
‘Akh ehm’ aku meregangkan otot-otot disekujur tubuhku, tetapi mataku tetap tak ingin terbuka, rasanya tak ingin keluar dari selimut dan kembali memeluk guling, tetapi sebuah suara mengagetkan aku,
“Good morning sayang” aku menoleh pada sumber suara
“Ha? Ini video call gak ditutup dari semalam?” Tatapku pada pria diseberang
“Aku pengen lihat kamu saat bangun tidur, cantik sekali tapi sayang ada ilernya tuh” sambil menunjuk sudut bibirnya yang membuatku ikut mengusap ujung bibirku
“Akhhh bohong, gak ada nih” kataku dengan cemberut
“Mandi sana, terus langsung bawa barang-barang ke apartemen”
“Masih ngantuk nih” sambil menutup wajahku dengan guling
“Nanti dilanjut lagi tidurnya, atau mau nunggu aku yang mandikan?” Dengan gayanya mengangkat-angkat kedua alisnya
“Emang sapi apa di mandiin” kataku menyingkirkan guling dari wajahku
“Kalau ada sapi yang cantik kayak begini, aku bakal ternakin yang banyak, biar pegawai-pegawaiku gak ada yang jomblo” dia tertawa, ku pandang wajahnya saat tertawa, aku merasa dia lebih sering tertawa sekarang “Iya aku sadar aku cakep, tapi gak usah sampe netes gitu juga dong liurnya” dia kembali tertawa ketika aku refleks mengusap ujung bibirku yang tak basah
“Dasar rese’, ya udah aku mandi dulu kalau gitu”
“Okay aku mau siapin berkas buat meeting dulu kalau gitu, see you sayang” lelaki yang sudah rapih dengan jas nya itu mengakhiri panggilan video call kami yang tersambung dari semalam
Hari ini aku berencana meninggalkan rumah mama dan pindah ke apartemen mas Arlo. Sebelum jam makan siang aku harus sudah keluar dari rumah ini, karena aku tak ingin kecolongan bertemu dengan Bagas lagi.
“Mbak Sari sudah disiapkan semua yang akan kita bawa?” Tanyaku pada mbak Sari
“Sudah non, non sarapan dulu ya sebelum kita berangkat, saya sudah masak pare tumis udang dan peyek udang non” membuatku tergoda dengan menu yang mbak Sari masak
“Wah menu special nih” ujarku yang langsung menuju dapur dan mengambil piring, kata orang pare itu pahit, tapi pahitnya pare tak sepahit perjalanan pernikahanku hahaha
“Mbak masakanmu sungguh mantap, aku malas masak kalau begini, lebih enak di masakkan mbak Sari ternyata” aku terkekeh
“Habiskan non, biar lebih berisi badannya biar keliatan segar” aku jawab dengan mengangguk-anggukkan kepalaku
Setelah selesai makan mbak Sari membersihkan semua piring kotor. Setelah beres dengan cucian piring, mbak Sari menyapu lantai. Mbak Sari mengganti pakaiannya dan kemudian mengangkat beberapa koper dan diletakkan di teras depan rumah mama, untuk nanti aku tata di dalam mobil.
Aku memasukkan semua perlekapanku yang masih tergeletak di atas meja rias, bedak, pelembab, parfum, lipglosh, sisir, dan barang-barang lainnya aku masukkan kedalam tas khusus make up. Ku pandangi sekilas kamar ku yang sebentar lagi akan menjadi kamar untuk anak-anak panti. Aku keluar kamar dan menutup pintunya, kemudian mengedarkan pandanganku kesekeliling ‘rumah ini akan ramai dengan suara anak-anak, tetapi jika aku disini maka akan ramai dengan pertengkaranku dan Bagas’ ucapku menerawang jauh.
Aku berjalan meninggalkan ruang tamu, menutup pintu utama rumah mama dan menguncinya. Kemudian membuka pintu bagian belakang mobil dan memasukkan satu persatu koper kami, aku dan mbak Sari. Mbak Sari ikut membantuku merapikan koper didalam mobil. Aku mengeluarkan mobil dari dalam garasi dan mbak Sari bertugas menutup dan mengunci pintu pagar rumah mama.
