Aku Lelah,Cintai Aku

Aku Lelah,Cintai Aku
Aku Mau


__ADS_3

Setelah terbang selama kurang lebih 15jam 45menit, akhirnya pesawat mendarat di bandara Berlin Tempelhof.


Aku dan Steve berjalan bergandengan tangan. Mas Arlo berjalan tak jauh dari kami, dengan pandangan datar yang susah untuk di artikan.


2 orang pria berpawakan tinggi besar dengan menggunakan setelan jas berwarna hitam, telah siap menunggu di pintu keluar.


“willkommen, Sir” pria itu menyapa Steve, dan mengambil alih troli yang berisi koperku dan Steve.


“Danke” jawab Steve sambil berlalu menuju mobil.


Steve membukakan pintu mobil untukku, sedangkan Steve sendiri dibukakan oleh pengawal. Setelah koper-koper kami masuk semua kedalam bagasi mobil, dengan perlahan mobil melaju meninggalkan bandara dan mas Arlo.


“Apa yang Arlo lakukan padamu?” Dengan wajah datar dan dingin Steve bertanya padaku.


“Siapa itu Arlo?” Aku tak lagi ingin mengenalnya.


“Katakan padaku, atau kamu lebih suka aku mencari tau semuanya sendiri?” Steve menatap mataku.


“Ayo lah Steve.” Aku memalingkan wajahku dari Steve.


Steve menutup pembatas antara kursi kemudi dan penumpang, seolah kami sedang membicarakan sesuatu yang rahasia, sehingga tidak ada seorang pun boleh tau.


“Baiklah aku akan mencari tau sendiri, jika ini yang kamu mau.” Steve menekan tombol di remote sehingga membuat kursi kami berhadapan.


“Buka kemejamu.” Aku yang sudah mengganti kaosku dengan kemeja, terkejut dengan perintah Steve.


“Apa mau mu?” Aku memegangi kemeja bagian depanku.


“Kamu buka sendiri atau aku yang buka?” Dengan nada dingin Steve memerintah.


“Ada apa denganmu Steve?” Aku berbicara dengan lembut dan memegang tangan Steve.


Tanpa aba-aba Steve menarik kemejaku, hingga kancingnya berhamburan.


“Ini yang buat kamu meminta menikah denganku secara mendadak?” Aku yang tersadar dari rasa terkejutku, langsung menutupkan baju yang sudah tak berkancing.


Air mataku mulai berjatuhan, aku menutup wajahku dengan kedua tanganku, menangis tersedu teringat yang telah mas Arlo lakukan.


“Maafkan aku Steve, maafkan aku.” Dengan tangisan yang masih terdengar pilu dari bibirku.

__ADS_1


Steve membentangkan selimut untuk menutup bajuku yang tak berkancing, membawa tubuhku ke dalam pangkuannya, dan memelukku erat.


“Ceritakan padaku, apa yang dia lakukan padamu? Jangan ada yang kamu tutupi.” Dengan suara yang lebih lembut dan hangat dibandingkan yang tadi.


Aku menceritakan semua ke jadian di dalam toilet pesawat. Kejadian yang membuat aku ingin membalas dendam pada dia yang melukaiku. Dengan tangis yang masih setia menemaniku, sesekali Steve menghapus air mataku, dan memberikan usapan lembut di kepalaku.


“Jika kamu mau membatalkan pernikahan kita, aku akan menerimanya dengan ikhlas Steve.” Aku tahu bahwa setiap perbuatan pasti ada balasannya.


“Aku tidak akan pernah membatalkan pernikahan kita, tidak akan pernah.” Dengan penuh penekanan Steve berkata.


Aku tahu, ada amarah yang Steve simpan didalam dada dan pikirannya.


‘Aku tak akan bisa menghancurkan Arlo jika itu menyangkut bisnisnya, tapi aku bisa menghancurkanmu dengan menikahi Rheyna. Kurang ajar kamu Arlo, kamu sudah memperkosa wanita yang aku cintai. Akan aku buat hatimu merasakan sakit sepert yang Rheyna rasakan.’ Pikiran Steve penuh dengan mendendam dan amarah.


Steve mengetahui adanya tanda kepemilikan di dadaku karena mas Arlo yang mengatakannya, dia mencoba membuat Steve marah dan membatalkan rencana pernikahan kami. Dari cerita yang Steve katakan, mas Arlo mengatakan bahwa aku adalah miliknya, jika Steve tak percaya, Steve bisa membuktikannya dengan melihat tanda kepemilikan yang dia cetak di dadaku. Mas Arlo pun berkata bahwa aku akan tetap jadi miliknya.


