
9 Bulan Kemudian
Aku sedang mengandung buah cinta ku dan Steve. Dan beberapa hari lagi sepertinya aku akan melahirkan. Kata dokter bayi yang berada di dalam kandunganku ini adalah bayi kembar, hanya saja belum terlihat mereka laki atau perempuan, atau bahkan keduanya. Setiap kali di USG mereka selalu saling menutupi.
Rumah kami pasti akan sangat bertambah ramai dengan kehadiran si kembar nantinya. Aku sudah tak sabar menantikan kelahiran bayi kembarku, begitu pula dengan Junior yang selalu bertanya kapan adik-adiknya akan lahir, usianya kini 2tahun 10bulan, dan dia adalah anak yang penuh kehangatan, dia akan menjadi anak yang sangat kritis, tetapi dia juga akan menjadi anak yang sangat dewasa ketika papinya menggodaku, dia akan melindungiku dan bergulat dengan papinya.
Perutku yang sangat besar membuat aku sangat mudah lelah, aku lebih suka berbaring dan membaca novel di kamar, sambil menunggu Steve pulang kerja. Atau aku hanya akan duduk di ruang bermain Junior, sambil memperhatikannya yang berlarian kesana kemari. Jika siang hari, Junior suka tertidur di ruang bermainnya hingga sore menjelang.
Saat malam menjelang, aku akan selalu menyempatkan diri untuk makan bersama di meja makan bersama mommy dan daddy. Sebenarnya mereka sudah menyuruhku untuk makan dikamar saja, karena tak tega melihat aku yang harus naik turun dengan perut yang sangat besar, namun aku menolaknya karena makan bersama mereka membuatku merasa dekat dengan mereka, mendengarkan mereka berbagi cerita.
Setelah makan malam berakhir maka aku akan membacakan dongeng untuk Junior di kamarnya, dan setelah tertidur aku akan pindah ke kamarku bersama Steve, sedangkan Junior akan bersama mbak Sari.
Entah mengapa malam ini setelah makan malam selesai, aku merasakan seperti perutku tak nyaman. Aku berpikir apa mungkin karena aku yang habis makan rendang dengan sambal hijau, hingga perutku tak nyaman. Seelah menggosok gigiku dan mencuci muka ku, aku langsung berbaring dengan posisi miring, sedangkan Steve sedang mengantarkan Junior ke kamarnya, karena tadi dia tertidur di ruang TV sama opa nya.
Aku mengatur nafasku karena rasa mulasnya semakin terasa, aku bahkan sampai terasa mual karena rasa mulasnya.
“Baby, sudah tidur?” Steve yang masuk kedalam kamar dan melihat aku tertidur menghadap ke jendela balkon memunggunginya.
“Belum sayang, esssss.” Aku mendesis karena menahan mulas diperutku.
“Kamu sakit?” Steve menghampiriku dan berjongkok didepanku.
“Perutku mulas sayang, bahkan aku sampai mual karena menahan mulasnya.” Aku kembali mengatur nafasku.
“Apa karena kamu makan pedas tadi?” Steve mengira hal yang sama denganku.
“Tapi aku gak kebelet pop sayang.” Aku memang hanya merasa mulas, tapi tak ingin buang air besar.
“Apa mungkin mereka sudah saatnya keluar?” Steve mengelus perutku, dan mereka bereaksi dengan menendang, dan itu semakin membuat aku mulas, kemudian terasa seperti ada balon yang meletus didalam perutku, kemudian aku seperti mengompol.
“Sayang, sepertinya ketubanku pecah.” Aku meraba pangkal pahaku yang sudah basah.
__ADS_1
“Apa? Oh No baby, ayo cepat kita kerumah sakit sekarang.” Steve kembali panik, sama seperti saat Junior akan lahir dulu.
“Jangan panik sayang, kita masih punya waktu kok, pelan-pelan aja ya sayang.” Aku mencoba untuk menenangkan Steve.
“Aku ambil perlengkapan twin dikamarnya dulu baby, sebentar aja ya kamu duduk disini dulu.” Steve membantuku untuk duduk, kemudian dia mengambilkanku sweater dan membantuku menggunakannya.
