Aku Lelah,Cintai Aku

Aku Lelah,Cintai Aku
Bagaimana


__ADS_3

Aku hanya mengangguk malu-malu. Sungguh walaupun ini bukan yang pertama untukku tetapi debarannya sama seperti saat pertama dulu.


Steve mulai dengan mencium keningku dan mengucapkan “I love you”, kemudian beralih mencium kedua pipi ku dan kembali mengucapkan “I love you”. Dan disambung dengan mencium bibirku sesaat dan mengucapkan “Ilove you” kembali. Dan dia melanjutkan mencium bibirku kembali.


Awalnya dia menciumku dengan posisi kami yang bersebelahan, kemudian ciuman Steve semakin liar dan menggebu. Dia beranjak ke atasku, tanpa melepaskan ciumannya.


Dari bibir ciumannya beralih keleherku, membuatku semakin membusungkan d**aku karena rasa geli yang bercampur nikmat.


Tangannya meraba d**aku yang masih tertutup bathrobe. Karena merasa berpenghalang, Steve melepas ikatan tali bathrobeku, dengan refleks aku menutupkan tanganku pada d**a dan bagian bawahku. Tapi Steve malah menarik kedua tanganku ke atas kepalaku dan menguncinya disana.


Dia melanjutkan menyelesaikan hasratnya dan tak lupa memberikan kenikmatan pula untukku. Setelah lelah menjelajahi kenikmatan duniawi itu, aku bersandar pada d**a Steve, dia merentangkan tangannya untuk memelukku dan mengusap punggungku.


“Terima kasih sudah bersedia menjadi istriku sayang.” Sambil mencium keningku.


“Terima kasih sudah menerimaku yang bukan apa-apa ini Steve.” Aku membalas ucapan Steve dan memeluknya erat.


“Steve.” Aku ingin menanyakan sesuatu yang mengganjal dipikiranku.


“Heeemm.” Jawabnya dengan mata yang terpejam.


“Jangan marah ya kalau aku tanya sesuatu.” Sungguh aku takut mengatakannya, tapi aku ingin mengawali rumah tanggaku dengan kejujuran.


“Aku tidak akan pernah marah sama kamu, selama kamu jujur dan gak aneh-aneh sayang.” Dia beralih membelai rambutku.


“Bagaimana jika aku hamil?” Aku menutup mata karena takut melihat reaksi Steve.


“Ya gak papa kan udah punya suami ini.”


“Tapi kalau bukan anak kamu gimana? Kamu sudah tahu kejadian di pesawat waktu itu Steve, aku hanya takut..” tangan Steve menutup mulutku.


“Dia tetap anakku jika memang itu yang terjadi. Semua bukan kesalahanmu, juga bukan kesalahan bayi ini, tapi itu kesalahan lelaki yang terlalu mencintaimu tetapi dengan cara yang salah.” Sungguh aku tak tahu terbuat dari apa hati Steve.

__ADS_1


“Aku takut jika memang itu terjadi, dan kamu gak bisa terima kami Steve.” Aku menangis karena takut jika semua itu benar terjadi.


“Aku tidak akan meninggalkan kalian, kamu akan selalu disisiku apapun yang terjadi, sampai Tuhan berkata waktunya aku untuk pulang.” Steve mengeratkan pelukannya dan mencium keningku. “Buanglah semua pemikiran burukmu tentang aku sayang, aku menerima kamu dengan semua baik dan burukmu. Bukalah hatimu untuk aku.” Aku mengangguk pasti. “Yuk istirahat, kamu pasti sangat lelah.”


“Iya sayang” jawabku mesra.


“Wait..” Steve sedikit mendorong badanku dan menatap aku. “Coba ulangi lagi sayang.”


“Iya sayang.” Jawabku malu-malu.


“Aaahhh I love you so much baby.” Katanya sambil menciumi seluruh wajahku.


Aku tertidur dalam pelukan Steve yang hangat. Lelaki yang sangat mencintaiku, lelaki yang selalu menghargaiku. Dengan semua kekuranganku yang dia terima.


Aku terbangun dengan gorden kamar yang telah terbuka, dan lampu kamar nampak masih mati, sedangkan lampu di atas nakas menyala. Aku meraba mencari sosok Steve yang tak aku temukan ditempat tidur. Aku mengedarkan pandangan mencari sosok Steve tetapi tidak ku temukan.


