
Setelah puas memandangi matahari terbit, dan matahari pun nampak sepenuhnya, Steve mengajakku beranjak dari tempat ini.
Kami kembali menaiki Hardtop, dan menuju padang savana. Padang rumput yang terhampar bak permadani, orang-orang biasa menyebut tempat ini sebagai 'Bukit Teletubies'. Mengapa 'Bukit Teletubies'? Karena rumput yang tumbuh disana nampak mirip seperti rumah Teletubies yang ada di acara anak-anak.
Bukit Teletubies yang ada di Bromo
Teletubies dan rumah Teletubies
Warna yang hijau menyegarkan mata yang memandangnya. Dengan hamparan rumput dan udaran dingin yang menyegarkan, 'lantas nikmat mana lagi yang kau dustakan?' Aku menggumam pada diriku sendiri.
"Bagus nih pemandangannya!" Steve mengedarkan pandangan pada hamparan rumput yang ada dihadapan kami.
"Hu'um... Sini ponselmu biar aku fotokan kamu Steve" aku menyodorkan tangan didepan Steve.
"Nih" Steve mengambil ponsel dari sakunya dan memberikannya padaku.
"Istrimu cantik Steve" aku melihat foto seorang wanita bule yang sangat cantik, yang menjadi background layar ponsel Steve.
"Hahahaha dia memang sangat cantik, dialah cinta pertamaku" entah apa yang Steve tertawakan.
"Yuk kamu berdiri disitu Steve. Satu...Dua...Ti..ga" aku memberikan aba-aba pada Steve "Sekali lagi Steve, senyumlah Steve" aku kembali memotret Steve.
"Udah ah, sini gantian aku yang fotoin kamu" Steve meminta ponselnya.
"Gak usah Steve, aku sedang malas berfoto" aku memberikan ponsel itu dan berlalu menjauh dari Steve.
"Hey, what's going on?" Steve mensejajari jalanku.
"Nothing" jawabku singkat dan berhenti di tempat yang tak banyak pengunjung. Aku merentangkan tanganku, menutup mataku, menghirup udara yang segar dalam-dalam, kemudian aku memutar tubuhku, membayangkan aku sedang terbang.
Setelah lelah berputar aku berlutut dengan tangan yang ikut terjatuh menopang tubuhku, "Vanooo mama merindukanmu, hikss.. hikss.. pa.. ma.. kenapa tinggalin Rheyna sediri?" aku menangis merindukan mereka, aku teringat mimpiku saat mama meninggalkanku.
"Menangislah, jika perlu berteriaklah untuk meredakan rasa sakitmu." seseorang berdiri dibelakangku.
Aku masih terus menangis. Ternyata aku masih terluka kehilangan mereka, aku masih tetap merasa kehilangan dan masih tetap merasa sendiri.
"Maafkan aku Steve" aku berkata lirih dan menghapus air mataku.
__ADS_1
"Untuk apa?" Steve menatapku heran.
"Karena merepotkanmu. Sampaikan permintaan maafku pada istrimu" aku masih tertunduk.
"Tak ada yang direpotkan, dan tak ada yang perlu dimaafkan. Semua sudah ada yang mengatur Rhey, percayalah akan ada sesuatu yang indah menantimu."
"Kamu tak tahu rasanya Steve, di khianati, di tinggalkan oleh orang-orang yang dicintai dalam waktu yang berdekatan. Seorang diri aku harus menerima rasa sakitnya, sekuat tenaga aku berupaya mengalihkan pikiranku, tetapi semua itu kembali menyesakkan dadaku." aku berbicara dengan menggebu-gebu, seolah aku meluapkan rasa kecewaku.
"aku memang tak pernah ada diposisimu, aku hanya pernah merasakan di khianati. Tetapi yang aku tahu pasti, Tuhan memberikan setiap cobaan bukan tanpa sebab, dan pasti semua itu ada jawabannya Rhey. Tunggulah, dan bersabarlah karena hari esok akan jauh lebih baik." jawabnya sembari membelai punggungku.
Aku tak menjawab Steve lagi, aku diam dan memikirkan semua kata-kata Steve. Disudut hatiku aku berharap, semoga semua yang Steve katakan bisa menjadi nyata.
Aku berdiri dari sujudku, menghapus sisa-sisa air mataku.
“Apa kamu masih mau disini Steve?” Aku tersenyum pada Steve yang menatapku aneh.
“Sudah selesai?” Steve balik bertanya, aku menjawab dengan anggukan kepala.
“Ya udah ayok lah. Kamu mau ke padang pasir atau mau balik ke mobil aja?” Steve berdiri disampingku.
