Aku Lelah,Cintai Aku

Aku Lelah,Cintai Aku
Rindu


__ADS_3

2 Tahun Kemudian


Usia Junior sudah menginjak 2 tahun dan selama itu pula aku tak pernah kembali ke tanah airku, Steve tak pernah mengajakku untuk berkunjung ke Indonesia setiap kali dia ada urusan bisnis di sana. Dengan alasan karena Junior yang masih kecil dan gak mau aku terlalu lelah, aku hanya mengikuti apa yang suamiku perintahkan.


Junior tumbung dengan sangat baik disini, bersama dengan oma dan opa nya yang sangat perhatian dengannya. Mommy dan daddy membuatkan playground khusus untuk Junior, yang di isi berbagai mainan, bahkan kolam renang yang ada dibelakang rumah Steve pun di ubah dengan menambahkan kolam khusus untuk Junior.


“Baby,..” kalau Steve sudah memanggil dengan manja seperti ini, pasti ada sesuatu yang dia mau.


“Ya sayang? Minta apa?” Aku membalik tubuhku agar berhadapan dengannya. Saat akan tidur malam, kami akan selalu melakukan pillow talk, selelah apapun Steve pasti akan menceritakan kegiatannya, atau hanya sekedar bercerita tentang klien yang dia temui, dan saat dia berada di luar negeri, dia pasti akan menghubungiku melalui video call, bercerita kegiatannya hingga aku tertidur, dengan begitu aku akan selalu merasa Steve menemaniku.


“Boleh minta sesuatu?” Tanyanya sambil membelai lengan tanganku yang terbuka, karena hanya menggunakan daster batik tanpa lengan kesukaanku.


“Apa itu?” Aku bertanya dengan tatapan curiga.


“Belum apa-apa udah gak enak gitu lihatnya.” Dengan wajah yang pura-pura takut dengan melihat ekspresiku.


“Hahahaha. Kamu itu mencurigakan sayang, biasanya tuh minta aneh-aneh. Kayal beberapa bulan lalu kamu ingat? Minta sesuatu ternyata minta main di kebun cherry, masih inget gak? Untung disana para pekerja udah gak ada.” Aku mengingatkan kejadian beberapa bulan lalu sepulang kami dari dinner, tiba-tiba Steve mengajakku ke perkebunan cherry miliknya, dan meminta untuk bercinta disana.


“Ya kan kalau itu memang sudah aku rencanakan baby, para pekerja sudah aku suruh pulang lebih awal memang, bahkan para penjaga pun aku suruh pergi dan kembali menjelang tengah malam.”


“Eh gak cuma itu aja ya, di gudang anggur juga. Terus waktu mommy sama daddy ajak Junior jalan-jalan, yang minta begituan di dapur siapa coba? Terus di play ground Junior, pakai alasan ponselnya ketinggalan disana, minta tolong aku ambilin tengah malem katanya ada kerjaan penting, ternyata ngerjain aku disana.” Aku kembali menjabarkan apa saja keunikan yang Steve lakukan.


“Hehehe siapa suruh kamu gemesin? Kamu juga mengg**r*hk*n, boleh dong coba fantasi baru bareng istri tercinta.” Rayunya yang kemudian memeluk dan menciumku.


“Ya boleh aja sih sayang, cuma kenapa harus di tempat yang aneh-aneh sih? Kalau ada yang lihat gimana coba?”


“Tenang baby, sebelum aku melakukan semuanya, aku sudah merencanakan semuanya baik-baik. Aku juga gak mau ada orang lain yang lihat keseksian istriku ini dong. Jadi boleh ya minta sesuatu?”


“Kali ini minta main dimana?” Jawabku to the point.


“Mainnya disini aja, tapi boleh kah kalau habis main gak usah minum pil KB? Aku pengen punya anak lagi sayang, kasian Junior main sendirian.” Jadi suamiku memintaku untuk hamil lagi. Setelah melahirkan Junior memang aku selalu rutin meminum pil KB untuk menunda kehamilanku, aku hanya takut tidak bisa membagi waktuku untuk mengurus anak dan suamiku.

__ADS_1


“Yakin? Kalau perhatianku kembali terbagi gimana? Waktu kita untuk berduaan juga berkurang gak pa pa?” Aku mencoba memberikan penjelasan yang akan terjadi.


