
Setelah aku dan Steve siap, kami turun ke lobby karena pak Sono sudah menunggu di lobby. Dan kami bergegas ke makam mama dan papa.
Steve menyuruh pak Sono untuk mampir ke toko bunga terlebih dahulu, membeli 1 buket bunga mawar merah dan 2 buket mawar putih.
Sesampainya di makam, aku merasa mataku kembali basah karena air mata yang tanpa ku sadari mulai menetes. Sudah hampir 3tahun mereka meninggalkanku tetapi semua terasa baru saja mereka pergi.
“Pa, ma aku kangen.” Aku menangis tersedu, dan Steve mengusap punggungku.
“Papa sama mama sudah punya cucu lagi sekarang, namanya Junior Alexander pa, dia lucu seperti kakaknya. Maaf belum bisa bawa Junior kesini, nanti kalau sudah bisa aku akan ajak dia kesini ya.” Aku membelai pusara papa dan mama yang sangat bersih itu.
“Seandainya papa dan mama masih ada, pasti papa sama mama bahagia lihat aku sekarang, suamiku yang sangat baik ini, juga kedua orang tuanya yang sangat menyayangiku, seperti anak mereka sendiri.”
“Maaf baru sempat mengunjungi papa dan mama, selama ini aku di jerman dan baru sekarang pulang sebentar ke sini. Di Jerman aku bahagia, papa tau aku bisa makan buah chery setiap hari pa hahaha, apa lagi waktu hamil Junior ma, aduh semua buah dan makanan yang aku mau pasti tersedia.”
“Allah sangat baik padaku, karena mengirimkan orang-orang baik untuk menemaniku.” Aku menceritakan semua di hadapan pusara papa dan mama, sedangkan Steve hanya membelai punggungku dan sesekali mengusap air mataku.
“Papa, mama terima kasih sudah membuat Rheyna hadir di dunia ini, sehingga bisa menemani hidup saya. Saya adalah lelaki beruntung yang bisa mendapatkan putri kesayangan kalian. Ijinkan saya untuk selalu mencintainya sampai akhir hidup saya.” Steve tiba-tiba berkata bijak di hadapan pusara kedua orang tuaku. Hatiku menghangat mendengar apa yang Steve tuturkan, membuat aku menyunggingkan senyumku.
“Pa, ma Rheyna sama Steve pamit ya, kalau ada kesempatan lagi pasti kami akan sering-sering berkunjung kesini. Ayo sayang.” Aku berpamitan pada pusara orang tuaku.
“Pa, ma kami pamit.” Steve mengusap nisan kedua orang tuaku.
Kami berpindah kemakam Vano, yang terletak bersebelahan dengan makam papa dan mama. Makam yang berukuran kecil itu terlihat sangat bersih dan rapih, semua pasti Steve yang sudah mengurusnya.
“Sayang, mama datang nak.” Aku mengelus nisan Vano
“Hai jagoan papi, kita belum pernah ketemu ya, kamu pasti anak yang tampan, setampan adikmu Junior.” Steve tersenyum menatap nisan Vano.
“Nak, kamu punya adik sekarang, namanya Junior. Dia lucu seperti kamu dulu.” Aku tersenyum dan menitikkan air mataku.
“Maaf ya sayang, mama sudah lama gak jenguk Vano. Adikmu Junior masih belum boleh pergi jauh sama papi, nanti kalau sudah boleh mama ajak dia kesini ya.” Aku meletakkan buket bunga di atas pusara kecil itu.
“Rheyna..” sebuah suara yang sangat aku kenal.
Aku mengangkat kepalaku dan menatap sosok lelaki itu. “Bagas..”
__ADS_1
“Apa kabar Rhey?” Lelaki itu adalah Bagas, mantan suamiku yang sekaligus adalah papa Vano.
“Ba..ik, kamu apa kabar?” Aku balik bertanya kabarnya.
“Alhamdulillah aku juga baik.” Dengan tersenyum Bagas memandangku.
“Masih mau disini baby?” Bisik Steve di telingaku.
“Aku sudah selesai kok sayang.” Aku hendak berpamitan pada Vano.
“Bisakah kita ngobrol-ngobrol sebentar Rhey?” Pertanyaan Bagas mengagetkanku.
“Mau ngobrol apa ya Gas?”
“Hanya beberapa hal yang ingin aku obrolkan.”
“Sayang?” Aku meminta persetujuan Steve, dan Steve mengangguk dan tersenyum kepadaku.
“Mas nya ikut sekalian aja gak pa pa, kita ngobrol di cafe dekat sini aja ya.” Bagas mengajak Steve ikut serta.
