Aku Lelah,Cintai Aku

Aku Lelah,Cintai Aku
Gita


__ADS_3

Sejujurnya aku malu karena menuduh Steve telah menikah, bahkan aku salah menilai Steve. Foto yang Steve simpan adalah foto ibu nya saat masih muda.


“Sepertinya pramugari itu memiliki hubungan khusus denganmu.” Aku berbicara untuk mengusir rasa maluku.


“Pramugari yang mana?” Tanya Steve pura-pura tak tahu.


“Yang kau usir tadi, yang bernama Gita.”


“Dia hanya teman kencan sesaatku beberapa waktu lalu, saat aku dalam perjalanan pulang ke Jerman.” Jawabnya seperti tanpa beban.


“Owh teman kencanmu.” Hanya itu saja yang mampu terucap dari mulutku.


Aku melirik pada mas Arlo yang menutup matanya, tetapi aku yakin dia sedang mencuri dengar pembicaraanku.


Aku tak lagi menghiraukan Steve, aku hanya mencoba berkonsentrasi untuk melanjutkan menggambarku. Entahlah aku merasa isi dalam otakku menghilang dalam sekejap, aku di antara dua lelaki yang memusingkanku.


“Honey kenapa mendiamkanku?” Steve mencoba memegang tanganku tetapi aku menampiknya.


“Diamlah aku tak ingin berbicara apa pun padamu.” Aku membentaknya, dengan suara yang sedikit keras, sehingga mas Arlo menolehkan kepalanya pada kami, dengan mata yang menatap penuh tanya, tetapi aku memalingkan pandanganku kembali kedepan.


Steve beranjak dari kursinya dan berlutut di hadapanku,


“Maafkan aku Rhey, mengapa kamu membentakku? Sebesar itukah kesalahanku padamu?” Tangannya di tumpuhkan pada kedua pahaku.


“IYA, AKU MEMBENCIMU Steve.” Dengan suara yang lirih namun penuh dengan penekanan.


“Jelaskan padaku Rhey, apa aku salah jika mencintaimu? Aku tak pernah bermaksud untuk membohongimu, tapi setiap kali aku ingin membantumu atau memberikan perhatianku padamu, kamu selalu berpikir bahwa aku adalah pria beristri Rhey, aku hanya ingin langsung membuktikan padamu, bahwa aku bukan pria beristri.” Dia mengguncangkan kakiku, meminta aku untuk memahaminya.


“Kamu memang bukan pria beristri, tetapi kamu pria yang mempermainkan wanita, aku gak suka dengan pria yang menganggap wanita hanya sebagai objek pemuas nafsunya saja.” Aku menjelaskan ketidak sukaanku pada sikap yang Steve lakukan pada pramugari itu.


Aku melambaikan tangan pada pramugari yang sedang berdiri, yang kebetulan sekali itu Gita.


“Mbak Gita, boleh minta selimut dan satu botol minuman bersoda?” Pintaku pada Gita yang sedang memandang Steve yang masih setia berlutut dihadapanku.

__ADS_1


“Baik bu” jawabnya


“Aku mau wine, sekalian kamu bawa.” Steve menyuruh tanpa melihat pada Gita.


“Baik.” Jawab Gita singkat dan berlalu.


“Menyingkirlah Steve, aku ingin tidur.” Walaupun saat ini masih pukul 5 sore, tapi aku ingin mengistirahatkan pikiranku.


“Aku akan seperti ini terus sampai kamu menerimaku.”


“Terserah kalau itu maumu, aku tak perduli.” Aku menyandarkan punggungku dan menatap keluar jendela, hanya hamparan awan yang nampak.


“Permisi” suara Gita membuat aku menoleh, “Silahkan minumannya bu” Gita menyodorkan softdrink yang aku pesan, berwarna merah.


“Terima kasih mbak Gita.” Jawabku sambil tersenyum.


“Gita jelaskan padanya apa hubungan kita? Gara-gara ucapanmu, calon istriku marah padaku.” Steve menuduh Gita dengan nada yang tak enak.


“Maaf tuan saya sedang bekerja, tidak boleh mencampurkan urusan pribadi, saya permisi.” Jawabnya Gita sopan.


“Begitukah caramu memperlakukan wanita ha? Setelah kau nikmati lantas kau berhak membuangnya begitu saja?” Aku membentak Steve di depan Gita yang terlihat menunduk.


“Honey dengarkan dulu, biar dia jelaskan hubungan apa yang membuat aku berkencan dengannya.” Steve berbicara lembut padaku dan memohon.


