Aku Lelah,Cintai Aku

Aku Lelah,Cintai Aku
Menghilang


__ADS_3

“Kok jadi bengong gitu? Ayo duduk sini” katanya sambil menepuk-nepuk sofa panjang di ruang itu.


Aku berjalan dengan perlahan dan duduk pada sofa single yang terletak di sebelah sofa panjang.


“Mas, tolong jangan melakukan hal seperti di lift tadi” kataku membuka suara, dan masih menundukkan kepalaku


“Maaf Rhey, aku hanya tak ingin ada yang menggodamu apa lagi sampai melecehkanmu” jelasnya


“Tapi justru kamu yang melecehkan aku mas” kataku sedih dan hampir menitikkan air mata


“Maafkan aku Rhey” dia berlutut di depanku


“Maafkan aku terlalu terbawa perasaanku, aku menyayangimu” kata-katanya membuatku semakin menundukkan kepalaku karena jantungku yang berdetak cepat “aku tahu ini salah, tapi perasaan gak akan pernah bisa di bohongi. Jangan menundukkan kepalamu Rhey, tatap aku” tangannya yang kiri menggenggam tanganku, sedangkan tangan kanannya berusaha mengangkat daguku.


“Jangan seperti ini mas” kataku yang tak nyaman karena dia berada tepat didepanku dan hanya menatap lurus ke arah mataku


“Aku tak ingin melakukan kesalahan yang sama dengan Bagas” aku berusaha menjelaskan


“Maafkan aku ya” katanya sambil tersenyum ramah, mengusap kepalaku kemudian kembali duduk di sofa panjang, aku hanya menjawab dengan mengangguk saja.


“Nanti akan ada orang yang kemari membawakanmu baju-baju dan perlengkapanmu yang lainnya” dia memberi tahu bahwa akan ada yang kemari mengirimkan perlengkapanku, sambil menekan tombol remote untuk menyalakan TV


“Iya mas”


“Aku tinggal sendiri disini beranikan?” Tanyanya


“Emmm berani kok” jawabku ragu-ragu sambil melihat kiri kanan ku


“Hahaha lucu banget sih kamu ini, udah segini gedenya masih takut?” Katanya mengejek


“Bukan takut tapi belum kenal tempatnya aja” jawabku sok berani walaupun sebenarnya ada rasa takut juga. “Tinggal aja aku gak pa pa kok” kembali aku berpura-pura berani.


“Hemmm okay kalau gitu, nanti kalau ada yang menggoyangkan gordennya kamu sapa aja ya, mungkin mau kenalan” sialan kata-katanya membuat aku merinding dan mataku langsung menatap ke arah gorden yang menutupi jendela itu dan bergidik ngeri


“Eh mas jangan pergi dulu deh, tunggu aku masuk kamar dulu ya, aku tidur aja deh” kataku yang mulai ketakutan


“Yakin gak mau aku tinggal aja?” Katanya sambil senyum-senyum, langsung aku jawab dengan anggukan kepala

__ADS_1


“Kamu tunggu disini aja ya mas, nanti panggil aku dua kali kalau gak ada jawaban berarti aku sudah tidur, kamu tinggal gak apa” kataku menjelaskan


“Okay-okay aku nonton bola dulu kalau gitu” katanya menatap kembali kearah TV


Aku memasuki kamar yang entah ini kamar siapa, merebahkan tubuhku pada tempat tidur yang halus dan empuk berukuran king size itu. Aku yang telah lelah menangis menghabiskan sisa air mataku untuk Bagas, tak butuh waktu lama untuk terpejam karena kelelahan.


***


Mentari menyapa dari balik tirai jendela, “ya ampun jam berapa ini?” Kataku sambil meraih ponsel yang aku letakkan disamping bantalku “Yah batrainya abis juga” aku yang ingin melihat jam di ponselku, menatap ponselku ternyata kehabisan batrai, aku letakkan kembali ponselku, mendudukan tubuhku diatas kasur “Terima kasih ya Allah karena masih memberikanku kesehatan, masih memberikanku tempat untuk berlindung. Ampuni semua kesalahanku ya Allah. Berikanlah jalan keluar terbaik untuk hamba yang penuh dosa ini.” Ku panjatkan doa untuk berucap syukur.


Berdiri dari tempat tidur, membuka tirai agar cahaya matahari bisa menerangi kamar ini. Kemudian berjalan untuk keluar kamar.


