Aku Lelah,Cintai Aku

Aku Lelah,Cintai Aku
Mengapa Aku


__ADS_3

Aku kembali ke kamar mama dan melihat mbak Sari sedang membalikkan tubuh mama yang sudah sedikit kaku. Wajah mama yang pucat dengan bibir yang dihiasi senyuman membuat aku menangis dan memeluk mama.


30 menit berlalu dan mbak Sari membukakan pintu seseorang yang ternyata dokter. Dokter dipersilahkan masuk kekamar mama di antar mbak Sari,


“Permisi mbak” sapa dokter itu sopan


“Dokter tolong mama saya” kataku sambil menangis, dan berusaha meyakini bahwa mamaku baik-baik saja.


“Saya chek dulu ya mbak” kata dokter yang mendekat ke arah mama, mulai mengechek nadi mama, leher mama, mata mama, kemudian dokter tersebut menghembuskan nafas berat


“Maafkan saya tidak bisa menolong, mamanya sudah meninggal sekitar tiga jam yang lalu mbak” kata-kata dokter bagai hantaman dikepala dan hatiku, mengapa aku lagi yang harus kehilangan


“Mamaaaaaaaa” aku berteriak ingin memeluk mamaku, tetapi ada yang menarik tanganku dan mendekap erat tubuhku


“Ikhlaskan sayang, jangan memberatkan jalannya” kata suara yang sudah sangat aku kenal belakangan ini suara itu yang menghiasi hari-hariku


“Aku sudah gak punya sapa-sapa lagi mas, Vano, papa, sekarang mama” aku menengadahkan kepalaku menatap wajah itu, tangannya beralih menghapus air mataku yang terus mengalir, kemudian kembali memelukku mencium keningku. Aku semakin membenamkan wajahku pada dadanya, tanganku memeluknya karena aku merasakan hancurnya hatiku kehilangan orang-orang yang aku sayangi dalam waktu yang berdekatan, seakan semesta tak berpihak padaku.


Setelah dokter menuliskan surat pernyataan meninggal dunia, mas Arlo mengurus pemakaman dengan terlebih dahulu melaporkan pada RT dan RW, kemudian beberapa tetangga mulai berdatangan, ketika mama sudah selesai di mandikan dan di kafani.


Mama di makamkan di sebelah Papa dan Vano, aku hanya mampu diam dengan air mata terus mengalir. Mbak Sari memeluk pundakku karena mas Arlo berdiri di belakangku, dia tak ingin tetangga membicarakanku jika dia yang memelukku karena tetangga tahu siapa suamiku. Cukup tetangga berbisik-bisik karena tidak melihat Bagas di pemakaman mama, tak perlu tetangga mengetahui kehancuran rumah tanggaku.


Setelah pemakaman usai, kami kembali ke rumah mama. Aku duduk disofa ruang tamu diam dan melamunkan keadaanku, Vano meninggalkanku, Bagas meninggalkanku dengan wanita lain, papa meninggalkanku, dan mama ikut meninggalkanku, aku tak sanggup hidup seorang diri.


Aku berjalan ke dapur dengan pandangan kosong, mengambil pisau dan hendak meyayat nadiku, tetapi dia merampas pisau itu dan membuangnya asal, dengan wajah kesal dia memarahiku


“Jangan gila kamu Rhey, kamu kira orang tua mu dan Vano akan bahagia melihat tindakan bodohmu itu?” Marahnya padaku


“Aku gak punya siapa-siapa lagi, semua ninggalin aku” dengan tangis yang kembali pecah, dia kembali memelukku


“Ada Sari, ada aku, kami masih disini untuk kamu, kamu gak sendiri” suaranya yang kembali lembut dan tangannya yang kembali membelai kepalaku


“Tapi kamu bukan milikku, kamu akan kembali pada istrimu mas” kataku menangis dengan tersedu


“Aku akan ada saat kamu membutuhkanku kapanpun” katanya meyakinkanku, aku hanya terus menangis hingga aku lemas terjatuh tak sadarkan diri.

__ADS_1


Ketika aku membuka mata dan mengedarkan pandanganku kesekelilingku, aku mendapati sosok itu duduk dikursi yang diletakkan di samping tempat tidurku, dengan kepala yang di letakkan di atas tempat tidur dan tangannya menggenggam erat tanganku, ‘kenapa dia ya Allah, kenapa dia yang harus ada disisiku, dia yang tak akan bisa aku miliki’, kataku dalam hati.