Aku menurunkan kakiku, dan membalut tubuhku dengan selimut, karena ketika aku mencari bathrobeku tak ku temukan. Saat aku sibuk membungkus tubuhku dengan selimut,


“Eh, itu mau kekamar mandi, kebelet pipis.” Dengan berjalan setengah kebingungan karena selimut yang besar dan sedikit berat.


“Ngapain bawa-bawa selimut ke kamar mandi, gak bisa jalan lagi, malah ngompol ntar.” Steve mengambil remote dan menutup gorden kamar.


“Malu tau.”


“Udah aku tutup itu gordennya, dibuka aja selimutnya dari pada malah jatoh sayang.” Steve menarik selimut yang aku pegang, dan berhasil terbuka, aku langsung berlari ke kamar mandi, dan menutup pintunya segera. Steve tertawa terbahak-bahak melihat tingkahku.


Aku tak hanya buang air kecil, tetapi juga sekalian mandi. Aku lihat di dalam kamar mandi sudah tergantung 2 bathrobe, aku tersenyum melihatnya, jadi tadi memang aku dikerjain nih sama suamiku.


Setelah selesai mandi, aku keluar menggunakan bathrobe.


“Sayang itu baju sama pakaian dalam punyamu ada di lemari itu.” Steve yang sedang terduduk di sofa dekat tempat tidur, menunjuk pada lemari di dekat pintu kamar mandi. Dia sedang berkutat dengan laptopnya.

__ADS_1


“Iya sayang.” Jawabku yang di balas dengan senyuman Steve.


“Pakai baju yang nutupin leher ya sayang, biar gak diledekin yang lainnya.” Aku mengangguk, aku sempat melihat di kaca kamar mandi tadi, mulai dari leher sampai dada penuh dengan stempel dari Steve.


“Sibuk ya?” Aku mendekati Steve, setelah aku selesai memakai pakaianku.


“Sini sayang.” Steve menepuk-nepuk pahanya, memintaku untuk duduk dipangkuannya. “Aku cuma memeriksa sedikit pekerjaan aja, boleh?”


“Boleh dong, aku turun aja ya biar kamu fokus.” Aku sudah akan beranjak dari pangkuan Steve, tetapi dia menahannya.


“Turunnya bareng aku ya, ini udah hampir selesai kok, tinggal kirim emailnya aja.” Tangan kanannya digunakan untuk mengetik pada laptop yang ada dipangkuan kaki kanannya, sedangkan tangan kirinya digunakan untuk memeluk pinggangku.


“Finish, yuk kita turun.” Menutup laptopnya, dan menaruhnya disebelahnya. “Eh, give me kiss honey.” Pintanya dengan manja. Aku menurutinya, mencium keningnya, kemudian kedua pipinya dan berakhir mencium bibirnya sekilas.


“Thank you baby.” Kami berdiri bersama-sama. Dia menggandengku keluar kamar, hingga turun menuju meja makan.


Semua sudah berkumpul di meja makan yang nampak sangat ramai. Mommy sangat menerima mbak Sari dan semua yang Steve datangkan sebagai perwakilan keluargaku dari Indonesia.


“Nah ini penganten barunya. Wuhuy kenapa tuh pake sweater nutup leher gitu sayang?” Tanya mommy dengan nada penuh menggoda, yang langsung ditimpali daddy.


“Sama seperti kita dulu sayang, kamu gak lupa kan?” Jawab daddy. Semua yang ada diruang makan tertawa terbahak-bahak, sedangkan aku hanya bisa bersembunyi di balik tubuh jangkung Steve, karena aku malu.


“Kan sudah resmi, sudah halal juga masih aja digodain, kasihan nih istriku jadi malu kan.” Steve malah seolah membenarkan dugaan mereka, ya walaupun memang benar adanya.


“Aduh, sakit baby.” Aku mencubit pinggang Steve bagian belakang.


“Sudah-sudah, ayo duduk. Kasihan tuh yang habis dikerjain Steve, pasti laper kan sayang?” Mommy masih sempat-sempatnya menggodaku.


“Mommyyy.” Jawabku manja serta malu-malu.


Bersambung..

__ADS_1


Ada yang nungguin Pov nya Bagas gak ya? Sabar ya, sebentar lagi pasti bakal dikeluarin si Bagasnya. Dia lagi semedi di Kutub Utara.


__ADS_2