Aku Lelah,Cintai Aku

Aku Lelah,Cintai Aku
Mencari Rumah


__ADS_3

Setelah selesai makan siang bersama seluruh keluarga panti, aku mengambil ponsel dan ipad yang Steve pinjamkan padaku. Entahlah apa namanya, karena Steve memberikan ipad ini dalam keadaan masih tersegel, yang jelas ini ipad baru dan aku hanya sebatas meminjamnya, hanya sampai laptopku kembali.


Aku duduk di teras depan rumah, memandang ponselku yang layarnya sudah mulai banyak yang retak. Ada beberapa pesan disana, dari mas Arlo, Steve, dan Retno.


Aku membaca pesan dari Retno terlebih dahulu,


From : Retno


‘Woyyyy jendes kembang nih, kemana aja? Ngilang gak ada kabar? Rhey kamu sehat? Atau lagi menangis meraung-raung karena si cunguk itu? 😂’


‘Woy jomblo akut 🤭, aku dalam keadaan yang sangat sangat baik, bahagia malahan, next aku bakal main ke Jakarta, sampai ketemu disana’ aku membalas pesan Retno dan tersenyum sendiri.


From : Mas Arlo


‘Kamu dimana Rhey? Kenapa apartemen sudah kosong? Sari juga gak ada disini. Barang-barang kalian juga sudah gak ada dikamar.’


‘Maaf mas. Nanti kalau sudah siap ketemu aku kasi kabar mas Arlo ya. Kalau sekarang aku masih banyak yang diurus. Aku harap mas bisa mengerti. Terima kasih untuk semua bantuan mas.’ Aku membalas tanpa memberi tahukan dimana aku berada. Aku menghembuskan nafasku dengan berat.


From : Steve


‘Rhey laptopmu sudah selesai, tapi aku baru bisa antar laptopmu besok siang, gimana?’


‘Okay Steve, sekalian aku bawakan ipad sama jaketmu ya. Kasi kabar lagi aja mau ketemu dimana. Thank you.’ aku berpikir akhirnya satu-satu masalah akan segera terselesaikan.


Setelah selesai membalas semua pesan yang masuk, aku meletakkan ponselku di meja sebelah kursi yang aku duduki. Aku beralih menyalakan ipad, mengetikkan pencarian untuk rumah disewakan, yang berukuran tak terlalu besar, yang harganya tak terlalu mahal, yang penting lingkungannya nyaman.


Setelah menemukan beberapa kandidat rumah yang aku taksir, aku sudah mencatat dan menghubungi kontak yang tertera melalui pesan. Saat aku menanti balasan pesan tiba-tiba ada pesan masuk dari nomor yang tak ku kenal.


From : 081331985***


‘Selamat siang Bu Rheyna, apa benar ibu sedang mencari rumah yang disewakan? Kebetulan saya ada rumah yang bisa disewakan. Jika ibu berkenan, bisa dilihat sekarang bu. Matur nuwun’ Setelah membaca pesan itu, aku langsung menghubungi nomor yang tertera.


“Hallo” setelah sambungan terangkat.


“Hallo, selamat siang pak”


“Nggih Bu Rheyna” bapak itu berbicara dengan sopan


“Rumahnya daerah mana ya pak?”


“Daerah Surabaya Barat bu, jika berkenan lihat saya kirimkan alamatnya ke ibu”


“Untuk biaya sewanya berapa ya pak?” Aku langsung menanyakan biaya sewanya, karena aku memang mencari rumah daerah barat, yang jauh dari orang-orang yang aku kenal.


“Ibu lihat saja dulu tempatnya, sekalian nanti dibicarakan untuk biaya sewanya” bapak itu terdengar menjawab dengan tersenyum.


“Baik pak, bisa bapak infokan kesaya ya pak untuk alamatnya?”