“Selamat pagi non” aku dikejutkan dengan sapaan mbak Sari yang sedang memasak di dapur


“Lho mbak Sari kok bisa disini?” Tanyaku heran dan terkejut


“Iya non, semalam ada yang datang kerumah bawa mobil non, minta di bawakan baju-baju non,dan semua perlengkapan non, terus saya di bawa kesini deh” kata mbak Sari sambil menata makanan di meja makan


Aku duduk di kursi samping meja makan,


“Sarapan dulu non” mbak Sari menyuruhku makan,


“Awalnya saya gak percaya non, terus orang itu menghubungi bos nya, dan bos nya menggunakan video call, saya kaget ternyata bosnya itu den Arlo non, terus den Arlo mengarahkan kameranya ke arah non Rheyna yang lagi tidur nyenyak, akhirnya saya percaya non dan ikut orang itu” kata mbak Sari menjelaskan panjang lebar.


“Ha? Dia nunjukin aku yang lagi tidur? Berarti dia masuk kamarku dong? Aduh kok aku gk denger dia masuk sih” kataku sambil menepuk dahiku


“Tadi habis sholat subuh juga den Arlo masuk kamar non sebentar terus pamit saya pulang katanya non”


“Lho dia baru pulang subuh tadi mbak?” Banyak sekali kejutan-kejutannya


“Iya non, den Arlo tidurnya di situ non, saya minta tidur di sofa gak dibolehin sama den Arlo, dipaksa tidur dikamar sebelah non situ” sambil menunjuk sofa dan kamar sebelah kamarku


“Bagas kemarin pulang gak mbak?” Tanyaku mengalihkan pembicaraan tentang mas Arlo


“Pulang sebentar non, nyariin non Rheyna saya bilang belum pulang, terus den Bagas langsung pergi lagi non” jelas mbak Sari


“Mbak Sari bawain saya charge ponsel saya gak? Ponsel saya batrainya habis soal nya” aku menanyakan pengisi daya ponselku

__ADS_1


“Saya masukkan di tas biru itu non” kata mbak Sari menunjuk tas berwarna biru yang dikaitkan di atas tas koper


“Makasih ya mbak sudah dibantuin” kataku tulus untuk bantuan yang di berikan mbak Sari padaku


“Sama-sama non”


Setelah menghabiskan beberapa sendok nasi goreng yang di buat mbak Sari untuk sarapan kami, aku membawa masuk koperku kedalam kamar, mengisi daya ponselku dan kemudian aku mandi. Selama dikamar mandi aku memikirkan rencana-rencana ku selanjutnya, apa yang harus aku lakukan dengan pernikahan yang tak lagi ada kasih sayang Bagas untukku, putra kami yang tak lagi ada, wanita lain yang sepertinya tengah mengandung anak Bagas, semua masalah membuat aku harus benar-benar dapat memutuskan hal yang terbaik untukku dan masa depanku.


Setelah selesai mandi aku melihat ponselku yang masih terisi daya 50%, menyentukan jariku pada benda pipih yang ringan itu, menyentuh lambang balon yang terdapat gambar gagang telepon berwarna hijau itu, melihat ada beberapa pesan dari Bagas, mama ku dan Ratna.


“Aku mohon dengarkan penjelasanku dulu, jangan seperti ini”


“Kamu dimana Rhey”


“Rhey jangan mengacuhkan aku seperti ini”


“Dimana kamu?”


“Siapa tadi yang mengantarkanmu ha? Selingkuhanmu?” Beberapa chat dari Bagas yang membuat aku semakin muak.


“Kamu dimana nak?”


“Apa kamu ada masalah sama Bagas?”


“Tadi dia kesini menanyakanmu”


“Tolong hubungi mama ya nak,mama sama papa khawatir” Pesan dari mamaku membuatku kecewa pada diriku sendiri karena tak bisa membuat orang tuaku bahagia


“Rhey minggat kemana? Cunguk itu telepon aku nanyain apa kamu ada hubungi aku. Bikin masalah apa lagi tu manusia Rhey?”


“Kabarin aku ya Rhey klo kamu udah baca pesanku ini” Isi pesan dari sahabatku Retno.


Aku memutuskan untuk menghubungi mama terlebih dahulu, mengatakan pada mama jika besok aku akan datang kerumahnya untuk menjelaskan semuanya pada mama dan papa.


Bersambung…..


...Hai teman-teman terima kasih sudah menyempatkan membaca karyaku,...

__ADS_1


...Like,komen nya ya jika berkenan 🥰...


__ADS_2