“Mommyyyy, daddyyyy, mbak Sariii.” Steve langsung berteriak dari depan pintu kamar kami, aku bisa mendengarnya. Mommy dan daddy serta mbak Sari langsung berlarian dan masuk kekamarku.
“Sayang kamu kenapa?” Mommy terlihat sangat khawatir.
Aku masih mengatur nafasku saat mulas kembali terasa. “Ketubanku pecah mom.” Aku memberi tahu mommy dan menunjukkan kasur ku yang sudah basah.
“Oh Tuhan, ayo segera kerumah sakit nak.” Daddy membantuku untuk berdiri, dan mbak Sari ikut membantuku. Mommy berdiri di belakangku dan memegang pinggangku dari belakang.
Steve sudah kembali dari kamar twin dengan membawa 1 tas besar yang sudah aku siapkan untuk kebutuhan dirumah sakit.
“Biar saya yang bawa tasnya tuan.” Mbak Sari mengambil alih tas yang Steve bawa, dan Steve segera menggendongku untuk keluar dari kamar kami.
Sesampainya dirumah sakit aku langsung ditangani oleh dokter kandungan karena ternyata pembukaanku sudah masuk pembukaan 7 dan sebentar lagi baby twinku akan lahir kedunia.
Steve masih sama, dia masih setia menemaniku, dia mengusap punggungku agar rasa mulasku berkurang.
Setelah melalui kontraksi yang tak terlalu lama, hingga proses persalinan berjalan lancar, lahirlah baby twin kami, seorang lelaki dan perempuan. Lengkap sudah kebahagiaan kami.
“Sayang, twin kita cowok sama cewek.” Steve mencium keningku dan menitikkan air mata kebahagiaan.
“Benarkah?” Aku ikut menitikkan air mataku dan tersenyum bahagia.
“Terima kasih sayang, kamu sudah membuat kebahagiaan kita lengkap.” Steve terus menghujani wajahku dengan ciumannya.
Prince Rafael dan Queen Azalea Steve memberikan mereka nama, dengan nama panggilan mereka Rafa dan Lea.
__ADS_1
Keesokan paginya, mbak Sari sudah berada di ruang perawatanku, kata mbak Sari Junior memaksanya untuk menemui adik-adiknya yang sudah keluar.
“Papi, boleh aku gendong adek?” Junior yang di gendong Steve untuk melihat adik-adiknya yang sedang tertidur di box bayi.
“Kakak mau gendong adek Rafa atau adek Lea?” Steve bertanya pada Junior.
“Semuanya boleh?” Tanyanya sambil memeluk Steve.
“Boleh dong, tapi gantian ya satu-satu dulu, biar kakak gak keberatan gendongnya. Kakak duduk disitu dulu ya, papi gendong adek nanti kakak pangku adeknya ya.” Junior langsung mengangguk dengan bahagia.
“Asikkkk adek Junior banyak-banyak.” Katanya sambil bersorak.
Steve mengangkat baby Rafa dari boxnya dan meletakkannya pada tangan Junior. Steve tetap menjaga Junior yang sedang memangku adiknya.
“Papi, apa Junior juga kecil seperti adek?” Tanya Junior sambil mengamati Rafa dipangkuannya.
“Tentu sayang, kamu dulu juga sekecil ini dan seganteng adek Rafa juga, kan sama-sama anak papi.” Jawab Steve sambil mengacak-acak rambut Junior.
“Why you are crying dek?” Baby Rafa menangis dalam pangkuan Junior.
“Oh adeknya haus itu kak, sini papi gendong dulu ya, biar minum di mami dulu.” Steve mengambil Rafa dari Junior.
“Kalau begitu Junior mau gendong adik satu lagi.” Junior meminta untuk menggendong baby Lea.
“Oke kak, sebentar papi ambil adek Lea dulu ya.” Kami memang bersepakat untuk melibatkan Junior dalam memperhatikan kedua adiknya, karena kami tak ingin jika Junior harus merasa cemburu pada kedua adiknya.
Bersambung..
Happy New Year untuk semua readers tercinta, semoga di tahun yang baru ini, harapan dan cita-cita dapat terwujud, selalu diberikan kesehatan dan rejeki yang berlimpah 🥰
Ditunggu vote,like dan commentnya ya 😘
__ADS_1