Aku Lelah,Cintai Aku

Aku Lelah,Cintai Aku
Arlo Pov II


__ADS_3

Kejadian malam itu saat Bagas kerumahku perlahan mulai aku lupakan. Ya sejak terakhir Bagas kerumahku bersama Rheyna,aku tak algi mengundang Bagas dan Rheyna untuk berkunjung kerumahku,bukan aku tak mau tapi karena aku tak ingin Lila bertanya dan merendahkan orang lain lagi.


Aku hanya bertemu Rheyna dua kali dan itu pun saat acara Hari Raya saja,dan aku menjauh darinya karena saat aku dekat dengannya aku semakin ingin menggengam tangannya dan memeluknya,jadi aku hanya mampu menghindarinya,walaupun saat tanpa sengaja kami berpapasan dan Rheyna tersenyum aku tak mampu berpaling memandang senyumnya sampai Rheyna berlalu pergi.


***


Siang ini saat aku bersiap-siap keluar kantor untuk makan siang,dari ruanganku di lantai 3,aku melihat ada sesosok gadis manis yang aku kagumi disana,aku meraih telepon saat resepsionis berjalan menuju arah telepon aku menelepon resepsionis


“Bella itu istri Bagas kan?” Tanyaku pada resepsionis ku


“Eh pak Arlo,iya pak istri pak Bagas disini mencari pak Bagas,tapi pak Bagas hari ini gak masuk pak,saya harus jawab apa pak?” Kata Bella menjelaskan


“Bagas gak masuk karena apa Bel?” Tanyaku


“Saya gak tau pak karena pak Bagas gak kasi kabar” jawab Bella


“Kamu bilang aja kalau Bagas lagi gak ada di kantor dan kamu gak tau Bagas kemana” kataku menjelaskan pada Bella


“Baik pak” jawab Bella


Aku masih menatap dari kaca ruanganku yang terhubung ke Lobby,aku lihat raut wajah sedih dan bingung itu,kemudian gadis manis itu menuliskan sesuatu di secarik kertas dan menitipkannya pada Bella. Aku penasaran apa yang sedang gadis itu alami.


Setelah aku melihat Rheyna beranjak pergi meninggalkan lobby,aku bergegas turun dan menuju tempat Bella,


“Bel,apa yang dititipkan istri Bagas?” Tanyaku pada Bella


“Menitipkan surat ini saja pak” jawab Bella sambil menyerahkan secarik kertas yang Rheyna tulis untuk Bagas, aku membacanya dan terkejut karena anak Bagas sakit.


Aku kembali menyerahkan kertas itu pada Bella dan berlalu pergi.


Di depan Lobby pak Aman sopirku sudah menungguku,

__ADS_1


“silahkan pak” kata pak Aman sambil membukakan pintu belakang mobilku


“Pak Aman disini aja ya pak,saya bawa mobilnya sendiri,nanti saya balik sini lagi kok,mau mampir ke kantor teman lama soalnya pak” jawabku pada pak Aman


“Baik pak Arlo” jawab pak Aman


Aku pergi meninggalkan kantorku,entah apa yang aku pikirkan hingga aku menuju parkiran Rumah sakit ini,aku melihat mobil yang pernah Bagas dan Rheyna pakai saat kerumahku dulu,terparkir rapih disana. Aku bimbang haruskah aku turun dan menghampiri Rheyna? Tapi apa yang akan aku katakan pada Rheyna jika dia bertanya apa yang aku lakukan disini? Aku bingung harus bertindak apa.


Aku turun dengan perlahan dari mobilku,dan berjalan perlahan pula,kemudian memasuki lobby dan bertanya pada Customer Service disana


“Mbak saya mau tanya” kata ku ragu-ragu pada CS itu


“Iya pak,ada yang bisa saya bantu?” Kata CS itu


“Barusan apa ada anak kecil yang dibawa berobat kesini ya mbak?” Kataku


“Atas nama siapa ya pak?” Tanya CS itu


“Vano,saya gak ingat nama lengkapnya,tapi nama ibu nya Rheyna” kataku menjelaskan


