
Setelah menitipkan Junior pada mommy, daddy dan mbak Sari, pagi itu aku dan Steve langsung diantarkan sopir menuju bandara. Seperti biasa kami akan menaiki pesawat dengan kursi First Class. Sebenarnya Steve lebih dari mampu jika hanya untuk membeli Jet pribadi, tapi Steve lebih senang menaiki pesawat komersil, “Kalau naik pesawat komersil itu enak baby, aku sering bertemu rekan bisnis yang baru didalam pesawat, kalau naik Jet pribadi mana bisa ketemu rekan bisnis.” Setidaknya itulah alasan Steve memilih pesawat komersil.
Sebenarnya Steve lebih suka naik yang Bisnis Class kalau lagi perjalanan bisnis, alasannya hanya karena keas bisnis jauh lebih ramai dibandingkan kelas utama. Steve orang yang mudah bergaul dengan siapa saja, tak heran jika dia suka sesuatu yang lebih merakyat. tapi jika perjalanan denganku, dia akan selalu menggunakan first class, alasannya karena dia tidak ingin banyak orang yang memandangku.
“Istirahat aja dulu baby, kalau laper bilang ya.” Kami sudah berada di dalam pesawat yang akan membawa kami menuju Indonesia, negara kelahiranku tercinta.
“Nanti kita sampai Surabaya jam berapa ya sayang?” Pesawat di jadwalkan akan meninggalkan bandara pukul 9 pagi ini.
“Sekitar jam enam pagi waktu Indonesia baby.”
“Ya udah deh aku tidur bentar aja kalau gitu, masih berasa capeknya nih, abis dikerjain papinya Junior.” Aku meletakkan tas jinjing yang aku bawa.
“Habis mami nya hot abis, bikin papi kepanasan terus hehehe.” Dengan senyuman yang meggoda Steve sudah mulai akan meggodaku.
“Gak usah senyum-senyum begitu, ntar dilihat pramugari dieketin lagi.”
“Baby are you jealous?”
“Gak lah, kalau mau sama yang lain sana.” Aku memalingkan wajahku menghadap ke arah luar jendela, menatap pesawat yang perlahan berjalan meninggalkan bandara.
“Gak akan ada yang semanis kamu sayang.” Rayunya.
“Tau ah aku mau tidur aja.” Aku mulai membaringkan tubuhku.
“Jangan marah dong baby, kalau kamu marah aku kasih hadiah biar kamu gak marah, tapi malah mendesah, gimana?”
“Apa’an? Gak ada mendesah, mendesah aja sendiri.”
“Mana bisa mendesah sendiri baby, kan udah punya istri yang hot abis ini, masa main solo ya gak asik banget dong. Atau kamu mau bantu megangin sini baby?” Steve terus memprofokasiku agar aku kembali tersenyum.
“Nah dia kata handrem kali ya minta dipegangi.”
“Kan panjang dan kuat kayak handrem sayang hahaha.”
“Hahaha udah ah sayang aku jadi membayangkan yang iya iya kan.” Akhirnya aku kembali luluh dan tertawa.
“Tuh kan ketagihan kan. Istirahat dulu sana baby, main handrem nya nanti aja kalau sudah sampai.” Steve mengecup keningku sesaat sebelum aku tidur.
__ADS_1
***
Sesampainya kami di bandara Juanda Surabaya, kami sudah di jemput oleh pak Sono, dan di antarkan ke sebuah hotel bintang 5 yang terkenal di pusat kota Surabaya.
Steve lebih memilih tinggal di hotel dari pada kembali tinggal dirumahnya, kata Steve karena Steve ingin merasakan honeymoon kembali denganku.
“Baby mau istirahat dulu atau mandi dulu?”
“Kayaknya mending mandi dulu ya sayang terus sarapan gimana?”
“Boleh tuh, mau sarapan apa? Biar aku pesankan dulu.” Steve berjalan mendekati meja kerja yang terdapat telepon hotel disana.
“Sandwich sama susu cokelat aja deh sayang.” Aku membuka koper dan mengambil baju gantiku, meletakkannya di atas tempat tidur, kemudian aku berjalan menuju kamar mandi.
Steve menghubungi resepsionis untuk memesan sarapan kami, dan beberapa cemilan untuk kami nikmati.
Setelah selesai membersihkan diri, aku melihat beberapa menu sarapan sudah tersaji di meja makan yang terdapat 4 kursi, 2 disisi kanan dan 2 lagi disisi kiri.
“Sayang pesannya kok banyak banget?” Aku yang melihat ada beberapa menu di atas meja pun terkejut.
