
“Hemmm jika aku jadi Arlo maka aku tak akan pernah menjadi dia hahaha” Steve malah bercanda. “Rhey, cinta memang tak dapat dipaksakan, mungkin Arlo memang mencintaimu, tapi dia salah karena dia mengorbankan anak-anak dan istrinya demi perasaannya. Pernikahan bukan untuk mainan Rhey, jika sudah memutuskan untuk menikah maka terimalah konsekuensinya baik dan buruknya terimalah. Aku tak akan pernah menghianati pernikahanku.”
‘Lalu untuk apa kamu ada disini? Memberikan aku perhatian? Ahhh semua lelaki sama saja, tak pernah bisa benar-benar menjaga hubungan.’ Aku menatap Steve, dan bergumam dalam hatiku.
“Steve boleh pinjam ponselnya?” Aku mengalihkan pembicaraanku.
“Untuk apa Rhey?” Steve mengeluarkan ponselnya dari saku celananya.
“Mau aku jual, hahahaha” aku membohonginya
“Rheyyy..” Steve menarik kembali ponsel yang akan di pinjamkan padaku.
“Hahahaha kidding Steve, pinjam untuk pesan ojol Steve, ponselku mati” aku mengangkat ponselku yang mati.
“Mau kemana pesan ojol?” Dia kembali memasukkanponselnya pada saku celananya.
“Pulang Steve, masa mau kehutan” aku menjawab sebal karena Steve memasukkan kembali ponselnya.
“Yuk aku anter, sekalian aku juga pulang”
“Gak ah, rumahku sekarang jauh soalnya” aku menolak dan memasukkan barang-barangku ke dalam tas ku.
“Ke ujung dunia pun aku antar” sambil tertawa dia menggodaku.
“Hadeh, rayuan laki orang gak mempan di aku Steve” aku menghabiskan minumku.
“Cerewet banget sih, yuk ah balik”
“Maksa banget sih” jawabku sewot
“Biarin, katanya kamu mau menghemat, naik ojol malah kena mahal”
“Iya sih, ya udah sekalian mampir supermarket ya, mau beliin mbak Sari bahan kue buat adik-adik panti.”
“Siap nyonya” Steve menggodaku.
“Nona dong, kan masih muda, masih single juga” aku menjulurkan lidah mengejeknya.
“Bentar lagi juga jadi nyonya” Steve balik mengejekku.
“Idih sok tau, dah kayak dukun aja”
“Jadi balik gak nih?” Tanya Steve, karena aku yang tak kunjung berdiri.
“Hahahaha iya iya” aku berdiri dan berjalan di belakang Steve.
“Masuk Rhey” Steve membukakan pintu mobilnya untukku.
“Aduh udah kayak supirku aja kamu Steve”
“Bolehlah kalau kamu mau”
__ADS_1
“Gak ah gak sanggup bayarnya.”
“Selalu deh apa-apa dipikir pakai duit.” Steve menutup pintu mobil saat aku telah masuk, dan dia membuka pintu kemudi.
Kali ini Steve menggunakan mobil Mercedes-Benz E300 coupe AMG, mobil sport dengan 2pintu.
“Punya showroom atau bengkel Steve?”
“Kok bisa?” Dia menatapku heran.
“Mobilnya ganti-ganti terus sih” jawabku asal.
“Hahahaha iya aku montirnya” dia terus tertawa “kamu kalau punya suami montir gimana?” Steve menstater mobilnya.
“Ya gak pa pa Steve, kalau memang jodoh ya di syukuri. Yang penting setia dan mau berusaha.”
Steve mengemudikan mobilnya dengan santai, jalanan di jam enam sore sudah lumayan lengang. Dia membelokkan mobilnya disalah satu swalayan besar yang ada lambang ‘T’ nya.
Steve memarkirkan mobilnya tepat didepan pintu masuk, yang kebetulan saat kami masuk ada mobil yang keluar. Setelah mobil terparkir, kami keluar bersama-sama dari mobil.
Saat berjalan, aku sedikit menjauh dari Steve. Aku takut jika tiba-tiba ada sanak saudara Steve, atau rekan bisnis Steve yang melihat kami. Aku tak ingin bermasalah dengan pria beristri.
Tiba-tiba aku dikejutkan dengan tangan Steve yang menarik pinggangku dan mencengkeram erat pinggangku.
“Steve lepasin” aku mencoba memberontak, dengan berkata lirih tapi penuh penekanan.
