
Harinya telah tiba, saat dimana aku dan anak-anak harus berpisah dengan mommy dan daddy.
“Mom..” Aku memeluk mommy, seakan tidak ingin berpisah.
“Jangan bersedih sayang, kita hanya terpisahkan oleh jarak, dan masih bisa saling mengunjungi.” Mommy membalas pelukanku dan mengusap punggungku.
“Aku takut anak-anak gak betah disana mom, mereka terbiasa bermain bersama oma dan opa nya.” Aku memberikan alasan.
“Mereka hanya butuh waktu untuk belajar sayang, nanti juga mereka akan terbiasa seperti Steve dulu.” Aku hanya mengangguk-angguk saja.
“Sudah yuk sedih-sedihnya, nanti ketinggalan pesawat low kalian.” Daddy mengingatkan kami untuk segera berangkat.
“Kami pamit mom, dad.” Steve mengawali untuk berpamitan, kemudian disusul anak-anak dan mbak Sari.
Anak-anak tidak mengetahui bahwa mereka akan menetap di Indonesia, mereka hanya tau jika mereka akan berlibur ke Indonesia, alasan itulah yang Steve berikan pada ke 3 anak kami.
Setelah semua selesai berpamitan, kami langsung menuju ke Bandara. Twin sangat lengket sama papinya, didalam mobil pun mereka meminta duduk bersebelahan dengan papinya. Sedangkan didalam pesawat, Junior mengalah dengan bangku yang bersebelahan dengan mbak Sari, sedangkan aku dengan Rafa, dan Lea tak mau berpisah dengan papinya.
Perjalanan kami tergolong lancar, hanya sedikit kendala karena membawa balita yang pasti akan bosan berada didalam pesawat belasan jam. Hanya sedikit tertolong dengan beberapa Mainan yang kami bawa dari Jerman, dan selebihnya mereka akan menonton film kartun saja.
***
Sesampainya kami di Indonesia, pak Sono sudah setia menanti kami. Pak Sono dan seorang supir lagi yang mobilnya akan diisi semua koper bawaan kami yang berjumlah sekitar 8 koper, tidak akan cukup jika dibawa jadi 1 dengan mobil kami.
“Lho kita kemana pak?” Aku bertanya pada pak Sono yang baru saja melewati rumah kami.
“Mau pulang dong baby.” Jawab Steve, yang dibalas dengan anggukan pak Sono dan tersenyum penuh arti.
__ADS_1
“Tapi kan rumahnya sudah kelewatan sayang.” Aku sambil menolh ke arah belakang.
“Rumah siapa?” Steve malah balik bertanya.
“Itu kan rumah kita.” Aku menunjuk pada rumah yang berlalu cukup jauh.
“Owh itu rumah pak Sono baby.”
“Ha? Terus kita tinggal dimana?”
“Ya dirumah kita dong.” Steve selalu bisa membuat aku terkejut, dengan keputusan-keputusannya yang kadang buat aku sangat terkejut.
Aku hanya diam saja menunggu pak Sono menghentikan mobil yang kai tumpangi, karena pasti ada saja yang akan Steve berikan tanpa sepengetahuanku.
Pak Sono membunyikan klakson didepan pagar yang menjulang tinggi. Pagar terbuka secara otomatis, dan mobil kembali melaju menuju teras depan pintu masuk rumah.
“Rumah kita baby. Ayo turun.” Steve membuka pintu mobil, dan menggendong Lea.
“Kenapa kita pindah kesini?” Aku masih tak habis pikir kenapa Steve memilih rumah yang sangat besar ini.
“Ya karena anak-anak butuh ruang yang lebih luas untuk berkembang baby.”
“Tapi, gimana caranya aku dan mbak Sari bersihkan rumah sebesar ini?”
“Hahahaha, siapa yang suruh kamu bersihkan rumah sih baby? Tugasmu hanya disisku dan anak-anak aja. Yang lainnya biar pelayan yang tangani semuanya.” Kami masih berdiri didepan pintu rumah yang sangat besar ini.
Pintu terbuka, dan tampaklah ke 4 orang pelayan rumah ini. Mereka tersenyum dan menundukkan kepala.