“Nak mama pamit dulu ya, nanti mama ajak adikmu kesini ya kalau papi sudah ijinkan.” Aku kembali pamit pada nisan Vano, kemudian berdiri dan berjalan kearah mobil Steve, sedangkan Bagas masih berada dimakam Vano.
Aku menunggu Bagas didalam mobil, sedangkan Steve menunggu diluar bersama pak Sono yang mengantarkan kami kemakam. Setelah sekitar 10menit, Bagas berjalan ke arah Steve dan entah berbicara apa. Steve dan pak Sono masuk kedalam mobil kemudian mengikuti mobil Bagas, menuju kesebuah cafe.
Setelah masuk kesebuah cafe dan pelayan mengantarkan daftar menu.
“Cokelat ice cream?” Steve seolah paham kesukaanku, dan aku mengangguk pasti dengan pertanyaannya.
Steve dan Bagas memesan kopi dan Steve menambahkan sandwish tuna untuk aku.
“Sudah lama ya kita gak ketemu Rhey.” Bagas membuka obrolan kami.
“Iya, aku baru pulang ini. Dua tahun lebih aku gak tinggal disini.” Aku sedikit menjelaskan pada Bagas.
“Kalian sudah menikah?” Tanya Bagas dengan menatap bergantian padaku dan Steve.
__ADS_1
“Sudah bro, bahkan kami sudah memiliki putra usianya dua tahun.” Jawab Steve bangga.
“Owh selamat ya untuk kalian berdua.” Dengan tersenyum Bagas mengulurkan tangan padaku dan Steve bergantian.
“Terima kasih. Kamu dan Putri gimana?” Aku memberanikan diri bertanya pada Bagas.
“Maafkan aku Rhey, aku sudah salah besar padamu dan almarhum putra kita. Allah menghukumku dan Putri. Aku dan Putri mengalami kecelakaan, kami kehilangan bayi yang dikandung Putri. Dan Putri sampai sekarang masih mengalami kelumpuhan.” Ada sebersit wajah penyesalan yang nampak di wajah Bagas.
“Aku sudah memaafkanmu, semua sudah digariskan oleh Allah. Aku ikut prihatin dengan musibah yang kamu dan Putri alami Gas.” Steve mengusap punggungku dan mencium keningku, dan aku membalas senyumnya.
“Aku benar-benar menyesal Rhey sudah menyia-nyiakan kamu dan Vano.”
“Tidak ada yang perlu disesalkan. Aku justru berterima kasih, karena kejadian itu aku mendapatkan seorang suami yang sangat mencintaiku dan anak kami. Dan aku baru tahu bahwa sebenarnya aku sangat berharga, di tangan orang yang menganggap aku adalah segalanya.” Ya, aku sangat berterima kasih dengan pengkhianatan yang Bagas lakukan, maka aku bisa bertemu dangan suamiku Steve, dan mendapatkan keluarga yang sangat menyayangiku, bukan hanya suami, tetapi aku mendapatkan orang tua dan keluarga.
“Iya kamu benar Rhey.” Dengan raut wajah yang masih sendu.
“Pekerjaanmu gimana Gas?” Aku hanya berbasa-basi saja sambil menikmati ice creamku.
“Jabatanku diturunkan menjadi staff biasa Rhey, aku sudah bukan lagi manager seperti dulu.”
“Lho kenapa diturunkan? Apa kamu berbuat kesalahan?” Aku terkejut dengan berita ini.
“Mas Arlo marah sama aku, karena aku sudah menghianati kamu. Menurutnya, kalau aku saja bisa menghianati kamu, bukan hal yang tidak mungkin jika aku nantinya menghianati perusahaan.” Ternyata masih berhubungan dengan lelaki itu.
“Sabar ya, berusahalah lebih giat lagi, agar posisi itu bisa kembali.” Aku berusaha sedikit menyemangatinya.
“Terima kasih Rhey, bisakah kita berteman lagi?”
“Gas, aku memaafkan kamu, tapi maaf Bagas, aku tidak berteman dengan lelaki, apa lagi mantan suami. Aku tidak membencimu, aku hanya menjaga perasaan suamiku dan istrimu saja.” Aku memang tak ingin berteman dengan lelaki yang nantinya hanya akan membuat suamiku cemburu.
“Baby, kalau mau berteman dengan Bagas gak pa pa low.” Steve menjoba memberikanku ijin.
“No sayang, kalau dengan Putri mungkin aku masih mau. Aku hanya ingin dekat denganmu, daddy dan Junior aja, tiga lelaki yang tak akan menyakiti aku kan.”
“Terserah kamu aja baby.”
__ADS_1
Bersambung..