Aku Lelah,Cintai Aku

Aku Lelah,Cintai Aku
Papa


__ADS_3

Setelah pulang dari rumah orang tua ku, aku mampir ke sebuah supermarket, membeli beberapa buah dan sayuran untuk persediaan di apartemen mas Arlo yang dipinjamkan padaku entah sampai kapan.


Setelah memilih beberapa belanjaan, aku mendorong troly ku ke arah kasir. Saat sedang mengantri di kasir, mataku mendapati sosok Bagas yang sedang memeluk wanita itu, berjalan masuk ke arah supermarket. Aku memalingkan wajahku dan menunduk agar Bagas tak melihatku. Setelah tiba giliranku membayar, aku tergesa-gesa


“Mbak maaf bisa tolong lebih cepat ya? Perut saya sakit soalnya” kataku berpura-pura sakit perut pada mbak penjaga kasir


“Owh iya kak ditunggu sebentar ya,sudah hampir selesai kok” mbak kasir menjawab dengan ramah


“Totalnya seratus tujuh puluh delapan ribu kak” kata mbak kasir memberitahukan total belanjaanku


“Ini mbak, kembalinya ambil aja” kataku sembari menyerahkan uang pecahan seratus ribuan dua lembar dan bergegas berlalu pergi


Petugas kasir terbengong melihat tingkah ku yang nampak aneh seperti pencuri yang sedang takut tertangkap, tapi tak aku hiraukan dan sedikit berlari untuk pergi menuju parkir mobil, mengambil mobilku dan tancap gas menuju apartemen mas Arlo.


\~\~\~


“Non sudah pulang” sambutan mbak Sari saat aku membuka pintu apartemen


“Iya mbak, gak tega nanti mbak Sari ketakutan sendirian disini” kataku sambil tertawa kecil


“Ih non, gak kebalik tuh non?” Timpal mbak Sari sambil membalas tertawa


“Mbak Sari, ada yang mau saya bicarakan” aku duduk di sofa ruang TV setelah meletakkan belanjaanku di meja dapur dan sedang di tata oleh mbak Sari


“Iya non, sebentar ya masukin sayur dulu” dengan segera menata sayur di dalam kulkas


“Ada apa ya non?” Kata mbak Sari sambil duduk


“Gini mbak, mbak Sari pasti sudah tau masalah saya kan?” Ya mbak Sari sudah tahu masalahku dan juga perselingkuhan Bagas dari mas Arlo malam itu, saat mbak Sari datang kemari.


“Iya non, apa yang akan non lakukan?”


“Saya mau mengajukan gugatan cerai mbak”


“Ya Allah non yang sabar ya, apa gak mau dibicarakan dulu non?” Kata mbak Sari mencoba memberikan pendapat


“Kami gak akan mungkin bisa bersama lagi mbak, ini ke dua kalinya dia berselingkuh dengan wanita itu, dan saatnya aku yang harus pergi untuk saat ini. Mungkin jika Vano masih ada, aku akan memikirkannya demi Vano, tapi sekarang pun Vano gak ada mbak” kataku yang kembali menitikkan air mataku mengingat Vano


“Semoga semua keputusan yang non ambil adalah langkah untuk kebahagiaan non” kata mbak Sari tulus


“Aamiin, mbak Sari mau tetap ikut saya? Tapi mungkin nanti saya akan mengontrak rumah yang jauh lebih kecil atau menyewa apartemen yang lebih murah dan lebih kecil dari apartemen ini mbak”


“Kalau masih di ijinkan saya mau ikut non aja terus”


“Tapi saya gak mampu menggaji mbak Sari sebesar gaji mbak selama ini, mbak tau sendiri saya masih mencoba-coba untuk bekerja lagi” kataku menjelaskan

__ADS_1


“Gak pa pa non, gak di gaji juga gak pa pa non, yang penting di kasi tempat untuk berteduh saja saya sudah Alhamdulillah non” kata-kata mbak Sari justru membuat aku tersentuh


“Aaahhhh mbak Sari bikin terharu aja” kataku sambil merentangkan tanganku seolah ingin memeluknya


“Ow iya non tadi den Arlo datang kesini nyari non Rheyna, saya bilang masih kerumah tuan dan nyonya, katanya besok mau balik sini lagi” mbak Sari meberikan informasi kalau mas Arlo tadi datang saat aku ke rumah papa mama “Ow iya non tadi kata den Arlo minta supaya non Rheyna buka blokir nomornya dari ponsel non, biar bisa menghubungi non langsung katanya, kalau gak dibuka blokirnya nanti ponsel non Rheyna di curi dari non katanya” lanjut mbak Sari


“Iya mbak saya buka sebentar lagi, ada-ada aja alasan tu orang” kataku


“Kalau sudah dibuka disuruh kirim chat ke den Arlo non” kata mbak Sari lagi


“Ih mbak Sari ini sekarang tangan kanan mas Arlo ya?” Kataku pura-pura cemberut


“Hahaha gak lah non, hanya menyampaikan pesan saja” kata mbak Sari kemudian berlalu untuk memasak


To: Mas Arlo


‘Nih dah aku buka blokirnya mas SAAT eh salah mas Arlo’