__ADS_1


“Nggih bu, bisa sebentar lagi saya kirimkan alamat lengkapnya”


“Baik pak, nanti sekitar jam tigaan ya pak saya kesana”


“Baik bu, matur nuwun”


“Sama-sama pak”


Tak berselang lama, bapak itu mengirimkan pesan berisi alamat lengkap rumah yang hendak disewakannya. Aku mencari mbak Sari untuk mengajaknya melihat rumah itu.


Setelah selesai memberitahukan pada mbak Sari untuk bersiap-siap, karena 30 menit lagi kami harus segera berangkat. Aku akan mampir ke toko emas untuk menjual beberapa emas milikku, dan menyisakan perhiasan milik mama saja.


Aku kedepan rumah dan mengambil beberapa gambar mobilku untuk aku iklankan di jual beli online. Setelah selesai mengambil gambar, aku segera masuk kedalam rumah, mandi dan bersiap-siap untuk berangkat.


Aku dan mbak Sari berangkat segera.


“Non, kalau butuh uang bisa pakai uang saya dulu non, saya ada tapi gak banyak non” mbak Sari mengeluarkan uang 100ribuan dari dalam tasnya dan disodorkan padaku, saat aku sedang menyetir.


“Hei mbak, ngapain? Mbak simpen aja uangnya, itu kan jerih payah mbak Sari” aku menolak bantuan mbak Sari, karena aku masih mampu untuk berusaha sendiri.


“Gak pa pa non, kalau non lebih butuh saya ikhlas kok non” mbak Sari tetap memaksa menyodorkan uangnya


“Jangan ya mbak, nanti saya. bantu mbak Sari buka tabungan aja, dari pada mbak Sari bawa-bawa uang tunai begitu, rawan low mbak” aku mengalihkan pembicaraan.


“Tapi kalau non butuh, jangan sungkan bilang ke saya ya non” mbak Sari kembali memasukkan uangnya dalam tas. Aku menjawab dengan tersenyum pada mbak Sari.


Sesampainya di toko perhiasan, aku bergegas langsung mengeluarkan beberapa perhiasan, ada 3 rantai kalung, 4 liontin, 3 cincin, 2 gelang. Keseluruhan uang yang aku dapat dari menjual perhiasan itu adalah 36 juta. Aku meminta uang itu untuk di transfer saja ke rekeningku, karena aku takut membawa uang tunai yang tak sedikit menurutku. Setelah semua tansaksi selesai, aku bergegas untuk meninggalkan tempat itu.


Kami berhenti pada sebuah rumah minimalis tetapi terlihat sangat mewah. Aku melihat alamat itu kembali, alamat yang sesuai dengan yang dikirimkan, aku meyakini uang hasil penjualan perhiasanku hanya cukup untuk menyewa selama 1 tahun saja.


Ada bapak-bapak yang keluar dari dalam rumah tersebut dan membuka pintu gerbangnya, menghampiri mobil yang aku parkir di depan rumahnya. Bapak itu mengetuk kaca mobilku.


“Selamat sore, bu Rheyna?” Tanya bapak itu ramah. Setelah aku menurunkan kaca jendelaku.


“Iya pak, saya Rheyna” jawabku dengan megulurkan tangan, dan di sambut dengan bapak itu dan tersenyum.


“Silahkan bu, saya tunjukkan rumahnya” bapak itu sedikit menjauh dari mobilku, memberikan kases aku untuk keluar dari mobil.


“Baik pak” aku menutup kaca jendela, mematikan mesinku.


“Ayo mbak Sari, semoga rumah ini tak semahal yang aku pikirkan mbak” aku membuka pintu mobilku dan di ikuti dengan mbak Sari.


“Silahkan bu” dengan tangan kanan yang terulur seperti orang-orang Jogja yang sangat terlihat sopan, walaupun aku masih jauh lebih muda dari Pak Sono ini.