“Maafkan aku Steve. Mungkin aku tak akan pernah bisa menjadi istri seperti yang kamu inginkan. Bahkan orang tua mu pun belum mengetahui statusku yang sebenarnya.”


“Orang tua ku tak akan pernah menentang apa pun pilihanku, dan kamu adalah satu-satunya wanita yang aku pilih, dan tidak akan pernah ada yang lain.” Dengan memelukku erat, Steve membuat aku terlelap dalam pangkuannya, dengan usapan lembutnya membelai rambutku.


Entah berapa lama aku tertidur, tetapi saat aku membuka mata, kami melewati hamparan perkebunan.


“Steve, ini perkebunan apa?” Sambil membenarkan dudukku dan mengedarkan pandanganku ke sekitar.


“Apakah boleh jika kita turun dan membeli langsung disana Steve?” Aku tertarik untuk memakan buah cerry langsung dari pohonnya.


“Tentu saja boleh, kamu mau mampir ke perkebunan itu?” Aku menjawaab dengan anggukan.


“Paul, bitte kommen Sie in den Kirschgarten” (Paul, tolong mampir ke kebun cerry ya) Steve menekan tombol speaker untuk berbicara pada pengawal-pengawalnya.


“Ja, Sir” (baik tuan) jawab pengawal itu.


Mobil menepi pada pintu masuk perkebunan,


“Pakai ini dulu.” Steve melepaskan sweaternya dan memakaikannya untukku, kemudian dengan sekilas mencium bibirku


“Thank you Steve” aku memeluk Steve sesaat.


“Ayo kita turun.” Steve menggandeng tanganku keluar dari mobil.

__ADS_1


Kami menyusuri jalan masuk menuju hamparan pepohonan cerry, dengan buah yang sangat lebat disetiap pohonnya.


“Apakah ini sudah memasuki musim panen Steve?” Aku melihat cerry yang sepertinya siap untuk di panen.


“Iya, sudah saatnya panen, sepertinya besok mereka akan panen.” Jawab Steve sambil memetik setangkai cerry yang berwarna merah tua, dan menyodorkannya dimulutku.


“Hmmm manis sekali ini Steve.” Aku berbicara sambil mengunyah cerry yang Steve suapkan.


“Makanlah sepuasmu honey, bawalah beberapa yang kamu inginkan.”


“Benarkah Steve?”


“Tentu saja, semua ini milikmu.”


“Maksudmu Steve?”


“Semua ini akan jadi milikmu dan anak-anak kita nantinya.” Steve berlutut di hadapanku dengan menggenggam kotak beludru berwarna hitam, aku terkejut dengan sikap Steve.


“Will you merry me Rheyna Aurora?” Dengan membuka kotak beludru berwarna hitam itu, yang menampilkan sebuah cincin dengan model clasic, dan dihiasi sebuah berlian yang berukuran tidak terlalu besar.


“Steve?” Aku terkejut seperti tak percaya dengan apa yang Steve lakukan.


“Mau kah kamu menemaniku, dalam susah dan senang, dalam keadaan apapun? Menua bersamaku dan semua keturunan kita.” Steve menyodorkan kotak itu padaku.


“Aku mau Steve.” Dengan berderai air mata kebahagiaan, aku menerima Steve. Cincin cantik itu Steve sematkan pada jari manisku.


Aku berhambur memeluk Steve dengan erat,


“Jangan pernah berhenti mencintaiku, sekalipun aku tak sempurna.” Aku berkata dalam pelukannya, dan menitikkan air mataku.


“Hingga nafasku berhenti, hanya kamu wanita yang aku cintai selain ibuku. Sekalipun kamu belum mencintaiku, tetapi aku akan selalu mencintaimu.” Jawab Steve dengan memelukku erat.


“Terima kasih untuk semua kebahagiaan ini Steve, maafkan aku jika aku pernah melukai hatimu, atau pernah membuatmu marah.”


“Aku tak pernah marah padamu ataupun terluka karenamu, karena aku mencintaimu dengan semua kekurangan dan kelebuhanmu.” Dengan sedikit mengangkatku dalam pelukannya.


Aku menatap Steve lekat, dan Steve menciumku, mulai dari dahiku, kemudian ke kedua pipiku, dan berakhir di bibirku. Ciuman penuh kasih, tanpa adanya *****.


“Ayo cepat habiskan cerry di pohon-pohon ini.” Kata Steve sambil tertawa.

__ADS_1


“Aku tak akan mampu menghabiskan sendiri Steve, seklipun aku membawa orang sekampung hahaha.” Aku tertawa bersama dengan Steve.


Bersambung


__ADS_2