Aku Lelah,Cintai Aku

Aku Lelah,Cintai Aku
Tak Perlu Kembali


__ADS_3

“Rheyna…Rhey…. Dimana kamu? Ayo keluar sini” suara teriakan seseorang mengagetkan aku dan mas Arlo, reflek aku menyuruh mas Arlo diam dengan memberi kode jari telunjuk di bibirku


“Jangan ditutup sambungan teleponnya” kata mas Arlo sambil berbisik yang aku jawab dengan anggukan kepalaku.


Aku berjalan kearah pintu dan mencoba meyakinkan diriku dengan suara itu.


“Den jangan teriak-teriak, non Rheyna sedang istirahat, gak enak juga didengar tetangga” aku dengar suara mbak Sari mencegah orang itu untuk berteriak-teriak


“Kamu yang membuat aku berteriak, kamu yang melarang aku menemui istriku, kamu hanya pembantu jangan melebihi batasanmu” katanya membentak mbak Sari. Ya dia Bagas yang datang kerumah mama dengan marah-marah karena mbak Sari melarangnya untuk bertemu dengan ku dengan alasan aku sedang istirahat


“Mbak Sari adalah saudaraku” aku membuka pintu dan keluar dari kamarku “untuk apa kamu bertamu dengan berteriak? Jika tuan rumah saja tak mempersilahkan kamu untuk masuk” kataku sinis


“Rhey kamu apa-apaan sih” marahnya padaku “Aku mendapat surat gugatan perceraian dari pengadilan agama” sambil menyodorkan surat itu padaku. Aku tak memperdulikannya dan berlalu menuju ruang tamu dan duduk di sofa, dia menyusulku disana


“Kamu mau bercerai dari aku Rhey?” Tanyanya tak yakin


“Ya seperti yang kamu lihat” aku tersenyum sinis


“Aku gak mau Rhey, aku gak akan menceraikan kamu” jawabnya memaksa


“Ya itu sih urusanmu ya, aku gak perduli sekalipun kamu gak mau” kataku acuh sambil melihat ponsel yang aku genggam, ada senyumnya disana, meskipun suaranya dibisukan, hanya dia yang bisa mendengar suaraku disini


“Aku mau kita kembali Rhey” katanya melemah


“Aku gak mau kembali sama kamu” acuhku “sudah cukup waktu beberapa tahun yang aku sia-siakan untuk menunggumu berubah, ternyata sama saja” kataku dingin


“Maafkan khilafku Rhey”


“Aku akan memaafkanmu tapi aku tidak akan kembali” kataku santai


Dia mendekatiku dan mencoba memelukku,


“Jaga sikapmu gas, aku gak mau tetangga memandangku tak baik” aku mendorong tubuhnya


“Tapi aku masih suamimu Rhey” bantahnya


“Suami?” Tanyaku sinis “Suami yang menghamili wanita lain?” Aku tertawa sinis “Suami yang bahkan saat putranya meninggal dia sedang bermesraan dengan wanita lain? Suami yang saat papa mertuanya meninggal dia gak tau? Suami yang saat mama mertuanya meninggal dia juga gak tau?” Aku tertawa terbahak untuk menyembunyikan rasa sakitku


“Apa Rhey? Papa mama meninggal?” Tanyanya terkejut


“Iya aku yatim piatu, pasti kamu terkejut kan?” Jawabku santai


“Maafkan aku Rhey, kenapa kamu gak kasi tau aku? Kamu bahkan memblokir semua kontakku” katanya memprotes tindakanku


“Untuk apa memberitahumu? Jika saat anakku meregang nyawa pun ratusan kali aku menghubungi tak ada satu pun yang kamu respon” sinisku “kamu terlalu sibuk mengurus wanita simpananmu gas” aku tertawa terbahak

__ADS_1


“Kamu memiliki lelaki lain Rhey?” Tanyanya penuh selidik saat dia melihat aku beberapa kali tersenyum saat menatap ponselku


“Owh tentu saja, aku wanita single beberapa saat lagi, tentu aku harus membuka diri untuk lelaki lain yang lebih menyayangiku dan memahami betapa berharganya aku” jawabku dengan tersenyum memandang layar ponselku, disana mas Arlo sedang tersenyum dan memonyongkan bibirnya seolah ingin menciumku


“Pulanglah jika tak ada yang ingin kamu bicarakan lagi gas, aku ingin istirahat” jawabku malas


“Tapi Rhey…” bantahnya yang langsung aku potong


“Aku lelah Bagas, beberapa hari tidurku tak baik” aku seperti memohon dia pergi dari rumahku


“Baiklah Rhey, kamu istirahatlah besok aku akan kemari sepulang kantor” aku tak menjawab rencananya, aku hanya diam dan berlalu meninggalkannya di ruang tamu,


“Mbak Sari tolong tutup pagar dan ruang tamunya ya, supaya gak ada lagi penyusup” ucapku sarkas dan kemudian berlalu masuk ke kamarku dan menguncinya.