“Walaupun waktumu hanya lima menit saja untukku gak masalah sayang, yang penting waktuku untukmu seumur hidupku. Berikan aku sisa waktumu, setelah kamu selesai dengan anak-anak, baru sama aku. Walaupun hanya sekedar melihat kamu tertidur karena lelah menjaga anak-anak pun aku rela.”


“So sweet, paling juga ntar kalau aku tidur ada yang nakal tangannya, bangun-bangun udah penuh bercak gigitan vampir badanku.”


“Hahaha itu namanya usaha sayang, kan pantang menyerah untuk terus berusaha.” Jawaban Steve selalu bisa membuat aku tertawa.


“Yakin? Ntar kalau perhatianku berkurang jadi nyari perhatian lain diluar sana.”


“Kalau perlu aku hanya akan bekerja dirumah aja deh, biar kamu percaya kalau aku gak akan nakal. Nakal dirumah bareng istri lebih enak kok.”


“Ya udah deh, aku gak minum pil KB lagi kalau gitu, tapi boleh kah aku minta sesuatu?”


“Apa aja akan aku kabulkan sayang.”


“Aku rindu kemakam mama dan papa, bolehkah aku pulang sebentar untuk nyekar mama dan papa?” Aku memang merindukan mama dan papa serta Vano. Aku yakin pasti Steve setiap bulan sudah menyuruh orang untuk merawat makam-makam mereka.


“Siap sayang, hanya ke makam aja deh. Tapi Junior gimana?”


“Junior biar disini aja sama mbak Sari, kan ada oma sama opa nya, nanti aku bilang ke mommy kalau kita akan ke Indonesia sebentar.”


“Kenapa Junior gak ikut kita aja sayang? Biar dia tau makam nenek sama kakeknya, juga kakaknya.”


“Belum saatnya baby, percayalah padaku akan ada saatnya dia kembali pulang ke kampung halamannya.” Dengan membelai pipiku, Steve memberikan pengertian padaku.


“Apa ada sesuatu yang kamu sembunyikan Steve?” Aku mencoba mencari tahu apa yang sedang Steve tutupi.


“Apa sayang?” Steve balik bertanya padaku.


“Aku merasa kamu seperti sedang menyembunyikan sesuatu.” Tatapku dengan pandangan curiga.

__ADS_1


“Bukannya kamu yang sedang menutupi sesuatu dari aku baby?” Dengan menaik-naikkan alisnya seperti sedang menggodaku.


“Apa yang aku tutupi? Semua sudah aku ceritakan sayang.”


“Ini buktinya ditutupi dari aku, coba dibuka supaya lebih terbuka sama aku.” Steve menunjuk pada dadaku yang masih tertutup daster batik.


“Biasanya juga dibuka sendiri, kenapa sekarang pake mengalihkan pembicaraan coba?” aku pura-pura cemberut pada Steve.


“Kalau kamu yang buka itu terasa lebih sexy gitu low sayang. Coba buka deh, nanti aku kasi tau yang kamu tayakan tadi.”


“Beneran ya?”


“Mana pernah aku bohong sih, coba buka dulu.” Aku mengikuti permintaan Steve untuk membuka dasterku dan menyisakan pakaian dalamku saja.


“Buka semua dong, kan aku bilang jangan ada yang ditutupi dari aku baby.” Seringai menggoda mulai terpasang dibibirnya.


“Iya-iya ih, udah nih.”


“Sini dong mendekat, kan mau aku tunjukin yang tadi kamu tanyain.” Aku mendekatkan tubuhku ke arah Steve, dan dia menarik selimut untuk menutupi tubuh polosku.


“Jangan marah ya kalau sudah aku kasi tau.” Steve bersandiwara.


“Iyaaa, cepetan ah.” Aku mulai gak sabaran ingin tahu apa yang Steve sembunyikan.


“Ini yang aku sembunyikan dari kamu baby.” Steve menarik tanganku ke arah miliknya.


“Sayangggggg kamu bohong.” Aku memukul dada Steve jengkel.


“Aku gak bohong baby, itu yang aku sembunyikan sejak tadi dia udah berdiri low, jangan marah ya baby, yuk biarin dia masuk ke sarangnya hehehe.”


Bersambung..

__ADS_1


Maapkan kalau sering lama updatenya ya sayang..


__ADS_2