Ketika aku akan melepaskan genggaman tangannya perlahan, itu malah membuatnya terbangun


“Lho sudah bangun sayang, maaf aku ketiduran” katanya sambil mengucek matanya


“Mas gak kerja?” Tanyaku mengingat ini adalah weekdays


“Gampang masalah kerjaan kan aku yang punya” katanya tersenyum “makan yuk, udah siang kamu kan belum makan dari pagi”


“Aku gak laper mas” kataku sedih


“Harus makan, kamu harus kuat demi orag tuamu dan Vano” katanya mengingatkan


Aku kembali hanya menitikkan air mata. Di hapusnya air mataku perlahan,


“Tak ada yang salah dengan menangis, bahkan kamu harus menangis jika kamu merasa tak mampu menahannya di dadamu, tetapi menangis pun kamu membutuhkan tenaga, dan tenaga itu kamu dapat dari makan, makanlah dulu setelah itu lanjutkan lagi menangismu, aku akan ada disini selama kamu menangis”


“Gak mungkin mas, kamu harus pulang kasian mbak Lila dan anak-anak”


“Kamu berbohong mas! Kamu membohongi istrimu” kataku tak suka


“Kamu lebih membutuhkan aku dibanding dia saat ini”


Mbak Sari masuk ke kamar membawakan nampan yang berisi sepiring nasi dengan lauk udang goreng tepung,


“Permisi den, saya bawakan makan untuk non Rheyna” kata mbak Sari sopan


“Iya Sari bawa sini biar saya yang suapi” katanya pada mbak Sari


“Ini den, saya tinggal bersih-bersih dulu den” setelah menyerahkan nampan pada mas Arlo, mbak Sari keluar lagi dari kamarku


“Ayo sayang makan dulu” katanya sambil menyodorkan sesuap nasi


“Aku makan sendiri aja, aku bukan anak kecil” kataku mengambil alih sendok itu

__ADS_1


“Gitu dong pinter, aku tunggu disini sampai makanan itu habis”


“Tapi ini terlalu banyak mas, makanku gak sebanyak ini”


“Ya udah kalau gak habis nanti aku yang habisin, yang penting kamu makan aja dulu” katanya sambil membelai rambutku


“Mas boleh minta tolong?” Tanyaku disela-sela kegiatan makanku


“Apa aja buat kamu pasti aku tolongin” gombalnya mulai


“Dulu papa dan mama pernah berpesan padaku, jika mereka tiada maka mereka ingin rumah ini dijadikan panti asuhan”


“Wah keren itu, terus apa yang perlu aku bantu?”


“Kata mereka di derah Jombang ada panti asuhan yang sangat terpencil yang butuh tempat, dan mereka ingin memindahkan panti asuhan itu disini, bisa kah mas membantu pemindahan mereka?” Kataku menjelaskan keinginan almarhum orang tuaku


“Bisa banget kalau cuma itu, nanti biar aku suruh anak buahku untuk mengurusnya, tapi kalau ini di jadikan panti asuhan lantas kamu akan tinggal dimana?”


“Aku berencana untuk menjual mobilku mas, uangnya aku gunakan untuk mengontrak rumah yang lebih kecil bersama mbak Sari” kataku menjelaskan rencanaku


“Tinggal di apartemenku aja ya, dari pada kamu harus jual mobilmu juga” katanya memberikan penawaran


“Jangan mas, aku sudah terlalu banyak ngerepotin mas Arlo” kataku sungkan


“Aku malah senang bisa bantuin kamu, aku gak mau kamu susah selama ada aku” katanya perhatian


“Tapi mas…” aku hendak menyela ketika tangannya menarik piring yang aku genggam


“Nah kan sebenernya laper kan, nih sepiring abis sendiri” katanya tersenyum sambil mencolek hidungku


“Eh iya kok aku habisin ya” kataku kembali malu


“Pindah apartemenku aja ya, biar aku bisa sering datang, kalau disini atau di rumah kontrakan aku gak enak datang setiap hari, nanti kamu yang jadi bahan perbincangan tetangga”


“Aku pikirkan dulu ya mas, aku juga harus bicarain ini sama mbak Sari dulu” kataku sambil meminum air yang mas Arlo sodorkan.

__ADS_1


Bersambung……


__ADS_2