Aku Lelah,Cintai Aku

Aku Lelah,Cintai Aku
‘Krucuk’


__ADS_3

“Non sudah makan?”


“Belum pak, saya ketiduran sejenak tadi” akhirnya aku jujur pada pria itu.


“Lho, mau mampir dulu beli makan non?”


“Gak usah pak, nanti terlambat.” Aku melihat ke arah jam tanganku.


“Nanti maagh low non.”


“Tadi pagi saya sudah sarapan kok pak. Ow iya nama bapak siapa ya?” Aku mengalihkan pembicaraan.


“Saya Wahyu non.” Jawabnya sopan.


“Oh terima kasih pak Wahyu.” Aku tersenyum padanya


“Sama-sama non” balasnya.


Sesampainya di depan lobi sebuah gedung pencakar langit, pak Wahyu membukakan pintu mobil, dan aku segera turun.


“Silahkan non, nanti di resepsionis sebutkan nama aja non, nanti biar diantar ke ruang bu Audi.” Pak Wahyu menjelaskan.


“Baik pak Wahyu, terima kasih.” Aku mengangguk dan berjalan masuk ke arah lobi.


Aku menghampiri dua orang wanita yang berada di balik meja tinggi bertuliskan ‘RECEPTIONIST’.


“Selamat siang mbak.” Aku mengucapkan salam pada mereka.


“Selamat siang bu, ada yang bisa kami bantu?” Salah seorang resepsionis tadi bangkit berdiri.


“Saya Rheyna Aurora, ada janji dengan bu Audi.” Terangku.


“Owh iya bu, mari saya antar ke ruangan bu Audi. Ibu Rheyna sudah ditunggu bu Audi.” Seketika aku langsung melirik jam ku, jam satu kurang tiga menit, aku tidak terlambat tapi kenapa sudah ditunggu ya? Aku sedikit heran.


Resepsionis itu mempersilahkanku masuk ke dalam lift, menekan tombol angka 9.


“Silahkan bu.” Saat pintu lift terbuka, resepsionis itu mempersilahkan aku untuk keluar.


Aku mengikuti langkahnya, hingga kami sampai di depan sebuah ruangan.


“Tamu yang ditunggu bu Audi.” Kata resepsionis itu pada seorang gadis, yang nampak seperti seorang sekertaris.


“Oh ok.” “Silahkan bu, sudah di tunggu bu Audi” gadis itu mempersilahkan ku.


Tok..Tok..Tok..


“Ya masuk” suara di dalam menginterupsi.


“Permisi bu, ada tamu yang ibu tunggu.” Aku berdiri dibelakang sekretaris itu.


“Oh iya suruh masuk sini.”


“Permisi bu Audi.” Aku masih berdiri di depan pintu.


“Hallo, Rheyna ayo masuk sini.” Sapaannya seolah sedang berteman denganku.


“Iya bu.” Aku canggung dengan bu Audi.


Bu Audi mempersilahkan aku untuk duduk di kursi, berseberangan dengannya. Kami dipisahkan oleh meja kerja bu Audi.


“Jangan takut, saya sudah jinak kok” Bu Audi mencoba mencairkan suasana melihat aku yang canggung.


“Hehehe, iya bu” aku menggaruk tengkukku yang tak gatal.


“Panggil mbak aja lah, aku belum jadi ibu-ibu kok hahaha”


“Ba-baik bu, eh mbak.” Bu Audi seperti wanita yang berumur 40tahunan.

__ADS_1


“Okey, sudah siap mengisi semua berkas-berkas?”


“Sudah bu” jawabku sambil mengangguk.


“Okey, kamu pelajari dulu semua berkas dan kontrak ini, jika ada yang kamu kurang jelas nanti bisa di tanyakan ke saya lagi.” Mbak Audi memberikan map yang sedikit tebal untuk aku pelajari.


“Baik mbak” aku menerima map itu dan mulai membacanya.


Ada beberapa lembar untuk mengisi biodataku, sepertinya untuk pengurusan Visa dan tiket pesawatku. Kemudian ada beberapa lembar lagi untuk kontrak kerja.


Aku membaca baik-baik setiap kata, dan membubuhkan tanda tanganku di tempat yang berisi namaku.


Setelah selesai mengisi data dan menandatangani semua, aku kembali membaca point-point penting. Sedangkan mbak Audi sedang berkutat dengan berkas-berkas yang ada dihadapannya.


‘Krucuk krucuk’ Oh No, perutku bergemuruh menabuhkan genderang kelaparan.


“Kamu belum makan Rheyna?” Tanya mbak Audi sambil menatapku.


“Ma-af mbak, tadi saya ketiduran jadi gak sempet makan dulu, langsung kesini.” Aku nyengir kayak kuda.


“Lho, ini belum selesai lho Rhey, udah jam setengah tiga ini.” Mbak Audi melirik pada jam tangannya.


“Gak pa pa mbak, nanti dari sini saya bisa beli makan.”


Ada dering ponsel dari atas meja mbak Audi,


“Sebentar ya saya terima telepon dulu.” Aku mengangguk cepat.


“Hallo bos hehehe”


“.. .. .. ..”


“Iya, barusan kedengeran protesnya tuh”


“.. .. .. ..”