“Cepat Gita!” Steve kembali membentak Gita, dan aku menyandarkan tubuhku dan tak mau melihat mereka lagi, sedangkan mas Arlo masih setia menatap ke arahku.


“Maafkan aku Steve” Gita mulai sesenggukan dan meminta maaf. “Maafkan saya bu, tuan Steve tak berniat berkencan dengan saya. Hanya saja.. saya menyukai tuan Steve bu.” Air matanya mulai mengalir. “Saya mencampurkan obat pada minuman tuan Steve, sehingga tuan Steve mau berkencan dengan saya di toilet pesawat.” Aku terkejut dan menatap Gita dengan pandangan yang tidak percaya.


“Apa aku lelaki pertama yang menyentuhmu?” Aku melihat mas Arlo tersenyum sinis menatap Steve.


“Tidak tuan, maafkan saya. Bolehkah saya kembali ke melanjutkan pekerjaan saya?” Aku tahu Gita pasti sangat malu mengakui semuanya di hadapanku.


“Kembalilah bekerja mbak Gita.” Aku yang menjawab pertanyaan Gita.

__ADS_1


Steve hanya diam saja, saat mendengar aku menjawab pertanyaan Gita. Dengan air mata yang masih mengalir, Gita mengangguk dan meninggalkan kami.


Aku kembali menyandarkan punggungku, dan menyelonjorkan kakiku, kemudian memejamkan mataku. Sedangkan Steve masih tetap berlutut di hadapanku.


“Honey, ayolah jangan seperti ini. Bukankah semua sudah jelas.”


“Sssstttt aku ingin istirahat, minumlah wine mu dan tutuplah mulutmu Steve. Biarkan aku menenangkan pikiranku.” Dengan mata yang masih menutup aku berbicara pada Steve.


“Baiklah honey, aku akan membiarkan mu beristirahat.” Steve beranjak dari hadapanku dan duduk di kursinya sendiri, kemudian mulai meminum wine yang tadi ia pesan.


Aku yang awalnya hanya berniat menutup mata saja, ternyata benar-benar terlelap. Steve membangunkanku ketika tiba saatnya untuk makan malam.


“Honey ayo bangun dulu, kamu mau makan apa?”


“Aku belum lapar” jawabku dengan mata yang masih tertutup dan masih sangat mengantuk


“Ayolah makan sedikit dulu yuk” Steve membujukku.


“Gak mau, nanti biar aku pesan sendiri kalau sudah lapar.” Jawabku lagi dan menarik selimutku menutupi kepalaku.


Akhirnya Steve memesan makan untuk dirinya sendiri, tetapi tak lupa berpesan pada pramugara itu untuk melayaniku ketika aku terbangun. Gita sudah tak lagi melayani kami, sepertinya dia menukar posisinya dengan pramugara itu, supaya tak lagi berhadapan dengan Steve dan aku.


Aku melirik sekilas, saat Steve sedang menikmati winenya setelah makan malamnya telah selesai. Dia sedang membaca buku yang cukup tebal, sambil sesekali menyesap wine. Aku kembali melanjutkan tidurku.


Lampu-lampu di dalam kabin sudah dimatikan, hanya bersisa lampu penerangan kecil untuk menerangi jalan ke arah toilet, sedangkan di kabin kelas utama ini hanya di isi oleh aku, Steve dan mas Arlo saja.


Aku gelisah karena kantung kemihku nampaknya sudah terisi penuh, dan perutku pun terasa sedikit lapar. Aku terbangun untuk ke toilet, serta akan memesan makanan untukku yang sudah melewatkan makan malamku, sedangkan sekarang sudah pukul 10 malam, dan pemandangan di luar jendela sudah sangat gelap.


Aku berjalan ke arah toilet, dan melihat para pramugari dan pramugara sedang terlelap. Akhirnya aku memutuskan untuk buang air kecil terlebih dahulu karena kasihan melihat mereka yang bertugas sedang tertidur.


Aku menyelesaikan buang air kecilku, sungguh sangat melegakan ketika sudah mengeluarkannya, karena aku tak lagi menggigil karena menahan pipis.


Aku membuka pintu toilet, tetapi dengan cepat seseorang mendorong tubuhku untuk kembali masuk kedalam toilet. Aku masih sangat terkejut ketika orang itu membalik tubuhku dan membungkam mulutku dengan satu tangannya.

__ADS_1


Bersambung..


__ADS_2