
Kami berlalu meninggalkan Bagas yang termenung seorang diri, mungkin dia menyesali perbuatannya, atau dia kecewa karena aku tak mau kembali padanya, atau dia merasa dipermalukan, aku tak tahu pasti tentang itu, tetapi ang aku tahu hatiku terasa lebih lega karena aku tak perlu lagi bersembunyi untuk menghindari Bagas.
Berjalan keluar dari cafe, Steve masih menggenggam tanganku, tetapi saat sudah tak terlihat Bagas aku menarik tanganku,
“Maafkan aku Steve” aku menghentikan langkahku,
Tetapi Steve malah tersenyum padaku “Ayo kita bicara di dalam mobil saja”
Aku mengikutinya, menuju ke mobil Steve yang masih terparkir di depan mini market. Kami masuk mobil dan Steve menyalakan mesin mobilnya dan mulai menjalankan kuda besi itu menyusuri jalan yang sudah mulai lengang, hanya di beberapa titik saja yang masih terlihat ramai.
“Maafkan aku Steve..” aku memecahkan keheningan kami “Kita baru mengenal, tapi aku sudah memasukkanmu kedalam masalahku, sungguh aku sangat malu” lanjutku dengan nada penyesalan
“Hei.. tak masalah Rhey, aku hanya membantumu, anggaplah kita teman. Tak perlu malu atau sungkan meminta bantuanku” dengan senyum yang terus saja terkembang
“Tapi Steve, bagaimana jika kekasihmu atau bahkan istrimu mengetahui aku mengaku-ngaku menjadi kekasihmu, maafkan aku Steve” sungguh aku tak ingin bermasalah dengan milik orang lain, setampan atau sekaya apapun mereka.
“Hahaha hahaha hahaha” dia tertawa terpingkal-pinggal mendengar kata-kataku, membuat aku memasang tampang bertanya-tanya “Sorry sorry Rhey” lanjutnya, kemudian mengatur nafasnya
“Apa yang lucu Steve?” Tanyaku heran
“Kamu Rhey, kamu yang lucu. Bagaimana jika aku benar memiliki istri Rhey?” Wajahnya berubah menjadi serius
“Aku akan meminta maaf pada istrimu jika dia mengetahui hal ini Steve, sungguh aku tak ingin mengambil milik orang lain” aku menjawab dengan bersungguh-sungguh.
“Sudahlah jangan memikirkan hal yang tak penting Rhey, jika kamu mau aku bisa menemanimu menemui lelaki yang menyelinap ke kamarmu itu. Selesaikan semuanya agar kamu bisa melangkah untuk masa depanmu” Steve menawarkan bantuannya lagi.
“Aku takut benar-benar terkena masalah dengan istrimu Steve”
“Aku yang menawarkan bantuanku, tak akan menjadi masalah” dengan santainya dia berkata
“Baiklah mungkin aku akan merepotkanmu satu kali lagi Steve” ucapku dengan menghembuskan nafasku kasar, menatap ke samping jendela dengan pikiran yang tak menentu ‘lagi-lagi berurusan dengan lelaki beristri huftt’
Aku menyandarkan kepalaku, memejamkan mataku yang lelah dan tak lama aku tertidur dengan sangat pulas.
***
Aku terusik dengan hawa dingin yang menusuk wajahku, menarik selimut menutupi wajahku dan kembali tertidur.
Sayup-sayup ku dengar suara ramai di luar jendela.
Tokkk Tokkk Tokkk seseorang mengetuk jendela
“Ya pak?” Jawab seseorang disebelahku dengan suara seraknya
__ADS_1
“Go to penanjakan mister?” Tanya pria diluar, dengan logat khas jawa
“Nanti ya pak, istri saya masih tidur” jawabnya sopan
“Kalau mataharinya sudah tinggi kurang bagus mister” pria itu kembali berbicara
“Sepuluh menit lagi bapak kesini lagi ya, saya bangunkan istri saya dulu” jawabnya masih dengan sopan
“Baik mister” jawab pria itu dan meninggalkan mobil ini
Aku tersadar jika aku masih di dengan Steve dan ‘dimana ini? Tunggu tadi pria itu mengatakan penanjakan? Jangan bilang ini di Bromo’ aku menyibakkan selimut yang menutupi wajah dan tubuhku. Diluar masih gelap, tetapi sudah banyak orang ramai berlalu lalang, dan suara deru mesin Hardtop bersautan, silih berganti mengangkut penumpang.
“Hei kenapa bangun?” Steve melihat aku terduduk dari posisi tidurku
“Steve ini di Bromo?” Aku bertanya balik tanpa menjawab pertanyaan Steve
“Iya, aku bingung membawamu kemana, nomor apartemenmu aku juga gak tau, aku bawa kesini aja, sapa tau kamu butuh sesuatu yang segar” jawabnya santai
“Selimut ini Steve?” Aku bermaksud menanyakan ini selimut milik siapa.