“Ya ampun sayang, kamu tau sendiri makanku gak sebanyak ini low.” Mataku mengitari makanan di atas meja, ada nasi goreng, spagheti, paket sosis dan telur, bubur ayam, belum lagi ada susu, jus jeruk, jus strowberry dan ar mineral.
“Udah pelan-pelan aja makannya, ntar juga habis, kan aku juga makan baby.” Steve mengusap punggungku dan tersenyum, kemudian menarik kursi yang berada disebelahku dan duduk.
“Kamu bikin aku gendut sayang.” Aku mengambil sepotong sandwich.
“Hahaha makin gendut makin sexy dong.” Sambil mencubit pipiku gemas. “Menu mana lagi yang kemungkinan bisa kamu makan baby?”
“Bubur ayam nya aja deh sayang, sama jus strowberry aja deh aku, susu cokelatnya ntar aja ya.” Aku mulai menggigit sandwichku.
“Oke, kalau gitu yang lainnya biar aku yang makan.” Dengan santainya Steve mengambil sepiring spagheti dan meletakkannya di hadapannya, kemudian mulai memakannya.
“Tumben nih makannya banyak? Gak takut roti sobeknya ganti jadi roti bantal?” Aku mencoba meledek Steve.
“Gak bisa dong, kan aku rajin olah raga. Apa lagi olah raga bareng kamu itu yang paling enak.” Steve balik menggodaku.
“Mulai deh.” Aku kembali fokus menghabiskan sandwichku.
__ADS_1
Steve dengan lahapnya menghabiskan spagheti, kemudian lanjut dengan memakan nasi gorengnya. Entah bagaimana dia bisa makan dengan sangat cepat, padahal buburku saja baru beberapa suap aku makan, sedangkan nasi goreng Steve sudah tinggal 1 suap saja. Terakhir dia menghabiskan jus jeruknya dan sedikit air putih.
Setelah semua sarapannya habis, Steve berpamitan sebentar karena ponselnya sedang berbunyi.
Aku tak menghabiskan bubur ayam yang ada di mangkuk yang tak terlalu besar, karena aku sudah merasa perutku penuh. Setelah meminum jusku dan sedikit air putih, aku menuju kamar mandi.
“Baby kamu ngapain?” Steve berdiri didepan pintu kamar mandi.
“Hosok hihi ayang.” Aku yang sedang menggosok gigiku setelah makan.
“Ya udah aku masuk ya, mau mandi soalnya.” Aku membiarkan Steve masuk karena aku hanya menggosok gigiku saja di wastafel.
Steve yang masuk ke kamar mandi hanya menggunakan pakai dalam saja itu membuatku memalingkan pandangan, entah mengapa masih ada sedikit rasa malu.
“Gosokin punggungku dong baby.” Steve menghampiriku dan menempelkan tubuhnya dibelakangku.
“No sayang, itu pasti cuma akal-akalanmu aja kan. Aku udah mandi, kamu mandi sendiri aja ya, nanti sepulang dari makam baru aku gosokin ya punggungnya.” Aku tahu Steve sedang menggodaku, karena tangan nakalnya sudah menulusup dibalik bathrope yang aku pakai, membelai perutku, dan tangan yang satunya lagi sudah m*r*m*s b*k*ngku. Sedangkan kepalanya sudah berada diceruk leherku, mencium leherku dengan gerakan yang sensual
“Kalau gosokin yang ini mau kan?” Tiba-tiba gerakan Steve menjadi naik turun menggesek di bagian b*k*ngku.
“Ya kan, ada maksudnya kan.” Aku yang sudah selesai gosok gigi, membalik tubuhku menjadi menghadap Steve.
Aku memandang wajah Steve kemudian tersenyum. Sambil membelai wajahnya, “Nanti, sepulang dari makam ya sayang aku gosok semuanya deh.” Aku mengerlingkan 1 mataku dan kemudian berjijit mencium bibir Steve sesaat.
“Sekarang aja dong, bentar aja deh.” Melasnya.
“No, sepulang dari makam baru kita berdiam diri di kamar sampai waktunya kita kembali ke Jerman.”
“Iya deh, aku mandi cepat-cepat kalau gitu, biar ke makamnya juga cepat selesai.”
“Nah gitu dong.” Aku menjauhkan diri dari Steve dan membenarkan bathrope ku.
“Baby tolong hubungi pak Sono ya, suruh jemput sekarang aja, biar nunggu di lobby dulu.”
“Oke sayang.” Aku keluar dari kamar mandi dan bersiap-siap.
Bersambung..
__ADS_1