“Sudah pulang bocah tengik itu?” Tanya suara diseberang yang mengagetkanku


“Eh iya sudah mas” jawabku kaget


“Kamu gak pa pa sayang?” Tanyanya mesra


“Aku baik-baik saja” jawabku sengau menirukan suara Pinkan Mambo, yang dijawab dengan gelak tawanya,


“Sementara pindah apartemenku dulu aja ya? Biar rumah itu orang-orangku yang urus, sekalian biar dibersihkan juga”


“Aku mau cari rumah kontrakan dulu mas” kataku menolak halus


“Ya gak lah mas, malah besok pagi rencananya aku sudah pergi dari rumah ini” jawabku capat


“Nah kamu ke apartemen aja dulu deh, nanti aku bantu cari kontrakan” dia mulai memaksa lagi


“Mas aku sudah terlalu banyak merepotkanmu, aku ingin berusaha sediri saat ini” tolakku


“Berusahalah tapi tidak saat mendesak gini dong sayang, plis dengerin aku kali ini” dengan wajah yang memelas dia setengah memohon


“Tapi aku punya syarat mas” aku mengajukan syarat


“Apa itu?” Dengan wajah yang penasaran


“Jangan membantuku jika aku mulai mencari pekerjaan” dengan wajah yang serius aku menatapnya


“Deal sayang” dengan mengerlingkan salah satu matanya


“Genit banget sih” dengan bibir yang sedikit aku monyongkan


“Jangan godain aku dengan bibirmu itu” aku terbahak mendengar kata-katanya

__ADS_1


“Imanmu sungguh diragukan” aku dengan tawaku mengatainya


“Ow iya sayang besok orang yang akan mengurus pemindahan panti asuhan akan berangkat ke Jombang”


“Makasih ya mas” ucapku tulus


“Jangan terima kasih sekarang, kan belum selesai semua, berkas perceraianmu juga belum selesai” dengan senyum dia menjawabku


“Ya ntar kan tinggal bilang terima kasih lagi hehehe” jawabku enteng


“Kalau Bagas gak mau pisah dan minta kembali gimana?” Tanyanya kembali serius


“Tak perlu kembali, aku bukan tempatnya kembali” jawabku dengan tersenyum


“Tuh kan senyum-senyum godain aku lagi” dia mengalihkan pembicaraan


“Hanya dengan melihat senyumku saja kamu tergoda mas? Ah sungguh mudah sekali menggodamu, sudah punya berapa simpanan mas? Hahaha”


“Aku tak suka menyimpan wanita sayang, kamu bisa tanya ke orang-orang yang mengenalku bahkan tanyakan pada pak Aman siapa wanita yang aku temui, selain Lila, Ibuku, pak Aman saja tau bagaimana perasaanku padamu, karena aku tak pernah ramah ataupun dekat dengan wanita selain Lila”


“Kenapa aku mas?”


“Karena kamu yang menggetarkan hatiku hanya dengan melihat senyumanmu, tanpa mengenalmu ingin memilikimu” kata-katanya membuatku tersipu


“Kamu ingin bekerja dimana?”


“Aku ingin mulai menggambar lagi, mencoba memasukkan hasil gambarku ke beberapa percetakan dan mengiklankan jasa pembuatan gambar ilustrasi” jelasku


“Peralatan apa yang kamu butuhkan untuk menggambar itu?”


“Aku mungkin akan membeli tablet atau sejenisnya untuk mediaku menggambar, tapi nanti setelah masalah perceraianku dan urusan pemindahan panti asuhan selesai, serta aku sudah mendapatkan rumah kontrakan”


Tak terasa berbincang dengannya cukup lama, hingga pukul 12 malam kami masih mengobrol dan ponselku minta di beri asupan batrai,


“Mas masih mau lanjutkan video call ini?” Tanyaku saat memasukkan kabel pengisi daya pada ponselku


“Iya sampai kamu tertidur, biarkan video call ini menyala, kamu letakkan di samping tempat tidurmu, aku ingin menemanimu tidur” pintanya


“Okay kalau gitu aku tidur ya mas” pamitku


“Tidurlah sayang, anggap aku disisimu sedang memelukmu”


“Mulai ngadi-ngadi deh, good night mas genit”


“Good night sayangku”

__ADS_1


Dengan sambungan video call yang masih dibiarkan menyala, dan dari suara diseberang aku mendengarkan instrumen musik klasik membuat aku cepat terlelap.


Bersambung……..


__ADS_2