“Giovano Samudra dengan wali ibu Rheyna Aurora ya pak?” Jawab CS itu


“Iya mbak bener itu,apa yang terjadi ya mbak?” Tanyaku khawatir


“Masih di ruang IGD pak,menunggu untuk rawat inap pak” kata CS tersebut


“Apa sakitnya parah ya mbak? Kok sampai rawat inap?” Tanyaku


“Saya kurang tahu pak,bapak bisa menanyakan langsung pada dokter jaga di ruang IGD pak”kata CS itu menjelaskan


“Oh iya baik mbak terima kasih” kataku berlalu menuju ruang IGD

__ADS_1


Entah apa yang ada dipikiranku,aku hanya ingin melihat Rheyna dan Vano,urusan nanti jika aku harus mencari alasan jika Rheyna melihatku.


Aku masuk ke ruang IGD dan menanyakan pada suster yang ada disana,dimanakah Giovano dirawat dan suster menunjukan tirai nomor dua dari ujung sebelah kanan yang sampingnya tertutup. Aku berjalan perlahan dan berhenti di ujung tirai,sedikit kumajukan kepalaku untuk mengintip,aku lihat wajah itu sayu dan sedih yang membalut wajah manisnya,tak ada senyuman manis itu.


Aku menjauhi tirai itu dan menghampiri dokter yang sedang berjaga untuk menanyakan kondisi Vano,


“Maaf dokter saya mau menanyakan kondisi keponakan saya Vano,yang ada di sana” tanyaku pada dokter itu dan menunjuk tempat Rheyna dan Vano


“Ow anak Vano tadi saat dibawa kemari mengalami dehidrasi pak,jadi harus di rawat inap agar kondisinya segera membaik” jawab dokter menjelaskan


“Kenapa belum di pindahkan keruang rawat inap ya dokter?” Tanyaku


“Masih nunggu kamar pak,karena kamar kelas 2 baru ada sore ini pak” kata dokter menjelaskan


“Tolong pindahkan di kelas VIP saja bisa ya dokter?” Tanyaku


“Bisa pak,bapak tinggal ke bagian administrasi saja,dan 15 menit lagi akan kami pindahkan” kata dokter itu


Aku bergegas ke bagian administrasi dan membayar semua biaya,serta menyerahkan nomor teleponku pada bagian administrasi agar tagihan apapun itu bisa di tagihkan padaku bukan pada Rheyna,dan aku mengatakan pada bagian administrasi untuk mengembalikan uang yang sudah dibayarkan Rheyna untuk DP pada rumah sakit ini pada Rheyna. Dan tidak lupa aku mengatakan pada bagian administrasi untuk merahasiakan namaku sebagai orang yang sudah membiayai biaya rumah sakit dan berobat Vano.


Setelah membereskan semua administrasi aku kembali keruang IGD dan bertemu dokter itu lagi,


“Dokter tolong keponakan saya segera dipindahkan ketempat yang lebih nyaman,dan saya minta tolong jangan katakan apapun tentang kedatangan saya dan seluruh biaya yang sudah saya bayarkan pada ibu Vano” kataku menjelaskan pada dokter tersebut


“Baik pak” jawab dokter tersebut


Aku tak bergegas dari ruang IGD ini,aku duduk di ujung ruang tunggu IGD ini,dan saat aku melihat Rheyna akan berjalan meninggalkan ruang IGD aku berpaling menghadap ke arah pintu kaca dan membelakangi Rheyna,aku menatap nya dari pantulan pintu kaca yang ada di depanku,wajah sayu itu,tubuh lemah yang dipaksakan untuk kuat demi anaknya,membuatku berpikiran lancang untuk memeluknya.


Setelah memastikan Vano sudah dipindahkan ke ruangan yang jauh lebih layak,aku berjalan meninggalkan ruang IGD dan menuju parkiran.


Aku membantu Rheyna bukan karena Bagas orang tak mampu,tapi aku hanya ingin Rheyna menyimpan uangnya untuk keperluan yang lainnya. Karena aku pernah mendengar ketika Bagas berbincang pada teman-temannya kalau dia hanya memberikan setengah gajinya pada Rheyna,sedangkan setengahnya lagi di buat untuk dirinya sendiri.

__ADS_1


Arlo Pov End


Bersambung…..


__ADS_2