang, tanpa berpamitan pada mbak Lila, aku menuju kasir dan membayar makananku dan mbak Sari. Meninggalkan rumah makan padang itu.


Bersambung..


...Bagi kopinya dong sayang, biar author kuat ngetiknya nih....


...Bonus up nya 1 dulu ya, kurang semangat nih 🤭...

__ADS_1


__ADS_2