
“Kamu sudah punya kekasih Rhey?” Tanya mbak Audi sambil bersandar pada kursinya.
“Hehehe, belum mbak”
“Ah masa sih? Gadis cantik sepertimu belum memiliki kekasih?”
“Mana ada yang mau sama janda seperti saya mbak?”
“Lho kamu janda?” Mbak Audi nampak terkejut, dan aku mengangguk.
“Maaf ya Rhey, aku gak tau.” Mbak Audi membuka berkasku dan melihat copy tanda pengenalku, melihat tulisan statusku disana.
“Gak pa pa mbak, sudah berlalu.” Aku tersenyum padanya.
“Pasti adalah Rhey pria yang tulus menerima kamu apa adanya, mungkin kamu saja yang terlalu menutup diri.” Mbak Audi mengumpulkan semua berkas yang sudah aku isi dan tanda tangani.
“Takut mbak, yang deketin laki orang.”
“Hahaha kamu lucu banget Rhey, padahal banyak yang bangga low kalau bisa rebut laki orang.”
“Saya malah korban mbak, laki saya di ambil orang hahahaha, masa saya mau ambil laki orang sebagai ganti.”
“Ya begitulah lelaki Rhey, itu yang membuat saya malas untuk berkomitmen, karena lelaki itu banyak yang manis di awal aja.”
“Saya malah takut mbak. Sekarang fokus saya, untuk membahagiakan diri saya, supaya almarhum kedua orang tua saya bangga pada saya.”
“Bersabarlah Rhey, akan ada kebahagiaan yang menantimu. Minggu depan nikmatilah perjalananmu yang penuh kejutan.” Sambil mengedipkan satu matanya ke arahku.
“Bukankah setiap waktu adalah kejutan yang tak pernah kita tahu apa yang akan terjadi?”
“Iya kamu benar Rhey. Ini sudah selesai semua, kalau kamu mau kembali sekarang silahkan Rhey.”
“Oh iya mbak, kalau gitu saya balik sekarang mbak.” Pamitku pada mbak Audi.
“Oke Rhey, nanti info selanjutnya aku hubungi kamu lagi.”
“Baik mbak, saya pamit dulu.”
“Oke, take care Rhey.” Sambil melambaikan tangan ke arahku.
“Thank you mbak” aku membalas lambaian tangan mbak Audi.
Saat ini pukul 4 sore, masih ada waktu untuk aku istirahat dulu sebelum bertemu Retno. Aku mengirimkan pesan pada Retno, memberitahukan bahwa urusanku sudah selesai.
‘Ret, aku sudah selesai urusan berkas nih. Kalau sudah pulang kantor kasi kabar ya, aku istirahat bentar di hotel.’
Aku memasukkan kembali ponselku dalam tas. Berjalan menuju lift dan turun ke arah lobby. Sesampainya di lobby aku melihat pak Wahyu berjalan ke arahku.
__ADS_1
“Sudah selesai non?” Sapa pak Wahyu.
“Sudah pak, ini mau balik hotel.”
“Mari saya antarkan non.”
“Eh gak usah pak, nanti ngerepotin pak Wahyu.” Tolakku halus.
“Lho justru kalau non tolak malah bisa ngerepotin saya non, bisa kena omelan bos saya non.” Sambil bergidik ngeri, sepertinya pak Wahyu membayangkan jika dimarahi bos.
“Hahaha baiklah pak, ayo antarkan saya. Kalau kelamaan nanti bos nya marah.” Aku sambil tertawa.
Jalanan cukup macet sore ini, maklumlah berbarengan dengan sebagian orang yang pulang kantor. Pukul 5 sore aku baru sampai kembali di hotel.
“Terima kasih pak Wahyu.”
“Sama-sama non. Besok saya jemput jam sembilan ya non, jam setengah dua belas kan jadwal penerbangannya?”
“Oh iya pak, baik pak.”
“Saya permisi non.” Aku mengangguk dan tersenyum pada pak Wahyu.
Saat memasuki area lobby, ponselku berdering panggilan masuk dari Retno.
“Rheyyyyy..” belum sempat mengucapkan salam, tapi Retno sudah berteriak.
“Eh iya, Wa’alaikumsalam. Share lock buruan, aku udah balik kerja nih.”
“Aku baru sampai hotel nih” aku menekan tombol lift
“Ya udah di hotel mana? Aku aja yang kesana. Share lock aja deh biar gak kelamaan.”
“Ya udah aku sharelock.” Aku mengirimkan lokasiku pada Retno.
“Ok, tunggu aku ya”
“Hemm buruan.” Panggilan telepon sudah di putus sepihak oleh Retno.
Aku masuk ke kamarku, mandi dan mengganti pakaianku dengan pakaian santai. Mengikat rambutku seperti buntut kuda, tanpa make up karena aku orang yang jarang sekali memoles wajahku dengan make up.
Jam 6 kurang 10 menit, Retno menghubungiku.