“Itu selimutku, tenang saja itu bersih dan baru di laundry” dengan sedikit tertawa dia menatapku “tutup sweatermu dengan benar Rhey, atau kau ingin semua orang melihat d*d* indahmu?” Dia memalingkan wajahnya ke arah depan.
“Hei apa yang kau lihat Steve?” Aku melotot ketika tahu Steve sempat melihat ke arahku, dengan segera aku membenarkan sweaterku.
Tokkk Tokkk Tokkk
“Bagaimana mister?” Pria yang tadi kembali lagi
“Baiklah pak, karena istri saya sudah terbangun saya ambil penawaran bapak”
“Siap mister” jawab bapak itu sumringah “Hardtopnya yang itu ya mister, pria itu menunjuk hardtop berwarna hitam yang terparkir tak jauh dari tempat kami.
“Istri saya mau siap-siap dulu ya pak. Bapak tunggu disana aja dulu, sebentar lagi kami kesana” dan bapak itu menjauh dari mobil ini.
“Hei kenapa aku harus berperan menjadi istrimu lagi? Kenapa gak bilang temen aja gitu” aku memprotes Steve.
“Look at our clothes, mana ada teman yang menggunakan daster dan celana tidur berduaan kemari Rhey? Kecuali yang kamu maksud teman adalah teman tidur hahahaha” Steve malah tertawa terbahak-bahak
Huftt aku mendengus jengkel, karena Steve selalu saja memiliki alasan.
“Kalau sudah tahu pakaian kita seperti ini, kenapa juga masih nge’iya’in bapak tadi?” Protesku.
“Nanggung lah sudah disini”
__ADS_1
“Tapi ini dingin banget Steve, sweaterku gak sanggup menahan dinginnya” aku melipat tanganku di depan d*d*
“Pakai saja ini” Steve menyodorkan jaket berwarna abu-abu miliknya, yang dia ambil dari kursi belakang
“Kamu pakai apa?” Tanyaku sambil menerima jaket itu
“Sudah pakai saja, yuk” Steve membuka pintu mobilnya dan berjalan kearah depan mobilnya
Aku menyusulnya keluar dari mobil dan menghampirinya didepan mobil.
“Yuk Steve” ajakku ketika menghampirinya.
Steve menoleh ke arahku, tangannya yang dimasukkan kedalam celana training dikeluarkan, meraih hoodie pada jaket yang aku gunakan, menutupkannya pada kepalaku.
“Nah begini lebih baik, supaya gak kedinginan. Yuk” ucapnya seraya menarik pergelangan tanganku. Aku hanya terdiam menerima semua perlakuan manis Steve.
Jam masih menunjukkan pukul 04.15 subuh,tetapi sudah banyak pengunjung yang menuju penanjakan. Aku lupa kapan terakhir aku kesini, sepertinya terakhir kemari saat aku masih kuliah, bersama teman-temanku.
“Kamu belum tidur Steve dari tadi?” Tanyaku saat hardtop yang kami tumpangi mulai menaiki bukit,
“Sudah tidur sebentar tadi” jawabnya sambil memandang kearah depan, memperhatikan jalanan yang belum terlihat,
Aku kembali diam, memasukkan telapak tanganku yang kedinginan kedalam kantong depan jaket yang Steve pinjamkan.
“Masih kedinginan?” Steve memperhatikan gerak gerikku
“Sedikit” jawabku lirih
“Mana tanganmu?” Meminta tanganku agar diletakkan di atas tangannya
“Untuk apa?” Tanyaku
“Sudah siniin tangannya” aku menyodorkan kedua tanganku. Steve yang duduk di depanku menerima tanganku dan menggosok-gosokkan pada telapak tangannya.
Saat aku hendak menarik tanganku, Steve menahannya.
“Biarin gini dulu biar kamu gak kedinginan” Steve menutup telapak tanganku dengan kedua tangannya yang hangat. Meskipun dia hanya menggunakan kaos lengan panjang untuk tidur, tetapi dia tak merasakan kedinginan, apa karena dia bule ya?
“Baru nikah ya mister?” Tanya supir hardtop pada Steve
“Ya begitulah pak” Steve tersenyum menjawab pertanyaan bapak itu
“Wah semoga segera di karuniai momongan mister, pasti anaknya keren nanti kalo bapaknya ganteng, ibunya manis begini” bapak itu mendoakan kami, ‘Oh No dia bukan suami saya, dia suami wanita lain pak.’ Aku menjerit dalam hatiku.
__ADS_1
“Amin” Steve meng-Amin-i ucapan driver ini, aku diam tak berkutik.
Bersambung..