
Ciumannya dari bibir beralih ke leher, tangannya yang aktif itu sudah berhasil melepas kain yang menempel padaku, tanpa aku sadari.
Bersama Steve aku seperti menemukan dunia yang baru. Aku yang biasanya malu untuk berada di atas, kini Steve membimbing aku untuk menjadi seorang pemimpin, hal yang tak pernah aku rasakan. Steve tahu bagaimana cara memperlakukan seorang wanita. Bersama Steve aku bisa berekspresi dan menjadi diriku sendiri, karena hanya dengan menjadi diriku sendirilah yang membuat Steve selalu mencintaiku.
“Mau coba sensasi yang lainnya?” Setelah kami sama-sama menuntaskan hasrat kami, aku merebahkan tubuhku di atas tubuh Steve, dengan keadaan yang sama-sama polos. Steve menarik bedcover untuk menyelimuti kami, karena Steve takut aku kedinginan.
“Sayanggggg, udah dong. Baru juga selesai masa mau lagi.” Jawabku sambil memjamkan mata karena lelah.
“Hahaha, istirahatlah dulu sayang, balikin tenaga dulu.” Steve hendak berdiri.
“Mau kemana?” Tanyaku mencegahnya untuk beranjak.
“Nidurin kamu dikasur sayang.”
“Disini aja ya, aku suka kayak gini.” Jawabku sambil meletakkan tanganku di dada nya.
“Mau nambah lagi?” Goda Steve.
“Nanti aja.” Jawabku asal.
“Berarti mau lagi nih?”
“Sayanggggggg.” Aku mencubit roti sobek milik Steve.
“Aduh, kok dicubit sih sayang.”
“Abisnya kamu godain aku terus sih.” Aku membelai perut kotak-kotak suamiku.
“Tuh kan tangannya ngelus-ngelus gitu ntar ada yang bangun, tanggung jawab low ya.”
“Sayanggg. Eh gimana sih kok perutmu bisa kotak-kotak begini?” Aku tertarik untuk menanyakan bagaimana suamiku bisa memiliki perut yang menggemaskan seperti ini.
“Olah raga, sama makanan yang sehat baby.” Jawabnya sambil membelai rambutku.
“Perutku bisa begini juga? Tapi perutku jelek banget begini sayang, ada bekas strechmark, ada lemak dimana-mana, gak sebagus perut-perut wanita diluaran sana.” Aku menumpukan daguku di atas lipatan tangan yang aku letakkan di atas dada Steve.
“Perutmu gak boleh bagus kayak punyaku, karena perutmu itu tempat termahal dan terbaik untukku, disana akan bertumbuh calon anak-anak kita, disana akan menjadi tempat ternyaman mereka untuk tumbuh, tak perduli seberapa baik atau buruk, yang aku tau ini adalah tempat tercantik yang akan selalu aku cintai.” Kata-kata Steve membuatku tersipu malu.
__ADS_1
“Kamu kok jadi kayak bucin gini sih sayang?”
“Bucin? Apa itu bucin?” Tanyanya heran.
“Budak cinta, hahahaha” kataku sambil tertawa.
“Baby jangan gerak-gerak dong, ada yang ikut menggeliat nih.” Steve menggoyang-goyangkan pinggulnya.
“Stop sayangggg, yuk tidur sebentar bule bucinku.” Kataku sembari merebahkan kepalaku pada dadanya.
“Gak tanggung jawab ih.”
“Ssttttt bubuk dulu ya, nanti lanjut lagi.” Aku menepuk-nepuk pelan milik Steve yang sudah berdiri sempurna.
“Oh no baby, kamu makin bikin dia gak mau tidur, sebentar aja ya sayang kasian nih gak bakal mau tidur kalau belum masuk.” Suaranya seperti tengah memohon.
“Aku capek sayang.”
“Ya udah kamu tidur aja, nanti aku aja yang gerak.”
“Mana bisa sayang, aku pasti juga ngerasain dong. Ya udah ayo tapi bentar aja ya sayang? Habis itu tidur gini lagi ya?”
Sebentar untuk Steve bukan hanya 10 atau 20 menit, tetapi hampir 1jam dan dia baru selesai. Aku pun tak merasakan terbebani, berapa lama pun yang Stave inginkan, aku selalu mampu mengimbanginya, walaupun setelahnya aku akan sangat kelelahan.
“Hai baby, kok udah bangun?” Steve yang sejak tadi memandangku, tersenyum dan menyelipkan rambutku ke belakang telinga.
“Kenapa memandangiku?” Tanyaku sambil merentangkan tanganku ke atas untuk melemaskan otot-ototku.
“Karena kamu istriku.” Jawabnya sambil tersenyum padaku.
“Terus kalau istri kamu emangnya kenapa?” Tanyaku balik memandangnya.
“Aku hanya mengagumi wanita cantik dihadapanku ini, bukankah Tuhan begitu baik padaku, mengirimkan seorang malaikat untuk menjadi istriku.” Entah rayuan apa yang Steve katakan ini.
“Uuuhhh suamiku pintar sekali menggombalnya, pasti ada maunya nih.” Aku mencubit pipi Steve gemas.
“Tadi sih sebenernya cuma pengen ngomong yang romantis ke istri, tapi karena ditawarin begini ya jadi ada mau nya deh.” Tangannya sudah mulai membelai pahaku yang bersembunyi di balik selimut.
__ADS_1
“Ih gak ada ya sayang, udah ah aku mau mandi dulu, mau maem laper nih.”
“Makan di luar yuk sayang? Sekalian cari oleh2 buat yang di Indonesia.” Tangan Steve masih membelai pahaku dan sesekali meremas yang di belakang.
“Ntar lama lagi belanjanya.”
“Kamu mau balik ke Indonesia atau ke Jerman aja?”
“Aku ke Indonesia aja ya sayang, aku kurang terlalu suka udara dingin.” Jawabku.
“Okey baby.” Cup Steve mencium keningku.
“Aku mandi dulu ya sayang?”
“Aku temani ya?” Tawar Steve.
“Aku mandi sendiri aja, kalau sama kamu pasti laaaaammmmmaaa.” Aku sengaja memanjangkan kata lama agar Steve tahu kalau memang mandi bersamanya memang lama.
“Hahaha, ya udah mandi dulu sana. Aku mau reservasi tempat untuk kita makan.” Steve mengambil ponselnya dan mulai menghubungi seseorang.
Aku langsung berlalu menuju kamar mandi, menyalakan air dan mengisi bathup, dan tak lupa meneteskan wewangian pada air.
Bersambung..
Hai hai hai, mau kasih info nih. Aku lagi bikin novel karya terbaruku nih, jangan lupa didukung ya kesayangan author semua.
Cleaning Service Cintaku
Namanya Amanda Prasetyaning, pindah ke ibu kota karena ayahnya meninggal saat dia masih duduk di bangku kelas 1 SMA, kota asalnya adalah Malang.
Pindah ibu kota karena ibunya mendapat pekerjaan di sana. Masuk kesekolah bergengsi karena dia dapat beasiswa dari kantor tempat ibunya bekerja.
Saat acara PromNight, Manda dijebak oleh teman2nya yang gak suka sama Manda karena iri dengan kecantikan Manda. Manda di berikan obat perangsang. Manda menyerahkan kesuciannya pada seorang lelaki bintang sekolah tanpa ia sadari.
Siapakah lelaki itu?
Bagaimana akhirnya nasib Manda?
__ADS_1
Yukz setia pantengin kelanjutan ceritanya…