“Kalau masih menjauh, aku cium kamu” Steve mendekatkan wajahnya padaku.
“Diamlah Rhey, tetaplah seperti ini” akhirnya aku pasrah, walaupun aku tak ingin.
Aku memilih beberapa buah, untuk bahan cake. Steve hanya mengekor dibelakangku saja dan mendorong troli yang sudah terisi beberapa sayuran.
“Pak Steve?” Sapa seseorang pada Steve.
“Hallo rudi” Steve menyalami orang itu, dan aku berjalan menjauhi Steve.
“Rhey sini dulu” Steve memanggilku, walaupun aku sudah hendak menjauh, akhirnya aku berbalik mendekati Steve.
“Rud kenalin ini Rheyna” Steve mengenalkanku pada temannya.
“Hai, Rudi” sapanya mengenalkan diri.
“Rheyna” jawabku sopan dan tersenyum tanpa berniat untuk bersalaman.
“Aku ke tempat ikan-ikan dulu ya” pamitku pada Steve, dan dijawab dengan anggukan kepalanya.
“Siapa Steve?” Saat aku berjalan menjauh aku dengar temannya bertanya.
“Calon” Steve menjawab enteng.
‘Apa maksudmu Steve dengan berkata calon pada temanmu? Apa kamu lupa jika kamu sudah beristri?’ Aku bergumam sendiri, kemudian memilih beberapa ikan untuk persediaan di kulkas.
__ADS_1
Setelah selesai berbelanja ikan, aku kembali menghampiri Steve yang berada di depan lemari pendingin yang berisi ice cream. Dia memasukkan beberapa kotak ice cream dengan merk terkenal asal Prancis. Aku meletakkan ikan-ikan yang telah ditimbang kedalam troli.
“Masih ada yang mau kamu beli Steve?” Aku sudah selesai dengan beberapa belanjaan yang aku butuhkan.
“Gak ada, kamu masih mau belaja apa lagi?” Dia mendorong troli lagi.
“Aku udah selesai, kalau gitu langsung kekasir aja ya.” Aku melihat jam sudah menunjukkan pukul 7 malam.
Aku menyuruh Steve untuk membayar belanjaan ice creamnya dulu, setelah itu baru aku mengantri dibelakangnya untuk membayar belanjaanku.
Steve udah selesai membayar ice creamnya, dia menjinjing plastik belanjaannya dan berdiri tak jauh dari meja kasir.
Giliranku untuk meletakkan belanjaanku di meja kasir. Setelah troli sudah kosong, aku mendorong troli untuk lebih maju dan memasukkan belanjaan yang sudah di hitung kedalam troli.
“Berapa mbak totalnya?” Aku bertanya pada mbak kasir yang tak menyebutkan total belanjaku.
“Lho sudah di bayar suaminya kak” sembari menyerahkan kartu berwarna hitam dan struk belanjaanku.
“Ha?” Aku menerima struk dan kartu hitam itu, aku tahu itu kartu unlimited milik Steve, ada nama Steve tertera disitu.
“Yuk” Steve mengambil alih troli dari tanganku, dan membuat aku terkejut dan mengembalikan kesadaranku.
“Kenapa harus dibayarin sih Steve?” Aku menyerahkan kartu Steve.
“Ya biar kamu hematlah Rhey” Dia berhenti dan memasukkan kartunya kedalam dompet mahalnya.
“Ya ampun, tau gitu tadi aku belanja yang banyak sekalian tadi, gak perlu pikir-pikir” jawabku asal.
“Nih kalau mau belanja lagi” Steve kembali mengeluarkan kartunya.
“Kidding Steve, suatu saat akan ku bayar semuanya Steve, aku tak ingin berhutang pada suami orang”
“Kalau begitu jadilah istriku, supaya kamu tak berhutang pada suami orang hahaha” mulai ngelantur.
“Aku gak mau jadi istri ke dua atau simpanan” aku belalu meninggalkan Steve.
Ketika Steve memasukkan belanjaan kami, aku langsung masuk kedalam mobil dan menunggu Steve masuk mobil, setelah selesai meletakkan semua belanjaan kami. Aku sedikit tersinggung dengan ucapan Steve.
Bersambung..
...Vote, vote, vote dong…...
...Like, like, like dong…...
...Bunga, bunga…...
...Kopi, kopi…...
Yang pengen tahu kelanjutannya Rheyna dengan siapa, pantengin terus ya updatenya…
Love u gaes 🥰😘
__ADS_1