“Ke mobil aja ya Steve, aku lelah” aku berjalan perlahan
“Okay baiklah” aku dan Steve berjalan menuju tempat hardtop diparkir.
Kami menuju tempat mobil Steve di parkirkan. Hanya deru mesin yang terdengar, aku diam dan hanya memandang keluar jendela saja.
“Iya lumayan pak, ngantuk pak tidur hanya dua jam aja” Steve sedikit berbincang dengan senyumnya yang menawan.
“Didekat sini banyak penginapan mister, siapa tau mau istirahat sebentar. Tapi yaaa bukan hotel mewah gitu mister” driver tadi menawarkan penginapan.
“Tidak pak, terima kasih. Istri saya lebih nyaman tidur dirumah” tolak Steve ramah, sedangkan aku hanya diam saja tak memperdulikan pembicaraan mereka.
“Memang benar mister, tempat ternyaman adalah rumah. Apa lagi kalau pas pulang disambut sama istri dan anak-anak, aduhhh rasanya pegel dibadan hilang sudah” jawab bapak itu dengan antusias.
Steve hanya tersenyum saja dan menoleh ke arahku, tetapi aku masih tak memperdulikannya.
Kami sampai di tempat pemberhentian mobil, tempat Steve memarkirkan mobilnya.
“Terima kasih ya pak” aku tersenyum pada driver itu, dan berdiri disamping Steve. Saat turun dari hardtop tadi, Steve membantuku memegang tanganku agar tak jatuh, karena hardtop yang lumayan tinggi.
“Sama-sama mbak” jawab bapak itu ramah.
“Makasih pak” Steve dengan senyumannya dan tangannya terulur untuk menyalami bapak itu.
“Lho mister tadi kan sudah bayar” bapak itu terkejut, karena Steve memberikannya uang.
“Rejeki buat bapak” kata Steve santai.
__ADS_1
“Terima kasih, terima kasih mister. Nanti kalau ke Bromo lagi tinggal hubungi saya aja mister” bapak itu terlihat sangat bagahia.
“Sama-sama pak” Steve memang orang yang ramah pada siapa pun dia ramah, tak membedakan kaya atau miskin.
“Ready go home?” Steve memandangku, dan aku mengangguk.
Aku melepas jaket Steve,
“Biar aku cuci dulu ya Steve jaketmu, nanti aku kembalikan waktu laptopku selesai.” Aku sembari melipat jaket Steve yang tadi ku pakai.
“Iya kamu bawa aja dulu, sebenarnya gak perlu dicuci gak masalah Rhey” Steve menstater mobilnya dan mulai menjalankan nya perlahan.
“Jangan, nanti istrimu curiga jika dia yang mencucinya”
“Hahaha” Steve tertawa, dan tiba-tiba menghentikan mobilnya.
Wajahnya nampak serius, dengan tubuh yang dicondongkan ke arahku, semakin mendekat, aku hanya terpaku seperti manekin baju, dengan menahan nafas, wajahnya semakin mendekat.
“Ini dipasang dulu dong, biar gak bunyi” dengan menarik tali yang menempel pada dinding mobil, kemudian menekannya pada kotak penghubungnya sampai terdengar bunyi ‘cklik’
Aku akhirnya bernafas dengan lega,
“Hehehe iya maaf aku lupa” aku menggaruk tengkukku yang tak gatal, untuk menghalau rasa malu dan gugupku.
“Apa yang kau pikirkan hemm?” Dengan senyum jahil dan menggodanya dia bertanya.
“A..Aku tak memikirkan apapun” jawabku gugup.
“Mau aku wujudkan pemikiranmu?” Dengan memajukan wajah dan tubuhnya ke arahku.
“Ti… Tidak” aku memundurkan tubuhku hingga membentur pintu mobil, dan menutup mulutku.
“Sudah ku duga apa yang kamu pikirkan, hahahaha” dengan tawanya yang menggelegar, karena dia melihatku menutup mulutku.
Aku mengumpat diriku sendiri ‘Sialan, kenapa juga nih tangan pake nutup mulut. Duh dia jadi tahu kan apa yang aku pikirkan.’
“Apa’an sih, ayo buruan balik. Banyak hal yang harus aku kerjakan nih” kataku sewot untuk menutup rasa maluku.
“Siap Boss” jawabnya masih dengan tawa yang tersisa.
Bersambung..
...Boleh dong bagi Votenya,...
...bagi like, atau gift juga boleh 🤭...
...Lope Yu Pull Gaes 🥰...
__ADS_1