Aku mengikuti pak Sono, memasuki ruang tamu, kemudian kamar yang ada 2 berseberangan dengan msing-masing kamar memilik kamar mandi sendiri, kemudian memasuki ruang tengah aku terkejut dengan bagian belakang rumah yang terdapat kolam renang. Rumah ini hanya 1 lantai tetapi rumah ini sangat mewah menurutku, dengan garasi yang bisa menampung 3 mobil. Aku bergidik ngeri setelah membayangkan harga yang harus aku bayar jika aku benar-benar akan menyewa rumah ini.


“Maaf pak Sono” aku menghentikan langkah kaki pak Sono.

__ADS_1


“Nggih bu, ada apa?” Tanya pak Sono yang melihat wajah ragu-raguku.


“Pak rumah ini sudah full furniture, apa disewakan dengan isinya ini juga?” Aku memutarkan jariku untuk menggambarkan seluruh isi rumah ini.


“Nggih bu, sudah lengkap dengan isinya” pak Sono mengangguk meng-iya-kan kata-kataku.


“Pak, berapa ya biaya sewanya?” Aku bertanya ragu-ragu.


“Silahkan bu, kita bicarakan diruang tamu saja” pak Sono mengajak kami kembali ke ruang tamu, dan duduk disofa yang nampak mahal itu.


“Maaf pak, melihat fasilitas dan kondisi rumah ini yang sangat bagus, saya takut uang saya kurang pak” aku berkata jujur pada pak Sono, setelah kami duduk di sofa.


“Kalau ibu merasa cocok dengan rumah ini, ibu bisa mencoba tinggal dulu selama 1bulan, nanti jika ibu benar-benar betah baru dibayar.” Pak Sono menjelaskan.


“Kira-kira berapa ya pak biaya sewanya?” Aku kembali bertanya dengan ragu-ragu.


“Ibu mampunya berapa? Saya ikutin kemampuan ibu saja” jawaban yang membuat aku terkejut.


“Lho pak kok gitu?” Tanyaku heran.


“Ya memang seperti itu harusnya bu” dengan tersenyum. “Semoga ibu berkenan menyewanya” lanjut pak Sono.


“Tapi pak..”


“Ibu bisa mengganti semua kunci jika merasa khawatir bu” masih dengan ramahnya pak Sono menjelaskan. “Tapi lebih baik ibu mencoba tinggal disini dulu sebelum membayar”


“Baik pak, saya coba tinggal disini dulu ya pak. Kapan bisa saya coba pak?” Aku menyetujui untuk mencoba dulu, seperti saran pak Sono.


“Terserah ibu, hari ini boleh. Besok juga boleh bu. Kuncinya saya serahkan sekarang untuk ibu. Ibu bisa melihat-lihat lagi keseluruhan isi rumah, supaya lebih yakin. Saya pulang dulu, jika ada sesuatu yang ingin ditanyakan, ibu bisa menghubungi saya.” Pak Sono berpamitan.


“Baik pak, terima kasih untuk waktunya”


“Sama-sama bu” pak Sono keluar dari rumah, mengeluarkan mobilnya dari garasi dan berlalu pergi.


“Mbak gimana ini?” Aku bertanya pendapat mbak Sari


“Dicoba aja dulu non, sapa tau non cocok disini. Lingkungannya bagus banget ini non, rumah dan isinya juga lengkap. Kita sudah gak perlu beli-beli perabotan lagi non.” Mbak Sari memberikan alasan berdasarkan sudut pandangannya.


“Iya juga sih mbak, kita tinggal bawa koper baju aja ya mbak” aku membenarkan kata-kata mbak Sari. “Ya sudah mbak, besok aja kita mulai coba tinggal disini”


“Baik non, siap ngikut kemana aja wes” canda mbak Sari.


Setelah mengelilingi rumah sekali lagi, aku dan mbak Sari memutuskan untuk pulang, esok pagi kami akan mulai mencoba tinggal disini.


Bersambung..


Hayo, kira-kira siapa Pak Sono ini? 🤔

__ADS_1


...Bunga-bunga, kopi-kopi hahaha...


...Vote, like nya juga ya sayang-sayangku.....


__ADS_2