Aku mengirimkan pesan pada mas Arlo. Ketika menunggu balasannya, tiba-tiba ada panggilan dari mama


“Assalamualaikum ma” sapaku pada mama


“Wa’alaikumsalam hikkss hikksss, Rhey papa” kata mama sambil menangis, aku dengar suara sirine Ambulance


“Maaa, papa kenapa ma?” Tanyaku mulai menitikkan air mata dan bingung


“Rheyna langsung kesana ma” kataku langsung mengambil tas dan kunci mobil


“Non mau kemana kok nangis gitu?” Tanya mbak Sari ikut bingung


“Papa mbak, papa jatuh di kamar mandi da sekarang di bawa kerumah sakit” kataku tergesah-gesah


“Non saya boleh ikut?” Tanya mbak Sari ragu


“Boleh mbak, ayo cepat kita berangkat” kataku meng’iya’kan permintaan mbak Sari.


Di perjalanan menuju parkiran mobil kembali ada panggilan masuk, kali ini dari mas Arlo


“Assalamualaikum jutek” sapanya dengan becanda


“Wa’alaikumsalam mas hikss” entah mengapa mendengar suaranya membuat aku ingin mengeluh padanya


“Hei kamu kenapa?” Tanyanya


“Papaku mas, papaku jatuh dikamar mandi dan sekarang dilarikan kerumah sakit Pelita Harapan” kataku menjelaskan

__ADS_1


“Kamu kesana sama siapa? Aku temani ya?” Katanya menawarkan untuk menemaniku


“Aku sama mbak Sari mas, ini sudah meluncur kerumah sakit”


“Ya udah kita ketemu di rumah sakit kalau gitu, jangan ngebut-ngebut ya, hati-hai dijalan” katanya kemudian menyudahi sambungan telepon


Sesampainya di rumah sakit, aku langsung mencari mama yang ternyata ada di ruang ICU, menangis tersedu seorang diri


“Maaaa” kataku berlari kearah mama


“Papa Rhey, papa pergi ninggalin kita” bagai di hantam belati hatiku yang belum benar-benar sembuh dari kepergian Vano, kini harus menerima kepergian papaku


Aku masuk ke ruang ICU dan melihat papaku sudah ditutup menggunakan selimut putih. Aku membuka perlahan selimut itu, ku tatap wajah papaku yang sudah memucat dengan bibir yang mengulas sedikit senyum,


“Papaaaaaaa kenapa papa ninggalin aku, aku masih butuh nasehat-nasehat papa, aku masih butuh pelukan papa untuk kuatin aku, papaaaaa” aku menangis sambil memeluk papa


Tiba-tiba tangan seseorang memegang pundakku, berusaha mengangkat aku agar tak lagi memeluk jenasah papaku,


“Ikhlaskan Rhey, jangan ditangisi seperti itu” suara itu suara mas Arlo, aku menegakkan dan membalikkan badanku


“Mas papaku ninggalin aku juga huaaaa hikssss” aku menangis terseduh dan tanpa sadar memeluk mas Arlo, menangis di pelukannya


“Kuat Rhey kamu harus kuat untuk mamamu, jika kamu seperti ini siapa yang menguatkan mamamu? Kamu putri yang mereka sayangi” dia berusaha menguatkan aku, membelai punggung dan rambutku, aku hanya mengangguk


“Keluar yuk kasian mamamu cuma ditemani Sari aja” katanya sambil memeluk pundakku, memapahku keluar dari ruang ICU, mendudukan aku di sebelah mama, memeluk mama erat-erat, dengan tangis mama yang tersedu menyayat hatiku


“Tante, Rhey, saya permisi mau urus jenasah om sama administrasi nya dulu ya” kata mas Arlo meminta ijin untuk mengurus jenasah papa


“Iya nak, maaf merepotkan” kata mama pada mas Arlo


“Apa dimakamkan dekat makam Vano tante?” Tanyanya kemudian


“Iya disana saja, biar bisa dekat sama cucu kesayangannya” kata mama menerawang


“Baik tante, saya permisi”


“Jaga mamamu, jangan menangis kalau tak ada aku” bisik mas Arlo tepat ditelingaku dengan suara yang sangat lirih, dan membelai punggungku, dan aku hanya bisa menjawab dengan anggukan.


Semua proses berjalan lancar, mulai dari pemberangkatan jenasah sampai ke pemakaman semua berjalan lancar dengan bantuan mas Arlo.


“Mbak Sari, saya tinggal dirumah mama, mbak Sari mau tinggal di apartemen dulu gak papa” kataku pada mbak Sari saat kami dalam perjalanan pulang kerumah mama, diantar mas Arlo dan mobilku di bawa oleh pak Aman sopir mas Arlo.


“Saya ikut non dan nyonya saja non” kata mbak Sari kemudian


Mas Arlo hanya memandangku dari kaca spion tengah saja, memperhatikanku yang duduk di belakang dengan mama, sedangkan dia mengemudi dengan ditemani mbak Sari di sebelahnya.

__ADS_1


Pemakaman papa hanya dihadiri kami saja karena mengingat papa yang dimakamkan tengah malam, dan semua saudara papa sudah beristirahat.


Bersambung…….


__ADS_2