“Woy buruan turun, aku gak bisa naik nih kalau gak ada keycard.” Suara Retno menggelegar ditelingaku.
“Hahaha iya, aku lupa tunggu bentar ya.” Aku mencabut keycard dan keluar dari kamar.
Saat sampai di lobby, aku melihat Retno sedang asik memainkan ponselnya, aku berlari kearahnya dan memeluknya.
__ADS_1
“Ya ampun aku kangen banget sama kamu” aku memeluk Retno karena kami sudah lama tak bertemu, hanya melalui sambungan telepon saja kami bertukar sapa, dan sesekali Video Call.
“Eh sumpah kaget banget low aku kira siapa main peluk aja.” Di ikuti tawa Retno yang menggelegar.
“Lancar semua tadi? Bakal cerita sampai subuh ni kita.” Retno menggodaku.
“Yuk lah, siapa takut.” Sahutku
“Nih aku bawain cemilan dikit.” Sambil mengangkat bungkusan yang bertuliskan martabak dan bungkusan yang entah apa isinya.
“Ah itu kurang, nanti biar aku pesan cemilan online aja, yuk ah kekamar dulu.” Aku menarik tangan Retno, tetapi kemudian aku berhenti melangkah.
“Steve?” Suaraku lirih saat melihat sesosok yang mirip dengan Steve.
“Woy Rhey? Ada apa? Kamu kenal orang itu?” Tanya Retno menggebu.
“Mirip sama orang yang aku kenal” tetapi aku ragu karena saat aku melihatnya sekilas dan orang itu sudah berlalu pergi keluar dari hotel ini.
“Ah mungkin cuma mirip aja Rhey.” Retno bergantian menarik tanganku.
“Ah iya mungkin cuma mirip ya.” Aku mengikuti Retno ke arah lift.
Aku memesan makan malam untukku dan Retno dari hotel ini, dan memesan beberapa camilan tambahan untuk kami makan sambil bercerita. Retno membawa martabak manis yang kalau di Surabaya namanya menjadi terang bulan, dan kerak telor. Aku menambahkan camilan-camilan lain yang lebih ringan untuk kami makan, beserta beberapa minuman cokelat dan kopi.
Aku menceritakan semua pada Retno, mulai perselingkuhan Bagas, bagaimana aku bisa memergoki Bagas yang sedang bersama Putri. Pengagum rahasiaku yang ternyata adalah sepupu Bagas yaitu mas Arlo, yang sudah memiliki istri dan anak, tetapi masih nekat menyatakan cintanya padaku, bahkan ciuman mas Arlo pun tak luput aku ceritakan pada Retno.
Bagaimana Vano meninggal, kemudian disusul papa dan mama, semua tak luput aku ceritakan. Aku bahkan kembali menangis saat menceritakan kepergian 3 orang yang paling aku sayangi. Retno iku menitikkan air matanya,
“Kamu itu wanita tangguh Rhey, kalau aku jadi kamu, aku mungkin bisa gila nerima cobaan beruntun itu.” Komentar Retno saat ingin menenangkan tangisku.
“Aku bahkan nyaris bunuh diri Ret kalau gak ada mas Arlo yang nyegah aku. Itulah kenapa aku sebenarnya menyayanginya, karena dia terlalu banyak membantuku. Mungkin rasa sayangku padanya hanya sebatas sebagai kakak, aku gak menginginkan milik orang lain Ret, aku menjauh pun karena rumah tangga mas Arlo bisa hancur karena aku, dan aku gak mau itu terjadi.”
Aku juga menceritakan soal Steve, lelaki yang sepertinya tadi aku lihat di lobby. Bagaimana Steve memperlakukanku, Bagaimana Steve membantuku untuk menjauh dari Bagas dan mas Arlo, bagaimana Steve berperan membantuku dalam memenangkan lomba desain ini dengan meminjamkan padaku ipad yang bahkan masih baru saat diberikan padaku.
Semua tak ada yang luput aku ceritakan, From A to Z lah klo kata orang-orang. Hingga tak terasa waktu menunjukkan pukul 2 lebih 22 menit dini hari.
“Tidur yuk Ret, ntar kan kamu harus kerja. Aku juga harus bangun pagi, biar gak ketinggalan pesawat.” Aku melihat Retno yang sudah mulai menguap.
“Iya nih, gila ya gak berasa banget lho kalau sudah cerita begini.” Sambil menguap kembali.
“Ya udah yuk ah tidur.” Aku naik ketempat tidur dan di susul Retno.
Kami sama-sama terlelap dan masuk ke alam mimpi kami. Bercerita itu menguras tenaga dan otak, karena kembali membongkar kenangan yang perlahan mulai berlalu.
Bersambung..
...Kalau author ngadain give away gimana menurut kalian readers ku yang tercinta? 🥰...
__ADS_1
...Jawab di komen ya, jangan lupa like dan Vote nya ya. Nanti give awaynya kerja sama sama mas Arlo sama Steve deh 🤪😂...