“.. .. .. ..”


“Iya iya ntar gue tawarin doi makan.” Mbak Audi berjalan menjauhi meja dan aku.


“.. .. .. ..”


“Kenapa gak lo sendiri sih yang tawarin atau ajak makan bareng gitu?” Suara mbak Audi semakin lirih.


“.. .. .. ..”


“Iya iya, ya udah gue tutup dulu teleponnya.” Sepertinya secara sepihak mbak Audi menutup sambungan teleponnya.


“Maaf ya Rhey” entah apa yang harus di maafkan, tetapi mbak Audi meminta maaf.


“Maaf kenapa ya mbak?” Aku keheranan.


“Em itu, saya terima telepon padahal kamu lagi kelaperan” sambil tersenyum ke arahku.


“Oh gak pa pa mbak” aku yang jadi gak enak karena diperhatikan.


“Kamu suka nasi padang?”


“Eh gak usah repot-repot mbak, nanti aja saya beli sendiri.”


“Saya cuma tanya, kamu suka nasi padang?” Aku langsung malu dibuatnya.


“Hehehehe iya mbak, maaf saya kepedean.” Jawabku


“Hahahaha itu berarti kamu udah laper banget, cuma malu aja sama saya, ya kan?”


“Iya mbak, eh enggak maksud saya.” Laper bikin gak konsen jawab beneran deh.

__ADS_1


“Mul, belikan 2 bungkus nasi padang ya, yang satu rendang, satu lagi peyek udang ya.” Kata mbak Audi pada orang diseberang telepon itu.


“.. ..”


“Okey Mul, gak pake lama ya, thank you.” Mbak Audi kembali meletakkan gagang telepon itu ditempatnya.


Selang 15menit berlalu, ada seseorang mengetuk pintu ruangan mbak Audi,


“Iya masuk” jawab mbak Audi.


“Ini bu nasi padangnya.” Sambil menyerahkan 2 kotak nasi padang beserta 2 botol air mineral.


“Oke, makasih Mul” sambil menyerahkan selembar uang 100ribuan.


“Kembaliannya bu?” Tanya orang yang di panggil ‘Mul’ oleh bu Audi.


“Bawa aja, buat beli kopi.” Katanya tersenyum


“Matur nuwun bu” dengan wajah sumringah dan di jawab dengan anggukan mbak Audi beserta senyumannya.


“Ayo Rhey kita makan.” Ajak mbak Audi.


“Tapi mbak,..” tolakku yang langsung disanggah mbak Audi.


“Udah gak pake tapi-tapian, dari pada aku yang kena marah bos.”


“Lho kenapa kena marah mbak?” Tanyaku penasaran.


“Em itu, .. bos gak suka kalau ada pegawai yang sakit.” Jawabnya asal.


“Oh bos nya baik ya mbak?”


“Gak juga sih. Udah ah ayo makan, tuh rendangmu sudah manggil-manggil itu.” Mbak Audi membuka kotak nasi padang dengan lauk peyek udangnya.


“Aduh, begini ini yang bikin gagal diet. Paling gak bisa nolak nasi padang.” Kata mbak Audi sambil menatap kotak nasi padang dengan berbinar.


“Saya juga mbak hihihi” sahutku sambil menutup mulutku malu.


Kami makan dalam diam. Sesekali mbak Audi mengangkat ponselnya, seperti berbalas pesan dengan seseorang, kemudian ia tersenyum dan kembali meletakkan ponselnya.


Setelah menghabiskan satu kotak nasi padang dan satu botol air mineral, akhirnya aku benar-benar kekenyangan.


“Nambah lagi Rhey?”


“No mbak, perut dah gak nampung lagi” sahutku.


“Apa ada yang mau kamu tanyakan soal dokumen-dokumen itu? Atau surat perjanjian itu?”


“Mbak kenapa di kontrak gak disebutkan berapa lama sama saya akan bekerja disini?”


“Itu karena bersifat flexibel, jadi saat kamu merasa kurang cocok bekerja disini maka kamu berhak untuk mencari pekerjaan yang lainnya. Karena jika kita bekerja, maka kita harus mencintai pekerjaan itu dulu, maka hasil yang akan kita capai akan maksimal.”


“Oh gitu.” Aku mengangguk-angguk tanda mengerti.


“Jadi begini Rhey, kamu akan berangkat ke Jerman terlebih dahulu. Selama tiga hari kamu akan berada di Jerman, disana kamu akan diperkenalkan dengan semua produk kita dan akan melihat langsung produksinya. Nanti dari Jerman kamu baru akan ke Paris, menikmati hadiah liburanmu. Sepulang dari Paris kamu harus kembali ke Jerman dan bekerja disana selama 1bulan, baru setelahnya kamu akan bekerja disini.” Penjelasan panjang dari mbak Audi membuatku mengerti.


“Baik mbak.”


“Apa ada yang kamu beratkan? Atau ada yang mau kamu tanyakan lagi?”


“Tidak mbak, saya sudah mengerti.”


Bersambung..


...Kok ngantuk ya? Ada yang mau kirimin author kopi? 🤭...


...Atau mungkin mas Steve mau kirimin author kopi ya? 😜...

__ADS_1


__ADS_2