
Setelah akad nikah kami, esoknya Steve membawaku ke pabrik miliknya, pabrik yang sangat besar, disana Steve memperkenalkan aku pada seluruh karyawannya. Setelah itu Steve mengadakan wawancara bersama pers untuk majalah-majalah bisnis yang mendengar bahwa Steve telah menikah. Dalam wawancara itu Steve selalu menggenggam tanganku dan tak pernah berhenti tersenyum padaku.
Steve mengajakku ke Paris, sesuai jadwal yang harusnya aku lalui sebagai pemenang lomba. Tetapi saat ini jauh berbeda karena Steve ikut bersamaku dan kami berbulan madu disini.
“Harusnya aku melamar kamu disini.” Kami berdiri di sebuah restoran mewah, Le Jules Vernes nama restorannya, pemandangan yang terlihat dari sini sangat indah.
“Maafkan aku sayang.”
“Gak ada yang perlu di maafkan, begini lebih baik, aku malah bisa langsung mengajak istriku menikmati romantisnya Paris.” Steve memelukku erat.
1 minggu bersama Steve di Paris membuatku seperti ratu. Steve sangat memanjakanku, romantisnya Steve sangat sesuai dengan Paris. Dari butik yang 1 Steve mengajakku masuk keluar kesemua butik di sepanjang jalan yang kami lalui.
“Sayang udah ya belanjanya, ini sudah terlalu banyak, setahun juga belum tentu kepakai semuanya.” Aku sudah lelah belanja sebanyak itu.
“Apa kamu lelah baby?” Tanya Steve saat kami menunggu di ruang tunggu VIP di sebuah butik mewah.
Aku mengangguk, karena sudah lebih dari 10 toko yang kami masuki, dan disetiap toko Steve selalu berbelanja beberapa, entah itu baju, sepatu, tas, bahkan beberapa berlian, dan semua itu hanya untuk aku, Steve tak membeli apapun untuk dirinya sendiri.
“Okey setelah ini kita akan makan dulu, terus balik hotel ya.”
“Bisa kah kita makan di hotel saja?” Tawarku.
“Bisa baby, kamu pasti lelah sekali ya?” Steve berlutut di hadapanku kemudian mengambil kakiku dan diletakkan dipangkuannya.
“Sayang ngapain?” Aku terkejut dengan sikap Steve, dan ingin menarik kakiku.
“Diamlah sayang, aku gak mau kamu capek gara-gara aku.” Sambil memijat kakiku lembut.
“Tapi, aku gak papa sayang, istirahat sebentar di hotel pasti capekku hilang.” Aku menghentikan tangan Steve. “Jangan seperti ini sayang, kamu akan terlihat seperti lelaki yang tak memiliki wibawa.” Aku menegur Steve.
Steve meletakkan kakiku dan berdiri di hadapanku dengan sedikit menunduk dan tersenyum padaku. “Baby, kamu tahu? Bahwa memuliakan istri itu lah yang akan membuatku berwibawa, kita tidak sedang di kantorku. Yang terpenting untukku adalah istri dan keluargaku.” Kemudian Steve mencium keningku dan mengecup bibirku sekilas.
“Aku hanya gak pengen orang memandang kamu suami yang diperlakukan seperti budak istri.” Aku menggenggam tangan Steve.
“Biarkan mereka berpikir apapun sesuka hati mereka, yang penting kita bahagia dengan yang kita jalani. Okey baby?” Dengan senyuman yang selalu menawan Steve meyakinkanku.
Kami kembali ke hotel The Peninsula Paris. Barang-barang belanjaan kami di bawa oleh petugas hotel. Steve menyewa kamar Suite untuk kami tinggali selama disini. Kamar mewah yang entah berapa harganya aku yakin ini kamar dengan harga yang akan membuatku terkejut. Setelah membuka pintu kamar hotel, aku langsung berjalan ke arah tempat tidur dan langsung merebahkan tubuhku, raasa kantuk sangat tak bisa ku tahan. Sepatu, jacket, bahkan tasku pun masih melekat di tubuhku. Tak butuh waktu lama untuk aku langsung terlelap dalam tidurku walaupun aku belum mengganti pakaianku.
“Baby wake up.” Steve membangunkanku.
__ADS_1
“Heemmm masih ngantuk sayang.” Mataku masih terasa berat untuk dibuka.
“Makan dulu yuk, nanti sambung lagi tidurnya.” Dia menghujaniku dengan ciumannya pada seluruh wajahku.
“Iya sayang.” Aku terbangun dengan terpaksa karena Steve yang tak berhenti menciumi ku.
“Capek banget ya?” Tanya Steve sambil menuntunku ke arah ruang makan kamar kami.
“Iya gimana gak capek, kamu aja minta enak-enak sehari bisa lima kali, udah gitu di ajak jalan-jalan muterin toko yang gak cuma satu atau dua, belum lagi disuruh nyoba-nyoba baju.”
