
Pagi ini aku bersiap-siap untuk mendaftarkan Junior sekolah, letaknya tak jauh dari rumah yang kami tempati, hanya sekitar 10menit perjalanan saja sudah akan sampai.
Setelah menyiapkan pakaian yang akan Steve gunakan, poloshirt berwarna putih dan celana kain berwarna cream, aku menyiapkan pakaian untuk aku gunakan sendiri, dress berwarna broken white dengan panjang selutut dan cardigan berwarna soft pink yang membuatku tampil lebih segar namun tetap terkesan anggun.
Aku meminta tolong pada mbak Sari untuk menyiapkan Junior, dan juga twins agar bisa ikut bersamaku dan papi nya ke sekolah. Aku ingin Junior mengenal calon sekolahnya dulu, dan sedikit beradabtasi dengan lingkungan yang baru.
Setelah bersiap-siap aku dan Steve menunggu Junior di meja makan, beserta kedua adiknya.
Aku memberikan pengertian pada Rafa dan Lea bahwa nanti saat di sekolah kakak mereka, Rafa dan Lea harus menurut pada mbak Sari dan mbak Nana yang akan mengasuh twins selama aku dan Steve mendaftarkan Junior sekolah. Karena aku takut saat aku dan Steve sedang bertemu dengan kepala sekolah Junior, twins malah bertengkar atau menangis mencariku dan Steve.
Pukul 09.00 kami berangkat bersama menuju sekolah Junior.
Sesampainya disana kami disambut dengan ramah, dikenalkan pada setiap ruangan dan ekstrakulikuler yang bisa Junior ikuti. Junior nampak antusias dengan sekolah ini, akhirnya Steve setuju untuk langsung mendaftarkan Junior di sekolah ini, membayar lunas uang masuk serta uang bulanan untuk sekolahnya yang dibayar selama 1tahun. Harganya jangan ditanya, bisa untuk membeli sebuah mobil menurutku. Bagi Steve pendidikan anak-anak adalah hal yang paling penting dan utama untuknya.
Setelah selesai dengan urusan sekolah Junior, kami melanjutkan rencana kami untuk mengajak anak-anak ke mall sekalian aku akan berbelanja keperluan dapur.
Kami menuju salah satu mall yang terbesar di kota ini. Sesampainya disana aku dan Steve bergandengan tangan dan berjalan menyusuri setiap toko yang berjajar di mall ini. Cukup banyak yang berubah setelah aku meninggalkan kota ini beberapa tahun yang lalu.
“Papi, mau itu.” Tunjuk Lea pada toko mainan yang terdapat banyak boneka disana.
“Ayo, pilih yang kamu mau sayang.” Steve beralih menggendong Lea.
__ADS_1
Sesampainya di toko yang dimaksud, Lea memilih tidak hanya 1 mainan tetapi lebih dari 5 yang dia mau, sedangkan Rafa memilih beberapa mobil-mobilan dan dinosaurus, dan Junior lebih memilih mainan menyusun kotak sehingga menjadi sebuah bangunan.
Apa pun yang anak-anaknya inginkan, Steve akan menurutinya, begitu pula denganku. Steve beberapa kali menawarkan padaku untuk membeli tas atau sepatu dan baju saat kami melewati toko-toko brand ternama, aku hanya menggeleng dan menggandengnya untuk menjauhi toko-toko tersebut. Bukan aku tak mau, hanya saja untukku semua itu terlalu berlebihan, sedangkan keseharianku hanya dirumah saja.
Setelah puas berbelanja mainan untuk anak-anak, Steve mengajak kami untuk makan siang terlebih dahulu sebelum melanjutkan belanja kami.
Setelah menghabiskan makan siang, anak-anak minta bermain disebuah play ground.
“Papi, boleh main disana?” Ijin Rafa pada papinya.
“Boleh dong sayang, kalian main disana dulu, papi mau antar mami belanja sebentar ya.” Ya, kami membeli tiket untuk anak-anak bermain di playground, di dampingi mbak Sari dan mbak Nana, sedangkan aku dan Steve akan berbelanja di lantai dasar.
Kami memasuki area supermarket dan aku mulai memilih-milih beberapa bahan untuk dapur kami, dan Steve bagian mendorong troley.
“Iya, aku tunggu disini ya.”
“Okey.” Steve berlalu pergi meninggalkan aku, sedangkan aku kembali memilih bahan-bahan dan sayuran yang lain.
Sudah sekitar 30menit Steve yang pamit hanya ke toilet sebentar, tetapi belum juga kembali, sedangkan aku sudah hampir selesai berbelanja. Aku mencoba menghubungi Steve tetapi tak juga dijawab, aku mencoba terus hingga percobaanku yang ke 3 kalinya baru berhasil.
“Ya baby? Maaf aku lama.” Suara di seberang membuat hatiku merasakan kelegaan.
__ADS_1
“Sayang kok lama? Aku sudah hampir selesai belanjanya.”
“Iya baby maaf, nanti aku ceritakan ya. Sebentar aku kesana.” Steve menutup sambungan telepon dariku.
Aku melanjutkan mengambil daging dan udang, serta cumi-cumi kesukaan Steve. Setelah menimbangnya aku mengantri di kasir.
“Baby udah selesai? Huhh huhh huhh.” Steve menghampiriku dengan nafasnya yang tersengal-sengal, dan keringat yang menetes didahinya.
“Iya nih udah tinggal bayar aja. Dari mana sih sayang? Kok lama banget?” Tanyaku sambil menghapus keringat yang mengalir didahinya.
“Maaf baby, aku tadi dari toilet dan ternyata berpapasan dengan rekan bisnis. Dan aku diajak berbincang soal bisnis sebentar, aku sudah mau nolak tapi dia memaksa, akhirnya aku iya in aja. Maaf ya cintaku.” Dengan wajah yang memelas dan nafasnya yang masih di atur sedemikian rupa.
“Iya sayang gak pa pa, sebenarnya aku sendirian pun gak masalah, asalkan kamu kasih kabar dulu gitu ke aku, kan aku khawatir.” Ya aku memang sangat mengkhawatirkan suamiku ini.
“Maafkan aku baby, janji deh gak bakal gini lagi.” Steve memelukku.
“Malu sayang.” Aku berusaha melepaskan pelukan Steve.
“Gak pa pa baby, biar mereka iri. Hehehehe” Steve membantuku meletakkan semua belanjaan diatas meja kasir.
Setelah selesai berbelanja, Steve menghubungi pak Sono untuk mengambil belanjaan kami disini, karena kami masih akan melanjutkan berbelanja yang lain dan bermain bersama anak-anak.
__ADS_1
Bersambung