__ADS_1
“Ini tuan Steve dan istrinya, nyonya Rheyna. Dan ini ke tiga anaknya, Junior, Rafa dan Lea.” Pak Sono memperkenalkan kami pada ke 4 pelayan dirumah ini.
“Selamat datang tuan dan nyonya, perkenalkan saya Fitri, ini Siti, yang ini Nana, dan yang ini Ina.” Seorang pelayan yang lebih tua memperkenalkan diri dan ke 3 rekannya.
“Terima kasih.” Hanya itu yang bisa aku jawab.
“Ayo baby kita istirahat dulu, kamu pasti capek.” Steve menggandeng tanganku, menuju kamar utama yang sangat besar.
“Mbak Sari, tolong bawa anak-anak kekamarnya ya. Mbok Fitri, tolong antar mbak Sari ke kamar anak-anak, sekalian bantu dia mengurus anak-anak ya, saya sama nyonya mau istirahat sebentar, saya lelah.” Steve memerintahkan mereka untuk mengurus anak-anak.
“Sayang, tumben kamu keliatan capek banget?” Aku yang melihat Steve belakangan ini seperti sering kelelahan.
“Iya baby, karena pemindahan kantor pusat yang bikin tenaga dan pikiranku terkuras. Belum lagi twin yang manja banget.” Kami sudah masuk kamar utama yang sangat luas, dengan tempat tidur yang besar, TV yang juga sangat besar, ada sofa besar pula.
“Gak mandi dulu sayang? Aku siapkan air hangatnya ya?” Aku melihat Steve hanya melepas sepatu dan jaketnya saja, kemudian dia membaringkan tubuhya di kasur.
“Gak usah baby, kamu aja yang berendam air hangat supaya capeknya hilang. Aku tidur sebentar ya.”
“Ya udah kalau gitu sayang.” Aku membuka pintu kamar mandi, ada ruang khusus untuk lemari baju dan meja untuk berdandan. Semua keperluanku sudah tersedia disana, Steve benar-benar suami yang penuh perhatian, bahkan hal kecil pun akan dia perhatikan jika itu menyangkut istri dan anak-anaknya.
Aku menyalakan air hangat dan mengisi bathup, kemudian meneteskan beberapa tetes aroma agar rilex. Berendam sebentar di air hangat memang sangat menenangkan. Setelah selesai membersihkan diri, aku berganti menggunakan daster batik yang sudah disiapkan didalam lemari.
Aku melihat Steve yang sudah tertidur lelap, dan belum mengganti pakaiannya. Aku kembali ke ruang ganti baju, dan mengambil baju ganti untuk Steve. Aku menggantikan baju dan celana Steve, dia hanya terbangun sebentar kemudian tertidur lagi, setelah mengucapkan terima kasih dan tersenyum padaku.
Aku menatap Steve, ku pandangi dengan teliti setiap sudut wajahnya, ada yang berubah disana. Wajahnya nampak lelah, walaupun senyuman tak pernah hilang dari bibirnya. Dia nampak lebih kurus dari sebelumnya. ‘Sayang, terima kasih sudah bekerja keras untukku dan anak-anak, terima kasih sudah selalu mencintaiku.’ Aku berbicara dalam hatiku karena tak ingin mengganggu tidur Steve. Aku membelai wajah Steve, dan tanganku ditariknya, dilingkarkan didadanya “I love you baby.” Kata Steve dengan mata yang masih terpejam. “Love you too sayang.” Jawabku dan menyandarkan kepalaku di ceruk lehernya.
Biasanya kalau posisiku seperti ini, pasti Steve langsung mengajakku berolah raga tanpa ampun, tapi aku baru ingat kalau sudah sekitar 1bulan ini, bahkan Steve tak meminta aku layani. Aku baru ingat, karena selama ini aku terlalu lelah dengan anak-anak, hingga saat menjelang tidur pun kami hanya berbicara tentag pekerjaan Steve dan kegiatan anak-anak saja. Mungkin itu pula alasan Steve memberikan beberapa asisten dirumah ini, agar aku tak terlalu lelah mengurus semuanya. Aku pun tertidur disisi Steve dan memeluknya.
__ADS_1
Bersambung..