Selama di perjalanan kami yang di temani suara manis bang Duta SO7,
__ADS_1
Tuhan
Aku berjalan menyusuri malam
Setelah patah hatiku
Aku bedoa semoga saja
Ini terbaik untuknya
Dia bilang
Kau harus bisa seperti aku
Yang sudah biarlah sudah
Mudah saja bagimu
Mudah saja untukmu
Andai saja cintamu seperti cintaku
Selang waktu berjalan kau kembali datang
Tanyakan keadaanku
Kau tak berhak tanyakan hidupku
Membuatku semakin terluka
Mudah saja bagimu
Mudah saja untukmu
Coba saja lukamu seperti lukaku
Kau tak berhak tanyakan keadaanku
Kau tak berhak tanyakan keadaanku
Mudah saja bagimu
Mudah saja untukmu
__ADS_1
Andai saja cintamu seperti cintaku
Bagi sebagian orang yang telah menyebabkan seseorang terluka, meminta maaf adalah hal yang mudah, dan menganggap bahwa kata maaf saja dapat membuat semuanya menjadi baik-baik saja, tetapi tidak dengan yang terluka, bahkan kata maaf saja bisa kembali melukainya dan obat terbaik adalah meninggalkannya jauh dibelakang dan membuatnya menyesali bahwa telah menyakiti sesuatu yang berharga. Aku mengemudi dengan pikiran-pikiranku yang memenuhi otakku, hingga suara mbak Sari mengagetkanku,
“Non, bisakah kita mampir di supermarket itu?” Tanya mbak Sari sambil menunjuk sebuah supermarket dengan logo berwarna merah
“Bisa mbak, ada yang mau di beli?” Tanyaku sambil memandang spion, karena ingin berbelok ke kiri
“Mau beli beberapa bahan untuk masak aja non, sama mau beli sabun mandi dan sabun cuci pakaian yang sudah habis” terang mbak Sari
“Okey mbak, saya juga pengen beli beberapa cemilan untuk teman menggambar” kataku sumringah
Aku membelokkan mobilku ke arah supermarket itu, memarkirkannya dan kami keluar dari mobil memasuki supermarket itu. Mbak Sari mengambil troly belanjaannya dan mendorongnya menuju kranjang buah-buahan,
“Non mau buah apa?” Tanya mbak Sari sambil memilih apel
“Pear, duku, sama strowberry aja deh mbak” jawabku sambil mengedarkan pandangan, yang di jawab dengan anggukan oleh mbak Sari,
Saat tengah memilih ikan, seseorang menyapaku,
“Mbak…” sapa orang itu
“Hei” jawabku singkat dengan raut wajah terkejutku
“Mbak maafkan aku” kata wanita itu
“Untuk?” Tanyaku pura-pura tak tahu
“Untuk semua yang telah aku lakukan ke mbak dan keluarga mbak” jawabnya sambil menunduk, dan aku kembali pada aktifitasku memilih ikan
“Aku sudah memaafkanmu, semoga kamu gak ngalami yang aku alami” jawabku tanpa melihat wanita itu
“Maafkan aku membuat mbak kehilangan Bagas” katanya yang aku jawab dengan singkat
“Jalan terbaik adalah dengan meninggalkannya dan mengikhlaskannya dengan pilihannya” kataku santai “jika dia mencintaiku, dia tak akan berselingkuh denganmu, jika dia berselingkuh denganmu itu berarti dia tak benar-benar tulus mencintaiku” jawabku sambil menyerahkan pada petugas bungkusan ikan cumi-cumi yang sudah aku masukkan ke plastik untuk di timbang,
“Makasih ya mas” kataku ramah dengan senyum yang terukir pada petugas bagian timbang tersebut dan di balas dengan ucapan terima kasih.
Aku berlalu meninggalkan rak tempat ikan dan menuju rak tempat daging, tetapi wanita itu masih terus saja mengekoriku,
“Apa lagi yang kamu inginkan dariku?” Tanyaku dengan nada kurang suka
“Mas Bagas semalam gak pulang menemuiku mbak” jawabnya sedih
__ADS_1
“Itu bukan lagi urusanku” jawabku acuh “Owh iya semalam dia memaksa untuk menemuiku dirumah orang tuaku, bahkan dia berusaha memelukku, tapi sayang sekali aku tak mau menanggapinya dan aku usir dia dari rumah orang tuaku, dan setelahnya aku tak tahu dia kemana, eh tapi dia sempat bilang sih kalau hari ini sepulang dia kerja dia mau mampir lagi kerumah orang tuaku” jelasku dengan senyum sinis yang tersungging di bibirku, berlalu meninggalkan wanita yang tengah hamil itu mematung seorang diri disana.
Bersambung….