“Hahahaha, enak-enak gemesin banget sih kamu. Boleh minta enak-enak lagi dong kalau gitu?” Sambil mengangkat-angkat kedua alisnya dia menggodaku. “Kan udah istirahat lima jam lebih tuh, aku di biarin sendirian gak diperhatiin.” Steve pura-pura cemberut.
“Masa sih sudah lima jam? Kok berasa baru lima menit ya.” Jawabku acuh dengan tersenyum.
“Coba aja dilihat jamnya tuh.” Steve mengarahkan jam tangannya untuk ku lihat.
“Sayang, kamu yang gantiin bajuku?” Aku melihat pakaian ku sudah berganti dengan baju tidur berbahan sutera berwarna broken white.
“Emang siapa lagi yang gantiin baby? Emang office boy?” Jawabnya asal.
“Ih sewot.” Jawabku.
“Maaf sayang, aku beneran capek.” Aku menghampiri Steve yang duduk diseberangku, memeluk lehernya dari belakang.
“Sini..” Steve menarik tanganku dan mendudukkan aku dipangkuannya.
“Aku gak akan pernah marah sama kamu, apapun yang kamu lakuin aku yakin itu pasti yang terbaik untuk kamu. Aku mencintai kamu dengan segala kekuranganmu, aku ingin bersama denganmu bukan hanya karena kelebihanmu, tapi karena kamu pantas mendapatkan yang terbaik.” Steve memeluk pinggangku dan mencium tanganku. “Love you baby.” Suara mesranya, suara manjanya aku suka mendengarnya.
“Terima kasih untuk semua cinta dan perhatianmu untukku sayang.” Aku mengalungkan tanganku pada lehernya dan mengecup manja pipinya.
“Ehm mau godain aku nih?”
“Ih gak tuh, aku cuma bilang terima kasih kok.”
“Tapi pake cium-cium.”
“Gak boleh cium suami sendiri?”
“Gak boleh, ambil lagi nih ciumnya.”
__ADS_1
“Ya udah sini aku ambil lagi.” Aku mengecup kembali pipi Steve.
“Tuh kan godain lagi, cium-cium lagi tuh.” Steve terus menggodaku.
“Tadi katanya disuruh ambil, udah aku ambil di bilang cium-cium. Tau ah aku mandi aja.” Dengan cemberut aku hendak berdiri dari pangkuan Steve, tapi Steve menahan pinggangku.
“Kalau kamu berani berdiri, aku bikin kamu gak bisa jalan selama seminggu.” Ancamnya.
“Ih kok pake ngancam.”
“Mau coba?” Tantangnya.
“Coba aja kalau berani.” Tantangku balik dan berdiri kemudian berjalan beberapa langkah meninggalkan Steve.
“Okey, lets play baby.” Jawabnya berjalan cepat menyusulku, kemudian menarik tanganku dan langsung mencium bibirku.
“Sayang aku belum mandi, belum gosok gigi.” Aku mendorong dada Steve perlahan.
“I don’t care baby, lets play.” Kemudian dia kembali menciumku.
Aku menautkan tanganku di leher Steve, dengan perlahan dia menarikku ke atas dan menggendongku. Aku seperti bayi yang digendong ayahnya. Steve berjalan mendekati sofa panjang yang berada didekat tempat tidur kami. Kemudian dia mendudukkan dirinya di sofa itu, dan aku berada di atasnya dengan ciumannya yang masih belum mau dia lepaskan. Tangannya mulai nakal membelai pahaku, baju tidur berbahan sutera itu sudah tersingkap dan memamerkan pahaku. Tangannya terus bergerak aktif membelai di sana, membuatku merinding.
“Sayang udah dong.” Kataku melepas ciumannya.
“Belum, kan kamu sendiri yang tadi nantangin.” Sekarang tangannya bergerak membuka tshirt yang dia kenakan sendiri, menampilkan dada yang bidang dan roti sobek yang membuatku tak tahan ingin menyentuhnya.
“Iya iya aku salah, udah yuk aku mandi dulu.”
“Owh jadi maunya di kamar mandi aja nih? Okey deh ayo.” Tangannya sudah bersiap menggendongku.
“Eh bukan gitu maksudnya sayang. Disini aja deh.” Lanjutku.
“Nah gitu dong. Istriku memang paling baik.” Dia kembali menciumku.
Aku meraba dada bidang suamiku, dan roti sobeknya yang seakan memanggil untukku jamah. Aku selalu suka memegangnya saat Steve sedang bertelanjang dada seperti ini.
Ciumannya dari bibir beralih ke leher, tangannya yang aktif itu sudah berhasil melepas kain yang menempel padaku, tanpa aku sadari.
Bersambung..
__ADS_1